No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Jogja Istimewa: Dari Desa Hingga Kota Pusaka

by Hannif Andy Al - Anshori
Januari 24, 2019
13 min read
10

Bertemu Para Seniman di Desa Wisata Malangan, Kabupaten Sleman

Malangan tak seperti desa wisata kebanyakan. Meski punya latar pemandangan yang apik berupa lahan pertanian, Malangan lebih mengangkat dirinya sebagai markas para seniman. Malangan adalah tempat bermain yang dikrubungi rimbun pepohonan.

Seniman pertama yang saya jumpai adalah seorang pembatik. Kami menghampiri seorang ibu yang tengah menggoreskan cairan malam pada selembar kain batik yang hampir selesai digarap. Meski sendirian, ia menikmati kesehariannya sebagai pembatik asal Malangan. Tangan-tangannya terampil memoleskan malam di ruang-ruang kain yang masih kosong.

Desa Wisata Malangan Yogyakarta
Seniman pertama yang kami jumpai adalah seorang pembatik. Tangan-tangannya terampil memoleskan malam di ruang-ruang kain yang masih kosong. 

Seniman kedua yang saya jumpai adalah seorang pembuat keris. Adalah Empu Sungkowo Harumbrodjo yang dikenal sebagai seniman penempa pamor di Malangan. Profesi ini telah dilakoni dari generasi ke generasi.

Ketenaran kerisnya sudah dimulai sejak almarhum ayahnya, Empu Jeno Harumbrodjo yang sudah menekui seni menempa pamor pada 1953. Hingga 2006, jumlah keris yang sudah dibuat berjumlah 235 buah. Beberapa pemesan keris bahkan tak hanya masyarakat Yogyakarta. Keris Empu Sungkowo telah dipesan tamu dari banyak negara. Kadang, Empu Sungkowo menerima pesanan keris untuk meningkatkan kesaktian, ada pula keris pegangan agar tak lekas lengser dari kursi jabatan.

Desa Wisata Malangan Yogyakarta
Empu Sungkowo Harumbrodjo yang dikenal sebagai seniman penempa pamor di Malangan menunjukkan keris buatannya

Lawatan saya berlanjut. Kali ini juru pandu membawa saya menuju kediaman seniman pengrajin bambu di Tunggak Semi. Puluhan karyawan yang lebih banyak kaum wanita ini terbagi dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing. Ada yang mengecat, merajut, dan sebagainya.

Ahmad Saidi, penerima penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto ini adalah orang yang memprakarsai berdirinya Tunggak Semi. Sejak meletusnya G30S/PKI pada 1965, pabrik tempat Saidi bekerja terpaksa harus tutup dan memutus kontrak kerja seluruh karyawan. Pengalaman panjang menjadi buruh pabrik PT LIPIN lantas tak membuat Saidi menjadi seorang pengangguran. Melalui inisiatif yang tinggi, Saidi mengumpulkan masyarakat Moyudan dan sekitarnya untuk bersama-sama menyambung hidup melalui kerajinan bambu.

Desa Wisata Malangan Yogyakarta
Melalui inovasi produk, sembilan puluh persen kerajinan bambu milik Tunggak Semi sudah diekspor ke beberapa benua seperti Eropa, Australia, Amerika, dan Asia

Air Untuk Kehidupan di Desa Wisata Pancoh, Kabupaten Sleman

Jika sedang merindu suasana pedesaan tanpa polusi suara dan udara, datanglah menuju Desa Wisata Pancoh yang terletak di Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Desa dengan potensi utama berupa pertanian salak pondoh ini sangat berbeda dengan desa-desa wisata lainnya. Udara yang dingin dengan latar Gunung Merapi menjadi terapi mata dan seluruh indera yang menyegarkan.

Hanya terletak kurang dari 10 kilometer dari puncak Gunung Merapi, wisatawan akan diajak menyusur anak sungai yang sangat terjaga kelestariannya. Air sungai yang dingin dan bersih menyapu mata kaki, sesekali juga membasuh seluruh muka. Siapapun akan betah berlama-lama mendengar penjelasan juru pandu saat menyusur anak sungai.

Air untuk kehidupan. Adalah komitmen dari masyarakat Desa Wisata Pancoh untuk turut menjaga kelestarian sungai di sana. Dalam lawatan kelana desa, siapapun akan terpana melihat betapa selarasnya manusia memanfaatkan potensi alam dengan upaya pelestarian.

Desa Wisata Pancoh
Wisatawan menikmati kegiatan susur sungai di Desa Wisata Pancoh, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman

Menikmati Seni Pertunjukan Wayang di Desa Wisata Wayang Wukirsari, Kabupaten Bantul

Layaknya sebuah pesta rakyat, Dusun Pucung biasa sesak penyewa wahana permainan odong-odong dan pedagang kaki lima. Sementara kursi tamu masih lengang, saya bergegas masuk ruang rias sebelum datang banyak orang.

Tak ada jasa rias yang didatangkan. Para bintang pentas merias wajahnya sendiri. Saya mencoba berbaur mengikuti kesibukan di antara mereka. Muhammad Zainudin salah satunya. Pemuda yang merias wajahnya di depan cermin ini akan berganti karakter menjadi sosok punakawan Gareng.

Mengambil tajuk Gatotkaca Kalajaya, pertunjukan ini menampilkan mahakarya kreativitas masyarakat Desa Wukirsari. Awalnya saya mengira, pertunjukan akan terlihat membosankan. Namun dugaan itu tak benar. Gamelan ditabuh apik, sinden beradu merdu, cahaya lampu mulai dimainkan. Detail suara pun tak pecah dan bergema. Arsitektur pendoponya mengikuti kearifan lokal masyarakat desa. Tak sempit juga tak terlalu lapang. Luas yang pas untuk ruang berakting masyarakat desa.

Wisata Wayang Wukirsari Bantul
Mengambil tajuk Gatotkaca Kalajaya, pertunjukan ini menampilkan mahakarya kreativitas masyarakat Desa Wukirsari. 

Baca juga: Harapan Baru Wisata Wayang Wukirsari

Bertani di Desa Wisata Kebonagung, Kabupaten Bantul

Membajak adalah soal bagaimana para petani kita menggarap sawah. Namun pada masanya, kerbau akan diganti dengan mesin yang lebih praktis nan modern. Bilamana itu terjadi, kelak anak cucu kita tak sempat menyaksikan bagaimana kerbau dulunya dimanfaatkan tenaganya menggarap sawah. Demikian juga, kerbau akan menjadi tontonan yang hanya bisa dilihat langsung di kebun binatang, atau buku-buku kumpulan binatang.

Hal ini tidak untuk Kebonagung. Mengangkat tema sebagai desa wisata bertemakan pertanian, paket wisata membajak dan menanam padi pun bisa menjadi pilihan wisatawan. Dari sini pula saya belajar, bagaimana para orangtua kami mendapatkan uang untuk menyekolahkan para anak-anaknya.

Sebagai penutup kegiatan, Sardi (pemandu Desa Wisata Kebonagung) mengajak kami beraktivitas membajak dan menanam padi. Tentu saya girang bukan main. Dalam fantasi ini, saya akan menunggangi sepasang kerbau sembari menyeruput kopi hitam. Kemudian mengusir sekelompok burung bangau putih yang tengah asyik bersantai di pematang.

Baca juga : Bersafari ke Desa Wisata Kebonagung

Saya juga membayangkan, bagaimana rasanya  ikut membajak sawah bersama orangtua sepulang sekolah, menunggangi kerbau sembari membaca buku. Ah, tentu asyik sekali rasanya.

Desa Wisata Kebonagung Bantul
Warga Desa Wisata Kebonagung, Bantul menunjukkan cara membajak sawah menggunakan kerbau di hadapan wisatawan

Baca halaman selanjutnya

Page 1 of 2
12Next
Previous Post

Kelana Wisata Kota Minyak-Tarakan

Next Post

Desa: Satu Kata, Seribu Cerita, Sejuta Karya

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Desa Wisata Kebonagung Bantul

Desa: Satu Kata, Seribu Cerita, Sejuta Karya

Comments 10

  1. Nasirullah Sitam says:
    7 tahun ago

    Aku jadi ingat ada tulisan di draf “Wayang Sodo” hahahahahaha
    Sudahs elesai lama tapi belum aku posting.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      ndang diposting

      Balas
  2. Halim says:
    7 tahun ago

    Cerita heritage e kok mung Kotagede? Kan isih ono Kauman, pesanggrahan, keraton, dkk… Ra terimo kih hahaha.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      lha kan 10 wae. sesuk maneh lah ditulis sing luwih detail. haha. cah heritage ra terimo tenan

      Balas
  3. Gallant Tsany Abdillah says:
    7 tahun ago

    Yang berendem di pemandian Mudal iku menarik sekali. Hadeeh pengen langung byur rasane.

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Mudal emang jos. Walaupun sedang hujan deras gini, airnya tetap bening

      Balas
  4. Rifqi Faiza Rahman says:
    7 tahun ago

    Jadi kangen eksplor desa wisata lagi bareng konco-konco. Terutama Kulon Progo 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      sesuk. april rene wae

      Balas
  5. fachrur rozi says:
    7 tahun ago

    Jogja tempat next my trip saya untuk mengunjunginya. Semoga terlaksana Aamiin

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      Kami tunggu!

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2023 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2023 a storyteller