Inspirasi yang Datang dari Hutan Bambu Andeman, Sanankerto

“Jangan main ke hutan bambu di sana”.

Larangan itu datang dari beberapa tetangga desa saya. Yang menurut cerita, hutan bambu adalah tempat bermainnya para makhluk gaib. Hutan bambu itu menjadi tempat yang jarang dijamah manusia. Hanya beberapa saja yang berani. Satu dua orang dengan membawa senapan api. Kemudian pulang, membawa biawak atau ular hasil buruan.

Pernah mendengar suara pohon bambu ketika ditiup angin? Kadang menyeramkan, bukan? Hanya sekadar lewat saja, bisa membuat bulu kuduk merinding ketakutan. Apalagi jika melihat batang bambu yang meliuk hampir menyentuh tanah. Menurut masyarakat di desa, pohon itu dijadikan ayunan bagi para penunggunya.

Apakah cerita di atas harus dipercaya? Tanyakan sendiri pada masyarakat yang bermukim di Desa Sanankerto.

***

Saya bangun lebih pagi dengan siraman wewangian di sekujur pakaian. Seperti biasa, agenda pelesiran selalu terjadwal bangun lebih pagi untuk menyaksikan keindahan baskara terbit. Secangkir teh hangat terhidang manis disuguhi pemilik homestay. Sesekali ia menawarkan sarapan lezat kepada saya.

Di ufuk timur, mentari mulai beranjak naik memberi hangat Tlatah Sanankerto. Rudi membawa motornya pelan. Sembari bercerita bagaimana masyarakat melestarikan alam dan budaya, Rudi sebagai pengurus Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) berharap, kedatangan kami mendatangkan inspirasi untuknya.

Laju motor semakin pelan tanpa suara tarikan gas. Rudi membawa saya masuk menerobos hutan. Sekelilingnya adalah pohon bambu yang menjulang tinggi. Hampir tak ada cahaya yang menerangi jalanan. Motornya sengaja diparkir rapi. Bukan berarti perjalanan telah usai. Rudi mengajak saya dan rombongan memanjakan kaki sambil berolahraga pagi.

Apa yang biasa terbayangkan ketika masuk ke hutan bambu?

Pohon-pohon berpadu dengan semak belukar. Daun basah dan kering berserak di latar hutan. Iring-iringan serangga dan burung hutan sesekali terdengar. “Jangan sampai terkena daun kemadoh, ya!”, Rudi mewanti-wanti. Pohon kecil dengan ciri daun yang agak lebar ini cukup berbahaya. Sekali terkena, akan demam berhari-hari. Saya pun pernah mengalami panas tubuh hingga tak masuk sekolah beberapa hari karena tak sengaja memegang daun kemadoh.

Mengejar Rays of Light hutan bambu Andeman. Foto oleh: Ghozali

“Di depan sana, kita akan melihat pemandangan yang cantik”.

Rudi paham cara menjamu kami. Sepanjang jalan, ia bercerita tanpa jeda. Dimulai dari kemadoh dan seputar hobinya. Sementara rekannya, mengikuti kami di belakang. Sungguh, jamuan kepemanduan yang membuat kami merasa nyaman ketika harus memasuki hutan yang hampir jarang dijamah wisatawan.

“Itu, Mas”, tunjuk Rudi ke langit-langit.

Pendar cahaya baskara pagi menerobos celah antara dedaunan pohon bambu. Pepohonan rambat di tanah seakan sedang berebut pendar cahaya mentari pagi. Begitu juga kami. Yang turut mendongak merasakan hangatnya matahari pagi mengenai wajah-wajah kami.

Sebuah pertunjukan langka ini lebih popular disebut Rays of Light (ROL), yang merupakan fenomena alam dimana cahaya matahari sebagian terhalang dan sebagian lolos, sehingga memunculkan beberapa garis lurus yang diperjelas oleh partikel di atmosfer. Jika sudah menjangkaunya, puaskanlah hati untuk terus mengaguminya karena ROL tak akan menghias hutan bambu cukup lama.

“Ada yang lebih bagus lagi di depan, Mas. Kita jalan terus saja”, ajak Mas Gondrong, panggilan saya untuk Mas Bro dengan rambut yang gimbal. Semerbak parfum yang menempel di seragam birunya, cara berpakaiannya yang rapi, dan kesantunannya dalam memandu, telah menjadi perhatian kami yang semakin menyukai kegiatan wisata ke desa.

Jam baru menunjukkan pukul tujuh lebih. Masih tersisa banyak waktu sebelum pukul delapan untuk membidik lansekap panorama hutan bambu. Tapi langkah Rudi terlalu cepat untuk dituruti. Saya kadang harus berlari mengejar Rudi yang hampir sampai di jantung hutan bambu. Di spot foto paling direkomendasi, kami menemui ROL paling seksi.

Awalnya, saya mengira pemandangan hutan bambu Andeman akan biasa saja. Tak akan menarik seperti hutan bambu Arashiyama di Jepang. Namun penilaian saya salah. Meski belum dipoles cantik serupa destinasi wisata, hutan bambu Andeman memiliki daya pikat yang membingkai apik dokumentasi. Ada kekaguman pada pesona hutan bambu Andeman yang membuat kami bersepuluh berteriak, “WowAmazing!”. Maka sebelum mengakhiri perjalanan, alangkah afdhalnya untuk berfoto ramai-ramai.

Ini memang momen langka. Hanya dapat dijumpai pada pukul 07.00 – 08.00 WIB.

Tim Eksplor Deswita Malang. Foto oleh: Ghozali Qodratullah

Tak ada suasana angker yang membungkus hutan bambu Andeman. Justru saya terkesan, hutan bambu yang jarang dijamah manusia, kini menjadi tempat eduwisata. Bagaimana tidak? Di sini, terdapat sebanyak 65 varietas bambu, bahkan ada yang sengaja didatangkan dari luar untuk memperkaya koleksi eduwisata.

“Kami masih bingung mau mengembangkan desa seperti apa, Mas”, Rudi tetap mengirim umpan agar kami memberi masukan.

Banyak hal yang sudah merubah hajat Rudi dan rekannya. Dari banyaknya pengangguran dan pemuda putus sekolah, hutan bambu memberikan akses berlebih untuk dimanfaatkan dan mendatangkan rupiah. Datang tak untuk merusak, menebas tak untuk membunuh. Rudi di bawah komando kepala desa Sanankerto berkomitmen, tak akan merusak kehidupan di hutan. Toh selama ini, mereka hanya bergantung pada limbah bambu yang terbuang. Hanya dari limbah, bisa mendatangkan rupiah? Tanyakan saja pada Rudi dan kawan-kawan.

Seperti Yahya (17 tahun), yang putus sekolah sejak lulus sekolah dasar, bersama Aris (34 tahun), yang juga lebih lama sebagai pengangguran, mereka menggarap rupa-rupa kerajinan limbah bambu yang cukup unik.

Saat saya temui, Yahya dan Aris sedang memulas warna pada kerajinan tangan paling rumit yang pernah saya temui. Akar bambu yang terbuang, diukir menjadi seni patung yang bernilai tinggi. Pola wajah dengan cerutu diukir mengikuti pola aslinya. Meski belum tahu harga yang pantas untuk sebuah karya patungnya, Yahya dan Aris yakin, nilai jualnya tak akan membuat dompet kecewa.

 

Yahya (17 tahun) memulas warna di kerajinan patung limbah akar bambu.

Aris (34 tahun) membuat pahatan di potongan bambu yang terbuang.

Juga seperti keluarga Puji Anwar (63 tahun) dan Sukatiyah (59 tahun), yang kesehariannya bercocok tanam dan membuat tusuk sate. Meski dihargai Rp 5.000 per kilonya, hutan bambu memberi akses bagi Anwar dan Sukatiyah untuk hidup lebih layak. Dibanding harus menjadi buruh bangunan di luar kota, maupun TKI di negeri seberang, Anwar dan istrinya percaya, anugerah yang datang dari pohon bambu membawa berkah kehidupan dan semesta.

 

Puji Anwar (63 tahun) dan Sukatiyah (59 tahun) membuat tusuk sate di rumahnya.

Inspirasi itu kemudian datang, merasuk jiwa, dan membangkitkan asa. Tersematlah nama Boonpring sebagai doa terbaik untuk keberlangsungan masyarakat desa. Boon yang berarti anugerah, sementara pring yang berarti bambu. Dengan harapan, hutan bambu seluas 26 hektar mendatangkan keberkahan bagi makhluk hidup di sana.

“Alhamdulillah, Mas. Dengan adanya desa wisata dan membuat kerajinan dari limbah bambu, remaja yang dulunya sering nongkrong ga jelas sambil minum-muniman, sekarang sudah memiliki kegiatan yang positif”, tegas Rudi.

Seperti pohon kelapa, bambu pun demikian. Dari daun hingga akarnya dapat dimanfaatkan. Membuat kerajinan tangan, tusuk sate, penghias gapura desa, juga agar hidangan di meja makan semakin berselera, rebung bambu yang lezat nan nikmat memang pas disantap.

P.S: Tulisan ini merupakan catatan perjalanan dari rangkaian acara Travel Blogger Eksplor Deswita Malang. Tulisan lainnya dapat disimak di: Kumpulan Artikel Eksplor Deswita.

Ini adalah potongan bambu yang siap diolah menjadi asbak.

Mas Gondrong, Ketua Kelompok Sadar Wisata, dan Mas Rudi.

 

Informasi dan pemesanan

Desa Wisata Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang
CP: 083848824802 (Rudi)/ 085331674242 (Wahyudi)


Lokasi Desa Wisata Sanankerto

Comments

comments

29 thoughts on “Inspirasi yang Datang dari Hutan Bambu Andeman, Sanankerto

  1. Aku lho tumbuh besar dengan hutan bambu persis di belakang rumah, jadi sudah hapal dengan cerita-cerita seperti itu di hutan bambu…ahahaha

    RoL nya emang kece cerah beneran, gak sia-sia bangun pagi dan beranjak lebih awal dari aktivitas biasanya ya. Musim kemarau bakalan lebih jelas RoL nya pasti…

    Hayo lho sana buka usaha sate di Sanankerto, dekat dengan salah satu bahan baku…ahaha

    1. Aku pengen buka usaha cilok bakar, sate siput, sempol, terus apalagi ya. Banyak. Hahhaa.
      Berarti emang bener ya cerita angker yang membungkus hutan bambu? katanya tempat main kunti dan wewe. Haha

  2. kalo aku di rumah, kadang suka muncul RoL tadi. tapi dari pohon jati.
    usaha tusuk sate tuh murah sebenernya, tapi kebutuhannya datang terus. artinya nggak bakal ngga ada pemasukan. usaha “sederhana” yang jarang orang pikir lho.

    pas suatu kali aku lagi ngobrol sama temenku, dia cerita kalo dulu dia pernah ditanya sama gurunya pas di kelas SMA. “Kalian kalau punya usaha, mau usaha apa?” temen temennya pada bingung nggak ada ide. gurunya bilang “usaha nggak usah yang ribet. jualan tusuk gigi aja. bikin perusahaan tusuk gigi.” temen temennya (termasuk dia) agak ngeremehin kan. tusuk gigi gitu lho. apa untungnya. harganya murah. tapi gurunya bilang gini “iya tusuk gigi itu murah, tapi kan tiap hari hampir semua restoran butuh, artinya usaha kalian pasti terbeli. pendapatan masuk terus, keuntungan masuk terus” gitu katanya.

    1. kamu mau nyobain usaha tusuk gigi ga mas? atau tisu deh.
      Atau supit buat makan mie ayam. Hehe.
      Iya, hampir semua masyarakat di Sanankerto pada buat tusuk sate. Jadi kalau lebaran besar, ga repot lagi cari tusuk buat nyate kambing

        1. Haha. Karena hutan bambu identik dengan tempat yg horor sih yaa. ga tau kalau di desamu.
          Bikin pagar, dulunya juga dari bambu. Serba guna. Untuk tolak bala, atau jimat, ada bambu kuning. haha
          Masalahnya, kalau kamu prewed di sini, sama siapa Mba?

  3. Hoaa prolognya jadi cerita horor :p

    Limbah bambu yang menjadi jalan menghidupi 🙂 aku habis baca ini juga tersadar kalau bambu ituuu bisa disulap jadi beraneka rupa. Padahal bapakku suka bikin kandang ayam dari bambu. Hehe.

    Fotonyaaa bisa jadi inspirasi prewed siluet rol apikkk kuih

  4. ini yang di turen itu, aku belum ke sana
    suka banget sama foto cahaya yang masuk di sela2 pohon
    kerajinan tangannya juga keren
    ah harus ke sana nih

Leave a Reply