Bertamu ke Rumah Seniman Malangan

#EksplorDeswitaJogja – Yang kerap dilewati, tak selalu disambangi. Begitu pula Malangan, yang tak jauh dari pusat kota, juga dari rumah kosan.

Wiji memperkenalkan diri. Sebagai pemandu wisata yang cukup senior, Wiji melibatkan diri dalam urusan penjemputan. Wiji bertutur tak pernah jeda. Ia berusaha mengenal kami lebih akrab sebelum mengajak kami menyelami desanya.

Mas Klaten, begitu sapanya saat lupa nama saya. Setidaknya, ia sudah berusaha walau hanya mengingat asal daerah saya.

“Selamat datang di Desa Wisata Malangan”, Wiji mempersilakan kami masuk. Rekan-rekannya langsung berdiri, menyalami kami. Saya mengamati mereka. Pakaiannya serba sama. Lurik khas Jawa. Sementara kepalanya dibalut kain ikat udeng dengan motif batik yang entah khas mana. Ada juga yang mengenakan blangkon Jogja. Inikah rasanya menjadi selebriti? Bukan, saya bukan selebriti. Ini sekadar sambutan selamat datang, untuk kami yang sedang menyambangi Malangan.

Pemandu Desa Wisata Malangan yang menjamu dan mendampingi kami bersafari desa wisata.

Datang ke tempat ini, seperti pulang ke rumah sendiri. Mereka tak hanya menganggap saya sebagai tamu yang harus dilayani. Lebih akrab lagi, seperti sanak saudara yang telah lama dirindu. Jabat tangannya hangat. Mereka mempersilakan saya mencicipi santapan ringan sebagai jamuan selamat datang.

“Kalau merujuk SK, Malangan sudah lama menjadi desa wisata. Tapi baru-baru ini kami paham bagaimana konsep mengemas desa wisata”, ujar Wiji sembari membagikan selembar brosur.

Tak lama Wiji mengajak kami berbincang. Usai menikmati suguhan jamuan selamat datang, Wiji langsung membagikan kain ikat udeng kepada kami. “Silakan digunakan seperti ini”, Wiji mencontohkan cara mengenakan ikat udeng kepada kami.

Meski tamunya berjumlah Sembilan, Wiji menyiapkan pemandu yang lebih untuk mengawal kami. Puluhan pemandu dengan pakaian lurik seragam mendampingi kami bersepeda keliling desa. Sayangnya, saya tak kebagian sepeda. Mujurnya, Halim mau berbagi tumpangan dengan saya.

Bersepeda gembira bersama masyarakat Desa Wisata Malangan

Saya dan Halim berteriak. Pundak saya ditepuk-tepuk karena Halim ketakutan. Meski tubuh kami berdua ringan, sepeda yang saya bawa lebih sering oleng. Untuk membuat sepeda melaju cepat, saya mengayuh sekuat tenaga agar tak tertinggal dari rombongan. Lagi-lagi Halim berteriak sambil menepuk pundak saya. Nafas yang tersengal mulai terdengar dari hidung saya.

Malangan tak seperti desa wisata kebanyakan. Meski punya latar pemandangan yang apik berupa lahan pertanian, Malangan lebih mengangkat dirinya sebagai markas para seniman. Malangan, adalah tempat bermain yang dikrubungi rimbun pepohonan.

Kami menerobos gang-gang kecil. Para warga melempar senyum dari balik pagar rumah mereka. Bersafari ke desa ini membuat saya teringat akan kenangan bermain di desa simbah saya. Tak ada raut muka kaku, apalagi buang muka. Mereka menyaksikan kami yang sedang gembira bersepeda.

Seniman pertama yang kami jumpai adalah seorang pembatik. Kami menghampiri seorang ibu yang tengah menggoreskan cairan malam pada selembar kain batik yang hampir selesai digarap. Meski sendirian, ia menikmati kesehariannya sebagai pembatik asal Malangan.

Tangan-tangannya terampil memoleskan malam di ruang-ruang kain yang masih kosong. Rumah produksi batik ini memang sepi. Biasanya, pemilik rumah batik lebih banyak menerima pesanan dari luar dibanding pembelian di tempat.

Dwi Susanti sedang melihat koleksi batik di Malangan

Pelesiran kami berlanjut. Seniman kedua yang kami jumpai adalah seorang pembuat keris. Di sini, Wiji memperkenalkan kami kepada Empu Sungkowo Harumbrodjo sebagai seniman penempa pamor di Malangan. Profesi ini telah dilakoni dari generasi ke generasi. Sayangnya kami datang di waktu yang tidak pas. Segala perlengkapan pembuatan keris sedang dipamerkan dalam sebuah acara yang diselenggarakan di Bantul.

Kami diberikan kesempatan bersua dengan Empu Sungkowo yang ternyata adalah keturunan ke-17 dari Empu Tumenggung Supodriyo, seorang pembuat keris pada abad ke-13 pada masa Kerajaan Majapahit. Halim banyak bertanya atas rasa penasarannya tentang nilai sakral yang ada pada keris. Alid pun demikian. Mereka begitu antusias dengan barang antik yang sudah diisi kekuatan magis.

Anak dari almarhum Empu Jeno Harumbrodjo mengaku bahwa ketenaran kerisnya sudah dimulai sejak almarhum ayahnya yang sudah menekui seni menempa pamor pada 1953. Hingga 2006, jumlah keris yang sudah dibuat berjumlah 235 buah. Beberapa pemesan keris bahkan tak hanya orang lokal. Keris Empu Sungkowo telah dipesan tamu dari banyak negara. Kadang, Empu Sungkowo menerima pesanan keris untuk meningkatkan kesaktian, ada pula keris pegangan agar tak lekas lengser dari kursi jabatan.

Wajah Empu Sungkowo memang terlihat beraura dibanding wajah Wiji dan kawan-kawan. Ia pun mengijinkan kami masuk ke ruangannya. Saya menyimak seisi ruangan dengan membaca beberapa catatan kecil pada foto lawas yang menempel di dinding. Ayah dari Empu Sungkowo ternyata merupakan ahli tempa pamor kebanggaan Keraton Ngayogyakarta. Diwarisi sifat ilmu ayahnya, Empu Sungkowo turut menjadi seniman yang terkenal.

“Mas dan Mbak, untuk mendapatkan gelar Empu ini tidaklah mudah”, kalimat Wiji membuat saya makin penasaran.

Keris bukanlah senjata perang. Keris di era sekarang, lebih dikhususkan sebagai jimat pemberi mukjizat penggunanya. Tak seperti pandai besi yang bisa membuat pisau hanya dalam semalam. Selain didapat dari gelar yang turun temurun, istilah Empu hanya diberikan pada pandai besi yang memiliki kesaktian dan memenuhi syarat sifat-sifat pembuat keris.

Empu Sungkowo menunjukkan koleksi keris miliknya

Pembuatan keris setidaknya mengikuti sifat si pembuatnya. Sang Empu tak boleh membuat keris dalam keadaan marah maupun murka karena sifat ini akan mengutuk pemegang keris nantinya. Terbunuhnya Ken Arok, Tunggul Ametung, Anusapati, pun disebabkan karena kutukan dan marahnya si pembuat keris, Mpu Gandring.

Meski perlengkapan pembuatan keris sedang dipindahkan, Empu Sungkowo memberi penjelasan panjang yang cukup menjawab rasa penasaran kami. Di dapur pembuatan keris, Empu Sungkowo menunjukkan beberapa bilah besi sebagai bahan utama pembuatan keris.

“Besi tua seperti rel peninggalan Belanda, nikel, dan batu meteor adalah bahan yang bagus untuk membuat keris”, ungkap Empu Sungkowo. Wajar saja, harga keris jenis ini tak lagi murah seperti keris yang digunakan dalam pertunjukan seni tari kontemporer. Harganya dibandrol puluhan, bahkan ratusan juta rupiah. Peminatnya pun banyak yang dari luar Indonesia. Bahkan pernah suatu kali, pemesan meminta keris dengan kombinasi bahan emas murni. Sungguh, Empu Sungkowo berhasil membuatnya.

Empu Sungkowo bersama Wiji menjelaskan proses pembuatan keris

Dari panjangnya cerita Empu Sungkowo, saya hanya mengangguk-ngangguk sedikit paham. Sebenarnya saya lebih tertarik jika bisa langsung menyaksikan proses pembuatannya. Fantasi tentang percikan api yang dihasilkan dari pukulan palu ke besi akan menjadi koleksi gambar yang apik nantinya.

“Lain kali mungkin bisa datang ke sini dan menyaksikan langsung pembuatannya. Kalau bisa tidur di Malangan”, dengan berbaik hati Wiji menawarkan pada kami.

Di Malangan, Wiji memperkenalkan saya dengan banyak seniman bertalenta. Dalam jamuan singkat beberapa jam, Malangan sukses membuat saya terkesan. Wiji tampak tak rela melepas kami. Ia berusaha merayu beberapa rekan, termasuk saya, karena yang paling dekat dengan Malangan.

Rupanya, dari sekian banyak potensi, Wiji masih menyisakan kejutan lain di siang yang terik. Kayuhan sepeda kami tak lagi kuat. Halim yang masih berbagi tempat duduk bersama saya memilih turun dari sepeda, kemudian berjalan. Pun demikian dengan saya. Di gang-gang sempit Malangan, saya lebih memilih turun dari sepeda dan menuntunnya.

Raut wajah para orang tua dengan ramahnya menyapa kami yang berpapasan. “Pinarak, Mas. Mampir, Mas”, ajak seorang ibu paruh baya. Irama-irama klakson sepeda onthel bagaikan musik yang membuat saya jingkrak berdansa. Kring kring kring kring.

Wong Jowo iku Ora Ilang Jawane. Tutur bahasanya halus, sopan, membuat kami berkesan

Di sini, Wiji memperkenalkan kami dengan salah seorang pengrajin bambu rumahan. Markas seniman yang satu ini memang tak banyak koleksi. Di sela istirahatnya, pemilik rumah menyambut kami tanpa menjelaskan banyak hasil karyanya. Kami justru senang diberi kesempatan berfoto riang.

Tak hanya satu, pengrajin bambu Sleman terbesar justru ada di Malangan. Wiji membawa kami menuju Tunggak Semi. Puluhan karyawan yang lebih banyak ibu-ibu sedang menekuni pekerjaannya sebagai seniman pengrajin bambu. Ada yang mengecat, merajut, semua terbagi dalam tugas dan tanggung jawab masing-masing.

Ahmad Saidi, penerima penghargaan Upakarti dari Presiden Soeharto ini adalah orang yang memprakarsai berdirinya Tunggak Semi. Sejak meletusnya G30S/PKI pada 1965, pabrik tempat Saidi bekerja terpaksa harus tutup dan memutus kontrak kerja seluruh karyawan. Pengalaman panjang menjadi buruh pabrik PT LIPIN lantas tak membuat Saidi menjadi seorang pengangguran. Melalui inisiatif yang tinggi, Saidi mengumpulkan masyarakat Moyudan dan sekitarnya untuk bersama-sama menyambung hidup melalui kerajinan bambu.

Tahun demi tahun berlalu. Gejolak industri dan permainan harga pasar tetap diladeni Saidi. Pada 1974, Saidi mendapatkan kabar baik tentang produknya yang laku di pasar mancanegara. Tak tanggung-tanggung, kerajinan bambunya justru dipesan banyak oleh New Zealand.

Saidi kini harus bangga karena usahanya dilakoni dan terus diperjuangkan anak cucunya. Lewat anaknya yang bernama Suryadi (50 tahun), kerajinan bambu yang dirintisnya kini berhasil menembus pasar internasional yang lebih luas lagi.

Melalui inovasi produk, sembilan puluh persen kerajinan bambunya sudah diekspor ke beberapa benua seperti Eropa, Australia, Amerika, dan Asia. Omzetnya tak mengecewakan. Dalam satu bulan, Tunggak Semi dapat menerima seratus sampai dua ratus juta rupiah dari hasil penjualan.

Wiji bercerita tentang Tunggak Semi

Wiji tak hanya sukses memperkenalkan seniman Malangan pada kami. Bagi saya pribadi, ia telah sukses menjamu kami hingga terpatri kenangan di sanubari. Memang kali ini Wiji hanya menunjukkan seniman bertalenta karena telah memiliki hasil karya yang dikenal mancanegara. Tapi bagi saya, Wiji dan pemandu lainnya adalah seniman yang pandai merangkai cerita. Bermurah hati dengan menyajikan jamuan terbaik untuk tamunya adalah wujud rasa suka cita dan cara sederhana menghargai kehadiran kami.

Yang ia keluhkan soal konsep ‘bagaimana mengemas desa wisata’ perlahan sudah ia kuasai secara rapi. Seniman yang kreatif dan lanskap pedesaan yang asri telah dimaknai positif sebagai sumber daya yang luar biasa. Bukankah ini yang menarik dari Desa Wisata Malangan?

Di tengah jaman dengan banjirnya informasi secepat ini, Malangan menitip banyak pesan kepada kami. “Ceritakan kampung kami kepada khalayak”, Wiji menyalami kami. Terlepas dari beberapa pekerjaan rumah agar Desa Wisata Malangan semakin ramai kunjungan, Malangan telah membuktikan betapa desanya pantas sebagai tempat belajar dan mendulang pengalaman.

Peluh mulai membasahi wajah, siang semakin terik. Tapi Wiji masih menyisakan beberapa kejutan lagi. Ah. Terlalu banyak suguhan yang berkesan dari Malangan. Pulang, adalah kata kerja yang paling berat diungkap dalam tulisan. Saya tak sungkan harusnya untuk diam lebih lama dan menuruti ajakan Wiji untuk menginap berhari-hari.

Tapi waktu tak bisa diajak berkompromi. Dan kami harus pulang. Meladeni keinginan hati yang ingin menjelajah kesana-sini. Mungkin dengan pulang, saya bisa mengalami kerinduan. Rindu pada tanah hijau, markas para seniman bertalenta dari Desa Wisata Malangan.

Dwi Susanti dan Rifqy, Malangan sukses membuat mereka berkesan.

Catatan perjalanan ini merupakan hasil dokumentasi dari rangkaian acara Travel Blogger Eksplor Desa dan Kampung Wisata Jogja Istimewa yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Desa Wisata Provinsi DIY. Baca juga catatan #EksplorDeswitaJogja di insanwisata.com

Desa Wisata Malangan

Alamat: Malangan, Sumberagung, Moyudan, Sleman, DI Yogyakarta

Contact Person:
Wiji 087839728330
Andri 082137223912


Lokasi Desa Wisata Malangan

Comments

comments

31 thoughts on “Bertamu ke Rumah Seniman Malangan

  1. Aku kok kepikiran jalan pas di dekat sawah dan ada pohon kelapanya. Asyik buat diabadikan.

    Kalian sempat masuk ke pabrik anyaman bambunya, sementara aku malah main di depan hahahahha.

    Yang bawah itu foto buat mau acara nikahan? *Eh

  2. Heiii foto terakhir tanpa izin kui
    Royaltii. Wkkw. Mohon maaf fansnya maa rifqy di manapun berada yaaa. Aku cuma iseng.

    Iya bener banget mas sitam, malangan yang bagian pohon kelapanya berjejer2 kui apikk
    Aku pingin ke sana lagi poto sama sepeda.

  3. Malangan ini berkesan sekali, tanpa menafikan desa wisata yang lainnya. Kadang kita yang masih muda malu, dengan semangat yang dipancarkan Pak Wiji dan kawan-kawan. Siapa sangka, di sana ada empu keris yang disegani? Siapa sangka, di sana ada kerajinan bambu yang mendunia? Mantap… 🙂

    1. Ini baru sebagian lho yg ditulis. Belum lagi tentang booster ikannya. Kaya potensi banget lah!
      Malangan juga makin hits ya. Setelah kita, ada banyak agenda lagi yg mengangkat nama Malangan

  4. Konsep wisata yang menarik nih, kalo di Bandung sih ada desa Jelekong yang dikenal dengan wayang golek dan seni lukisnya. Tapi pengelolaannya belum sebaik di Malangan ini. 😀

  5. Belakang rumahku itu hutan bambu juga, tapi belum ada yang mau mengolahnya seperti di desa Malangan, padahal pertumbuhan bambu yang cepat dan perawatan yang sederhana bisa meminimalisisr biaya produksi pembibitan bambu.

    1. wah. sayang sekali y mas. di Bali aja, desa wisata penglipuran juga menggarap kerajinan dari bahan lokal bambu. Di Sendari juga seperti itu. Mungkin memang g ada pengrajin lokalnya di sana Mas

  6. Waahh begitu ramahnya ya mas dengan penyambutan kedatangan mas ketempat tersebut, saya jadi penasaran, jadi pingin nyoba juga pergi kesana nih sama temen-temen. Makasih mas

Leave a Reply