Menjerit Bahagia di River Tubing Ledok Amprong

Saya sedang bersantai di penginapan milik Anshori. Tak ada jamuan terbaik selain ramah tamah dan kebebasan menguasai ruang tamu rumahnya. Seperti biasa, Alid si Pengirim Umpan selalu punya jurus pamungkas supaya peserta trip menjadi lebih dekat. Pun Tomi, yang lebih akrab dengan panggilan Sispai mulai terpancing dengan cerita-cerita berwawasan. Tak lama, camilan di meja hanya tersisa toplesnya.

Suara mesin jeep sudah terdengar. Beberapa bergegas mengemas barang. Beberapa lagi masih enggan menyudahi cerita. Mereka riang menyambut ajakan Anshori yang sudah memberi aba-aba. Ditemani Zakaria, putra pertama induk semang, kami dipandu untuk segera menuju Ledok Amprong.

Tak ada yang pernah mengira track menuju Ledok Amprong penuh guncangan menyakitkan. Jeep yang ditumpangi dua belas orang ini melewati hutan pinus dengan jalanan yang cukup terjal. Di depan kami, ada dua rombongan jeep yang terus mengamati keceriaan kami. Tak kalah seru, teriakan Alid dan Aya mengalahkan suara jeritan serangga hutan. Seperti biasa, kami berswafoto sembari menahan sakitnya terguncang.

Hampir setengah jam kami dibuat menjerit tanpa ada kesempatan mengambil gambar. Pun si juru mudi sengaja membuat jeep makin bergoyang ketika melewati medan. Pikirnya, ia sedang membawa sekelompok orang gila yang tak bisa diam barang sebentar. Belum lagi jika sedang berpapasan dengan warga. Polah Alid bak artis pejabat yang sedang tebar pesona. Anak-anak kecil melempar balasan. Kami bersorak riang.

Kami punya waktu satu jam lebih untuk bersantai menikmati udara segar Ledok Amprong. Bau gorengan menusuk hidung. Gemercik riak sungainya adalah nyanyian alam yang akan saya rindukan. Beberapa memilih bersantai dalam ayunan hammock.

Ini bukan pertama kalinya saya menjajal river tubing. Meski sudah sering merasakan sensasi serupa, tentu Ledok Amprong punya ciri khas tersendiri dalam memacu adrenalin. Usai mengenakan perlengkapan keamanan, instruktur Ledok Amprong Adventure memberi arahan singkat panduan keselamatan. Kami merapal doa.

“Mau ke mana kita?”, kompak kami berteriak “Slulup, slulup, slulup!”

Seumur-umur, ini adalah yel-yel river tubing yang tak membangkitkan jiwa petualang. Ditambah dengan lenggak-lenggok gemulai badan, Slulup slulup slulup  sukses membuat kami tertawa bahagia.

Instruktur Ledok Amprong Adventure memberi arahan singkat panduan keselamatan. Foto oleh: Ghozali Qodratullah

Setelah melewati jalanan setapak yang panjang sambil mengangkat ban, tibalah saatnya saya dan tim Eksplor Deswita Malang mengarungi Sungai Amprong. Coba tebak siapa yang pertama kali akan menjerit saat dilarung ke sungai? Siapa lagi kalau bukan Alid Abdul, Blogger Jombang yang sudah melalang buana ini tak segan berteriak kencang meski adrenalin belum terasa cukup menantang.

Ledok Amprong punya tiga track yang bisa dijajal wisatawan. Track pendek, sedang, dan panjang. Masing-masing memiliki harga dan tingkat adrenalin yang berbeda. Di sini, kami hanya berkesempatan menjajal track pendeknya (750 meter) karena hari semakin larut sore.

Secara harfiah, dalam bahasa Jawa, Ledok berarti cekungan, serta Amprong sebagai nama sungainya. Meski belum lama diresmikan, Desa Wisata Gubugklakah sukses mempromosikan wisata river tubing. Buktinya, dalam waktu dan hari yang sama, ada beberapa rombongan wisatawan lain yang datang.

“Wisatawan yang ke Bromo pasti melewati desa ini, Mas. Cuma pada nggak tahu aja kalau Gubugklakah itu desa wisata”, ujar Zakaria.

“Kalau rafting masih di atas lagi, Mas. Tapi barusan saya tanya, ada arahan untuk menutup wisata rafting sementara waktu karena kemarin terjadi longsor di Nganjuk”, tambahnya.

Kelompok Sadar Wisata DWG (Desa Wisata Gubugklakah) bersama Ledok Amprong Adventure sadar betul bukan hanya kepuasan wisatawan yang harus diutamakan, namun lebih penting adalah keselamatan dalam berwisata. Terlihat juga di sana, beberapa orang berseragam BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) sedang bersiaga mengawasi jalannya aktivitas wisata.

Guncangan demi guncangan saya lewati. Kadang saya harus tersandung dan terjepit batu besar. Hanya perlu merubah posisi duduk agar anggota badan menjadi nyaman. Pula goyangan badan agar bisa lolos dari rintangan. Mudah, kan? Cobalah sendiri.

Saya terpisah jauh dari rombongan. Arus yang deras mengarung badan kami yang cukup berat dengan cepat. Instruktur Ledok Amprong Adventure sudah siaga di depan dan belakang. Mereka punya cara asik menyusuri Ledok Amprong di atas ban. Waktu bebas yang hanya beberapa menit kami gunakan untuk berswafoto. Seperti biasa, Alid berpolah konyol. Ia menjelma menjadi bulus (kura-kura) dengan memakan lumut yang menempel di bebatuan.

Tak berselang lama, instruktur Ledok Amprong Adventure merangkul kuat pundak saya. “Saya dorong ya, Mas. Awas kameranya”. Saya kembali mengarungi sungai yang deras arusnya. Kali ini di tingkat yang cukup ekstrim. Saya nyaris tergulung arus karena tak mampu menjaga keseimbangan. Berteriak kencang tak ada salahnya, bukan? Meski berhasil melewatinya, saya merasa belum cukup puas karena sudah melihat garis finish di depan mata.

Tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan track pendek 750 meter. Apalagi dengan arus yang kencang pasca diguyur hujan semalam. Meski ban karet sudah mengantarkan saya sampai garis finish, bukan berarti saya harus menyudahi petualangan. Masih ada beberapa orang di belakang yang harus dibuat tersiksa dan menjerit bahagia. Ada Simbok Aji Sukma dan Alid Abdul yang kami buat terguling dari ban karet mereka.

Keriangan tim Eksplor Deswita Malang dengan pakaian kuyup setelah river tubing. Kamu kapan ke sini? Foto oleh: Ghozali Qodratullah

Dan kami harus pulang dengan merelakan pengalaman river tubing track panjang. Dengan pakaian basah, tak ada yang bisa menjamin kami bakal tak masuk angin. Buktinya, Nasirullah Sitam harus bermandikan minyak kayu putih pasca river tubing di Ledok Amprong. Di atas roda jeep offroad menuju penginapan, diguncang rute bebatuan dan jalanan rata pedesaan, mengatupkan mulut rapat-rapat, menahan sakit dan tawa.

Tapi tetap saja kami melepas tawa. Terbahak di atas guncangan demi guncangan. Persis seperti sensasi naik roller coaster. Jadi, kapan kamu terakhir kali menjerit bahagia?

Informasi dan pemesanan
River Tubing Gubugklakah, Desa Wisata Gubugklakah, Kecamatan Poncokusumo,
Kabupaten Malang, Jawa Timur
Anshori (087859478177)


Lokasi Desa Wisata Gubugklakah

Comments

comments

46 thoughts on “Menjerit Bahagia di River Tubing Ledok Amprong

  1. Masi menjadi misteri, sbenernya naik jeep itu gak nakutin. Tapi mas Alid kenapa yo mesti teriak2 lebay apalagi sambil bilang ” Kandunganku ” Hahah hingga jadi bahan tontonan wisata lain

  2. Harusnya tuh ambil rute terjauh ya, maksudnya dari Coba Pelangi startnya….wkakwa kan biar lama dan makin seru.

    Tapi emang lokasi Ledok Amprong ini asik banget buat nyantai, betah deh kalau harus camping ceria di situ…

  3. Ledok Amprong jadi pengalaman pertama kali ber-river tubing! Ternyata deg-deg serr… serem ini ketimbang rafting, soalnya nggak bisa teriak rame-rame sama teman lain dalam satu perahu yang sama hahaha.

  4. maen river tubing memang menyenangkan walau ujung2nya boyok encok karena posisi duduk di atas ban dalam waktu lama, yg bikin salut adalah guide-nya yang harus ekstra sabar memandu pengunjung yang kadang ga sabaran (berdasar pengalamn)

Leave a Reply