Maestro Wayang Sada: Rubrik NG Traveler Sentra Budaya

Kuasa wayang yang melambangkan asa kepada kawula muda

Sosok lelaki tua itu keluar dari balik pintu. Sembari merapikan kancing baju pada pakaian peranakan bernuansa coklat gelap, ia mempersilakan saya masuk menuju kediamannya. Marsono, namanya memang tak kondang seperti Ki Manteb Soedharsono dan Ki Anom Suroto. Memasuki usia yang ke-69, Marsono tak lagi sanggup berdiri lama. Ia pun menjamu saya sembari duduk beralas tikar.

Menjadi seorang pendalang. Cita-cita yang terdengar jarang di jaman sekarang. Apalagi jika diperhatikan, pementasan wayang sekarang semakin ditinggal pemirsanya, khususnya generasi muda. Tetapi tidak untuk Marsono, pelestari Wayang Sada yang tetap setia mewartakan cerita-cerita tokoh pewayangan dengan cara berbeda.

Lewat tangan Marsono, Wayang Sada bukan saja menjadi sebuah pertunjukan dalam puncak acara hajatan. Pun di usia yang telah memasuki senja, ia mencoba untuk mewarisi kekayaan nusantara pada generasi muda melalui sanggar wayang di kediamannya. Saban Sabtu, anak-anak dari panti asuhan Desa Gari, Kecamatan Wonosari datang untuk belajar membuat wayang, juga mendalang. Tanpa harus dibayar, Marsono mengaku sangat senang bisa berbagi.

Pilihannya meniti jalan hidup menjadi pendalang bermula dari cita-citanya sewaktu kecil. Wajahnya berkaca-kaca saat memulai cerita. “Waktu itu saya ingin sekolah dalang. Tapi karena orangtua saya tidak punya biaya karena hanya menjadi petani dengan dua belas anak, saya nggak sampai hati mau nembung.

Ketidakmampuan secara ekonomi tak membuat Marsono putus asa. Celah ini akhirnya memaksa Marsono untuk belajar mandiri dan berkreasi. Dengan menggunakan rumput, Marsono untuk pertama kalinya membuat wayang. Meski sederhana, pembuatan wayang menggunakan bahan dasar rumput seringkali mendapati kendala. Kesamaan rupa pada tokoh-tokoh wayang dari rumput menyulitkan Marsono untuk membedakan karakter dan membubuhkan cerita. Selain itu, wayang dari bahan dasar rumput tak awet karena tangan mudah lepas saat digerak-gerakkan. “Wayang kok semua sama. Tidak bisa dibuat gelung maupun mahkota”, jelasnya.

Meski pernah gagal dalam mewujudkan cita-citanya sebagai pendalang, Marsono pantang menyerah. Berbekal semangat, dibuatlah wayang menggunakan sada, yang dalam bahasa Jawa berarti lidi. Sembari menunjukkan salah satu koleksi wayangnya, Marsono pun membeberkan konsep pembuatan Wayang Sada.

Pembuatan Wayang Sada sepenuhnya menggunakan limbah pohon kelapa, seperti lidi (blarak), serabut, batang, dan tempurung kelapa. Bahkan ke depannya, Marsono berencana untuk membuat alat musik menggunakan limbah pohon kelapa sebagai pengiring pertunjukan Wayang Sada. Tak ada ritual khusus maupun weton yang menjadi acuan Marsono dalam membuat wayang. Sejauh ini, terdapat lebih dari 100 tokoh karakter wayang yang menjadi koleksinya.

 

 

Menurutnya, pembuatan karakter Wayang Sada tersulit ada pada tokoh pewayangan Punakawan, seperti Petruk, Semar, Gareng, dan Bagong. Semar contohnya, postur tubuh yang pendek dan bulat dirasa sulit untuk dibuat semirip aslinya. Sementara untuk membuat tokoh di luar Punakawan, Marsono sanggup membuat dua hingga tiga wayang dalam sehari.

Uniknya, selama tampil di panggung hajatan, Marsono kerap membawakan cerita Wahyu Panca Manunggal dan Sengkir Gading Rabi. Cerita ini diangkat dari hasil karangan Marsono yang berkisah tentang kerajaan pohon kelapa dan gadis bernama Sengkir Gading. “Semua cerita selalu ada unsur pohon kelapanya”, ungkapnya.

Biasanya, dalam sekali pertunjukan yang dihargai dua hingga tiga juta rupiah permalam ini, Marsono menggandeng satu asisten yang bertugas menyiapkan perlengkapan, dua penyanyi sinden, serta sepuluh penabuh gamelan yang terdiri dari saron, demung, kendang, dan gong.

Berbeda dengan pertunjukan Wayang Kulit. Meski secara tata panggung terlihat sama, Wayang Sada hanya dimainkan dalam durasi paling lama tiga jam saja. Hal ini sengaja dilakukan Marsono untuk menyasar para kawula muda yang belakangan ini tak lagi tertarik pada cerita pewayangan. “Sengaja saya padatkan, supaya anak muda tidak bosan”, ungkapnya.

Namun Marsono sadar, profesinya sebagai pendalang yang belum kondang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mujurnya, Marsono tinggal hanya beberapa langkah kaki dari pintu masuk wisata Gua Pindul. Melihat ramainya wisatawan yang saban hari berkunjung ke desanya, Marsono ambil kesempatan untuk menjual beberapa cinderamata tokoh pewayangan. Dengan membayar 30 ribu rupiah, wisatawan dapat belajar membuat Wayang Sada. Sementara untuk cinderamata, Marsono mematok harga paling murah 25 ribu ripuah.

 

Marsono, maestro Wayang Sada dari Bejiharjo memantapkan profesi yang ditekuninya. Di tengah silaturahmi yang tak ingin habis terjalin, ia pun mengakhiri perjumpaan dengan mendalang.

Tek tek tek! Suara logam yang beradu dengan kayu yang dipukulkan melalui jempol kaki Marsono ini adalah bunyi pekik yang terus mengiringi pementasan Wayang Sada berjudul Wahyu Panca Manunggal. Sementara tangannya terus membuat hidup lakon wayang yang sedang dimainkannya. Dalam bahasa Jawa yang sulit dipahami, saya berusaha menebak alur cerita yang dibawakan Marsono dalam pentas Wayang Sada dadakan.

Bagi Marsono, tak ada jalan pintas untuk membuatnya sukses sebagai pendalang. Meski Wayang Sada belum diakui khusus sebagai warisan dunia, ia berharap ada generasi muda yang ikut melestarikan dan meneruskan profesinya.

 

Catatan: Tulisan ini juga dapat dibaca melalui majalah National Geographic Traveler Indonesia volume 9 rubrik sentra budaya dengan judul Maestro Wayang Sada. 

 

Comments

comments

Leave a Reply