Membangun Desa Wisata, Memperhatikan Nilai Lokal

 

Belakangan ini, desa wisata menjadi isu yang hangat diperbincangkan. Bukan saja di kalangan akademisi dan pemerintah, namun juga masyarakat awam yang menilai desanya pantas/layak untuk dijadikan desa wisata. Antusias menjadikan tempat tinggalnya menjadi desa wisata pun direspon cukup baik dengan pemerintah.

Pada artikel ini, saya akan mengulas beberapa catatan penting dalam membangun desa wisata. Tulisan ini juga dibuat berdasar pengalaman panjang selama ikut terlibat dalam mendampingi desa-desa wisata di Pulau Jawa.

Desa wisata berbeda dengan objek wisata

Banyak yang salah kaprah dalam mengartikan antara desa wisata dan objek wisata. Dalam membangun desa wisata haruslah memperhatikan kawasan desa, bukan hanya terfokus pada satu titik objek wisata saja.

Saya kerap melihat beberapa fakta di lapangan, membangun desa wisata disamakan dengan membuat objek wisata. Buktinya? Dengan semakin maraknya pembuatan spot berswafoto/selfie, kemudian beberapa desa secara mudah mengklaim dirinya sebagai desa wisata.

Dalam membangun desa wisata dan pariwisata itu sewajarnya saja. Jangan berlebihan apalagi sampai berdampak buruk pada alam. Membiarkannya saja tetap alami bisa menjadi pilihan. Namun, tetap harus memiliki nilai jual.

Tak hanya itu saja. Selama di lapangan, saya melihat beberapa desa wisata dibentuk karena adanya  proyek dari pemerintah. Bukan atas kesadaran dari desa maupun masyarakat lokal untuk memberdayakan potensi desanya menjadi daya tarik yang memiliki nilai jual.

Proyek pun berjalan. Setelah terbentuk kelembagaan seperti Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), penggagas kegiatan meninggalkannya tanpa adanya proses sosialiasi dan pendampingan yang tuntas. Akhirnya, masyarakat di desa wisata yang menjadi bingung. Tak tahu harus bagaimana dan seperti apa mengelola desa wisata.

Celakanya, desa wisata kemudian hanya sebuah papan nama saja. Ketika wisatawan datang dan siap untuk membeli, pengelola desa wisata justru tak siap dengan produk yang dijual.

Dalam membangun desa wisata, tidak hanya terfokus pada satu objek wisata saja. Yang terpenting juga adalah sumber daya manusia yang tersedia. Bagaimana cara tuan rumah melayani tamu, melahirkan ide-ide dan kreativitas, melakukan pemasaran, dan kemampuan lainnya adalah proses panjang dalam membangun desa wisata yang harus terus ditingkatkan kualitasnya.

Menekankan pada partisipasi masyarakat

Hal kedua yang harus dipahami dalam membangun desa wisata adalah adanya partisipasi masyarakat desa. Seberapa pun besar nilai proyeknya, banyak potensinya, bagus aksesnya, jika tidak didukung dengan partisipasi/keterlibatan masyarakat yang baik, maka membangun desa wisata akan sulit.

Masyarakat adalah salah satu unsur terpenting sebagai pelaku maupun pelaksana pembangunan kepariwisataan di Desa Wisata.

Pendekatan pembangunan desa wisata haruslah dirancang melalui musyawarah mufakat dari kelompok terkecil, yaitu masyarakat desa. Karena menurut saya, masyarakat lokal yang mengetahui potensi dan permasalahan yang mereka hadapi di tempat tinggalnya.

Sebagai orang luar yang ingin membangun desa (misal: akademisi, konsultan, NGO, atau pemerintah) jangan terlalu memaksakan kehendak (sak klek) untuk membangun desa wisata. Biarkan masyarakat desa terlibat dalam merencanakan pembangunan desa dan mengambil keputusan dengan turut melibatkan aktor kunci setempat.

 

Keriangan anak-anak di Desa Wisata Adat Nduaria, Ende

Modal utama membangun desa wisata adalah modal sosial

Membangun desa wisata bukanlah proyek hambur-hambur uang. Sarana prasarana yang ada jangan sampai mangkrak karena perencanaan yang tak tepat dan matang. Apalagi tak laku kemudian karena tak didukung upaya pemasaran dan pelayanan yang profesional.

Modal sosial di sini adalah sifat masyarakat desa itu sendiri. Seperti yang kita tahu, masyarakat desa sangat kuat dengan kearifan lokal guyub rukun/gotong royongnya. Seperti halnya di Jawa Tengah, masih mengenal tradisi sambatan/rewang (membantu tetangga dalam melaksanakan hajat). Seperti halnya juga masyarakat Jawa yang memegang kuat peribahasa, ‘Sepi ing Pamrih, Rame ing Gawe.’

 

 

Ambilah contoh Desa Wisata Pentingsari dan Desa Wisata Pulesari di Yogyakarta. Kedua desa wisata ini adalah contoh desa yang terkena dampak langsung letusan Gunung Merapi pada tahun 2010. Profesi utama masyarakat sebagai petani lumpuh akibat gagal panen. Mujur, ada beberapa aktor kunci (local hero) yang cerdas dalam mewartakan dan mengemas desanya menjadi daerah tujuan wisata.

Hadirnya desa wisata kemudian memberi dampak ekonomi yang luar biasa. Didukung dengan semangat gotong royong serta kemauan untuk berubah, kini masing-masing warga berlomba-lomba memperindah rumahnya untuk dijadikan homestay melalui dana swadaya. Ribuan wisatawan pun datang menginap hampir setiap bulannya.

Hadirnya kegiatan pariwisata di desa telah memberi dampak positif terhadap pembangunan ekonomi desa. Dalam pengamatan saya selama di lapangan, hadirnya desa wisata dapat memberikan kesempatan warga lokal untuk terlibat aktif membangun desa dan karirnya melalui pariwisata. Bahkan di beberapa desa wisata mandiri, pengembangan desa wisata mampu menekan urbanisasi, pengangguran, dan tingkat kriminal di desa.

Untuk itu, jangan menempatkan ‘uang’ sebagai modal utama dalam membangun desa wisata. Tanpa gotong royong/guyub rukun, membangun desa wisata akan terasa sulit. Tak sedikit juga, semangat gotong royong tumbuh menyusul karena adanya desa wisata. Tentunya sangat banyak kasus. Tinggal bagaimana pengelola desa menempatkan masyarakat sebagai pelakunya.

Memperhatikan nilai lokal

Produk desa wisata sangat berbeda dengan produk wisata di kota. Jika wisatawan ingin memesan hotel berbitang di desa wisata, tentu tidak akan ada. Banyak pula yang salah kaprah dalam membangun desa wisata. Seperti contoh membangun homestay dari nol dengan standar fasilitas hotel berbintang, atau membangun objek spot swafoto dengan corak warna-warni yang tidak memperhatikan lanskap alamnya.

Perlu diingat. Homestay tidak sama dengan hotel. Hematnya, homestay adalah tempat tinggal sementara yang memanfaatkan rumah penduduk lokal di daerah tujuan wisata untuk kebutuhan wisatawan yang akan bermalam. Dengan begitu, menginap di homestay menekankan pada interaksi tuan rumah (pemilik rumah/induk semang) dan tamunya (wisatawan).

Lalu spot swafoto/selfie, di mana letak salahnya? Tidak selalu salah. Namun, juga tidak selalu benar. Coba perhatikan lagi. Menarik mana alam tanpa objek swafoto, atau disertai objek swafoto?

Jika di lokasi dibuatnya obyek swafoto itu terdapat atraksi utama berupa lanskap alam, maka alangkah lebih baiknya untuk tidak membangun spot selfie maupun objek warna-warni. Jika ingin diberi pemanis atau pelengkap agar wisatawan tertarik berkunjung ke sana, storytelling (kemampuan bercerita) kuncinya.

 

Storytelling Desa Wisata
Khoirul Anam, pemandu di Desa Wisata Poncokusumo sedang menjelaskan jenis apel kepada wisatawan

 

Desa wisata dibuat untuk wisatawan yang ingin merasakan, menikmati, dan melakukan beragam aktivitas yang ada di desa. Gampangnya, prinsip desa wisata adalah Menjual Desa, Tanpa Kehilangan Desanya. Yang akan dibeli dan dirasakan oleh wisatawan saat berwisata ke desa wisata adalah nuansa dan kehidupan di desa.

Saat menyajikan hidangan makan di homestay, biarkan kuliner lokal muncul dan dicicip wisatawan. Misal walang (belalang) goreng seperti yang ada di Desa Wisata Bleberan, sayur rebung seperti di Desa Wisata Sanankerto, gethuk, singkong, maupun ayam ingkung adalah jamuan tradisional yang harus dimunculkan.

Satu lagi. Salah satu konsekuensi masuknya wisatawan ke desa wisata adalah adanya perubahan budaya. Oleh karena itu, masyarakat di desa wisata harus bisa memegang kukuh kearifan lokalnya. Begitu pula dengan wisatawan yang datang ke desa wisata. Mereka yang terlibat interaksi harus saling menghormati budaya lokal setempat.

Semangat Entrepreneur

Untuk menyukseskan bisnis pariwisata yang berkelanjutan, tentunya diperlukan semangat berwirausaha. Perlunya inovasi, kreativitas, maupun semangat memperkenalkan potensi desa dan mengajak orang lain untuk berwisata ke tempat tinggalnya sangat diperlukan dalam membangun desa wisata.

 

Membangun desa wisata
Salah satu warga yang juga berperan menjadi pemandu sedang menjelaskan fungsi homestay di Desa Wisata Kebonagung, Kabupaten Bantul

 

Peran pemuda/Karang Taruna dalam berpromosi melalui internet, peran ibu rumah tangga dalam menjual homestay dan kuliner desa sangat dibutuhkan untuk membangun desa wisata yang berkelanjutan.

Sebagaimana yang sudah saya contohkan di atas. Bagaimana semangat entrepreneur ini kemudian menular di Desa Wisata Pulesari. Masing-masing kepala keluarga pun berlomba memperindah rumahnya melalui dana swadaya supaya layak dihuni wisatawan.

Penguatan produk lokal

Selama berwisata ke desa wisata, saya banyak menemukan produk lokal desa yang memiliki nilai jual cukup baik.

Contoh di Desa Wisata Wukirsari, Kabupaten Bantul yang memiliki produk unggulan batik tulis. Di Desa Wisata Banjaroya, Kabupaten Kulonprogo dengan produk lokal durian Menoreh. Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul dengan produk lokal cokelatnya. Desa Wisata Pancoh, Kabupaten Sleman dengan produk salak pondohnya. Desa Wisata Jarum, Kabupaten Klaten dengan produk batik tulisnya. Desa Wisata Gamplong, Kabupaten Sleman dengan produk tenun luriknya, maupun produk desa wisata lainnya.

 

Membangun Desa Wisata
Produk lokal batik tulis halus Desa Wisata Jarum, Kabupaten Klaten. Untuk itu, desa ini juga terkenal sebagai penghasil batik terbesar se-Solo Raya

Membangun desa wisata

 

Sebagaimana yang saya tahu, salah satu potensi desa wisata yang selalu ditawarkan untuk dapat dibawa pulang wisatawan adalah kerajinan lokal. Bagaimana wisatawan dapat melihat proses pembuatan, belajar dalam membuat kerajinan, dan membawa pulang sebagai cinderamata adalah salah satu paket wisata yang bisa disediakan di desa wisata.

Di sinilah penguatan produk lokal menjadi penting. Bagaimana ketika wisatawan mendengar nama Banjaroya, langsung teringat pada durian Menorehnya. Maupun saat mendengar nama Desa Wisata Wukirsari, langsung teringat dengan batik tulisnya.

Produk lokal akan membantu meningkatkan citra (brand) desa wisata. Selain itu, dengan adanya produk lokal yang terus hidup dan sudah memiliki pasar (pembeli), desa tidak akan kehilangan mata pencahariannya manakala tidak ada kegiatan berwisata. Hal yang sama juga diarahkan oleh pemerintah atas konsep One Village-One Product, satu desa satu produk.

Merasa cukup

Bukan perkara mudah merintis desa dan kampung wisata supaya bisa mandiri. Ada proses panjang yang harus dilalui. Namun, dalam membangun bisnis kepariwisataan, kita diharap untuk lebih jeli memperhatikan keseimbangan. Jangan karena kaya potensi, lalu mengeksploitasi secara berlebihan.

Jumlah jutaan wisatawan yang datang bukanlah ukuran kesuksesan. Kita juga harus melihat bagaimana manfaat ekonomi, pelestarian budaya dan lingkungan, serta transfer pengetahuan yang berjalan. Dan tentunya, merasa ‘cukup’ adalah cara terbaik untuk menjaga keseimbangan. 

Dari, oleh, dan untuk masyarakat

Sebagai penutup tulisan. Hasil berwisata di beberapa desa wisata tanah air mendapatkan kesimpulan sekaligus refleksi bagi saya pribadi. Bahwa membangun desa wisata takkan berjalan mulus tanpa partisipasi langsung dari masyarakat lokal.

Peran akademisi, swasta, pemerintah memang penting dalam mendukung dan mewujudkan akselerasi kemandirian desa wisata. Namun, tanpa semangat berubah, kemauan dan kesadaran dari masyarakat lokal, membangun desa wisata mandiri hanyalah impian belaka.

Tabik.

 

 

Comments

comments

11 thoughts on “Membangun Desa Wisata, Memperhatikan Nilai Lokal

  1. Pemasaran yang tepat memang jadi salah satu dampak yang bagus. Pengemasan wisata yang baik menjadi daya tarik sendiri.
    Tapi nek menurutku, Nif, keberadaan desa wisata ini kok rasanya kurang diminati sama para travel ya? Ambil contoh misalnya, sebuah travel lebih memilih untuk membawa tamunya ke tempat-tempat wisata lain yang lebih dikenal. Ya meskipun, desa wisata memiliki pasar tersendiri.
    Mohon koreksi kalau salah.

    1. keberadaan desa wisata yg mana dulu? g semua desa wisata g diminati travel/biro. Contohnya di Pentingsari, Pancoh, Gubugklakah, Pulesari, sepengamatanku tamunya sebagian dari biro/travel.

      pengamatanmu jg g salah kok. namun, beberapa biro/travel sudah mulai menawarkan live in ke desa wisata. makanya penting jg, selain pemasaran dan pengemasan paket, desa wisata harus berjejaring.

  2. Heii itu fotoku sama Mas Papan juga lagi ndembik semua :’D

    Aku ya manggut-mangut saja sih baca ini. Jadi inget salahsatu matkul zaman sekolah dulu tentang modal sosial. Skripsiku pun tentang itu. Aku menulis tentang perubahan sosial di masyarakat desa. Bagaimana Guyub, Gotong-royong, Rewangan itu sedikit demi sedikit terpengaruh (sedikit demi sedikit terkikis) oleh pembangunan pabrik, industri, sehingga masyarakatnya beripndah haluan mata pencaharian menjadi buruh pabrik yang beranggapan “waktu adalah uang”. Padahal desa perlu diuri-uri.

    Menariik kalau membahas desa Nif. Membayangkan nasib estafet Desa Wisata jika yang muda-muda tidak diajak serta untuk berpartisipasi, atau memang banyak yang berbenturan dengan kegiatan mereka sehingga nggak punya banyak waktu untuk itu.

    Iya, meningkatkan citra Desa Wisata sangat penting. Jadi ada sesuatu yang lekat pada si pengunjung setelah mengunjungi Desa Wisata itu, dan pingin kembali lagi. Aku turut berdoa, semoga Desa Wisata yang tengah merintis maupun yang sudah jadi, tak ikut latah membuat spot swafoto yang “anu” ituuu 🙁
    Yang penting “keberlanjutan”nya itu.

    1. Ya ampun dowonee. Sudah jadi artikel nih komentarmu, Mba 😀
      Iya. Spot foto itu nganu jee. Apalagi yang sampai dipoles warna-warni. Bisa mendatangkan wisatawan, tapi tak bisa menahan lama tinggal wisatawan.

  3. Kalau menurut saya sebagai wisatawan, yang saya cari di desa wisata adalah suasana dan gaya hidup yang masih asli, dengan alamnya dan sosial penduduknya. Saya cukup setuju dengan poin bahwa tidak boleh mengubah desa menjadi objek wisata, apalagi kalau ditambah-tambahi banyak spot selfie. Mudah-mudahan perkembangannya bisa membuat masyarakat desa semakin sejahtera dengan tidak mengubah kearifan lokal di desa itu secara radikal. Hehe.

    1. Benar, mas. Sepakat. Memang masyarakat kita rentan dengan perubahan budaya. Budaya ikut-ikutan. hehe. Sama halnya dengan spot selfie dengan corak warna-warni. Banyak yang latah untuk bikin spot yang serupa.

      Terima kasih, Mas Gara. Lama tak ada kabar nih!

  4. pada intinya, membangun desa wisata memang seharusnya terlebih dahulu ada kesadaran dan keinginan dari masyarakatnya. Setelah itu, pemerintah hanya ikut membantu dan mengembangkan saja. Kalau dari awal semuanya diatur pemerintah dan masyarakat hanya berharap, udah pasti ngga akan bertahan lama karena masyarakat akan kebingungan setelah “dipaksa” mandiri.

    -Traveler Paruh Waktu

  5. yang ditulis di tulisan ini sedikit saya rasakan. monggo mampir di kisah saya yang masih berbentuk gambar, ingin segera menjadi tulisan. follow IG @ceritapendampingdesa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.