Bersafari ke Kampung Pitu Nglanggeran

#EksplorDeswitaJogja – Gunung api purba itu menjulang tinggi. Pernah ia sampai pada puncaknya dua kali. Semangat bertualangnya tak pernah lesu. Meski harus mengulang perjalanan yang sama, ia yakin akan mendulang pengalaman yang berbeda.

Dari cara berjalannya, masih ada sisa tenaga untuk trekking agak lama. Tapi cuaca memang ingin mengajaknya bermain sandiwara. Langit Nglanggeran ternyata sedang muram. Yang kemudian membuat ia nestapa. Pupus harapannya merekam kemolekan langit sore.

Ia masih sibuk memainkan gawai cerdasnya. Kuda besi dipacu cepat melahap aspal berliku. Bau tanah basah masih menjadi aroma sepanjang jalan. Tak lama, semburat jingga menembus gelap kaca kuda besi yang ditumpanginya. Seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru oleh ayahnya. Semringah wajahnya menunjuk pada senja yang mulai tampak di sisi barat. Kuda besi dipacu lebih cepat.

Ia berlari. Melewati anak tangga tanpa menghitung jumlahnya. Ada puluhan orang dengan niatan yang sama di sana. Mereka mengarahkan lensa tustelnya tepat ke arah dimana matahari pulang ke peraduannya. Ia pun sama. Memutar-mutar lensanya agar pas merekam warna senja.

Tampaknya sandiwara tak berlangsung lama. Ada pantulan warna yang apik yang ia dapatkan. Merekah senyumnya memutar ulang gambar-gambar di tustelnya. Dengan penuh macam gaya, ia kagumi langit senja dari Embung Nglanggeran, tempat yang telah menjadi primadona sepulang dari Gunung Api Purba.

Hari semakin petang dan gelap mulai merambat menutup langit Jogja Lantai Dua. Kumandang adzan nan syahdu memanggil para jiwa orang yang sedang safar. Segera ia pulang. Menuruni anak tangga dengan kebanggaan mendapati momen senja.

****

Kami diantar menuju homestay milik Pak Jono. Kami menempati kamar di lantai dua. Kamar yang cukup strategis untuk menyaksikan gugusan Gunung Api Purba. Suara jangkrik ramai bersahut-sahutan. Di musim penghujan, kelompok katak pun ikut ramai dengan nyanyian perayaan musim kawin mereka. Inilah suasana yang khas dari pedesaan. Tanpa suara knalpot, atau suara telolet dari klakson kendaraan besar. Tenang dari bising dan riuh yang memekakkan telinga.

Dibandingkan dengan mereka yang hanya trekking kemudian pulang, saya lebih memilih bermalam sembari bersafari di Desa Wisata Nglanggeran. Destinasi ini sudah menyediakan banyak homestay bagi wisatawan yang ingin bermalam. Pak Jono dan istri telah menyambut saya. Suguhan teh hangat menemani obrolan perkenalan saya dengan tuan rumah di sana. Akrab kami bercerita.

Esok akan menjadi hari pertama saya bersafari di Desa Wisata Nglanggeran. Tidur pun lebih awal agar tak kesiangan mengejar matahari yang naik dari peraduannya. Pukul empat pagi, kami telah bersiap. Dengan menumpang mobil bak terbuka, kami dibawa menuju Gunung Bantal. Tiga puluh menit ditempuh, kami melewati jalan menanjak dengan atap gugusan bintang.

Hanya perlu trekking lima belas menit, kami tiba di puncak bongkahan salah satu gugusan gunung api purba, Gunung Bantal namanya. Seluas mata memandang, tersaji kerlap-kerlip lampu kawasan perkotaan. Awan putih terselip di antara pemandangan langit Jogja Lantai Dua. Tanpa membuang banyak waktu, Mas Lilik Purba sebagai pemandu lokal mengajak kami segera berpindah tempat.

Hiruplah udara pagi dalam-dalam. Sejuk menembus hingga paru-paru. Melihat semburat cahaya baskara yang malu-malu, semua telah bersiap membidik tanpa ragu. Sempurna. Lautan kabut menyelimuti lembah hijau Kawasan Nglanggeran. Kami semua terdiam. Benar-benar menikmati setiap detik dari pertunjukan langit yang sedang memoles warna. Menghempas kabut, mengusir dingin, memberi kehangatan pada mahkluk hidup di sana.

Pagi yang benar-benar memikat dari puncak Gunung Bantal. Dari atas sini, kami dapat menyaksikan gagahnya Gunung Nglanggeran dengan merah putih yang berkibar di puncaknya. Dari sini pula, toscanya Embung Nglanggeran terasa teduh dipandang mata. Saya bersorak norak melalui gawai cerdas milik Mas Aji, “Selamat pagi, dari Desa Wisata Nglanggeran”.

Tim Travel Blogger Eksplor Desa dan Kampung Wisata Jogja Istimewa. Dari kiri ke kanan: Nasirullah Sitam, Dwi SusantiAji Sukma, Aya, Hannif Andy, Rifqy, Alid Abdul, Halim Santoso, Rizka Nidy. Difoto oleh: Lilik Purba.

Dari atas puncak Gunung Bantal, sesaplah udara segar, agar menembus paru-paru. Dari atas puncak Gunung Bantal, kagumilah pesona Embung Nglanggeran. Yang tosca-nya mengindahkan indera. Foto oleh: Nasirullah Sitam.

Kami masih belum rela berpindah tempat. Sementara Mas Lilik terus melihat jam pada gawainya. Sudah waktunya, sesegera mungkin kami turun dari Gunung Bantal. Kali ini, ada satu destinasi yang tak boleh terlewat, Kampung Pitu. Namanya memang tak semasyhur embung dan gunung api purba. Kampung Pitu adalah sebuah kampung unik yang tak banyak terekspos media dan disambangi banyak orang.

Bukan tanpa alasan, pengelola cukup hati-hati mengangkat satu persatu destinasi agar keasliannya tetap terjaga. Dengan perilaku wisatawan yang sekarang, bukan tak mungkin, ledakan kunjungan terjadi di Kampung Pitu. Seperti yang pernah dialami pada 2013, saat wisatawan terlalu banyak, dan berdampak buruk pada lingkungan, meski ekonomi menguntungkan.

Sampai sekarang, pengelola berupaya agar tak sesegera mungkin membuat Kampung Pitu dikenal. Pasarnya jelas. Kampung Pitu lebih tepat didatangi mereka yang tertarik melakukan riset budaya dan manusia. Jika hanya ingin mengunggah foto pribadi dengan keindahan lansekap alamnya, urungkanlah sementara niatan ini. Datanglah kemari, untuk mendulang pengalaman lewat cerita-cerita unik dari tatanan masyarakatnya.

Kampung Pitu. Mungkin namanya begitu asing bagi beberapa. Pertama mendengarnya, saya menebak ini semacam kampung adat. Sesuai dengan namanya. Adalah kampung yang hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Meski total genapnya ada 25 jiwa, Kampung Pitu tak boleh dihuni lebih dari tujuh kepala keluarga. Jika dilanggar, mitosnya akan terjadi hal yang merusak tatanan masyarakat. Seperti pertengkaran dalam keluarga maupun gangguan gaib lainnya.

Dipercaya sebagai tempat sakral bersemayamnya pusaka Keraton Ngayogyakarta, kami pun masuk dengan kulo nuwun terlebih dulu.

Kisah Kampung Pitu ini diceritakan langsung dari juru kuncinya, Mbah Redjo Dimulyo (100 tahun) yang diterjemahkan oleh pemandu lokal, Mas Heru. Sebermula, Kampung Pitu adalah lahan yang dijanjikan dalam sebuah sayembara yang diselenggarakan pihak abdi dalem Keraton Ngayogyakarta. Sayembara itu pun menarik banyak perhatian dan peminat. Namun dalam perjanjiannya, babat alas (membuka lahan) harus dilakukan oleh tujuh empu. Tidak kurang, tidak lebih.

Mbah Redjo Dimulyo, juru kunci generasi keempat dari Kampung Pitu. Usianya kini, sudah menginjak satu abad. Sebelum bersafari ke Kampung Pitu, sempatkanlah kulo nuwun terlebih dulu.

Kapan tepatnya Kampung Pitu berdiri, Mas Heru tak paham. Ia hanya memberi hitungan secara logika. Jika dihitung runtut dari generasi Mbah Redjo, sebagai generasi keempat, Kampung Pitu diprediksi sudah ada sejak 1600-an.

Pagi yang cerah, menjadi awal perjumpaan saya dengan Mbah Redjo Dimulyo sebagai juru kuncinya. Keriput kulit wajahnya menjelaskan berapa usianya. Mbah Redjo Dimulyo, di usianya tepat satu abad, menyempatkan diri menyambut kami. Penguasaan kosa kata Jawa Kromo Alus yang terbatas membuat saya mengurungkan niat banyak bertanya. Mujurnya, Mas Heru selaku pemandu lokal siap menerjemahkannya.

Pada ketinggian 750mdpl, Kampung Pitu tak jauh berbeda dengan kampung lainnya. Teknologi tak dilarang masuk, mengenyam pendidikan tinggi pun demikian. Meski banyak rumah dengan atap limasan, tak ada larangan untuk membuat lebih apik rumah hunian.

Sesuai namanya, Kampung Pitu, jumlah kepala keluarga tak boleh wolu (delapan), maupun limo (lima). Secara kewilayahan, Kampung Pitu bernama asli Dusun Tlogo, yang ditetapkan menjadi satu rusun tetangga dari Desa Nglanggeran.

Telogo Guyangan. Yang menurut mitos beredar, merupakan tempat pemandian Kuda Sembrani. Dalam dunia khayal, rupa kuda ini mirip dengan Pegasus.

Dengan mayoritas masyarakat yang beragama Islam dan bekerja sebagai petani, kewilayahan Kampung Pitu dilingkupi dengan lahan pertanian yang subur dengan sumber air yang tak pernah kering. Jarak antar rumah tak berdekatan. Bahkan menyebar seluas tujuh hektar. Pun fakta unik lainnya disebutkan Mas Heru.

Di Kampung Pitu, terdapat Telogo Guyangan yang menurut mitosnya adalah tempat mandi Kuda Sembrani. Keberadaan kuda sakti tersebut dibuktikan dengan adanya bekas tapak kaki yang tak jauh dari lokasi Telogo Guyangan.

“Hanya dengan mantra, tapak kuda ini bisa terlihat bekasnya”, ujar Mas Heru sembari mengantar ke lokasi.

Tapak kuda Sembrani yang ia maksud berada tak jauh dari Telogo Guyangan. Saya yang menggemari cerita tentang Kuda Sembrani lantas menghubungkannya dengan cerita Prabu Brawijaya yang petilasannya berada tak jauh dari Gunung Api Nglanggeran, tepatnya di Gunung Gentong, Gedangsari.

Tapak Kuda Sembrani. Untuk mendapatkannya, dahulu ada orang yang memiliki kekuatan supranatural. Dengan membaca mantra, maka bekas tapak Kuda Sembrani akan terlihat.

Kampung Pitu, tak hanya menjadi kampung dengan tatanan masyarakat yang unik. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sakral yang tak sembarang orang boleh tahu. Saya sempat bertanya, tentang pantangan bagi masyarakat yang menghuni Kampung Pitu, yang kemudian tak berani dijawab langsung oleh Mbah Redjo. “Harus pakai banyak syarat, Mas”, ujar Mas Heru.

Sama halnya dengan keberadaan Gunung Merapi di sebelah utara, dan Pantai Parangkusumo di sebelah selatan. Pun Kampung Pitu demikian. Pusaka yang bersemayam di dalamnya, dipercaya menjadi penyangga keberadaan Keraton Ngayogyakarta.

Kini, Kampung Pitu tak hanya menjadi persinggahan religi para keturunan darah biru, tetapi juga para peneliti lintas ilmu. Mengagumi Kampung Pitu, bukan hanya soal lanskap pegunungan yang telah berumur purba. Saya tertegun, membayangkan Yogyakarta yang seluas ini, ada Kampung Pitu yang masih eksis berdiri tanpa banyak orang yang mengetahui. Keluar dari kawasan Kampung Pitu, kami mengganyang walang goreng buah tangan masyarakat lokal. Nikmat sekali.

Enam belas tahun mengelola sumber daya di sini, wajar pengelola Desa Wisata Nglanggeran baru memanennya sejak tiga tahun lalu. ‘Buah’ ini memang dirasa belum cukup pas manisnya. Mereka akan terus berbenah, mengevaluasi diri, melibatkan lebih banyak lagi masyarakat luas, karena buah manis yang mereka dapat adalah peruntungan lokasi juga modal sosial “sepi ing pamrih, rame ing gawe”, yang telah mengakar sebagai karakter masyarakat pedesaan.

Beragam prestasi dianugerahi, namun tak jadikan Desa Wisata Nglanggeran menyombongkan diri. Taman bumi tempatnya menggerakkan ekonomi, perlu dirawat agar lestari. Jutaan orang yang datang menyambangi, perlu diedukasi. Ribuan orang yang menghuni di sana, agar terus diberdayakan. Keberhasilan tiga pilar inilah, yang kemudian, menjadikan nama Desa Wisata Nglanggeran dikenal di kancah internasional. Tepat pada November 2015, UNESCO secara resmi mengakui, Nglanggeran masuk dalam jaringan geopark dunia.

Pulang. Tak mau rasanya cepat-cepat pulang dari Desa Wisata Nglanggeran. Dari sisa waktu yang ada, ditemani Mas Lilik Purba, kami dibawa menuju Griya Cokelat Nglanggeran. Aroma manis tercium saat masuk pintu utama. Dari tangan-tangan terampil masyarakat lokal, kebun kakao yang mulanya hanya dipanen dan dijual mentahan, kini diolah menjadi beragam sajian. Cokelat batang, dodol cokelat, dan aneka olahan lainnya wajib dibawa pulang sebagai buah tangan khas Desa Wisata Nglanggeran.

Catatan perjalanan ini merupakan hasil dokumentasi dari rangkaian acara Travel Blogger Eksplor Desa dan Kampung Wisata Jogja Istimewa yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi DIY.

Informasi dan reservasi

Desa Wisata Nglanggeran
Alamat: Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul, DIY
www.gunungapipurba.com
Email: gunungapipurba@gmail.com
CP: 081802606050 (Sugeng) / 081804138610 (Aris Budiyono)


Lokasi Desa Wisata Nglanggeran

Comments

comments

59 thoughts on “Bersafari ke Kampung Pitu Nglanggeran

  1. Aku baru ingat kata Sembrani, Kuda sembrani itu sama denga Pegasus 😀
    Pas di Nglanggeran emang sepaket banget, dapat sunset, sunrise, dan keindahannya. Walau mendung tapi tetap saja kita bisa memotretnya.

  2. Ternyata gitu ya pemandangan dari seberang puncak nglanggeran, sempet penasaran dulu saat melihat dari seberang itu. Namanya Puncak Bantal ya, sepertinya memang enak buat gegoleran…awkakw

  3. Namanya Puncak Bantal ternyata, sepertinya emang asik buat gegoleran…
    Dulu sempat penasaran bagaimana dan seperti apa pemandangan dari atas sana, ternyata sudah lengkap ada di sini

  4. Bejo banget sunset di Embung Nglanggeran itu, padahal udah cemas terlalu sore nyampe di sana eh ternyata malah dapat semburat golden hour. Omong-omong jadi kepingin naik ke puncak Gunung Bantal lagi, sunrise-an terus ngopi di sana. Yukkk dal! 😀

  5. Alam, budaya, dan manusia yang memberi makna. Jalinannya erat dan kokoh di Nglanggeran dan Kampung Pitunya. Menarik sekali membaca bagaimana potongan-potongan kisah magis berkelindan dengan tatanan masyarakat yang dipertahankan dan tetap dijaga meski mulai disebarluaskan sebagai salah satu daya tarik. Hubungan antara kekuatan tak kasat mata yang menyusun wibawa, magi, dan benda-benda yang ada di sekitar memang sangat erat di Jawa. Pernah pula menjadi bahasan teori para sejarawan kolonial yang mencoba menghubungkan niskala dengan logika.
    Namun bagi saya lebih beruntunglah yang bisa menyaksikan langsung keajaiban Kampung Pitu ketimbang semata pembaca seperti saya, haha. Sumpah, saya iri sekali. Saya yakin bahwa pengalaman kalian akan sangat berharga untuk meneruskan penulisan para cendekia masa kolonial yang bagi saya tak tuntas menggarap batin masyarakat Jawa dalam bentuknya yang paling asli.

    1. Nah ini. Suka sekali. hehe. Duh. Komentar ini seperti ingin saya masukkan saja dalam tubuh isi tulisan saya. Hehe.
      Benar Mas. Dan, ada lagi yg belum saya ceritakan. Saya sempat bertanya langsung ke Kakek/ Mbah Rejo. Terkait pantangan bagi masy.yg tinggal di dalamnya. Ternyata Sang Kakek tak mau menyebutkannya. Semacam, harus ada beberapa syarat yg mirip ritual Jawa. Seperti minyak wangi, bunga, dll. Semacam menyebut nama, Mbah Gondrong. Hhee.

      Nah, di sekitar Gunung Bantal, termasuk ada gardu pandang yg pnh digunakan Belanda. Aku lupa namanya. Gardu itu digunakan Belanda utk mengukur kewilayahan. Namun sudah hancur. Dan pengelola berencana membuat replikanya (kalau g salah sih ya. hehe). Jadi, kok ya analisis Mas Gara yg sampai Belanda, itu benar2 ada hubungannya.

      Kampung Pitu semacam penyangga. Di dalamnya, sampai skrg, masih dipercaya menyimpan benda pusaka oleh Keraton, Mas. Menarik kan? yuk mas. Ke Jogja!

      1. Wih, Kampung Pitu dengan demikian bukan sekadar kampung yang hanya “ada dalam kurun waktu yang lama”. Dalam tataran masyarakat Yogya ia memegang fungsi yang sangat vital. Saya penasaran apakah gardu pandang itu dipakai sekadar mengukur, atau sebenarnya ada niat tersembunyi pemerintah kolonial.
        Kuy lah Mas… ajak-ajak balik ke sana… (kemudian sadar cuti tinggal 1 hari dan ini baru bulan Maret).

        1. Iya mas. Benar. Saya pun baru tahu, Jogja yang seluas ini. masih punya kampung dengan tatanan masyarakat yang unik. Memang jarang diulas media. Karena pengelola cukup hati2.
          Benar Mas, sepertinya ini bagian sampeyan kalau mengulas heritage2. hehe. Saya tak mengekor saja

    1. aku jg ngiranya begitu. Tapi memang unik sih ini. ada pertanyaan yg belum terjawab dari pertanyaanku kmrn untuk Mbah Redjo. Beliau sebut2 Mbah Jenggot. Aku penasaran

  6. Telat sekali ya aku baru sadar inwis udah post tulisan ini. Dan Tuhan telah mengatur waktunya sedemikian pas baca menjelang tidur. Pengantar tidur sambil mengulik ingatan.

    Kalimat demi kalimat ehh tak terasa sampai di griya cokelat. :p

    Bagiku Nglanggeran adalah paket lengkap. Saksi bisu sunset hingga sunrise, keindahan alamnya yang luar biasa, masyarakatnya yang ramah dan terbuka, juga kampung pitunya yang punya daya pikat luar biasa.

    Hannif ini tulisan lengkap banget. Syahdu!
    Aku dadi speechless :’)

    1. cie daya pikat. Kamu jatuh hati sama Kampung Pitu mba? aku e cuma mangguk2 dijelasin sama Mbah Redjo. Ada yg kupahami, banyak jg yg ga kumengerti
      aku pokoke tep nunggu tulisan galaumu Mba. haha.
      Bener, paket lengkap dan hemat. Pahe

  7. Wow dari 1600 tahun yg lalu Kampung Pitu mas. Dengan diceritain sama sesepuh Kampung tersebut ada tempat mandiin Kuda dan Kampung yg masih sangat tentram banget kalau tinggal disana.

  8. Yang saya salut dari Nglanggeran ini adalah semangat generasi mudanya dalam mengkampanyekan ekowisata dan konservasi. Memberdayakan masyarakat pula.

    Kapan-kapan harus diagendakan ngecamp lagi, supaya menyatu dengan alam. Mengeksplorasi wisata alam dan budaya yang ada di Nglanggeran.

    Btw, aku seneng tone warna kameramu Mas, seger hahaha.

  9. Jogja emg ga pernah mengecewakan, apalagi Nglanggeran. Sunset nya kaya ngasih pesan romantis buat jiwa haha.

    ninggal jejak ya mas, salam kenal

  10. Tahun 2011 saya pernah liputan ke Kampung Pitu diantar Mas Sugeng Handoko. Saat itu Nglanggeran baru awal2 dipublikasikan dan kondisinya jauh beda dengan sekarang. Meski nggak dapat sunrise tapi bisa ngobrol banyak sama Mbah Redjo. Dengan bahasa kromo inggil pas-pasan ngobrol seru sama simbah. Tapi lama-lama kosakata habis akhirnya ditranslate sama Mas Sugeng. Ah jadi kangen menyambangi tempat ini lagi.

    1. haha. kemarin mas Sugeng baru bs nganter pas ke Griya Coklat aja.
      Wah. beruntung sekali kamu Mba bisa lihat Kampung Pitu pada jaman itu. Pasti banyak perubahan yaa 🙂
      Bener. Temen2 juga cuma ngangguk2 pas dengerin Mbah Redjo ngomong. Padahal yo pada g ngerti artine. Aku pun jg. Tapi dengan penguasaan kosa kata yg terbatas, karena penasaran. aku tanya2 jg, dan disempurnakan bahasanya sama Mas Heru purba. hehe
      Ayo ke sini lg

  11. keindahan dan berbaur dengan masyarakat pedesaan itu seneng, adem ayem, koyo bersatu bersama alam..sayangnya gak bisa ikutan acara ini, itu ada Halim dan Aji Sukma..tadi siang baru aja ketemu makan bareng..:) dia mah makan melulu wkwkw

  12. Salut sama pengurus kampung Pitu karena tetap mementingkan keseimbangan alam & budaya. Seharusnya semua desa wisata mengusung konsep seperti ini.

    Adakah sedulur yang bertanya apa resep panjang umur mbah Redjo? Sosoknya masih gagah untuk usia 1 abad. Moga sehat selalu ya mbah…

    Itu embung bisa dipakai berenangkah? #awam #cumatanya #jangandibully

    1. Iya mas. Nglanggeran ini termasuk yg berhasil d nasional. Jadi percontohan d program2 kemenpar. Tunggu artikelku ttg deswita lainnya yaa.

      Simbah Redjo; kita g nanya itu mas. Haha.

      Lhoh, bisa pastinya..tapi bukan untuk itu embung dibuat. Fungsi pengairan tadah hujan dan dipandangi.hehe

  13. aku suka kalo mengunjungi sbuah tempat wisata yang lengkap seperti ini. Ada budaya, keramahan warganya, kearifan lokal, pemandangan alamnya. Jadi betah dan selalu ingin balik lagi kesana..hehhehe

  14. Tuh kan aku baru mampir ke sini… tiap mau klik link di grup udah keburu tenggelem sama kekoplakan chattingan ringsek.. Aku sama mbak Dwi sepakat kalau Nglanggeran ini istimewa. Mau sunset cakep, mau sunrise juga keren banget. Wajib menginap memang kalau ke Nglanggeran!

  15. Sama, bro. Pas aku ke sana juga langit sedang muram. Tapi nggak apa-apa, Gunung Purba tetap elok dengan naungan awan mendung di atasnya.

    Suasana Kampung Pitu seperti suasana kampung halaman ibuku di Klayar, Nglipar, kab. Gunung Kidul. Udah lama nggak ke sana, sekarang mungkin udah sedikit lebih maju.

Leave a Reply