No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Telusur Goa Tanding dan Kisah Sumur Ajaib

by Reza Nurdiana
Maret 14, 2017
11 min read
22

Di Gunungkidul, bukan lagi jadi hal luar biasa kala tersiar kabar penemuan gua secara tak sengaja. Lembah dolina hingga aliran sungai bawah tanah seakan jadi dekorasi utama. Goa Tanding, yang sejak kemunculan perdananya membuatku merengek untuk segera dibawa ke sana. Masih satu area dengan Goa Pindul, ia jadi primadona baru wisata karst di Gunungkidul. Satu lagi harta karun kepunyaan Geopark Gunungsewu. Wacana berangsur jadi rencana, akhirnya menemu kata sepakat. Alangkah senangnya, hari yang didamba tiba juga.

Dilengkapi pakaian tertutup, helm speleo, pelampung, senter, serta alas kaki yang terikat kencang, tubuh ini siap mengarungi aliran sungai bawah tanah di dalam rongga gua. Ditemani Mas Brayen, pemandu gua yang sebaya, penyusuran Goa Tanding dimulai.

Degup jantung sampai-sampai terdengar jelas di telinga. Gemetar dan grogi melingkupi diri. Sungguh, aku teramat kagum pada kecantikan alam di dalam gua. Namun takut akan gelap belum juga sirna.

Goa Tanding Gunungkidul
Dilengkapi pakaian tertutup, helm speleo, serta pelampung yang terikat kencang, tubuh ini siap mengarungi aliran sungai bawah tanah di dalam rongga gua. Ditemani Mas Brayen, pemandu gua yang sebaya, penyusuran Goa Tanding dimulai.

Jalan menuju titik awal penyusuran dikelilingi gerbang berhias taman. Kabarnya, butuh dua bulan bagi alat berat excavator untuk menggali sampai di kedalaman 11 meter hingga bertemu rongga yang kini jadi pintu masuk gua. Tempat yang semula hutan jati kini berganti dinding batu gamping berpagar besi. Mujurnya, alam sekitar masih terjaga dan dirawat agar tetap asri. Lagipula, lingkungan Goa Tanding merupakan bare karst, kawasan karst yang telah tertutup lapisan tanah serta vegetasi. Baik kehidupan di dasar maupun permukaan, tetap bersinergi.

Perlahan tapi pasti, sembari menenteng dayung, kaki menjejak jalanan yang tersapu udara dingin. Di tepi pintu masuk gua, Mas Brayen memimpin briefing dan berdoa. Selagi para lelaki menyiapkan perahu karet, aku mengamati sekeliling, mengawali kekaguman pada bentukan alam.

Meskipun pintu masuknya artifisial, tetapi tidak dengan ornamen atap gua yang bergelantungan cantik. Segerombol stalaktit bisa dipandang tanpa harus mendongakkan kepala, tepat di depan mata. Besar-besar, ditemani barisan batu kolom, stalaktit dan stalagmit yang menyatu pada proses pembentukannya hingga menyerupai pilar besar penyangga antara dinding dan alas.

Goa Tanding Gunungkidul
Segerombol stalaktit bisa dipandang tanpa harus mendongakkan kepala, tepat di depan mata.

Goa Tanding Gunungkidul
egitu meninggalkan pintu masuk, langsung dihadapkan pada luasnya lorong bawah tanah, lebarnya antara 4-8 meter dengan ketinggian atap antara 4-11 meter. Aliran sungainya tenang.

Aku yang tadinya mulai bisa mengendalikan diri, sontak kembali berkeringat dingin. Sesaat sebelum naik ke perahu, tiba-tiba hujan deras. Di beberapa kawasan karst seperti Kalisuci, hujan merupakan pertanda bahaya, penelusur gua wajib kembali naik ke permukaan kalau tak ingin ditelan hidup-hidup oleh pusaran air.

Aku memekik panik, tapi Mas Brayen bilang semua akan baik-baik saja. Hanya dua menit, hujan pun berhenti tak berbekas. Dengan langkah payah, aku menaiki perahu karet, menggenggam erat senter, dan membiarkan dayung yang kubawa teronggok begitu saja. Mas Brayen satu-satunya yang harus mendayung. Jika semua ikut mendayung, jalannya perahu malah jadi tak beraturan.

Goa Tanding berupa lorong yang memiliki lebar dan ketinggian yang bervariasi. Mengalir di sana sistem perairan bawah tanah, menghilir bersama Sungai Oya. Begitu meninggalkan pintu masuk, langsung dihadapkan pada luasnya lorong bawah tanah, lebarnya antara 4-8 meter dengan ketinggian atap antara 4-11 meter. Aliran sungainya tenang.  Kedalaman airnya rata-rata 4 meter. Itulah mengapa menyusuri Goa Tanding paling aman memang menggunakan perahu karet. Tersedia di sana perahu karet bermuatan 6-7 orang, sudah termasuk 1-2 pemandu.

Gemercik air bersambut gerakan dayung Mas Brayen, ke kanan, ke kiri. Sembari menyuarakan ucapan selamat datang, ia arahkan headlamp-nya ke atap gua. Semua penumpang perahu mendongak. Bergelantungan di sana ornamen stalaktit, bentuk dan jenisnya terbilang cukup beragam, meski baru beberapa meter meninggalkan pintu masuk.

Stalaktit aktif, yang ditandai rintik-rintik tetesan mineral pada ujungnya. Stalaktit mati, yang telah kering karena tak lagi mengalir air di sana. Jika ujungnya mengerucut tandanya tumbuh sempurna, sebaliknya, tak sempurna bila ujungnya tumpul dan tak beraturan. Ada pula soda straw, kumpulan stalaktit kecil yang menyerupai sedotan. Ornamen gua memang punya nama yang unik-unik, membuat memahaminya jadi lebih mudah dan menyenangkan.

Perahu karet didayung semakin jauh, menembus kegelapan lorong berair. Jika senter dan headlamp dipadamkan, gua hanya berhias cahaya dari kemerlap kristal yang menempel pada beberapa ornamen gua. Cahaya matahari yang sama sekali tak menerangi, serta pernah tak terjamah manusia, membuat proses pembentukan ornamen gua menyisakan jutaan kristal.

Di beberapa spot, terdapat batu besar yang menyembul dari dalam air, bak pulau-pulau kecil di dalam gua, yang dari kejauhan amat mirip punuk buaya. Begitupun ornamen yang terpatri di antara dinding dan atap, batu-batu alir terpahat siluet binatang, ada yang menyerupai gajah, serta kepala ular.

Goa Tanding Gunungkidul
Di beberapa spot, terdapat batu besar yang terpatri di antara dinding dan atap. Ada yang menyerupai gajah, serta kepala ular.

Aku, yang semakin lama semakin penasaran, mengutarakan rentetan pertanyaan. Tentang sejarah gua, tentang ornamen paling spesial, juga tentang keberadaan kelelawar yang sedari tadi tak dijumpai raga maupun aromanya. Bukan karena tak kunjung dijelaskan, tetapi Mas Brayen memang punya timing dan rangkaian tersusun dalam penyampaian interpretasinya. Tak sabaran, memang diriku ini. Benar juga, tak lama, cicit kelelawar mulai bersahutan. Entah bermakna selamat datang atau teriak ketakutan karena disoroti cahaya saat sedang asyik-asyiknya bermimpi indah.

Kampret, begitu mereka dinamakan. Merekalah jenis kelelawar kecil pemakan serangga yang hidup di dalam gua. Terlihat jelas atap tempat mereka bergelantungan berbentuk cerukan-cerukan kecil. Ternyata, itu adalah bukti dari pengikisan atap yang disebabkan oleh air. Dahulu, aliran air menggerus atap gua yang saat ini berada tinggi di sana. Namun, bukan tak mungkin air dapat memenuhi gua lagi.

Berbeda dari gua lainnya di Gunungkidul, jikalau tak ada sumur ajaib, Goa Tanding tak akan pernah eksis. Di tengah penelusuran, Mas Brayen berkisah. Dua puluh tahun silam, tepatnya pada 1997, Mbah Harto ingin menggali sumur di sekitar rumahnya. Petuah sesepuh desa menunjukkan di belakang rumah Mbah Harto ada sumber air melimpah.

Ia pun menggali, tetap acuh meski jelas terdengar suara tanah berdentum janggal. Bukannya air yang muncul, malah pusaran angin besar dari lubang. Semakin digali, linggis Si Mbah malah jatuh tertelan rongga gelap di bawah tanah. Tetangga yang melongok langsung ke dalam dibuat terkejut dengan bebatuan indah di dasar sumur. Tapi bagi Mbah Harto, yang penting ia dapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari dirinya dan keluarga. Dipasang pipa panjang sampai menembus sungai bawah tanah, air tertarik ke atas, dan Mbah Harto serta keluarga hidup dengan air berkecukupan.

Kabar sumur Mbah Harto tersiar sampai ke telinga Pak Sadam, anak asli Bejiharjo itu telah jadi milyader berkat usaha Bakso Komplit yang terkenal seantero Yogyakarta. Pada 2015, berbekal senter, ia turun ke sumur Mbah Harto. Ia paham betul, di dasar sumur Mbah Harto ada sistem perguaan yang sama sekali belum tersentuh. Ia prakarsai pengembangan wisata gua yang lebih dulu dilakukan penelitian oleh ahli geologi dari Kampus UPN Veteran Yogyakarta.

Kelompok pengelola dinamai Sadamwisata, sementara objek utamanya dinamai Goa Tanding. Diambil dari nama belakang Sang Penemu, yang bernama lengkap Harto Tanding, sekaligus bermakna tandingan dari wisata gua di sekitarnya. Sungguh nama yang pas.

Goa Tanding Gunungkidul
Sumur Mbah Harto. Tepatnya pada 1997, Mbah Harto ingin menggali sumur di sekitar rumahnya. Petuah sesepuh desa menunjukkan di belakang rumah Mbah Harto ada sumber air melimpah. Namun yang ditemukan adalah sebuah gua bawah tanah.

Goa Tanding semakin menyempit, udara dingin menyelimuti, kadar oksigen tipis memunculkan asap dari mulut dan hidung ketika bernapas dan bicara. Ornamen gua semakin beragam. Di sisi kanan, menempel gourdam pada dinding gua.

Gourdam ialah jenis batu alir yang bentuknya bertingkat-tingkat menyerupai terasering. Yang membuatnya amat spesial, gourdam di Goa Tanding masih aktif, ditandai dengan masih mengalir air, membentuk air terjun kecil, ditambah lagi diselimuti kristal pada permukaannya. Cantik sekali.

Di lorong tersempit, atap semakin mengerucut lancip dan sangat tinggi. Ada lubang yang menetesi air ke sungai. Dari celah itu, cahaya matahari menyeruak walaupun hanya sedikit. Berada tepat di bawahnya serasa tengah disinari cahaya dari surga. Apakah ini sumur Mbah Harto Tanding yang dimaksud? Ternyata bukan.

Celah itu memang sengaja dibuat sebagai pendorong oksigen supaya aman bagi wisatawan. Hal itu disarankan oleh para peneliti gua. Celah itu juga berfungsi sebagai single pit buatan, sehingga bisa diterapkan single rope technique (SRT) atau teknik menuruni gua vertikal dengan satu tali. Hari itu kami belum beruntung untuk mencobanya karena alat masih terbatas dan harus melakukan reservasi terlebih dahulu.

Akhirnya, tibalah perahu kami di ornamen sayap bidadari. Batu tirai raksasa yang bentuknya memang tampak menyerupai sayap. Seperti ornamen cantik lainnya, batu kristal mengerlip indah di sekujur batu sayap bidadari. Batu tirai sebenarnya merupakan batuan stalaktit, namun terdapat celah pada masa pembentukannya, sehingga mineral merembes dan membuat bentuknya melebar.

Goa Tanding Gunungkidul
Goa Tanding Gunungkidul
Tepat di belakang kami, adalah Batu Tirai. Batu tirai sebenarnya merupakan batuan stalaktit, namun terdapat celah pada masa pembentukannya, sehingga mineral merembes dan membuat bentuknya melebar.

Batu tirai memang yang paling spesial, dipasang penerang bercahaya kuning yang membuat tampilannya berwarna keemasan. Tapi yang paling spesial, di pangkal sayap bidadari terdapat lubang sebesar sumur. Ya, di sanalah letak sumur Mbah Harto Tanding yang jadi muasal penemuan gua. Maka, bagiku sumur Si Mbah memanglah sumur ajaib.

Rasanya ingin berhenti lama dan memuaskan diri untuk mengabadikan gambar bersanding sayap bidadari. Tak harus dari dekat, ia malah paling rupawan kala ditatap dari kejauhan. Ujung tirainya hampir menyentuh sungai.

Jika berada di bawahnya, cukuplah kepala ini terantuk, bahkan bisa dengan mudahnya ia dipegang. Namun, wajib paham bahwa hal itu tak beretika. Menyentuhnya sama dengan membunuhnya. Kandungan minyak di kulit kita bisa merusak kehidupan ornamen gua, bahkan memengaruhi bentuk dan warnanya secara permanen. Semoga kita bukan orang jahat yang mementingkan gaya semata.

Sayap bidadari bersanding dinding, tertutup, bak jalan buntu. Kalau diperhatikan lebih seksama, dinding tak seluruhnya menyentuh air. Ada sedikit rongga, namun hampir sepenuhnya tertutup air. Sump, sungai bawah tanah menghilang menyisakan lorong bawah air di balik dinding.

Konon, pintu masuk Goa Tanding ada di sana. Kalau kuingat-ingat lagi, keadaan yang sama juga terdapat pada pintu masuk buatan. Berarti sistem perguaan Goa Tanding yang ditelusuri barulah sebagian. Mas Brayen mengendalikan perahu berbalik arah, 450 meter perjalanan harus kembali ditempuh pada rute yang sama. Perjalanan pulang terasa begitu cepat. Pasti karena kami masih enggan menyudahi petualangan.

Goa Tanding Gunungkidul
Melihat stalaktit yang menggantung cantik di atap gua. Di gua ini, mengalir sistem perairan bawah tanah, menghilir bersama Sungai Oya.

Mendekati tujuan, di sisi kanan, Mas Brayen mengacungkan telunjuknya. Di atas sana ada lorong kering yang tersembunyi. Tak besar, tapi cukup untuk disebut sebuah ruang. Telah dipasang anak tangga berpengait tali. Sesampainya di atas, turun ke sungai dengan cara menerjunkan diri. Tapi adrenalin kami belum berani  menyanggupi. Waktu itu perahu wisatawan yang ada hanya milik kami, berpenumpang tiga orang, tak ada yang lain lagi. Kami pun memilih untuk tetap di perahu sampai perjalanan berakhir.

Kembali menjumpai sinar mentari, Mas Brayen masih setia menemani sampai ke tempat terapi. Paket wisata penelusuran Goa Tanding dilengkapi pula dengan terapi ikan di sungai kecil nan alami. Bersantai, mencelupkan kedua kaki, sembari merasakan sensasi geli-geli ngeri karena telapak kaki dikeroyok ikan-ikan kecil. Pengelola wisata bukan dengan sengaja menebar bibit ikan untuk dijadikan tempat terapi wisatawan, melainkan memang sedari dulu sudah begitu adanya. Benar-benar alam yang harmonis.

Baca juga : Maestro Wayang Sada: Rubrik NG Traveler Sentra Budaya

Goa Tanding Gunungkidul
Aliran Sungai Oya yang berada di dekat pintu masuk Goa Tanding. Untuk saat ini, sistem perguaan Goa Tanding yang ditelusuri barulah sebagian.

Bagiku, Goa Tanding memang mampu menandingi pesaingnya. Di dalamnya, proses perjalanan mineral kalsit menjelma jadi ornamen-ornamen gua yang kemolekannya sempurna. Sepulang penelusuran, aku pun semakin mengerti mengapa etika telusur gua meliputi tak mengambil apapun kecuali gambar, tak meninggalkan apapun kecuali jejak kaki, dan tak membunuh apapun kecuali waktu. Yang sudah ada di sana, biarkanlah seadanya. Menjadi penelusur yang paham etika itu tak ada ruginya.

Tips fotografi gua

  1. Gunakan tripod jika ingin mendapatkan hasil foto yang maksimal. Namun pada kasus ini, kami tidak menggunakan tripod karena kami menyusuri gua menggunakan perahu karet. Saat itu, kami menggunakan kamera Olympus OMD-5 yang sudah dibekali fitur stabilisasi gambar.
  2. Cahaya akan sangat dibutuhkan dalam proses mengambil gambar di dalam gua. Untuk itu, Anda membutuhkan senter/headlampyang terang serta flash eksternal kamera bila diperlukan.

Informasi dan pemesanan

Goa Tanding, Desa Gelaran, Bejiharjo, Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul

Harga tiket masuk: Rp150.000,00/wisatawan
Paket sudah termasuk perlengkapan susur gua, terapi ikan, dan makan (bakso)
CP : Arif (085741973511) / Sidiq (081931725333)
Website : www.desawisatabejiharjo.net

  • Bejiharjo
Previous Post

Bersafari ke Kampung Pitu Nglanggeran

Next Post

Bersafari ke Desa Wisata Kebonagung

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Desa Wisata Kebonagung Bantul

Bersafari ke Desa Wisata Kebonagung

Comments 22

  1. Dwi Susanti says:
    9 tahun ago

    Yeayy bisa (lagi) baca tulisannya reza :))
    Eksklusif sekali satu perahu bertiga saja, yang waktu itu pingin tapi belum ketemu waktu.

    Setelah baca ini aku jd tambah dikit-dikit ngerti istilah pergua an wkwk
    Istimewanya tulisan ini udah ditambah edukasi, etika telusur gua. :)) manfaat pastinya buat pembaca.

    Semoga suatu saat diberikan kesempatan ke sini

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ayo mb dwi. Ke sini. Mumpung belum naik lagi hargaya. Hehe

      Balas
  2. Gallant Tsany Abdillah says:
    9 tahun ago

    Reza emang the mastress of gua. keren banget istilah istilahnya. btw, itu airnya gelap karena kotor atau cuma karena nggak kesorot cahaya aja?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Memang agak kotor mas. Sampah kiriman katanya

      Balas
      • Gallant Tsany Abdillah says:
        9 tahun ago

        🙁

        Balas
  3. Nasirullah Sitam says:
    9 tahun ago

    Ajakin saya ke sini kakak. Tapi setelah saya beli lampu di mirota kayak punya kamu hahahahhahaha

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Beli lampu dulu sana

      Balas
  4. Mesra Berkelana says:
    9 tahun ago

    Itu batuan bentuk sayapnya cantik banget mbak ditambah cahaya-cahayanya.

    Kira-kira kalo susur goa ini bisa sampe berapa jam ya ?

    -Lidia

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Satu jam-an lid..ayo ke sini

      Balas
  5. Ardian Kusuma says:
    9 tahun ago

    Kesini ah, ayo yang mau kesana kita kontak2an…

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Yokk sini rame2

      Balas
  6. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Menyelusuri Goa nya panjang pasti y mas. Itu Goa sama seperti Goa Maharkaya di Madura ya. Tapi yg ini harus menyelusuri dengan perahu ya..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ini gua basah. lebih keren ini

      Balas
  7. mysukmana says:
    9 tahun ago

    habis susur goa terus makan basuk ya kak, sedep bener…sumur mbah harto?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Sedappp..

      Balas
  8. Munasyaroh F. says:
    9 tahun ago

    Sedikit merinding baca tulisan ini

    Balas
  9. Prima Hapsari says:
    9 tahun ago

    Wah, obyek kece lagi nih, ajakin temen kantor ke gua Tanding ah.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Ajak saya lagi dong

      Balas
  10. Aji Sukma says:
    9 tahun ago

    Yeaaaaay ahirnya tulisan anak magang nongol lagi… walaupun latepost juga sih ya kayak postingan IG. xixixi :p

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Kzl. Mentang2 udah sering trip nih sekarang

      Balas
  11. argalitha says:
    9 tahun ago

    Kok saya deg2an bacanya ya?
    Pas bagian ada hujan turun, takut kamu kenapa2…
    Ah gunung kidul emang pesonanya luar biasa. Banyak potensi yg belum tergali. Udah berburu promo tiket kereta via priceza tapi sayangnya full untuk lebaran. Haha. Padahal kesempatan emas liburan panjang tuh

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      hehe. saya juga takut kok.
      Wah. sayang. Yuk ke jogja!

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller