No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Inspirasi yang Datang dari Hutan Bambu Andeman, Sanankerto

by Hannif Andy Al - Anshori
Mei 11, 2017
10 min read
34

“Jangan main ke hutan bambu di sana.”

Larangan itu datang dari beberapa tetangga desa saya. Menurut cerita, hutan bambu adalah tempat bermainnya para makhluk gaib. Akhirnya, hutan bambu itu menjadi tempat yang jarang dilewati manusia. Hanya beberapa saja yang berani. Satu dua orang dengan membawa senapan api. Kemudian pulang, membawa hasil buruan biawak, ular kayu, atau garangan jawa.

Pernah mendengar suara pohon bambu ketika ditiup angin? Kadang terdengar menyeramkan, bukan? Hanya sekadar lewat saja, bisa membuat bulu kuduk merinding ketakutan. Apalagi jika melihat batang bambu yang meliuk hampir menyentuh tanah. Menurut masyarakat di desa, pohon itu dijadikan ayunan bagi para penunggunya.

Apakah cerita di atas harus dipercaya? Dahulu, hutan bambu Andeman pun demikian. Bahkan kabarnya pernah menjadi kawasan ‘pamali’ bagi anak-anak. Namun sekarang, tanyakan sendiri pada masyarakat yang bermukim di Desa Sanankerto.

****

Saya bangun lebih pagi dengan siraman wewangian di sekujur pakaian. Rencananya, saya akan menyaksikan keindahan baskara terbit di Desa Sanankerto, Kabupaten Malang. Secangkir teh hangat sudah terhidang manis disuguhi induk semang homestay. Potensi alam dan aktivitas warga di Desa Sanankerto boleh dibilang sangat unik, tidak akan puas jika hanya dinikmati dalam satu hari saja. Itulah sebabnya, bermalam di homestay Desa Wisata Sanankerto adalah pilihan yang terbaik. Selain dekat dengan akses potensinya, saya bisa lebih akrab bersama masyarakatnya.

Di ufuk timur, mentari mulai beranjak naik memberi kehangatan. Rudi Siswanto membawa motornya pelan. Sembari bercerita bagaimana masyarakat melestarikan alam dan budaya, Rudi sebagai pengurus Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) berharap kedatangan kami dapat memberikan masukan untuknya.

Laju motor semakin pelan tanpa suara tarikan gas. Rudi membawa saya masuk menerobos hutan. Sekelilingnya adalah pohon bambu yang menjulang tinggi. Bahkan hampir tak ada cahaya yang menerangi jalanan. Motornya sengaja diparkir menepi dan bukan berarti perjalanan telah usai. Rudi mengajak saya dan rombongan memanjakan kaki sembari menghirup khusyuk udara segar kawasan hutan Andeman, Sanankerto.

Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Juru pandu kami selama di Desa Wisata Sanankerto, Kabupaten Malang. Dari kiri ke kanan; Mas Gondrong, Ketua Kelompok Sadar Wisata, dan Mas Rudi.

Apa yang biasa terbayang ketika masuk ke hutan bambu? Pohon-pohon dirambati tbendalu. Daun basah dan kering berserak di latar hutan. Iring-iringan tongeret dan burung hutan sesekali terdengar.

“Jangan sampai terkena daun kemadoh, ya!” Rudi mewanti-wanti.

Pohon liar dengan daun yang agak lebar ini cukup berbahaya. Sekali terkena, akan demam berhari-hari. Saya pun punya pengalaman memetiknya secara tidak sengaja. Akibatnya pun fatal. Tangan panas, badan menggigil sampai tak masuk sekolah.

“Di depan sana, kita akan melihat pemandangan yang indah”, Rudi menjanjikan sesuatu pada kami.

Sepanjang jalan, ia bercerita tanpa jeda. Dimulai dari kemadoh dan seputar hobinya. Perjalanan merintis desa wisata, hingga tamu-tamu yang pernah dibawanya. Sementara rekannya mengikuti kami di belakang. Sungguh, cara bercerita Rudi membuat kami merasa nyaman ketika harus memasuki hutan yang hampir jarang dijamah wisatawan.

****

Sinaran cahaya pagi menerobos celah antara dedaunan pohon bambu. Pepohonan rambat di tanah seakan sedang berebut pendar cahaya mentari pagi. Begitu juga kami yang kompak mendongak merasakan hangatnya matahari pagi yang mengenai wajah-wajah kami.

Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Ini memang momen langka. Hanya dapat dijumpai pada pukul 07.00 – 08.00 WIB. Sebuah pertunjukan langka ini lebih popular disebut Rays of Light (ROL), yang merupakan fenomena alam dimana cahaya matahari sebagian terhalang dan sebagian lolos, sehingga memunculkan beberapa garis lurus yang diperjelas oleh partikel di atmosfer. 

Sebuah pertunjukan langka ini lebih popular disebut ROL (Rays of Light), yang merupakan fenomena alam di mana cahaya matahari sebagian terhalang dan sebagian lolos, sehingga memunculkan beberapa garis lurus yang diperjelas oleh partikel di atmosfer. Jika sudah menjumpai fenomena ini, puaskanlah hati untuk terus mengaguminya karena ROL tak akan menghias hutan bambu cukup lama.

“Ada yang lebih bagus lagi di depan, Mas. Kita jalan terus saja,” ajak Mas Gondrong, panggilan saya untuk Mas Bro dengan rambut yang gimbal.

Semerbak parfum yang menempel di seragam birunya dan kesantunannya dalam memandu telah menjadi perhatian kami selama menerobos hutan bambu Andeman, Sanankerto. Jam baru menunjukkan pukul tujuh lebih. Masih tersisa banyak waktu untuk membidik lanskap panorama hutan bambu. Tapi langkah Rudi terlalu cepat untuk dituruti. Saya kadang harus berlari mengejar Rudi yang hampir sampai di jantung hutan bambu. Di sinilah, kami menemui ROL paling seksi dengan semburat cahaya yang sempurna.

Ada kekaguman pada pesona hutan bambu Andeman yang membuat kami bersepuluh kompak bersuara, “Wow… Amazing”.

Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Ketua POKDARWIS Desa Wisata Sanankerto berfoto di antara cahaya ROL hutan bambu Andeman. Rays of light ini bisa dilihat mulai pagi hari sekitar pukul 07.00 hingga 08.00 WIB.  

Awalnya, saya mengira pemandangan hutan bambu Andeman akan biasa saja. Tak akan menarik seperti hutan bambu Arashiyama di Jepang yang pernah saya lihat melalui instagram. Namun penilaian saya salah. Meski belum ramai dan dipromosikan, hutan bambu Andeman memiliki daya pikat yang membingkai apik dokumentasi. Maka sebelum mengakhiri perjalanan, alangkah afdalnya untuk foto bersama-sama.

Jika menilik sejarahnya, hutan bambu di Desa Sanankerto sudah ada sejak 1910. Bambu yang tumbuh liar pun dipelihara dengan baik sehingga mampu menjaga kualitas mata air yang lokasinya tak jauh dari hutan bambu Andeman.

Tak ada suasana angker yang membungkus hutan bambu Andeman. Justru saya terkesan, hutan bambu yang jarang dijamah manusia, kini menjadi tempat eduwisata. Bagaimana tidak? Di sini, terdapat sebanyak 65 lebih varietas bambu, bahkan ada yang sengaja didatangkan dari luar untuk memperkaya koleksi hutan bambu Andeman. Harapannya, hutan bambu Andeman akan menjadi sebuah museum bambu hidup di masa mendatang.

Baiknya lagi, POKDARWIS Sanankerto bukan hanya mengajak pengunjung untuk berfoto di tengah ROL pagi. Mereka telah mengemas perjalanan wisata ini dengan gaya bercerita yang penuh edukasi. Penjelasan macam-macam bambu beserta manfaatnya pun kami dapatkan langsung dari Rudi.

“Kami masih bingung mau mengembangkan desa seperti apa, Mas,” Rudi tetap mengirim umpan agar kami memberi masukan.

Banyak hal yang sudah merubah hajat Rudi dan rekannya. Dari banyaknya pengangguran dan pemuda putus sekolah, hutan bambu memberikan akses untuk dimanfaatkan dan menjadi mata pencaharian. Bagi mereka, datang ke hutan bambu ini bukan untuk merusak, menebas bukan untuk membunuh. Ada masa panen yang telah disepakati oleh masyarakat dan pengelola hutan bambu Andeman. 

Rudi di bawah komando Kepala Desa Sanankerto berkomitmen, tak akan merusak kehidupan di hutan. Toh selama ini, mereka hanya bergantung pada limbah bambu yang terbuang. Hanya dari limbah, bisa mendatangkan rupiah? Bagaimana caranya?

Contoh saja Yahya (17 tahun), yang putus sekolah sejak lulus sekolah dasar. Bersama Aris (34 tahun), yang juga lebih lama sebagai pengangguran, mereka mendapatkan ruang untuk menjadi perajin limbah bambu yang memiliki harga jual cukup baik.

Saat saya temui, Yahya dan Aris sedang memulas warna pada kerajinan tangan paling rumit yang pernah saya temui. Akar bambu yang terbuang, diukir menjadi seni patung yang bernilai tinggi. Sekilas, kerajinan tangan ini terlihat seperti orang yang sedang menghisap rokok. Tidak ada unsur pengeleman. Semua mengikuti pola limbah akar bambu petung dan bambu ori. Di sanalah Yahya dan Aris dituntut kreatif. Meski belum tahu harga yang pantas untuk sebuah karya patungnya, Yahya dan Aris yakin, nilai jualnya tak akan membuat mereka kecewa.

Apresiasi tinggi pun akhirnya dinikmati Yahya, Aris, dan kelompok perajin lainnya. Kerajinan limbah bambu yang mereka buat pun sempat dipamerkan di Surabaya saat penyelenggaraan Majapahit Travel Fair 17th bulan April 2017 lalu.

Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Yahya (17 tahun) memulas warna di kerajinan patung limbah akar bambu. Dari banyaknya pengangguran dan pemuda putus sekolah, hutan bambu memberikan akses berlebih untuk dimanfaatkan dan mendatangkan rupiah. Datang tak untuk merusak, menebas tak untuk membunuh.
Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Dari daun hingga akarnya, pohon bambu dapat dimanfaatkan. Membuat kerajinan tangan, tusuk sate, juga penghias gapura desa.

“Daripada dibuang, semua limbah bambu dari rumah warga kami kumpulkan dan manfaatkan. Bentuk motifnya akan mengikuti ukuran limbahnya. Kalau batang ukuran pendek, ya dibuat motif yang pendek. Sementara yang panjang akan kami buat motif panjang,” jelas Rudi.

Juga seperti keluarga Puji Anwar (63 tahun) dan Sukatiyah (59 tahun), yang kesehariannya bercocok tanam dan membuat tusuk sate. Meski dihargai Rp 5.000 per kilonya, hutan bambu memberi akses bagi keluarga Anwar untuk hidup lebih layak. Dibanding harus menjadi pekerja di luar negeri yang kebanyakan dilakukan masyarakat desa, Anwar dan istrinya percaya, anugerah yang datang dari pohon bambu membawa berkah bagi kehidupannya.

Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Hutan Bambu Andeman, Sanankerto
Hutan Bambu Andeman, Sanankerto

Inspirasi itu kemudian datang, merasuk jiwa, dan membangkitkan asa. Tersematlah nama ‘Boonpring’ sebagai doa terbaik untuk keberlanjutan lingkungan dan sosial masyarakat desa. Boon yang berarti anugerah, sementara pring yang berarti bambu. Dengan harapan, hutan bambu seluas 26 hektar ini mendatangkan keberkahan bagi masyarakat dan makhluk hidup di sana.

“Alhamdulillah, Mas. Dengan adanya desa wisata dan membuat kerajinan dari limbah bambu, remaja yang dulunya sering nongkrong ga jelas sambil minum-muniman, sekarang sudah memiliki kegiatan yang positif” tegas Rudi.

Baiknya lagi, Rudi tak menempatkan perputaran uang sebagai prioritas utama. Perubahan perilaku masyarakat menjadi positif maupun menekan angka pengangguran adalah tujuan besar yang patut diapresiasi. Akhirnya. hutan Andeman menjadi berkah bagi pengembangan Desa Ekowisata Boonpring di Sanankerto

Cerita Rudi dan perjalanan kemarin memberi pengetahuan bagi kami. Bahwa alam sejatinya memberikan apa yang kita mau. Untuk mengembangkan menjadi objek wisata, ‘cukup’ adalah batasan terbaiknya. Jangan berlebihan apalagi sampai merusak tatanan kehidupan. Seperti pohon kelapa, bambu pun demikian. Dari daun hingga akarnya dapat dimanfaatkan. Membuat air lebih berlimpah, kerajinan tangan, tusuk sate, penghias gapura desa, juga agar hidangan di meja makan semakin nikmat, bambu memberikan banyak manfaat bagi manusia.

Baca juga : Marsono, Pelestari Wayang Sada (Lidi)

Informasi dan pemesanan

Selain Desa Wisata Sanankerto, kamu juga dapat mampir ke Desa Wisata Gubugklakah yang terletak di Kecamatan Poncokusumo. Desa wisata ini menjadi salah satu akses menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Kondisi geografis yang demikian menjadikan desa ini memiliki hawa yang sejuk dengan suhu udara berkisar antara 200 hingga 220 celcius. 

Beberapa paket wisata yang ditawarkan di Desa Wisata Gubugklakah di antaranya adalah perah susu sapi, Air Terjun Coban Pelangi, river tubing Ledok Amprong, agrowisata petik apel, outbound ndeso di hutan pinus, maupun sunrise Gunung Bromo.

Desa Wisata Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang
CP: 083848824802 (Rudi)/ 085331674242 (Wahyudi)

  • Sanankerto
  • Gubukklakah
Previous Post

Menjerit Bahagia di River Tubing Ledok Amprong, Gubugklakah

Next Post

Marsono, Pelestari Wayang Sada di Bejiharjo

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Wayang Sada Gunungkidul

Marsono, Pelestari Wayang Sada di Bejiharjo

Comments 34

  1. ghozaliq says:
    9 tahun ago

    Aku lho tumbuh besar dengan hutan bambu persis di belakang rumah, jadi sudah hapal dengan cerita-cerita seperti itu di hutan bambu…ahahaha

    RoL nya emang kece cerah beneran, gak sia-sia bangun pagi dan beranjak lebih awal dari aktivitas biasanya ya. Musim kemarau bakalan lebih jelas RoL nya pasti…

    Hayo lho sana buka usaha sate di Sanankerto, dekat dengan salah satu bahan baku…ahaha

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Aku pengen buka usaha cilok bakar, sate siput, sempol, terus apalagi ya. Banyak. Hahhaa.
      Berarti emang bener ya cerita angker yang membungkus hutan bambu? katanya tempat main kunti dan wewe. Haha

      Balas
  2. Aji Sukma says:
    9 tahun ago

    Aku masih blm ngeh tanaman kemadoh itu yg sperti apa. Di sini ada gak yah, kan lumayan kalo ada tmn yg ebret tinggal olesin aja kemadoh :p

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Kalau di desaku namanya Madoh. Serius coi. Kalau kamu sekali megang, bisa g nyupir berhari-hari mungkin. Puanes banget

      Balas
  3. Gallant Tsany Abdillah says:
    9 tahun ago

    kalo aku di rumah, kadang suka muncul RoL tadi. tapi dari pohon jati.
    usaha tusuk sate tuh murah sebenernya, tapi kebutuhannya datang terus. artinya nggak bakal ngga ada pemasukan. usaha “sederhana” yang jarang orang pikir lho.

    pas suatu kali aku lagi ngobrol sama temenku, dia cerita kalo dulu dia pernah ditanya sama gurunya pas di kelas SMA. “Kalian kalau punya usaha, mau usaha apa?” temen temennya pada bingung nggak ada ide. gurunya bilang “usaha nggak usah yang ribet. jualan tusuk gigi aja. bikin perusahaan tusuk gigi.” temen temennya (termasuk dia) agak ngeremehin kan. tusuk gigi gitu lho. apa untungnya. harganya murah. tapi gurunya bilang gini “iya tusuk gigi itu murah, tapi kan tiap hari hampir semua restoran butuh, artinya usaha kalian pasti terbeli. pendapatan masuk terus, keuntungan masuk terus” gitu katanya.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      kamu mau nyobain usaha tusuk gigi ga mas? atau tisu deh.
      Atau supit buat makan mie ayam. Hehe.
      Iya, hampir semua masyarakat di Sanankerto pada buat tusuk sate. Jadi kalau lebaran besar, ga repot lagi cari tusuk buat nyate kambing

      Balas
      • Gallant Tsany Abdillah says:
        9 tahun ago

        bahahaa. tisu nggak bersahabat dengan lingkungan. kalo tusuk gigi kayaknya pengen wkwk

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          Pengusaha tusuk gigi asal Lamongan. Tusuk Gigi Obati Galau, by Galan

          Balas
          • Gallant Tsany Abdillah says:
            9 tahun ago

            Gallant, not Galan

          • insanwisata says:
            9 tahun ago

            haha. Yoh Mas

  4. Vanisa Desfriani says:
    9 tahun ago

    RoLnya bagus banget, itu yang foto sendiri dibawah rol, pas banget gayanya haha jd ngebayangin hal2 mistis, tambah ukiran kayunya mukanya kaya gitu. sereem haha

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      wah. kamu pasti takut kalau diajak masuk ke sini.
      Yang sendiri di bawah ROL itu menakutkan ya? haha

      Balas
  5. insanwisata says:
    9 tahun ago

    iki yo pojokan mas. Jauh dari rumah penduduk. hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Haha. kalau misal menarik kaya Andeman, bisa tuh dipoles jadi tempat foto2

      Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Haha. Karena hutan bambu identik dengan tempat yg horor sih yaa. ga tau kalau di desamu.
      Bikin pagar, dulunya juga dari bambu. Serba guna. Untuk tolak bala, atau jimat, ada bambu kuning. haha
      Masalahnya, kalau kamu prewed di sini, sama siapa Mba?

      Balas
  6. Dwi Susanti says:
    9 tahun ago

    Hoaa prolognya jadi cerita horor :p

    Limbah bambu yang menjadi jalan menghidupi 🙂 aku habis baca ini juga tersadar kalau bambu ituuu bisa disulap jadi beraneka rupa. Padahal bapakku suka bikin kandang ayam dari bambu. Hehe.

    Fotonyaaa bisa jadi inspirasi prewed siluet rol apikkk kuih

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      mau prewed sama siapa Mba di sini?
      Heheh. kadang hutan bambu emang horor

      Balas
  7. Ikrom says:
    9 tahun ago

    ini yang di turen itu, aku belum ke sana
    suka banget sama foto cahaya yang masuk di sela2 pohon
    kerajinan tangannya juga keren
    ah harus ke sana nih

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      jangan lupa salam buat Mas Rudi ya Mas

      Balas
  8. gusbolang says:
    9 tahun ago

    Warganya sangat kreatif sekali kakak ….. insyallah besok besok ada kesempatan bisa main main ke sini

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ditunggu Mas

      Balas
  9. Hadi Prayitno says:
    9 tahun ago

    Perjalanan wisatanya benar-benar mantap. Kayaknya kita satu hobi.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      asik

      Balas
  10. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Wah kerajinan dari Bambu nya sangat unik sekali Mas.. Asyik banget Mas foto-foto di bambu nya..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya, Mas

      Balas
  11. yosef krisna says:
    9 tahun ago

    baru tau caranya bikin tusuk sate ternyata pakai alat trtentu…taunya disisiki satu-satu hahaha

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      ada yg manual ada yang pakai mesin, bro

      Balas
  12. Matius Teguh Nugroho says:
    9 tahun ago

    ROL-nya keren banget, bro! Aku nggak pernah sukses mengambil foto ROL kayak gitu T..T
    Btw, “boonpring” sekilas terdengar kayak singkatan “kebon pring” hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya. bagi orang Jawa mungkin langsung menghubungkan ke Kebon Pring. Aku awalnya demikian. Ternyata bagi masyarakat Sanankerto, Boonpring punya arti yang apik. Waduh, kamu harus belajar sama guruku, Mas Ghozali.

      Balas
  13. Iwan Tantomi says:
    9 tahun ago

    Nuansanya mirip beberapa daerah yang ada di negara Tiongkok, syahdu, tak rugilah kalau mau main ke sini. Eh, kenalin, namaku Tomi asal Malang. Mampir ya, kalau main ke sana.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Woi. Sispai

      Balas
  14. Elisabeth Murni says:
    9 tahun ago

    Aduh itu foto terakhirnya bikin pengen berumah tangga disitu, eh maksudnya bikin rumah disitu. Semacam tempat yang tepat untuk membesarkan anak-anak tsaaaah. Betewe saya tu termasuk yang jiper kalo disuruh jalan sendirian ke rumpun bambu lho. Efek dongeng2 nyeremin jaman kecil sih.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Hahaha. Bambu emang selalu nyeremin sih. Apalagi pas sepi itu yaa
      Ya udah, bikin rumah di sini Mba

      Balas
  15. Ping-balik: URL

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller