Ekowisata Kalitalang dan Ingatan Masa Kecil

Bocah kecil itu merengek pada ayahnya. Hari itu, ayahnya telah berjanji untuk mengajaknya berwisata. Keluarga kecil yang jauh dari sosok ibu ini kerapkali menghabiskan libur pekan di luar rumah. Kadang bermain ke candi, pemandian umum, kadang pula hanya berkeliling kota sembari menyantap jajanan.

Tapi tidak pagi itu. Ayahnya membawa ke suatu tempat yang sangat tinggi. Tempat baru yang sangat jauh dari keramaian. Tempat yang sangat dekat dari jangkauan mata saat ia pertama kali membuka pintu rumah dan bertanya pada diri, “Berapa lama aku bisa sampai ke sana?”.

Ia mulai memanjatkan doa dengan lantang, kemudian memeluk kencang pinggang ayahnya. Motor tua yang dibeli ayahnya sejak tahun 90an semakin bersuara berat. Knalpotnya terus mengeluarkan kepulan asap yang tak kalah mengganggunya dengan debu-debu aspal berlubang. Klakson yang soak terus dipencetnya saat berusaha menyalip truk pengangkut material. Semakin tinggi jalanannya, semakin kuat ia memeluk pinggang ayahnya.

Bocah kecil itu sontak melompat. Bola matanya ikut membesar saat ia menatap pemandangan yang tersaji di depannya. Pemandangan yang biasa ia gambar dan lukis lewat kelas kesenian yang diberikan gurunya kini terpandang jelas di depan mata. Ia telah sampai pada tempat yang sangat tinggi untuk pertama kali, dimana Gunung Merapi terlihat sangat jelas sekali.

****

Bayangan tentang masa kecil itu tiba-tiba terkenang manakala saya sedang bertandang ke Kalitalang, Balerante. Tempat yang sangat dekat dengan Gunung Merapi ini berhasil memberi ruang pada saya untuk bernostalgia dan merawat ingatan masa kecil.

Berwisata dulunya adalah cara menikmati liburan bagi kaum yang berpunya saja. Tapi tidak bagi keluarga kami yang hidup secara pas-pasan. Sebagaimana seorang ayah yang selalu ingin mengedukasi anaknya. Ayah selalu menghadiahi saya tentang tempat-tempat baru yang jauh dari pemborosan uang. Entah bagaimana cara ia bisa sampai ke sana, bukan atas mengandalkan peta atau membaca petunjuk di internet. Bahkan sampai sekarang-yang saya tahu-ayah masih menyimpan rute-rute perjalanan menarik ke suatu tempat yang belum diketahui ketiga anaknya.

Kegandrungan pada wisata alam sudah tumbuh sejak saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Sosok ayah adalah pemandu terbaik yang tak pernah berat kaki membawa ketiga anaknya melancong ke tempat-tempat baru. Meski tak pernah ada bumbu dalam ceritanya, Ayah berhasil membuat putra sulungnya ketagihan bertualang. Pun Ayah bukan tipe yang melebih-lebihkan dalam bercerita. Ia selalu memberi kesempatan pada anaknya untuk bertanya dan berimajinasi tentang apa yang ia lihat dan rasakan.

Saya berdiri sangat dekat dengan Merapi. Hasil muntahannya meninggalkan jejak yang sangat jelas dari sini. Meski kadang terlihat menakutkan karena aktivitas vulkaniknya, Merapi telah menjadi daya tarik yang membuat banyak orang datang penasaran. Tapi tidak pagi itu. Kalitalang masih sangat sepi.  Jangankan keramaian, satu- dua wisatawan pun tak saya temui.

Langit sangat cerah pagi itu. Tak berawan, juga tak berangin kencang. Meski datang bersama kawan, saya memilih untuk memperkaya ingatan dengan berkeliling Kalitalang sendirian. Saya terus berjalan menuruti jalan setapak yang mengantar saya lebih dekat pada Merapi.

Jika harus bicara perkara keindahan Kalitalang. Siapapun yang datang akan berhenti pada kata ‘bagus’ dan ‘indah’. Tapi, ada sesuatu yang menarik dari perjalanan ini. Sebagai penggemar kicauan burung liar. Seringkali, saya bersama Ayah mendekati burung Kutilang (Pycnonotus aurigaster) yang bernyanyi dan bertengger di pepohonan. Dan kejadian itu berulang. Selama di Kalitalang, saya terus mengejar suara burung Kutilang yang berpindah tempat. Ke manapun ia terbang, saya terus mengejarnya.

“Akhirnya dapat Kutilang”, ungkap saya pada kawan yang sedang bersantai di hammocknya. Kegirangan pagi itu sebenarnya bukan pada dokumentasi apik saya mengabadikan gambar Kutilang yang bertengger di ‘pepohonan. Melainkan perjalanan yang mengingatkan tentang masa kecil saya bersama Ayah.

****

Di akhir cerita. Saya sangat senang, akhirnya Klaten memiliki destinasi ekowisata di lingkar kawasan taman nasional. Ekowisata harusnya tak hanya menawarkan keindahan alam saja. Namun juga perpaduan pendidikan, peran aktif masyarakat lokal, dan upaya peningkatan kesadaran lingkungan. Di sini, saya belum melihat ketiganya.

Meski masih dikemas dengan menambahkan tempat berswafoto kekinian, datanglah ke Kalitalang untuk belajar lebih banyak tentang gunung berapi dan kearifan lokal di kawasannya. Seraplah pengetahuan dan sadarilah, bahwa selain memberi rasa takut pada aktivitas vulkaniknya, Merapi memberi kehidupan bagi setiap makhluk di sekitarnya.

Semoga kelak, Kalitalang menjadi taman alam pusat belajar ekowisata di Jawa Tengah.

 

P.S: Terimakasih kepada Satya Winnie yang telah berbaik hati menghibahkan lensa Olympuss 40-150mm kepada saya. Semoga semakin banyak karya yang dapat saya hasilkan.

Comments

comments

16 thoughts on “Ekowisata Kalitalang dan Ingatan Masa Kecil

  1. Pertama dengar nama Kalitalang saat ikutan sarasehan di Kalikuning Park, sejak saat itu jadi penasaran. Terus lihat postingan Mbak Dwi dan juga postingan ini. Berharapnya Kalitalang tetap seperti ini ya, jadi lokasi edukasi tanpa perlu banyak hiasan artifisial buat memuaskan hasrat selfie. Alami saja.

  2. Semoga tetap seperti ini. Alami. Biarkan panca indera yang beraksi. Tanpa lagi dibubuhi sisipan-sisipan kekinian. Cukup seperti ini.

    Yang penting esensinya. Menikmati alam. Menghargai alam. Semoga Kalitalang lestari.

  3. Baru tau ada daerah kalitalang yang bisa buat menikmati pemandangan gunung Merapi di Kejauhan. Keren euy.
    semoga ekowisata Kalitalang ini bisa ikut terkenal dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya ya.

  4. Berasa menikmati Merapi dari sisi yang lain. Semoga ekowisata ini tetap alami, tanpa ditambahi berbagai bentuk yang berhubungan dengan kekinian. Lebih mengutamakan edukasi dan tidak menyediakan tempat selfie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *