48 Jam Berkeliling Yogyakarta

 

Kota Gudeg Yogyakarta selalu dikisahkan manis dan menghibur. Itulah kiranya yang membuat saya dan keluarga betah menyambanginya. Soal tempat wisata, jangan ditanya. Saya memiliki daftar lokasi dan rekomendasi kuliner yang masih menjadi angan untuk bisa dikunjungi.

Namun tatkala Anda ingin menghabiskan libur panjang ke Yogyakarta, tentu Anda membutuhkan pilihan tempat wisata yang berkesan dan tidak itu-itu saja. Dengan berbagai pertimbangan jarak, waktu, dan atraksi, berikut beberapa lokasi wisata menarik di Yogyakarta yang dapat Anda kunjungi selama dua hari.

Hari pertama

07.00 WIB : Sarapan jenang candil Bu Sugesti

Sebagai pembuka kegiatan wisata di Yogyakarta, Anda harus mencicip kuliner legenda di tengah Pasar Lempuyangan yang terletak di Jl. Hayam Wuruk, Kota Yogyakarta. Jenang candil ini sudah eksis sejak tahun 1950. Kendati penjual; Bu Sugesti adalah generasi ketiga, jenang candil tak pernah kehilangan penggemar. Bahkan kabarnya, jenang candil racikan Bu Sugesti juga digemari keluarga Kraton.

Disajikan di atas pincuk (piring yang terbuat dari daun pisang) dengan alas besek (piring dari bambu), satu porsi jenang candi Bu Sugesti berisi sumsum, candil, dan mutiara. Jenang yang terbuat dari tepung beras dan kanji ini memiliki rasa manis yang pas. Bu Sugesti membuka lapaknya setiap pukul 05.00 WIB pagi. Maka jangan heran jika banyak orang rela mengantre demi membawa pulang jenang candil ini.

 

Jenang Candil Bu Sugesti1

Jenang Candil Bu Sugesti1

 

08.00 WIB : Menziarahi bangunan-bangunan heritage Kotagede

Usai puas menyantap jenang candil Bu Sugesti, berkendaralah menuju Kotagede. Kawasan ini memiliki puluhan bangunan heritage yang kerapkali memantik wisatawan untuk bisa berswafoto di depan daun-daun pintunya. Terserak di sana rumah beratap joglo, limasan, hingga makam para raja dan tempat peribatan Islam.

Berjalan kaki menyusuri setiap lorong komplek perkampungan adalah pilihan yang tepat saat berwisata ke Kotagede. Sebelum matahari naik cukup tinggi, cobalah Anda datang menziarahi sendang dan makam dengan mengenakan pakaian khas masyarakat Jawa yang dapat disewa di area pintu masuk pemakaman. Bagi wanita yang tidak berjilbab, tentunya akan mengenakan kain kemben yang dilengkapi jarik. Sementara bagi pria, akan mengenakan lurik beserta blangkon. Menarik, bukan?

 

Kotagede Yogyakarta

Kotagede Yogyakarta

Kotagede Yogyakarta

 

10.00 WIB : Menyantap Soto “Tahu” Kemasan / Soto Lombok Pithes

Dua jam berkeliling kawasan Kotagede tentu akan membuat Anda kelaparan. Namun, jangan khawatir. Rekomendasi kuliner yang satu ini patut dicoba karena memiliki citra rasa dan penyajian yang unik. Bergeserlah sedikit menuju Jalan Kidul Ringroad Selatan, Banguntanpan. Warung makan ini berada tidak terlalu jauh dari Kotagede, yakni hanya 4 Km atau dapat ditempuh dalam 10 menit saja.

Soto Kemasan sudah eksis mewarnai khazanah kuliner Yogyakarta sejak tahun 1963. Bicara soto, tentu akan banyak variannya. Namun, percayalah. Soto Tahu Kemasan memiliki citra rasa yang nikmat jika disantap bersama cabai rawit.

 

Soto Kemasan Soto Lombok Pithes

Soto Kemasan Soto Lombok Pithes

 

“Mau cabai berapa?”, tanya penjual setiap kali Anda memesan. Permintaan jumlah cabai yang Anda sebutkan tadi akan dilumatkan dan ditabur ke dalam mangkok soto yang siap santap. Itulah sebabnya, soto ini memiliki nama lain Soto Lombok Pithes.

Baca juga: Blusukan Kuliner Yogyakarta

Bukan irisan ayam maupun daging sapi yang melengkapi Soto Tahu Kemasan. Melainkan irisan tahu bacem dengan taburan daun kemangi yang ada dalam sepiring mangkoknya. Jika menghendaki lauk tambahan, Anda dapat mencampurnya dengan aneka jeroan yang sudah tersaji di meja makan.

11.30 WIB : Mengunjungi istana kepresidenan di Gedung Agung Yogyakarta

Saat matahari sudah beranjak cukup tinggi, pilihan tempat wisata selanjutnya tentulah berkeliling istana kepresidenan. Bangunan seluas 4,2 hektare ini masih aktif digunakan sebagai rumah transit maupun kediaman resmi Presiden Republik Indonesia. Maka jangan lewatkan kesempatan untuk menilik istana Presiden RI yang megah ini.

Disambut satuan tugas keamanan yang ramah, Anda akan dipandu berkeliling menikmati koleksi yang ada di beberapa ruang. Beberapa koleksi tersebut di antaranya adalah foto-foto presiden RI dari masa ke masa, galeri lukisan para maestro seniman seperti Raden Saleh dan Basuki Abdullah, maupun koleksi barang-barang antik dari berbagai negara.

Perlu diketahui, bangunan istana kepresidenan Yogyakarta ini dibangun sejak 1824. Namun, karena meledaknya Perang Diponegoro pada rentan waktu tahun 1825-1830, pembangunan Gedung Agung tertunda. Di masa sekarang, selain digunakan sebagai kediaman Presiden RI, Gedung Agung menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi Undang-Undang. Beberapa pemimpin negara dunia pun pernah mampir ke tempat ini.

 

Gedung Agung Yogyakarta

Gedung Agung Yogyakarta

 

13.00 WIB : Berbelanja di Malioboro

Malioboro nampaknya menjadi sentra perbelanjaan yang tak boleh terlewat begitu saja. Setelah puas berkeliling istana keprisedenan di Gedung Agung, segeralah untuk membeli buah tangan khas Yogyakarta; yakni batik. Pusat perbelanjaan batik seperti Pasar Beringharjo dan Hamzah Batik selalu menjadi serbuan wisatawan yang ingin membeli batik.

 

Malioboro Yogyakarta

Malioboro Yogyakarta

 

15.30 WIB : Menjemput senja di Waduk Sermo

Tempat rekreasi selanjutnya adalah Waduk Sermo. Tempat ini cukup populer sebagai lokasi terbaik untuk menyaksikan matahari terbenam di Kabupaten Kulonprogo. Berjarak 35 Km atau memakan waktu satu jam dari pusat Kota Yogyakarta, Waduk Sermo menawarkan lanskap alam yang kerap merayu wisatawan untuk enggan pulang.

Tak jarang, wisatawan memilih bermalam dan mendirikan tenda di sepanjang Waduk Sermo. Namun bagi Anda yang tidak ingin bermalam di sini, tentu jangan khawatir. Tersedia cukup banyak sewa villa murah di Yogyakarta yang harganya cukup terjangkau.

Oh, ya. Pemandangan matahari terbit di sini sangatlah menawan. Maka, jangan sekali-kali pergi melewatkannya.

 

Waduk Sermo

Waduk Sermo

 

Hari kedua

08.00 WIB : Dirayu segarnya Taman Air Ekowisata Mudal 

Berada di antara perbukitan Menoreh, taman air ini menjadi tempat favorit para kawula muda bersama keluarganya untuk menghabiskan akhir pekan. Suara nyanyian burung yang beradu merdu dengan gemericik air sungai bagaikan terapi yang menyegarkan indera. Saat matahari kian meninggi, sinarnya berusaha menerobos pepohonan yang menyelimuti tiga kolam Taman Air Ekowisata Mudal sehingga membuat suasana menjadi sejuk dan hangat. Maka nikmatilah kesegarannya dengan ikut berendam dan berenang di salah satu kolamnya.

 

Ekowisata Mudal

Ekowisata Mudal

 

11.00 WIB : Santap siang di tengah sawah dengan Geblek Pari Nanggulan 

Geblek adalah makanan yang terbuat dari tepung kanji, bawang putih, dan parutan kelapa. Rasa geblek yang kenyal dan gurih seolah memiliki kemiripan dengan cireng (makanan khas Sunda). Namun, yang membedakan adalah makanan pasangannya. Geblek khas Naggulan, Kulonprogo biasa dimakan bersama tempe dan sambal bawang.

Tempat makan yang berada di tengah sawah ini memiliki konsep ‘ndeso’ atau tradisional. Semilir angin di alam terbuka akan membuat acara santap siang Anda semakin berkesan. Belum lagi dengan adanya hammock yang bergelantungan di setiap pepohonan.

 

Geblek Pari Nanggulan

Geblek Pari Nanggulan

 

16.00 WIB : Menikmati Senja dari Candi Ijo

Kali ini, Candi Ijo menjadi pilihan lokasi menikmati senja di hari kedua. Candi ini merupakan candi Hindu tertinggi di Yogyakarta yang dibangun sekitar abad ke-9. Karena letaknya yang cukup tinggi, maka bukan saja bangunan candi yang dapat Anda saksikan. Melainkan juga pemandangan alam berupa area persawahan dan lalu lalang pesawat yang tengah mendarat dan lepas landas dari Bandar Udara Internasional Adisucipto.

Ragam bentuk seni pahat tinggalan jejak pitarah manusia abad ke-9 dapat dijumpai di antara pintu masuk bangunan candi utama dan perwara. Motif wajah Kala Makara selalu menjadi penghias pintu masuk candi-candi Hindu yang tersebar di Yogyakarta. Sementara tiga candi perwara yang berada di antara candi induk dibangun sebagai bentuk penghormatan pada Brahma, Siwa, dan Whisnu.

 

Candi Ijo

Candi Ijo

 

Mengunjungi candi ini, ibarat sedang bersemedi di tempat yang sunyi. Jauh dari suara lalu lalang dan polusi asap kendaraan, candi ini sudah cukup populer di kalangan wisatawan yang ingin menikmati pemandangan matahari tenggelam di Yogyakarta.

19.00 WIB : Menutup kegiatan dengan santap malam Sate Kere Mbah Mardi

Pulang. Adalah kata kerja yang nampaknya enggan untuk diungkapkan. Yogyakarta begitu lengkap memberikan suguhan pesonanya supaya Anda tetap tinggal dalam waktu yang lama. Tapi pulang adalah cara mudah kita untuk bisa mengenang keromantisan dan memberi jeda setiap pertemuan.

Maka untuk menutup kegiatan, bolehlah Anda untuk mencicip sajian malam istimewa Sate Kere Mbah Mardi yang beralamat di Jalan Godean. Warung makan yang hanya buka pada malam hari ini berada persis di pinggir jalan raya sehingga tak akan sulit untuk mencarinya.

 

Sate Kere

Sate Kere Mbah Mardi

 

Terbuat dari gajih atau lemak sapi, satu porsi sate kere yang dilengkapi lontong sayur dijual dengan harga Rp 8.000 saja. Harga yang sangat ekonomis untuk santap malam yang lezat. Itulah salah satu alasannya, mengapa nama ‘kere’ melekat pada sate lemak ini. Harga yang murah untuk Anda yang sudah berkenan datang ke Yogyakarta.

Selamat berkeliling Yogyakarta berhati nyaman!

 

 

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.