No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Blusukan Kuliner Yogyakarta

by Hannif Andy Al - Anshori
Desember 17, 2018
16 min read
17

Kata orang, Yogyakarta adalah kota berjuta cerita, kota penuh kenangan, kota yang dirindukan. Meskipun hiruk pikuk di sana membuat penat, tetapi rasanya Yogyakarta malah yang dicari wisatawan. Menikmati romantisnya malam di sepanjang jalan, pun mendengarkan tembang yang teriring alat musik tradisional dari para penabuh jalanan. Eits, itu baru suasananya. Janganlah lupa untuk berburu kuliner khasnya.

Biasanya, kuliner tak jadi sorotan utama. Asalkan sudah berkunjung ke objek-objek ikonik, pilihan makanan kadang tak jadi prioritas. Padahal, kuliner Yogyakarta itu banyak ragamnya. Terletak di sudut-sudut tersembunyi, sehingga jarang dikenal orang. Soal rasa, silakan buktikan. Biar tambah sayang, yuk kenali sepuluh kuliner tersembunyi di Yogyakarta!

Jenang Candil Bu Sugesti: Kudapan Pembuka Lempuyangan

Eksistensi jenang di kalangan masyarakat Yogyakarta sudah melekat sejak zaman kerajaan. Biasanya jenang disajikan khusus dalam acara hajat tertentu. Jenis jenang yang dibuat pun memiliki makna dan fungsi yang berbeda-beda. Tetapi seiring berkembangnya zaman, jenang dijual sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta. Salah satunya ialah Jenang Candil Bu Sugesti. Jenang candil ini bisa dijadikan kudapan pembuka sebelum berkeliling Yogyakarta.

Usaha kuliner turun temurun ini ternyata sudah eksis sejak 1950. Bu Sugesti sendiri merupakan generasi ketiga.


Di antara kesibukan Pasar Lempuyangan selepas subuh, Jenang Candil Bu Segesti pun membuka lapaknya sejak pukul 05.00 pagi. Meskipun harus menyusuri lorong-lorong pasar, jenang candil ini habis diburu pelanggan sebelum siang hari. Usaha kuliner turun temurun ini ternyata sudah eksis sejak 1950. Bu Sugesti sendiri merupakan generasi ketiga. Ia bercerita sembari menyuguhkan dagangannya.

Satu porsi jenang candil disajikan di atas pincuk (piring yang terbuat dari daun pisang) dan besek (piring bambu), berisi sumsum, candil, dan mutiara. Jenang terbuat dari tepung beras dan tepung kanji. Ada pilihan rasa gurih, yaitu adonan yang dicampur santan. Ada pula pilihan rasa manis, yaitu adonan yang dicampur gula jawa. Sensasi makan di tengah pasar pun menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran, jenang candil racikan Bu Sugesti pun kabarnya digemari oleh keluarga Kraton, lho!

Lokasi: Di dalam Pasar Lempuyangan. Jl. Hayam Wuruk, Tegal Panggung, Daurejan, Kota Yogyakarta

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo: Legendanya Brongkos Sleman

Yogyakarta itu luas, kulinernya menyebar sampai daerah perbatasan. Berkendara menuju batas provinsi antara Jawa Tengah dan DIY, mampirlah sejenak untuk mencicip masakan lezat yang telah legenda, Brongkos Warung Ijo Bu Padmo.

Berada tak jauh dari jembatan Krasak yang berada di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, persisnya utara pasar, temuilah warung makan dengan nuansa cat berwarna ijo (yang dalam bahasa Jawa berarti hijau). Saya pun perlu bertanya pada orang sekitar untuk menuju warung Brongkos legenda ini.

Hadir sejak 1950, kini Bronkos Warung Ijo Bu Padmo telah diteruskan oleh generasi kedua. Untuk alasan supaya cepat diingat pelanggan, tercatat pula di antara dinding dan atapnya angka 45, yang dalam bahasa Jawa adalah Papat Limo, atau disingkat Padmo. Sementara dipilihnya kata dan warna hijau dalam usaha kuliner ini adalah bagian dari filosofi Jawa; hijau yang memiliki makna jalan terus. Terbukti, sejak 1950, Brongkos Warung Ijo Bu Padmo mewarnai khazanah kuliner Yogyakarta. Bahkan sudi rasanya, datang meski berkendara dari jarak yang cukup jauh.

Corak warung makan berwarna hijau. Dipilihnya kata dan warna hijau dalam usaha kuliner ini adalah bagian dari filosofi Jawa; hijau yang memiliki makna jalan terus.

Kunci pada rasa Brongkos Warung Ijo Bu Padmo yang diturunkan secara temurun ini bukan saja terletak pada dapur yang masih menggunakan tungku api dan kayu bakar, namun juga komposisi rempah yang mampu menggoyang lidah pecinta kuliner nusantara dari masa ke masa. Sebut saja cabe merah, bawang merah dan putih, lengkuas, serai, daun salam, adalah bumbu dapur yang umum digunakan dalam membuat brongkos. Namun barangkali aroma kluwak pada Brongkos Ijo Bu Padmo ini lebih menggoda.

Sekilas, rupa dari masakan brongkos ini mirip dengan rawon. Namun percayalah, secara rasa jauh lebih kaya. Rasa manis dan asin pun bercampur pas. Belum lagi jika kita merobek cabe rawitnya. Pedasnya pun semakin terasa.

Sekilas, rupa dari masakan brongkos ini mirip dengan rawon. Taburan cabe rawitnya menambah rasa pedasnya semakin terasa.

Lokasi: Jl. Magelang No.12, Jlegingan, Margorejo, Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Mie Lethek Mbah Mendes, Lethek Tapi Enak

Penggemar mie barangkali wajib mencoba Mie Lethek Mbah Mendes. Nama Mie Lethek merujuk pada unsur warnanya dimana lethek yang berarti kotor. Memang sepintas, warna dari mie ini terlihat kotor. Namun bukan berarti mie lethek tak layak konsumsi. Keistimewaan dari mie ini adalah bebas dari bahan-bahan kimia. Bahkan dalam proses memasaknya pun tak menggunakan penyedap rasa kemasan (MSG).

Terbuat dari tepung tapioka dan gaplek, proses pembuatan mie lethek pun terbilang unik. Tak jauh dari dapur masak sentra kuliner mie lethek, temuilah pabrik Mie Lethek Cap Garuda yang beralamat di Srandakan. Penggilingan mie lethek yang mengandalkan tenaga sapi ini pun membuat saya tak hanya memuji rasa, bahkan juga para maestro di baliknya. Sebuah batu yang kurang lebih memiliki berat satu ton bergerak melingkar ditarik sapi. Berdiri di atas lumping raksasa dua pekerja yang turut mengaduk adonan mie.

Mie Lethek Mbah Mendes, Lethek Tapi Enak
 Satu plastik berisi 5 kg mie lethek dengan harga jual Rp 18000 per kilo. Keseluruhan proses tersebut membutuhkan waktu minimal 24 jam, tergantung sinar matahari dan kondisi alat.
Mie Lethek Mbah Mendes, Lethek Tapi Enak
Proses nyelender alias menggiling dan mencampur bahan ini bisa memakan waktu sampai 3 jam. Sebuah batu yang beratnya sekitar 1 ton bergerak melingkar menggiling bahan-bahan tersebut. 

Untuk mencicip kelezatan seporsi Mie Lethek Mbah Mendes, datanglah ke salah satu warungnya yang bertempat di Maguwoharjo. Pilihan saya jatuh pada mie lethek rebus dan goreng. Saya pun perlu antre cukup panjang menunggu pesanan datang.

Untuk memastikan benar tidaknya tanpa penyedap rasa kemasan (MSG) saat memasak, saya mengintip langsung di dapur masaknya. Aroma bawang putih pun tercium kuat manakala para juru masak menggoyang peranti masak. Dijelaskannya satu persatu bahan dapur yang lazim digunakan. Seperti telor, daun bawang, kubis, seledri, irisan wortel, maupun suwiran daging ayam.

Mie Lethek Mbah Mendes, Lethek Tapi Enak
Bahan dapur yang lazim digunakan seperti telor, daun bawang, kubis, seledri, irisan wortel, maupun suwiran daging ayam.

Jika harus bicara soal rasa, percayalah bahwa saat pertama kali lidah menyentuh lembutnya mie lethek, pujian yang pertama kali keluar adalah lezat dan enak.

Lokasi: Maguwo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, DI Yogyakarta. Tepatnya di belakang Lotte Mart

Rela Mblusuk Demi Menyantap Mangut Lele Mak Badar

Lagi-lagi Bantul harus diakui sebagai sentra kuliner yang berpengaruh dalam mewarnai khazanah industri pangan dan pariwisata Yogyakarta. Paculah kuda besimu menuju kampus ISI Yogyakarta. Tepat di barat kantor POS, seberangilah jalan dan masuklah di antara gang kecilnya. Memang, untuk yang baru pertama kali datang ke sini, perlu banyak bertanya agar bisa sampai ke warung makan Mangut Lele Mak Badar.

Warung kecil berukuran 3×6 meter ini tengah ramai saat saya datangi. Rumah pemadam kelaparan ini umumnya mampu menampung hingga 20 pelanggan untuk makan di tempat. Sisanya, silakan bisa merasakan sensasi makan sembari jongkok di halaman.

Pernah turut andil dalam membuat kondang usaha kuliner mangut lele Sang Ibu, yakni Mangut Lele Mbah Marto, kini Mak Badar memilih untuk menciptakan ruang baru bagi pemburu mangut lele. 

Kunci masakan mangut lele hingga diburu banyak penikmat kuliner ternyata ada pada kesabaran dalam proses memasaknya. Pernah turut andil dalam membuat kondang usaha kuliner mangut lele Sang Ibu, yakni Mangut Lele Mbah Marto, kini Mak Badar memilih untuk menciptakan ruang baru bagi pemburu mangut lele. Rumah dan warungnya pun persis berada di samping warung makan Sang Ibu.

Dalam satu hari, Mak Badar sanggup menghabiskan 90 lebih tusuk mangut lele. Itu pun belum termasuk pesanan luar kota. Proses panjang untuk membuat lezat mangut lele dipertontonkan secara cuma-cuma. Saya pun tak kuasa menahan perih di mata saat memasuki ruang asap lele. Sungguh, Mak Badar adalah maestro juru masak yang hebat. Ruang dengan lebar tak seberapa ini mampu membuat Mak Badar betah. Butuh lebih dari dua jam supaya lele benar-benar matang dan siap diaduk bersama racikan rempah kuah mangut.

Proses panjang untuk membuat lezat mangut lele dipertontonkan secara cuma-cuma. Saya pun tak kuasa menahan perih di mata saat memasuki ruang asap lele. 

Perpaduan bumbu rempah yang pas tak membuat siapapun kecewa datang jauh-jauh. Ukuran lele yang relatif besar ini terasa lebih nikmat jika diganyang tanpa nasi. Daging lele yang empuk dengan rasa manis dan gurih adalah ciri khas dari masakan mangut lele Mak Badar. Bagi yang bertanya dimana sambal? Tenang. Padulah mangut lele dengan krecek buatan Mak Badar. Rasa pedasnya mampu menggantikan sambal.

Lokasi: Belakang Kampus ISI Yogyakarta. Ngireng-ireng, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Baca halaman berikutnya

Page 1 of 2
12Next
Previous Post

Bertemu di Klaten

Next Post

Terima Kasih Lion Air

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Lion Air

Terima Kasih Lion Air

Comments 17

  1. aqied says:
    7 tahun ago

    salah sekali hamba membaca postingan ini siang-siang saat lapar menyerang.
    Sate Kere berkuah begitu belum pernah nyobai, di kampungku ada penjual sate gajih keliling tapi bukan disajikan dengan kuah.
    Kalo boleh tau, favorit penulis dari 10 kuliner ini yang mana?

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      penulis menfavoritkan makan sama siapanya. bukan makan sendiri haha.
      sabar. ini baru 10. masih ada 11 yang kusimpan dalam draft

      Balas
  2. dwi susanti says:
    7 tahun ago

    Dari sepuluh macam kuliner itu, yang pernah kucicip cuma satu thok: Soto Kemangi Kemasan. PR sekali buat menjelajah sembilan lainnya yang memang semuanya meyakinkan untuk diicip.

    Hannif mblusuk-mblusuknya sama siapa e sampai pasar-pasar juga :p
    Aku saja belum pernah masuk Pasar Lempuyangan wkwk. Lain kali harus ketemu sama jenangnya.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Ini baru 10 ya. aku masih punya banyak. lagi pegel sing nulis dan mikir.
      kamu g liat itu tangan pas di pasar mulus gitu? jempol semua lagi. tangan mas aji dongs. haha.
      Nah, jenang enak serius. aku bela2in datang dari klaten sepagi mungkin, terus dikejar buk ibuk yang curhat kalau suaminya selingkuh. ibuk itu pengen bobol WA suaminya. aku tak bisa wkwkw

      Balas
    • Gallant Tsany Abdillah says:
      7 tahun ago

      Mi Lethek belom mbak? Bukane udah?

      Balas
  3. Gallant Tsany Abdillah says:
    7 tahun ago

    Wah jadi laper banget.
    Soal Gudeg Manggar, aku pernah dateng di kelas menulisnya Mbak Windy, dia cerita kalau Gudeg Manggar ini yang otentik asli Jogja. Selain Gudeg Nangka tentunya. Hmm maksud e mungkin malah sik Manggar ki sik asli.

    Asik ya gagal di lomba malah jadi tulisan di blog sendiri. Hahaha.

    Aku juga pernah niat banget pagi-pagi ke Pasar Lempuyangan cuma buat beli jajanan pasar. Terus mampir sekalian ke bubur candilnya. Enak banget asli. Poll lah pokokmen.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      sebenarnya banyak yg asli Jogja. soalnya Mba W baru berkunjung ke Gudeg Manggar mbok seneng. aku pun ke sini gegara baca salah satu storiesnya kok. haha

      Balas
  4. Hendi Setiyanto says:
    7 tahun ago

    mie lethek itu mengingatkan aku saat zaman dahulu kondangan di kampung2 sajiannya ya itu. walaupun bentuk dan rupanya kurang menarik entah mengapa rasanya gurih apalagi ditambah bumbu2 gitu. lebih enak lagi kalau dapat karena hasil mberkat ketika ada tetangga punya hajat. sekarang mah bihun dan mie2 kayak gitu rasanya beda

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      wah, bahagia sekali rasanya dapat mie lethek kalau ada acara2 di desa ya. sekarang pun porsi mie bihun kalau acara kenduren lebih sedikit. banyakan nasinya. haha.

      Balas
  5. Nasirullah Sitam says:
    7 tahun ago

    Berburu kipo saat pagi sebelum sepedaan adalah waktu yang menyenangkan hahahahahha. Setelah itu baru nyari soto buat sarapan.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Soto tetep menu sarapan yang enak

      Balas
  6. Halim says:
    7 tahun ago

    Tetep isih penasaran karo Gudeg Manggar e lur. Traktir to lur… Yen Brongkos, daku tetep sreg ama rasa brongkos samping Pasar Ngasem, luih enak ketimbang brongkos alun-alun kidul. Namun, tetep kembali ke selera lidah masing-masing sih. :-

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      tapi kan koe rung nyoba brongkos ijo iki koh. haha. Cobai dulu.
      Gudeg Manggar adoh. ayoklah. mari genapi kelana wisata kuliner ini

      Balas
  7. Elisabeth Murni says:
    7 tahun ago

    Tepat seminggu lalu aku mampir ke Mie Ayam Goreng Seyegan itu. Bertahun-tahun dipameri temanku yang rumahnya dekat sana, akhirnya baru kemarin kesampaian. Dan aku sukaaaaa, enak. Teksturnya, rasanya, lada hitamnya, pokoknya sukak. Sambelnya juga unik, kaya sambal ayam goreng. Ebetewe itu disebutnya bukan sawi ijo lho, Hanif. Menurut buibu meski warnanya ijo itu masih masuk golongan sawi putih. Beda dengan sawi yang dipakai mie ayam biasanya. Sekian dan terima traktiran :p

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      yes. sambalnya berbeda dari biasanya.
      eh iya ini buk ibuk emang jago ngoreksi soal makanan. hehe. iya ya. sawi putih. walaupun pucuknya ijo. oke aku edit. hihi makasih

      Balas
  8. Lombok Wander says:
    7 tahun ago

    Nasi kucing ala jogja yang mantap !
    Sangat bersahabat dengan mahasiswa hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      tapi sekarang mulai mahal Min, haha

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller