Sapa Baskara Pagi Dari Banjaroya, Kabupaten Kulonprogo
Durian memiliki ikatan historis yang kuat dengan masyarakat Banjaroya. Tidak sedikit masyarakat yang terkejut. Dahulu, petani biasa menjual hasil kebunnya (durian) langsung ke pembeli. Sekarang, jika memasuki musim panen yang baik, sepanjang jalan kawasan Banjaroya akan sesak pemburu durian.
Jika hanya ingin mencari keindahan, semua tempat pasti memilikinya. Tapi berbeda dengan Banjaroya. Di sini saya belajar bagaimana kawasan desa biasa, memoles diri menjadi desa wisata. Tanpa mengganti profesi utama sebagai petani dan pembudidaya pohon durian, aktivitas kepariwisataan memberi bonus yang bisa datang kapan saja. Bagusnya, bonus tak hanya dihitung dari rupiah yang mengalir, tapi juga meningkatnya kapasitas masyarakat melalui pertukaran pengetahuan, pelayanan, juga manfaat sosial lainnya yang tak terkira.
Baca juga : Harmoni Pagi Desa Wisata Banjaroya
Jelang pukul enam pagi, kabut menyapu dinding lensa saya. Kini semakin jelas di depan mata. Gagahnya Merapi menyapa saya yang berdiri dari ketinggian Bukit Menoreh, Embung banjaroya. Dari sini, saya merasa sedang berada di titik terdekat dengan gunung api paling aktif di dunia.

Bersafari ke Taman Tirta Alami Ekowisata Mudal, Kabupaten Kulonprogo
Saya tak pernah membayangkan Kabupaten Kulonprogo memiliki kawasan ekowisata seperti ini. Berada di antara Pegunungan Menoreh, berbalut kabut dengan udara yang bersih nan sejuk, taman tirta alami Ekowisata Mudal ini menjadi destinasi yang tepat untuk terapi indera.
Terdapat tiga kolam dengan kedalaman air yang berbeda, dimana kolam dewasa adalah kolam yang paling luas dan dalam. Saat matahari kian meninggi, sinarnya menerobos daun pepohonan sehingga membuat air pada kolam Ekowisata Mudal menjadi tampak bewarna biru pirus (toska).
Datanglah sebelum pukul 11.00 WIB supaya dapat menikmati sepinya Taman Ekowisata Mudal. Karena dapat dipastikan, menjelang siang saat matahari naik tinggi, akan banyak wisatawan berbondong-bondong untuk datang.

Memburu Dua Pergantian Waktu di Puncak Gunung Gentong, Kabupaten Gunungkidul
Hati tertambat pada dua pemandangan yang berbeda. Di sebelah timur, pancaran baskara menyibak paduan warna elok pada langitnya. Sementara di sebelah selatan, lautan kabut menyelimuti seluruh kawasan pedesaan. Bersambut suara burung hutan, suasana pagi seperti ini tidaklah mengecewakan.
Namun jika datang pada sore hari, pun juga tidak mengecewakan. Semburat matahari yang tenggelam akan menghias langit Jogja Lantai Dua. Dinamakan sebagai puncak 4G, atau Gunung Gentong Gedangsari Gunungkidul, lokasi ini adalah tempat favorit para kawula muda untuk memburu dua pemandangan matahari yang berbeda.
Terpikat Potensi Desa Wisata Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul
Ada dua hal yang berkesan selama berkunjung ke Desa Wisata Bejiharjo, petualangan dan kearifan lokal.
Desa Wisata Bejiharjo ibarat desa dengan potensi dan atraksi wisata yang cukup lengkap. Mulai dari atraksi yang bernuansa petualangan hingga kearifan lokal membuat desa wisata ini tak pernah sepi kunjugan wisatawatan.
Barangkali sudah banyak mengenal nama Gua Pindul. Wisata susur gua yang berada di Desa Wisata Bejiharjo ini memang sudah sohor sejak 2010. Namun ternyata, masih ada banyak gua lainnya yang dapat melengkapi petualangan kita di sana. Ada Gua Gelatik, Gua Emas, Gua Sriti, Gua Tanding, bahkan juga ada wisata offroad Sungai Oya. Menarik, bukan?
Usai digoyang jeep offroad, wisatawan pun akan diajak mengunjungi rumah pembuat wayang lidi atau yang dikenal dengan Wayang Sada, juga mengunjungi pengrajin blangkon.
Jika dilihat dengan seksama, pembuatan Wayang Sada memang sepenuhnya menggunakan limbah pohon kelapa, seperti lidi (blarak), serabut, batang, dan tempurung kelapa. Berbeda dengan wayang kulit yang dimainkan semalam suntuk, Wayang Sada dimainkan dalam durasi tiga jam saja.
“Sengaja saya padatkan, supaya anak muda tidak bosan”, ungkap Marsono.

Meski belum diakui khusus sebagai warisan dunia, Wayang Sada memiliki ancaman pewaris dalang yang mengkhawatirkan. Mujurnya, Marsono memiliki Arif dan Dewa Bejo yang masih setia mendampingi dalam urusan memasarkan potensi Wayang Sada. Meski belum banyak mencuri perhatian wisatawan yang masih terus mengantre panjang di pintu masuk Gua Pindul, saya yakin, wisata budaya Wayang Sada akan laris di pasaran.
Baca juga : Maestro Wayang Sada: Rubrik NG Traveler Sentra Budaya
Melawat ke Kampung Pitu, Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunungkidul
Kampung Pitu. Mungkin namanya begitu asing bagi beberapa orang. Pertama mendengarnya, saya menebak ini semacam kampung adat. Sesuai dengan namanya, kampung ini hanya dihuni oleh tujuh kepala keluarga. Meski total genapnya ada 25 jiwa, Kampung Pitu tak boleh dihuni lebih dari tujuh kepala keluarga. Jika dilanggar, mitosnya akan merusak tatanan masyarakat. Seperti pertengkaran dalam keluarga maupun gangguan gaib lainnya.
Dipercaya sebagai tempat sakral bersemayamnya pusaka Keraton Ngayogyakarta, saya pun harus masuk dengan kulo nuwun (bertamu ke tetua adat) terlebih dulu. Kisah Kampung Pitu di Desa Wisata Nglanggeran ini diceritakan langsung dari juru kuncinya, Mbah Redjo Dimulyo (100 tahun) yang diterjemahkan oleh pemandu lokal.
Sebermula, Kampung Pitu adalah lahan yang dijanjikan dalam sebuah sayembara yang diselenggarakan pihak abdi dalem Keraton Ngayogyakarta. Sayembara itu pun menarik banyak perhatian dan peminat. Namun dalam perjanjiannya, babat alas (membuka lahan) harus dilakukan oleh tujuh empu. Tidak kurang, tidak lebih.

Baca juga : Bersafari ke Kampung Pitu Nglanggeran
Jelajah Kota Pusaka Kotagede: Dari Makam Hingga Kuliner Langka
Kotagede adalah kawasan yang memiliki bangunan heritage cukup banyak. Tak hanya rumah tua yang kerap diburu wisatawan sebagai dinding latar foto yang siap diunggah melalui sosial media. Ada makam para raja, budaya, tempat ibadah, kerajinan perak, bahkan kuliner legenda yang akan membuat lengkap pelancongan di kota pusaka Kotagede.
Heritage trail adalah istilah yang tepat untuk kegiatan menyusuri lorong-lorong kawasan Kotagede. Memasuki kampung-kampung yang dahulu menjadi alun-alun Kraton Ngayogyakarta adalah pilihan saya. Hampir seluruh bangunan yang berada di sini telah berstatus sebagai cagar budaya.
Akan semakin menarik jika menziarahi Kotagede dilakukan pada hari Legi (penanggalan Jawa). Pada hari ini, akan ada pasar jual beli fauna dan barang-barang antik di kawasan Pasar Legi, pasar tertua di Yogyakarta. Jangan pula melewatkan perburuan jajanan pasar Kipo yang sudah cukup langka.













Aku jadi ingat ada tulisan di draf “Wayang Sodo” hahahahahaha
Sudahs elesai lama tapi belum aku posting.
ndang diposting
Cerita heritage e kok mung Kotagede? Kan isih ono Kauman, pesanggrahan, keraton, dkk… Ra terimo kih hahaha.
lha kan 10 wae. sesuk maneh lah ditulis sing luwih detail. haha. cah heritage ra terimo tenan
Yang berendem di pemandian Mudal iku menarik sekali. Hadeeh pengen langung byur rasane.
Mudal emang jos. Walaupun sedang hujan deras gini, airnya tetap bening
Jadi kangen eksplor desa wisata lagi bareng konco-konco. Terutama Kulon Progo 😀
sesuk. april rene wae
Jogja tempat next my trip saya untuk mengunjunginya. Semoga terlaksana Aamiin
Kami tunggu!