Telusur Goa Tanding dan Kisah Sumur Ajaib

Take nothing but picture. Leave nothing but footprint. Kill nothing but time.

***

Di Gunungkidul, bukan lagi jadi hal luar biasa kala tersiar kabar penemuan gua secara tak sengaja. Lembah dolina hingga aliran sungai bawah tanah seakan jadi dekorasi utama. Goa Tanding, yang sejak kemunculan perdananya membuatku merengek untuk segera dibawa ke sana. Masih satu area dengan Goa Pindul, ia jadi primadona baru wisata karst di Gunungkidul. Satu lagi harta karun kepunyaan Geopark Gunungsewu. Wacana berangsur jadi rencana, akhirnya menemu kata sepakat. Alangkah senangnya, hari yang didamba tiba juga.

Dilengkapi pakaian tertutup, helm speleo, pelampung, senter, serta alas kaki yang terikat kencang, tubuh ini siap mengarungi aliran sungai bawah tanah di dalam rongga gua. Ditemani Mas Brayen, pemandu gua yang sebaya, penyusuran Goa Tanding dimulai. Degup jantung sampai-sampai terdengar jelas di telinga. Gemetar dan grogi melingkupi diri. Sungguh, aku teramat kagum pada kecantikan alam di dalam gua. Namun takut akan gelap belum juga sirna.

Ditemani Mas Brayen, pemandu gua yang sebaya, penyusuran Goa Tanding dimulai.

Jalan menuju titik awal penyusuran dikelilingi gerbang berhias taman. Kabarnya, butuh dua bulan bagi alat berat excavator untuk menggali sampai di kedalaman 11 meter hingga bertemu rongga yang kini jadi pintu masuk gua. Tempat yang semula hutan jati kini berganti dinding batu gamping berpagar besi. Mujurnya, alam sekitar masih terjaga dan dirawat agar tetap asri. Lagipula, lingkungan Goa Tanding merupakan bare karst, kawasan karst yang telah tertutup lapisan tanah serta vegetasi. Baik kehidupan di dasar maupun permukaan, tetap bersinergi.

Perlahan tapi pasti, sembari menenteng dayung, kaki menjejak jalanan yang tersapu udara dingin. Di tepi pintu masuk gua, Mas Brayen memimpin briefing dan berdoa. Selagi para lelaki menyiapkan perahu karet, aku mengamati sekeliling, mengawali kekaguman pada bentukan alam. Meskipun pintu masuknya artifisial, tetapi tidak dengan ornamen atap gua yang bergelantungan cantik. Segerombol stalaktit bisa dipandang tanpa harus mendongakkan kepala, tepat di depan mata. Besar-besar, ditemani barisan batu kolom, stalaktit dan stalagmit yang menyatu pada proses pembentukannya hingga menyerupai pilar besar penyangga antara dinding dan alas.

Aku yang tadinya mulai bisa mengendalikan diri, sontak kembali berkeringat dingin. Sesaat sebelum naik ke perahu, tiba-tiba hujan deras. Di beberapa kawasan karst seperti Kalisuci, hujan merupakan pertanda bahaya, penelusur gua wajib kembali naik ke permukaan kalau tak ingin ditelan hidup-hidup oleh pusaran air. Aku memekik panik, tapi Mas Brayen bilang semua akan baik-baik saja. Hanya dua menit, hujan pun berhenti tak berbekas. Dengan langkah payah, aku menaiki perahu karet, menggenggam erat senter, dan membiarkan dayung yang kubawa teronggok begitu saja. Mas Brayen satu-satunya yang harus mendayung. Jika semua ikut mendayung, jalannya perahu malah jadi tak beraturan.

Goa Tanding berupa lorong yang memiliki lebar dan ketinggian yang bervariasi. Mengalir di sana sistem perairan bawah tanah, menghilir bersama Sungai Oya. Begitu meninggalkan pintu masuk, langsung dihadapkan pada luasnya lorong bawah tanah, lebarnya antara 4-8 meter dengan ketinggian atap antara 4-11 meter. Aliran sungainya tenang.  Kedalaman airnya rata-rata 4 meter. Itulah mengapa menyusuri Goa Tanding paling aman memang menggunakan perahu karet. Tersedia di sana perahu karet bermuatan 6-7 orang, sudah termasuk 1-2 pemandu.

Gemercik air bersambut gerakan dayung Mas Brayen, ke kanan, ke kiri. Sembari menyuarakan ucapan selamat datang, ia arahkan headlamp-nya ke atap gua. Semua penumpang perahu mendongak. Bergelantungan di sana ornamen stalaktit, bentuk dan jenisnya terbilang cukup beragam, meski baru beberapa meter meninggalkan pintu masuk. Stalaktit aktif, yang ditandai rintik-rintik tetesan mineral pada ujungnya. Stalaktit mati, yang telah kering karena tak lagi mengalir air di sana. Jika ujungnya mengerucut tandanya tumbuh sempurna, sebaliknya, tak sempurna bila ujungnya tumpul dan tak beraturan. Ada pula soda straw, kumpulan stalaktit kecil yang menyerupai sedotan. Ornamen gua memang punya nama yang unik-unik, membuat memahaminya jadi lebih mudah dan menyenangkan.

Perahu karet didayung semakin jauh, menembus kegelapan lorong berair. Jika senter dan headlamp dipadamkan, gua hanya berhias cahaya dari kemerlap kristal yang menempel pada beberapa ornamen gua. Cahaya matahari yang sama sekali tak menerangi, serta pernah tak terjamah manusia, membuat proses pembentukan ornamen gua menyisakan jutaan kristal. Di beberapa spot, terdapat batu besar yang menyembul dari dalam air, bak pulau-pulau kecil di dalam gua, yang dari kejauhan amat mirip punuk buaya. Begitupun ornamen yang terpatri di antara dinding dan atap, batu-batu alir terpahat siluet binatang, ada yang menyerupai gajah, serta kepala ular.

Aku, yang semakin lama semakin penasaran, mengutarakan rentetan pertanyaan. Tentang sejarah gua, tentang ornamen paling spesial, juga tentang keberadaan kelelawar yang sedari tadi tak dijumpai raga maupun aromanya. Bukan karena tak kunjung dijelaskan, tetapi Mas Brayen memang punya timing dan rangkaian tersusun dalam penyampaian interpretasinya. Tak sabaran, memang diriku ini. Benar juga, tak lama, cicit kelelawar mulai bersahutan. Entah bermakna selamat datang atau teriak ketakutan karena disoroti cahaya saat sedang asyik-asyiknya bermimpi indah. Kampret, begitu mereka dinamakan. Merekalah jenis kelelawar kecil pemakan serangga yang hidup di dalam gua. Terlihat jelas atap tempat mereka bergelantungan berbentuk cerukan-cerukan kecil. Ternyata, itu adalah bukti dari pengikisan atap yang disebabkan oleh air. Dahulu, aliran air menggerus atap gua yang saat ini berada tinggi di sana. Namun, bukan tak mungkin air dapat memenuhi gua lagi.

Kampret yang bergelantungan. Kampret merupakan  jenis kelelawar kecil pemakan serangga yang hidup di dalam gua.

Berbeda dari gua lainnya di Gunungkidul, jikalau tak ada sumur ajaib, Goa Tanding tak akan pernah eksis. Di tengah penelusuran, Mas Brayen berkisah. Dua puluh tahun silam, tepatnya pada 1997, Mbah Harto ingin menggali sumur di sekitar rumahnya. Petuah sesepuh desa menunjukkan di belakang rumah Mbah Harto ada sumber air melimpah. Ia pun menggali, tetap acuh meski jelas terdengar suara tanah berdentum janggal. Bukannya air yang muncul, malah pusaran angin besar dari lubang. Semakin digali, linggis Si Mbah malah jatuh tertelan rongga gelap di bawah tanah. Tetangga yang melongok langsung ke dalam dibuat terkejut dengan bebatuan indah di dasar sumur. Tapi bagi Mbah Harto, yang penting ia dapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarga. Dipasang pipa panjang sampai menembus sungai bawah tanah, air tertarik ke atas, dan Mbah Harto serta keluarga hidup dengan air berkecukupan.

Kabar sumur Mbah Harto tersiar sampai ke telinga Pak Sadam, anak asli Bejiharjo itu telah jadi milyader berkat usaha Bakso Komplit yang terkenal seantero Yogyakarta. Pada 2015, berbekal senter, ia turun ke sumur Mbah Harto. Ia paham betul, di dasar sumur Mbah Harto ada sistem perguaan yang sama sekali belum tersentuh. Ia prakarsai pengembangan wisata gua yang lebih dulu dilakukan penelitian oleh ahli geologi dari Kampus UPN Veteran Yogyakarta. Kelompok pengelola dinamai Sadamwisata, sementara objek utamanya dinamai Goa Tanding. Diambil dari nama belakang Sang Penemu, yang bernama lengkap Harto Tanding, sekaligus bermakna tandingan dari wisata gua di sekitarnya. Sungguh nama yang pas.

Sumur Mbah Harto

Goa Tanding semakin menyempit, udara dingin menyelimuti, kadar oksigen tipis memunculkan asap dari mulut dan hidung ketika bernapas dan bicara. Ornamen gua semakin beragam. Di sisi kanan, menempel gourdam pada dinding gua. Gourdam ialah jenis batu alir yang bentuknya bertingkat-tingkat menyerupai terasering. Yang membuatnya amat spesial, gourdam di Goa Tanding masih aktif, ditandai dengan masih mengalir air, membentuk air terjun kecil, ditambah lagi diselimuti kristal pada permukaannya. Cantik sekali.

Gourdam. Gourdam ialah jenis batu alir yang bentuknya bertingkat-tingkat menyerupai terasering.

Di lorong tersempit, atap semakin mengerucut lancip dan sangat tinggi. Ada lubang yang menetesi air ke sungai. Dari celah itu, cahaya matahari menyeruak walaupun hanya sedikit. Berada tepat di bawahnya serasa tengah disinari cahaya dari surga. Apakah ini sumur Mbah Harto Tanding yang dimaksud? Ternyata bukan. Celah itu memang sengaja dibuat sebagai pendorong oksigen supaya aman bagi wisatawan. Hal itu disarankan oleh para peneliti gua. Celah itu juga berfungsi sebagai single pit buatan, sehingga bisa diterapkan single rope technique (SRT) atau teknik menuruni gua vertikal dengan satu tali. Hari itu kami belum beruntung untuk mencobanya karena alat masih terbatas dan harus melakukan reservasi terlebih dahulu.

Akhirnya, tibalah perahu kami di ornamen sayap bidadari. Batu tirai raksasa yang bentuknya memang tampak menyerupai sayap. Seperti ornamen cantik lainnya, batu kristal mengerlip indah di sekujur batu sayap bidadari. Batu tirai sebenarnya merupakan batuan stalaktit, namun terdapat celah pada masa pembentukannya, sehingga mineral merembes dan membuat bentuknya melebar. Batu tirai memang yang paling spesial, dipasang penerang bercahaya kuning yang membuat tampilannya berwarna keemasan. Tapi yang paling spesial, di pangkal sayap bidadari terdapat lubang sebesar sumur. Ya, di sanalah letak sumur Mbah Harto Tanding yang jadi muasal penemuan gua. Maka, bagiku sumur Si Mbah memanglah sumur ajaib.

Rasanya ingin berhenti lama dan memuaskan diri untuk mengabadikan gambar bersanding sayap bidadari. Tak harus dari dekat, ia malah paling rupawan kala ditatap dari kejauhan. Ujung tirainya hampir menyentuh sungai. Jika berada di bawahnya, cukuplah kepala ini terantuk, bahkan bisa dengan mudahnya ia dipegang. Namun, wajib paham bahwa hal itu tak beretika. Menyentuhnya sama dengan membunuhnya. Kandungan minyak di kulit kita bisa merusak kehidupan ornamen gua, bahkan memengaruhi bentuk dan warnanya secara permanen. Semoga kita bukan orang jahat yang mementingkan gaya semata.

Sayap bidadari bersanding dinding, tertutup, bak jalan buntu. Kalau diperhatikan lebih seksama, dinding tak seluruhnya menyentuh air. Ada sedikit rongga, namun hampir sepenuhnya tertutup air. Sump, sungai bawah tanah menghilang menyisakan lorong bawah air di balik dinding. Konon, pintu masuk Goa Tanding ada di sana. Kalau kuingat-ingat lagi, keadaan yang sama juga terdapat pada pintu masuk buatan. Berarti sistem perguaan Goa Tanding yang ditelusuri barulah sebagian. Mas Brayen mengendalikan perahu berbalik arah, 450 meter perjalanan harus kembali ditempuh pada rute yang sama. Perjalanan pulang terasa begitu cepat. Pasti karena kami masih enggan menyudahi petualangan.

Mendekati tujuan, di sisi kanan, Mas Brayen mengacungkan telunjuknya. Di atas sana ada lorong kering yang tersembunyi. Tak besar, tapi cukup untuk disebut sebuah ruang. Telah dipasang anak tangga berpengait tali. Sesampainya di atas, turun ke sungai dengan cara menerjunkan diri. Tapi adrenalin kami belum berani  menyanggupi. Waktu itu perahu wisatawan yang ada hanya milik kami, berpenumpang tiga orang, tak ada yang lain lagi. Kami pun memilih untuk tetap di perahu sampai perjalanan berakhir.

Kembali menjumpai sinar mentari, Mas Brayen masih setia menemani sampai ke tempat terapi. Paket wisata penelusuran Goa Tanding dilengkapi pula dengan terapi ikan di sungai kecil nan alami. Bersantai, mencelupkan kedua kaki, sembari merasakan sensasi geli-geli ngeri karena telapak kaki dikeroyok ikan-ikan kecil. Pengelola wisata bukan dengan sengaja menebar bibit ikan untuk dijadikan tempat terapi wisatawan, melainkan memang sedari dulu sudah begitu adanya. Benar-benar alam yang harmonis.

Bagiku, Goa Tanding memang mampu menandingi pesaingnya. Di dalamnya, proses perjalanan mineral kalsit menjelma jadi ornamen-ornamen gua yang kemolekannya sempurna. Sepulang penelusuran, aku pun semakin mengerti mengapa etika telusur gua meliputi tak mengambil apapun kecuali gambar, tak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan tak membunuh apapun kecuali waktu. Yang sudah ada di sana, biarkanlah seadanya. Menjadi penelusur yang paham etika itu tak ada ruginya.

Informasi dan pemesanan

Harga tiket masuk: Rp150.000,00/wisatawan
Paket sudah termasuk perlengkapan susur gua, terapi ikan, dan makan (bakso)
CP : 081931725333 (Sidiq)

Comments

comments

22 thoughts on “Telusur Goa Tanding dan Kisah Sumur Ajaib

  1. Yeayy bisa (lagi) baca tulisannya reza :))
    Eksklusif sekali satu perahu bertiga saja, yang waktu itu pingin tapi belum ketemu waktu.

    Setelah baca ini aku jd tambah dikit-dikit ngerti istilah pergua an wkwk
    Istimewanya tulisan ini udah ditambah edukasi, etika telusur gua. :)) manfaat pastinya buat pembaca.

    Semoga suatu saat diberikan kesempatan ke sini

  2. Kok saya deg2an bacanya ya?
    Pas bagian ada hujan turun, takut kamu kenapa2…
    Ah gunung kidul emang pesonanya luar biasa. Banyak potensi yg belum tergali. Udah berburu promo tiket kereta via priceza tapi sayangnya full untuk lebaran. Haha. Padahal kesempatan emas liburan panjang tuh

Leave a Reply