Blusukan Kuliner Yogyakarta

Kata orang, Yogyakarta adalah kota berjuta cerita, kota penuh kenangan, kota yang dirindukan. Meskipun hiruk pikuk di sana membuat penat, tetapi rasanya Yogyakarta malah yang dicari wisatawan. Menikmati romantisnya malam di sepanjang jalan, pun mendengarkan tembang yang teriring alat musik tradisional dari para penabuh jalanan. Eits, itu baru suasananya. Janganlah lupa untuk berburu kuliner khasnya.

Biasanya, kuliner tak jadi sorotan utama. Asalkan sudah berkunjung ke objek-objek ikonik, pilihan makanan kadang tak jadi prioritas. Padahal, kuliner Yogyakarta itu banyak ragamnya. Terletak di sudut-sudut tersembunyi, sehingga jarang dikenal orang. Soal rasa, silakan buktikan. Biar tambah sayang, yuk kenali sepuluh kuliner tersembunyi di Yogyakarta!

Jenang Candil Bu Sugesti: Kudapan Pembuka Lempuyangan

Eksistensi jenang di kalangan masyarakat Yogyakarta sudah melekat sejak zaman kerajaan. Biasanya jenang disajikan khusus dalam acara hajat tertentu. Jenis jenang yang dibuat pun memiliki makna dan fungsi yang berbeda-beda. Tetapi seiring berkembangnya zaman, jenang dijual sebagai salah satu kuliner khas Yogyakarta. Salah satunya ialah Jenang Candil Bu Sugesti. Jenang candil ini bisa dijadikan kudapan pembuka sebelum berkeliling Yogyakarta.

Jenang Candil Bu Sugesti

Di antara kesibukan Pasar Lempuyangan selepas subuh, Jenang Candil Bu Segesti pun membuka lapaknya sejak pukul 05.00 pagi. Meskipun harus menyusuri lorong-lorong pasar, jenang candil ini habis diburu pelanggan sebelum siang hari. Usaha kuliner turun temurun ini ternyata sudah eksis sejak 1950. Bu Sugesti sendiri merupakan generasi ketiga. Ia bercerita sembari menyuguhkan dagangannya.

kuliner jogja hits

 

Satu porsi jenang candil disajikan di atas pincuk (piring yang terbuat dari daun pisang) dan besek (piring bambu), berisi sumsum, candil, dan mutiara. Jenang terbuat dari tepung beras dan tepung kanji. Ada pilihan rasa gurih, yaitu adonan yang dicampur santan. Ada pula pilihan rasa manis, yaitu adonan yang dicampur gula jawa. Sensasi makan di tengah pasar pun menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran, jenang candil racikan Bu Sugesti pun kabarnya digemari oleh keluarga Kraton, lho!

Lokasi: Di dalam Pasar Lempuyangan. Jl. Hayam Wuruk, Tegal Panggung, Daurejan, Kota Yogyakarta

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo: Legendanya Brongkos Sleman

Yogyakarta itu luas, kulinernya menyebar sampai daerah perbatasan. Berkendara menuju batas provinsi antara Jawa Tengah dan DIY, mampirlah sejenak untuk mencicip masakan lezat yang telah legenda, Brongkos Warung Ijo Bu Padmo.

Berada tak jauh dari jembatan Krasak yang berada di Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, persisnya utara pasar, temuilah warung makan dengan nuansa cat berwarna ijo (yang dalam bahasa Jawa berarti hijau). Saya pun perlu bertanya pada orang sekitar untuk menuju warung Brongkos legenda ini.

Brongkos Warung Ijo Bu Padmo

Hadir sejak 1950, kini Bronkos Warung Ijo Bu Padmo telah diteruskan oleh generasi kedua. Untuk alasan supaya cepat diingat pelanggan, tercatat pula di antara dinding dan atapnya angka 45, yang dalam bahasa Jawa adalah Papat Limo, atau disingkat Padmo. Sementara dipilihnya kata dan warna hijau dalam usaha kuliner ini adalah bagian dari filosofi Jawa; hijau yang memiliki makna jalan terus. Terbukti, sejak 1950, Brongkos Warung Ijo Bu Padmo mewarnai khazanah kuliner Yogyakarta. Bahkan sudi rasanya, datang meski berkendara dari jarak yang cukup jauh.

Kunci pada rasa Brongkos Warung Ijo Bu Padmo yang diturunkan secara temurun ini bukan saja terletak pada dapur yang masih menggunakan tungku api dan kayu bakar, namun juga komposisi rempah yang mampu menggoyang lidah pecinta kuliner nusantara dari masa ke masa. Sebut saja cabe merah, bawang merah dan putih, lengkuas, serai, daun salam, adalah bumbu dapur yang umum digunakan dalam membuat brongkos. Namun barangkali aroma kluwak pada Brongkos Ijo Bu Padmo ini lebih menggoda.

kuliner jogja hits

 

Sekilas, rupa dari masakan brongkos ini mirip dengan rawon. Namun percayalah, secara rasa jauh lebih kaya. Rasa manis dan asin pun bercampur pas. Belum lagi jika kita merobek cabe rawitnya. Pedasnya pun semakin terasa.

Lokasi: Jl. Magelang No.12, Jlegingan, Margorejo, Tempel, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Mie Lethek Mbah Mendes, Lethek Tapi Enak

Penggemar mie barangkali wajib mencoba Mie Lethek Mbah Mendes. Nama Mie Lethek merujuk pada unsur warnanya dimana lethek yang berarti kotor. Memang sepintas, warna dari mie ini terlihat kotor. Namun bukan berarti mie lethek tak layak konsumsi. Keistimewaan dari mie ini adalah bebas dari bahan-bahan kimia. Bahkan dalam proses memasaknya pun tak menggunakan penyedap rasa kemasan (MSG).

Mie Lethek Mbah Mendes

Terbuat dari tepung tapioka dan gaplek, proses pembuatan mie lethek pun terbilang unik. Tak jauh dari dapur masak sentra kuliner mie lethek, temuilah pabrik Mie Lethek Cap Garuda yang beralamat di Srandakan. Penggilingan mie lethek yang mengandalkan tenaga sapi ini pun membuat saya tak hanya memuji rasa, bahkan juga para maestro di baliknya. Sebuah batu yang kurang lebih memiliki berat satu ton bergerak melingkar ditarik sapi. Berdiri di atas lumping raksasa dua pekerja yang turut mengaduk adonan mie.

Untuk mencicip kelezatan seporsi Mie Lethek Mbah Mendes, datanglah ke salah satu warungnya yang bertempat di Maguwoharjo. Pilihan saya jatuh pada mie lethek rebus dan goreng. Saya pun perlu antre cukup panjang menunggu pesanan datang.

Untuk memastikan benar tidaknya tanpa penyedap rasa kemasan (MSG) saat memasak, saya mengintip langsung di dapur masaknya. Aroma bawang putih pun tercium kuat manakala para juru masak menggoyang peranti masak. Dijelaskannya satu persatu bahan dapur yang lazim digunakan. Seperti telor, daun bawang, kubis, seledri, irisan wortel, maupun suwiran daging ayam.

kuliner jogja hits

 

Jika harus bicara soal rasa, percayalah bahwa saat pertama kali lidah menyentuh lembutnya mie lethek, pujian yang pertama kali keluar adalah lezat dan enak.

Lokasi: Maguwo, Maguwoharjo, Depok, Sleman, DI Yogyakarta. Tepatnya di belakang Lotte Mart

Rela Mblusuk Demi Menyantap Mangut Lele Mak Badar

Lagi-lagi Bantul harus diakui sebagai sentra kuliner yang berpengaruh dalam mewarnai khazanah industri pangan dan pariwisata Yogyakarta. Paculah kuda besimu menuju kampus ISI Yogyakarta. Tepat di barat kantor POS, seberangilah jalan dan masuklah di antara gang kecilnya. Memang, untuk yang baru pertama kali datang ke sini, perlu banyak bertanya agar bisa sampai ke warung makan Mangut Lele Mak Badar.

Warung kecil berukuran 3×6 meter ini tengah ramai saat saya datangi. Rumah pemadam kelaparan ini umumnya mampu menampung hingga 20 pelanggan untuk makan di tempat. Sisanya, silakan bisa merasakan sensasi makan sembari jongkok di halaman.

Mangut Lele Mak Badar

Kunci masakan mangut lele hingga diburu banyak penikmat kuliner ternyata ada pada kesabaran dalam proses memasaknya. Pernah turut andil dalam membuat kondang usaha kuliner mangut lele Sang Ibu, yakni Mangut Lele Mbah Marto, kini Mak Badar memilih untuk menciptakan ruang baru bagi pemburu mangut lele. Rumah dan warungnya pun persis berada di samping warung makan Sang Ibu.

Dalam satu hari, Mak Badar sanggup menghabiskan 90 lebih tusuk mangut lele. Itu pun belum termasuk pesanan luar kota. Proses panjang untuk membuat lezat mangut lele dipertontonkan secara cuma-cuma. Saya pun tak kuasa menahan perih di mata saat memasuki ruang asap lele. Sungguh, Mak Badar adalah maestro juru masak yang hebat. Ruang dengan lebar tak seberapa ini mampu membuat Mak Badar betah. Butuh lebih dari dua jam supaya lele benar-benar matang dan siap diaduk bersama racikan rempah kuah mangut.

kuliner jogja hits

 

Perpaduan bumbu rempah yang pas tak membuat siapapun kecewa datang jauh-jauh. Ukuran lele yang relatif besar ini terasa lebih nikmat jika diganyang tanpa nasi. Daging lele yang empuk dengan rasa manis dan gurih adalah ciri khas dari masakan mangut lele Mak Badar. Bagi yang bertanya dimana sambal? Tenang. Padulah mangut lele dengan krecek buatan Mak Badar. Rasa pedasnya mampu menggantikan sambal.

Lokasi: Belakang Kampus ISI Yogyakarta. Ngireng-ireng, Panggungharjo, Sewon, Bantul, DI Yogyakarta

Menempuh Perjalanan Panjang Demi Gudeg Manggar Mbok Seneng

Berderet warung makan dan penunjuk papan jalan gudeg barangkali kerap dijumpai sepanjang jalan di Yogyakarta. Belum lagi di daerah Wijilan yang memang sudah sohor sebagai sentra kuliner gudeg Jogja. Namun cobalah yang yang satu ini, Gudeg Manggar Mbok Seneng.

Saya pun perlu bertanya-tanya dan berkali-kali berbalik arah untuk menemu dimana kediaman Sang Maestro Gudeg Manggar. Mujur, masyarakat di sekitar paham siapa Mbok Seneng  (60 tahun) yang saya maksud.

Sosok perempuan senja itu memang tak menggunakan papan nama sebagai penanda dirinya menjual gudeg manggar. Namun, siapa sangka? Telah banyak wisatawan yang datang langsung ke rumahnya.

 

kuliner jogja hits

Persis di sisi barat jalan Pasar Mangiran, Srandakan, terdapat rumah sederhana dengan dinding anyaman bambu bernuansa hijau. Tak ada aktivitas jual beli dan bersantap makan layaknya warung makan biasanya. Saya pun harus memastikan dengan memberanikan diri masuk langsung ke dapurnya. Asap dari tungku api mengepul berusaha menembus ruang ventilasi udara. Proses menanak nasi ternyata sedang berlangsung.

Meski saya sudah datang pukul 10.00 pagi, Gudeg Manggar Mbah Seneng ternyata hampir ludes diburu pelanggan. Mujur, Mbah Seneng berbaik hati membagi jatah makan keluarganya. “Lha wis arep entek, tutup e dadine gasik (sudah mau habis, tutupnya lebih cepat)”, ujarnya sembari membuka panci berisi sisa gudeg manggar.

Gudeg Manggar Mbok Seneng

Tentu berbeda dengan gudeg pada umumnya. Jika gudeg yang biasa kita temui menggunakan bahan utama nangka, keunikan gudeg yang satu ini terletak pada lauk manggar atau bunga muda pohon kelapa yang kurang produktif. Dalam satu porsi gudeg manggar, Mbah Seneng menjualnya seharga Rp 20.000 saja. Itu pun sudah termasuk satu porsi nasi, ayam kampung, gudeg manggar, tempe kering, krecek, dan secangkir teh hangat.

Jualan yang sudah dirintis sejak tahun 1980-an ini memang tergolong langka. Tekstur ayam kampung yang empuk, dipadu dengan gudeg manggar yang gurih dan tak terlalu manis adalah kekhasan dari masakan Mbah Seneng.

Lokasi: Desa Trimurti, Srandakan, Bantul, DI Yogyakarta

Sate Kere Mbah Mardi: Murah, Unik, dan Lezat

Sate, adalah jamuan kenegaraan yang sudah kondang bahkan sejak Bapak Proklamasi, Bung Karno pertama kali resmi ditunjuk sebagai presiden. Sate bahkan lebih terkenal di Barat dibanding gudeg yang sudah disahkan sebagai citra kuliner khas Jogja. Namun tentunya ada banyak pilihan sate yang tersebar di Yogyakarta. Kelana rasa masakan Jogja di tengah malam akan lebih nikmat jika menyantap Sate Kere Mbah Mardi yang berada di Jalan Godean.

Sate Kere Mbah Mardi

Persis berada di pinggir jalan, tak sulit untuk menemukan lokasi Sate Kere Mbah Mardi. Aroma sate tusuk ini melayang ke udara bercampur dengan asap kendaraan.  Lantas membuat siapapun yang menyintas Jalan Godean menjadi kelaparan.

Keluarga Mbah Mardi menyediakan lebih dari 3.000 tusuk sate kere setiap hari. Bahkan tak hanya wisatawan yang rela mengantre panjang. Juru mudi transportasi daring pun siaga menjemput pesanan para pelanggan yang malas keluar.

 

kuliner jogja hits

Terbuat dari gajih atau lemak sapi yang diberi bumbu rempah dan kecap, seporsi sate kere dan kupat sayur dibandrol dengan harga Rp 8.000 saja. Nama ‘kere’ juga merujuk pada kemampuan membelinya. Harga yang sangat murah untuk kuliner sate.

Dalam sekali gigitan, saya langsung bisa merasakan betapa nikmatnya menyantap sate kere. Empuk, kenyal, gurih, dan manis. Tak ketinggalan, saya pun melahap habis kupat sayur yang menjadi pendamping sate kere. Sungguh, ritual santap malam yang nikmat.

Lokasi: Jl. Godean Km.7, Sidomoyo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Enthok Slenget Kang Tanir: Kuliner Langka Khas Sleman

Diselimuti udara dingin khas pedesaan, saya menerobos jalanan Turi yang sunyi nan sejuk. Butuh perhitungan waktu yang tepat supaya saya tak kehabisan masakan Kang Tanir yang langka. Sudah sohor sejak tahun 2006 silam, masakan olahan daging enthok slenget bisa dibilang tak pernah punya saingan.

Sejak buka pukul 16.30 WIB, warung makan Kang Tanir tak pernah sepi pelanggan. Kang Tanir memiliki segudang resep dan jurus supaya masakan enthok, atau di beberapa tempat menyebutnya mentok tidak keras (alot) saat disantap. Sebelum dimasak, enthok diungkep terlebih dahulu. Kemudian dimasak di atas tungku yang sudah bercampur rempah. Pelanggan pun bisa memesan tingkat kepedasan masakan. Mulai dari pedas, pedas sekali, bahkan extra pedas. Dengan cekatan, Kang Tanir pun menggoyang peranti masaknya. Balungan rica-rica enthok slenget pun tak ketinggalan untuk diolah.

Enthok Slenget Kang Tanir

Bicara soal nama, Kang Tanir mengaku menggunakan kata slenget karena merujuk pada pedasnya masakan. “Slenget kui, kepedesen”, jelas Kang Tanir sembari menunjukkan mimik wajah kepedasan.

Lalapan daun kubis dan potongan mentimun pun menjadi pendamping seporsi enthok slenget Kang Tanir. Kiranya apa yang membuat banyak pelanggan ketagihan adalah soal rasanya. Dalam sekali gigitan, rasa pedasnya cukup untuk menggoyang lidah. Baik aroma dan rasanya, bumbu rempah yang menempel di kuah dan daging enthok terasa sangat kuat.

kuliner jogja hits

 

Dalam satu hari, Kang Tanir sanggup menghabiskan 15 ekor enthok. Saking ramainya, enthok slenget Kang Tanir bisa habis dalam hitungan jam. Baiknya, bagi yang ingin menyantap masakan ini untuk datang tepat waktu, atau memesan via telepon terlebih dulu. Oh, ya. Enthok Slenget Kang Tanir hanya tutup di hari Rabu karena pada hari ini halaman parkirnya menjadi tempat adu kicau burung.

Lokasi: Jl. Pakem-Turi, Pules Lor, Donokerto, Turi, Sleman, DI Yogyakarta

Sedapnya Soto Kemangi Kemasan Sedjak 1963

Bicara soto, mungkin akan banyak variannya. Namun di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, temuilah soto legenda yang sangat berbeda dengan warung soto kebanyakan. Mulai berjualan sejak 1963, pun membuat warung Soto Kemasan tak pernah sepi pelanggan.

Nama kemasan sebenarnya merujuk pada lokasi dimana warung soto ini berada. Namun percayalah, banyak hal unik yang bisa ditemui selama menyantap kuliner soto kemasan. Bukan daging ayam maupun sapi yang digunakan. Melainkan irisan tahu bacem yang bercampur kuah soto dan nasi yang menjadi ciri unik dari Soto Kemangi Kemasan.

Soto Kemangi Kemasan

Hal yang akan ditanya penjual saat memesan semangkok soto kemasan adalah jumlah cabai rawitnya. Dua, atau bahkan melebihi sepuluh, dipersilakan tergantung selera pedas para pelanggan. Itulah sebabnya, nama lain dari warung Soto Kemasan ini adalah Soto Lombok Pithes. Tak hanya itu, aneka gorengan dan jeroan pun begitu menggoda untuk menjadi lauk tambahan.

Jika pesanan soto sudah menuju meja makan. Amatilah di sekeliling mejanya. Salah satu pelengkap yang bisa dijumpai adalah daun kemangi dan cabai rawit. Taburlah daun kemangi di atas semangkok soto yang sudah dipesan. Jika dirasa masih kurang pedas, cobeklah beberapa cabai rawit. Adanya taburan daun kemangi ini akan membuat kuah menjadi lebih gurih dan wangi. Maka lengkap sudah, Soto Kemangi Kemasan menjadi santapan lezat yang membuat perut kenyang.

kuliner jogja hits

 

Harga seporsi Soto Kemasan pun cukup murah. Hanya Rp 9.000 untuk semangkok soto. Dan Rp 15.000 untuk enam potong jeroan. Tertarik?

Lokasi: Jl. Ringroad Selatan, Singosaren III, Singosaren, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta

Rela Mengantre Demi Semangkok Mie Ayam Goreng Seyegan

Yogyakarta itu menarik sekaligus kaya. Seperti halnya bersantap hidangan makan kaki lima. Mie ayam goreng mungkin terdengar sangat jarang. Namun di Kabupaten Sleman, mie ayam goreng sangatlah terkenal. Oh, ya. Jangan salah memilih tempat. Merapatlah menuju pionir Mie Ayam Goreng yang berada di Jl. Kebon Agung, Margokaton, Kecamatan Seyegan sebelum pukul 14.00 WIB. Karena jika datang melewati waktu ini, penjual Mie Ayam Seyegan sudah berkemas untuk pulang.

Mie Ayam Goreng Seyegan

Sawi putih, acar timun, potongan ayam, dan taburang bawang goreng adalah pelengkap dari Mie Ayam Seyegan. Perhatikan saja porsi sawi putihnya. Cukup banyak, bukan? Belum lagi dari segi tekstur rasanya yang cukup kenyal dengan ukuran yang lebih besar dibanding mie ayam pada umumnya. Rasa lada hitam pun bercampur pas bersama takaran bumbu kecapnya. Jika anda penggemar rasa pedas, campurkan dengan sambal goreng yang tersedia di meja makan.

 

kuliner jogja hits

Untuk bisa memesan semangkok mie ayam, saya pun harus mengantre cukup panjang. Bahkan tak jarang, para pelanggan rela duduk lesehan di ruko para penjual, terlebih lagi saat memasuki jam makan siang. Pilihan saya jatuh pada semangkok mie ayam goreng. Rasa manis, gurih, dan asin pada bumbunya bercampur lezat. Sementara bagi penggemar rasa pedas, cukup tambahkan sambal goreng yang sudah tersedia.

Lokasi: Margokaton, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta

Sepagi Mungkin Berburu Kipo Kotagede

Iki opo (ini apa)?”, adalah perntanyaan pembuka bincang setiap kali pembeli merasa penasaran melihat jajanan mungil yang dijual di sebuah pasar.

Kapan terakhir kali membeli jajanan pasar? Kiranya ada waktu ke Yogyakarta, sempatkanlah untuk menyusur lorong-lorong sebuah pasar tua di Kotagede. Dikenal juga sebagai kawasan yang memiliki banyak bangunan cagar budaya, Kotagede ternyata memiliki jajanan pasar yang langka. Mengapa langka? Pertama, sementara waktu terus berjalan, jajanan pasar mulai banyak ditinggalkan. Kedua, jajanan pasar ini hanya dapat ditemukan di Kotagede.

Kipo Kotagede

Kipo. Jajanan pasar yang terbuat dari tepung ketan yang diberi pewarna alami dari daun suji dengan komposisi di dalamnya berupa gula merah dan parutan kelapa. Jajanan pasar yang mungil ini ditata dan dijual di atas lembaran daun pisang seharga Rp 2.000.

kuliner jogja hits

 

Rasa manis gurih bercampur harum daun suji dan aroma panggang adalah khas dari jajanan pasar Kipo. Untuk bisa membeli Kipo, datanglah sepagi mungkit saat Pasar Legi Kota Gede, pasar rakyat tertua di Yogyakarta memulai aktivitasnya. Oh, ya, jangan sampai kesiangan jika tak ingin kehabisan. Saya pun perlu datang dua kali untuk bisa bernostalgia saat menyantap jajanan pasar ini.

Lokasi: Di dalam Pasar Legi Kotagede, DI Yogyakarta, tepatnya di lorong pintu gerbang utama sebelah utara.

 

Comments

comments

15 thoughts on “Blusukan Kuliner Yogyakarta

  1. salah sekali hamba membaca postingan ini siang-siang saat lapar menyerang.
    Sate Kere berkuah begitu belum pernah nyobai, di kampungku ada penjual sate gajih keliling tapi bukan disajikan dengan kuah.
    Kalo boleh tau, favorit penulis dari 10 kuliner ini yang mana?

  2. Dari sepuluh macam kuliner itu, yang pernah kucicip cuma satu thok: Soto Kemangi Kemasan. PR sekali buat menjelajah sembilan lainnya yang memang semuanya meyakinkan untuk diicip.

    Hannif mblusuk-mblusuknya sama siapa e sampai pasar-pasar juga :p
    Aku saja belum pernah masuk Pasar Lempuyangan wkwk. Lain kali harus ketemu sama jenangnya.

    1. Ini baru 10 ya. aku masih punya banyak. lagi pegel sing nulis dan mikir.
      kamu g liat itu tangan pas di pasar mulus gitu? jempol semua lagi. tangan mas aji dongs. haha.
      Nah, jenang enak serius. aku bela2in datang dari klaten sepagi mungkin, terus dikejar buk ibuk yang curhat kalau suaminya selingkuh. ibuk itu pengen bobol WA suaminya. aku tak bisa wkwkw

  3. Wah jadi laper banget.
    Soal Gudeg Manggar, aku pernah dateng di kelas menulisnya Mbak Windy, dia cerita kalau Gudeg Manggar ini yang otentik asli Jogja. Selain Gudeg Nangka tentunya. Hmm maksud e mungkin malah sik Manggar ki sik asli.

    Asik ya gagal di lomba malah jadi tulisan di blog sendiri. Hahaha.

    Aku juga pernah niat banget pagi-pagi ke Pasar Lempuyangan cuma buat beli jajanan pasar. Terus mampir sekalian ke bubur candilnya. Enak banget asli. Poll lah pokokmen.

  4. mie lethek itu mengingatkan aku saat zaman dahulu kondangan di kampung2 sajiannya ya itu. walaupun bentuk dan rupanya kurang menarik entah mengapa rasanya gurih apalagi ditambah bumbu2 gitu. lebih enak lagi kalau dapat karena hasil mberkat ketika ada tetangga punya hajat. sekarang mah bihun dan mie2 kayak gitu rasanya beda

  5. Tetep isih penasaran karo Gudeg Manggar e lur. Traktir to lur… Yen Brongkos, daku tetep sreg ama rasa brongkos samping Pasar Ngasem, luih enak ketimbang brongkos alun-alun kidul. Namun, tetep kembali ke selera lidah masing-masing sih. :-

  6. Tepat seminggu lalu aku mampir ke Mie Ayam Goreng Seyegan itu. Bertahun-tahun dipameri temanku yang rumahnya dekat sana, akhirnya baru kemarin kesampaian. Dan aku sukaaaaa, enak. Teksturnya, rasanya, lada hitamnya, pokoknya sukak. Sambelnya juga unik, kaya sambal ayam goreng. Ebetewe itu disebutnya bukan sawi ijo lho, Hanif. Menurut buibu meski warnanya ijo itu masih masuk golongan sawi putih. Beda dengan sawi yang dipakai mie ayam biasanya. Sekian dan terima traktiran :p

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.