Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan

Saya melewati jalan raya Jogja–Solo dengan sedikit bimbang. Mau ke mana hari ini? Sebagai warga yang memegang kartu tanda penduduk Klaten, saya merasa malu menemui diri saya yang tak paham potensi daerah ini. Jangankan untuk mengenal potensinya, tanpa bantuan peta online, mungkin saya akan banyak tersesat mencari jalan pulang ke rumah.

Saya mulai mencari, merujuk beberapa referensi, dan membuat riset dengan sebuah pertanyaan kecil yang tersampaikan ke beberapa grup sosial media yang dihuni warga asli Klaten. Apakah harta karun terbesar dari Klaten Kota Bersinar? Ada yang merespon dengan segudang pengetahuan, ada pula yang menjawab dengan nada candaan.

Beberapa catatan yang sempat saya ingat dari perbincangan kemarin adalah Klaten diuntungkan dengan lokasi yang cukup strategis. Gundah tersebut kemudian mengantarkan saya pada kunjungan pertama menuju kawasan pengrajin tenun lurik Pedan.

****

Pedan tersohor sebagai kawasan penghasil kain tenun lurik. Sejatinya, di kawasan ini tidak hanya lurik yang hidup di atas pegiatnya. Kawasan ini ibarat kota sejarah yang terlupakan. Berdiri di sana sebuah pabrik gula peninggalan Belanda dengan cerobong asap yang menjulang tinggi. Bau ampas tebu menjadi aroma yang khas kala menyeberangi rel kereta api.

Rahmad siang itu tak ada di rumah. Ia terbiasa melakoni rutinitasnya di Hari Sabtu, bersepeda onthel berkeliling desa. Menempati rumah sederhana persis di pinggir jalan, terkadang membuat bengkel pembuatan lurik milik Rahmad sulit ditemui.

Sebagai tengara Kecamatan Pedan, dibangun beberapa patung orang menenun yang akan mengarahkan wisatawan menuju salah satu pabrik tenun yang sudah lama berdiri. Saya tersesat ke tempat lurik pabrikan. Saya pun sempat meniliknya sebentar. Saya mengintip di antara lubang-lubang kaca yang tak banyak aktivitas manusianya. Namun saya tak tertarik untuk menyaksikan secara intim cara mesin-mesin mahal ini bekerja.

“Pak, kalau lurik yang manual di sebelah mana ya? Yang buatnya masih pakai tangan?”

“Oh di sana Mas. Dekat kelurahan. Ini keluar belok kiri. Nanti ada patung dua kembar”, jawab seorang juru parkir yang tak sempat saya tanya namanya.

Sementara itu, pintu rumah Rahmad tertutup rapat. Sepi dari luar, tapi terdengar ramai di dalam. Rasa penasaran menuntun saya mendatangi sumber suara. Seorang perempuan yang sedang membawa semangkok lauk masuk ke dalam rumah. Ia yang mendengar suara saya kemudian datang menghampiri. Membawa identitas sebagai warga asli Klaten, saya diijinkan masuk mengambil gambar sembari menyaksikan proses pembuatan tenun lurik Pedan.

Sejarah panjang hadirnya tenun lurik Pedan tidak terlalu diangkat dalam panggung industri pariwisata. Sumber Sandang adalah salah satu bagian dari sejarah kejayaan tenun lurik Pedan–Klaten. Meski bukan konglomerat, Rahmad adalah pengusaha senior yang masih bertahan dengan bisnis lurik menggunakan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Pria kelahiran 17 Agustus 1932 ini memiliki riwayat panjang bak seorang pahlawan veteran yang tak ingin dikenal. Tak lama mengambil gambar, Rahmad pulang menuntun sepedanya dan duduk di meja makan.

Rahmad (85 tahun) menjamu saya langsung di rumahnya. Ia bercerita lengkap riwayat panjang tenun lurik Pedan.

Sebagai lulusan ilmu sejarah Universitas Indonesia, Rahmad bertutur tentang riwayat tekstil Indonesia tanpa jeda. Ibarat pepatah ‘hidup segan, mati pun tak mau’. Meski banyak usaha tenun lurik bermesin yang menjadi saingan Sumber Sandang, Rahmad tetap teguh mempertahankan bisnis yang dirintis orang tuanya. Selain merawat budaya menenun menggunakan ATBM, Rahmad berkomitmen menyediakan ladang pekerjaan bagi mereka yang berbakat, namun terbatas pada alat.

Pada tahun 1938, seorang pengusaha asal Pedan bernama Suhardi Hadisumarto berkesempatan mendulang ilmu menenun di sekolah Textiel Inrichting Bandoeng (TIB). Sepulang dari TIB, Suhardi mengajak keluarganya untuk membangun rumah usaha tenun lurik di Pedan.

Bisnis tenun yang dirintisnya menjadi perusahaan yang terkenal dengan omzet yang luar biasa. Namun nahasnya, pada 1948 terjadi agresi militer oleh Belanda yang menyebabkan bisnis tenun Pedan ikut terkena dampaknya. Bung Karno dan Bung Hatta pun sempat ditangkap Belanda. Itulah jiwa Sang Kolonial, yang ternyata membuat Suhardi  harus menutup bisnis tenunnya dan hidup jauh di pengungsian.

Sementara itu, saat terjadi pengungsian besar-besaran pada 1950, masyarakat yang tergabung dalam Badan Keamanan Rakyat (BKR) melakukan perlawanan terhadap Belanda lewat gencatan senjata. Bukti yang tersisa adalah pabrik gula di Pedan milik Sunan Ground Solo yang ikut terbakar. BKR berhasil melucuti senjata dan mengusir tentara Belanda dari Pedan.

Bisa jadi, Suhardi nelangsa merindukan aktivitas menenunnya. Selama dalam pengungsian, Suhardi menyempatkan diri berbagi pengalaman dan mengajarkan pembuatan tenun lurik untuk masyarakat pengungsi. Barak pengungsian disulapnya menjadi sekolah menenun yang sederhana. Semangat mereka bangkit, termasuk Rahmad yang ikut belajar. Sepulangnya dari pengungsian, mereka kembali menekuni ilmu yang telah diajarkan Suhardi dengan membuka lapak-lapak tenun lurik di teras-teras rumah.

Bisnis lurik semakin laris dan dilirik banyak daerah. Dalam misi menyejahterakan masyarakat Pedan, pada 1952 didirikanlah koperasi primer Pengusaha Perusahaan Tenun (PPT). Orde lama pernah bersabda, ‘berdikari berpijak di kaki sendiri, tidak bergantung dari luar’. Benteng-benteng koperasi pun mulai berdiri. Seperti G.K.B.J (Gabungan Koperasi Batik Indonesia), Koperasi Tekstil Seluruh Indonesia (Kopteksi), yang berlandaskan koperasi kerakyatan.

Keberadaan koperasi ini sangat mendukung dalam usaha industri tenun lurik di Pedan. Keperluan seperti bahan dasar tenun yang berupa benang dan pewarna dikoordinir oleh koperasi sehingga pengadaan bahan tenun tidak sembarang tempat dan harga pasar tidak dipermainkan tengkulak. Itulah sebabnya, Bapak Koperasi disematkan atas kebaikan Bung Hatta yang menaruh rasa peduli pada rakyat kecil melalui pendirian koperasi di Indonesia.

Lebih dari 500 pengusaha dan 60.000 orang menggantungkan hidupnya dari menenun lurik. Pedan semakin berjaya dan bisnis lurik semakin menguntungkan. Pun yang dialami oleh Rahmad yang kerap meraup untung lebih dari 120 persen. Nampaknya tak semua pengrajin tenun rumahan tahan banting pada regulasi dan perubahan zaman.

Tahun 1966, politik ekonomi Indonesia memasuki Orde Baru yang merubah kebijakan terkait adanya perijinan Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri. Adanya penanaman modal asing di Indonesia menimbulkan dampak lain yang menyebabkan luputnya pengawasan terhadap pembangunan di Indonesia seperti industri tenun lurik rumahan di Pedan.

Seluruh pengrajin tenun kalang kabut sehingga menjebol benteng-benteng koperasi yang sempat sukses mengayomi para anggotanya. Industri kecil rumahan semakin tergilas dengan masuknya para konglomerat yang merubah cara tradisional menjadi modern. Mesin-mesin dengan dering yang nyaring mulai menggeser para pekerja yang sudah bergantung lama pada pekerjaan menenun.

Tak semua bernasib sama seperti Rahmad. Ada beberapa yang bertahan, namun lebih banyak yang gulung tikar. Sungguh miris melihat kenyataan bahwa tenun yang dibuat menggunakan peralatan tradisional dikalahkan dengan produk-produk tekstil pabrikan.

Rahmad bercerita mantap sembari menatap saya tajam. Ingatan tentang masa-masa sulitnya masih menghantui pikiran dan generasi anak cucunya. Meski kediamannya dikelilingi para pengusaha besar tenun lurik pabrikan, Rahmad tetap yakin lurik buatannya mampu bersaing dan laku keras di pasaran. Lurik adalah sandaran hidup. Kini, lima dari enam anaknya turut menekuni bisnis ayahnya sebagai pengusaha tenun lurik ATBM yang tersebar di Pulau Jawa.

Sementara itu, jika ditarik melalui riwayat sejarah panjang kerajaan. Keberadaan lurik sebenarnya sudah ada sejak zaman Kerajaan Kediri dengan ciri motif bergaris. Keberadaan lurik kemudian berlanjut sampai Majapahit, Demak, dan Mataram Kuno. Tenun lurik semakin berkembang dan masuk ke wilayah Surakarta dan Klaten.

Dari album foto yang diperlihatkan kepada saya, tentu Rahmad bukan sembarang orang yang hanya mengaku sebagai seorang pengusaha kain lurik. Ia kembali membuka identitas dirinya. Rahmad mengaku bahwa sebelum memulai bisnis tenun, ia sempat menabung pengalaman sebagai tim yang mencetak dan mengedarluaskan tulisan dari penulis-penulis terkenal termasuk Buya Hamka (penulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck) di Panji Masyarakat.

Rahmad berfoto dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Juga dengan beberapa turis Jepang yang belajar menenun di bengkel Sumber Sandang.

Menariknya, model pembuatan lurik paling tua adalah Tenun Gendong. Sayang, sejak 1930 sudah tidak adalagi generasi yang sanggup menekuninya. Akibat permintaan kain lurik semakin tinggi, Tenun Gendong pun ditinggalkan. Dengan alat baru berupa ATBM, penenun hanya perlu duduk di kursi dengan menggerakkan kaki sehingga berbunyi ‘klethek-klethek’.

Lebih dari sepuluh pekerja dengan rata-rata umur di atas lima puluh tahun saya temui. Rahmad tak mengatur jam bekerja di sini. Mereka bekerja secara bebas dengan mengatur jadwal sesuai waktu luang dan keinginan. Salah satu yang saya temui adalah Marsini (60 tahun).

 

Marsini saat itu sedang menggulung benang-benang yang semrawut di kalengnya. Deretan gigi putih dengan beberapa warna emas melemparkan senyum dan sapaan ramah kepada saya. Ibu dengan empat anak ini berprofesi utama sebagai petani. Belum lama ini, Marsini mengunduh padi-padinya. Dengan hasil yang tak seberapa, menenun adalah pekerjaan sambilan menambah penghasilan.

Sabtu adalah hari yang membahagiakan bagi Marsini dan kawan-kawan. Setiap pekannya, mandor tenun lurik akan membagikan upah sesuai dengan jumlah pekerjaan yang sudah dirampungkan. Beberapa lembar uang lima puluh ribu yang diikat karet diterima Marsini dengan senang.

“Dapat berapa, Bu? Boleh tunjukan ke saya biar tak foto?”

“Ealah, Mas. Sithik ngene kok difoto – sedikit gini kok difoto”

“Alhamdulillah. Nompo gaji – nerima gaji”. Ia tak malu harus menunjukkan upah mingguannya kepada saya. Dalam sehari, Marsini mampu mengerjakan empat sampai lima meter tenun lurik. Dengan upah Rp4.500,00 per meternya, Marsini mengantongi Rp120.000,00 dalam sepekan.

Jika Marsini menggarap tenun berwarna gelap, berbeda dengan Painem. Duduk paling pojok dekat dengan penjemuran benang, Painem kebagian menggarap tenun lurik dengan motif berwarna cerah. Meski sudah menginjak usia 71 tahun, Painem melalui bakatnya dapat menggarap lurik bermotif rata-rata empat sampai lima meter setiap harinya.

Jam istirahat tepat pada pukul 12.00 WIB. Seluruh pekerja yang tadinya beraktivitas kini bergiliran menunaikan solat dzuhur. Dibagikan pula sebungkus jamuan makan siang. Dalam rehat yang sebentar, mereka berbincang akrab sembari melempar canda. Saya turut menyemangati Endang (40 tahun) dengan mengumpan humoran untuk merayunya. Mereka yang melihat Endang dirayu menyeringai tawa menyaksikan kami berdua.

Marjo (70 tahun) sedang merapikan benang-benang di meja tenunnya.

Saya menemukan sesuatu yang mengagumkan ketika tenun lurik hanya dipandang sebagai pakaian saja. Lantas, dihadirkan secara cuma-cuma pertunjukan pembuatan tenun lurik di bengkel tenun pinggir jalan raya. Masing-masing pekerja tenun mendapati tugas yang berbeda-beda. Ada yang menggulung benang, ada yang mewarnai, dan ada pula yang menenun. Seperti sebuah orkestra. Meja kerja mereka membunyikan irama.

Proses panjang masih menanti. Tak semudah mengenakan lurik yang sudah jadi. Prosesnya terhitung rumit dan memakan waktu yang cukup lama. Dalam satu ruangan khusus, saya dipandu Yuri untuk menghitung berapa tahap proses pembuatan tenun lurik khas Pedan.

Yuri membuka bincang dengan melengkapi cerita tahapan pembuatan tenun lurik dengan istilah yang cukup rumit untuk dituliskan. Kain dengan motif garis-garis minimal dua warna dan maksimal lima warna, itulah yang bisa disebut dengan lurik.

Dari segi identitas sosial, dapat dilihat bahwa corak tenun menunjukkan pada identitas tertentu. Seperti seragam sekolah, seragam wiyogo, seragam pegawai, dan lainnya. Uniknya, pemesan tenun tak datang dari masyarakat daerah saja, namun lebih jauh lagi sampai ke Toraja dan Bali. Para pengusaha tenun di Bali contohnya. Mereka justru memesan tenun lurik motif Bali di tempat Rahmad.

Dengan menggunakan ATBM, Rahmad mengaku di sanalah letak keunggulannya. Meski tak sehalus kain pabrikan, motif kain yang digarap menggunakan ATBM memiliki tekstur yang khas dan kerumitan yang tak bisa digarap menggunakan mesin pabrikan. Motif Toraja pun demikian. Banyak pengusaha tenun Toraja justru memesan kain tenun lewat begkel lurik milik Rahmad.

Rahmad memang tak puas bermain di pasar lokal. Berkat kreativitas para anak cucunya yang pandai berjejaring di sosial media, tenun Rahmad justru lebih banyak dipasarkan ke Eropa. Lurik dengan warna putih polos adalah jualan yang laku keras di sana. Menurut Rahmad, lurik putih lebih banyak dijadikan sebagai bahan lapis modifikasi jok mobil-mobil mewah.

Motif tenun lurik berwarna putih polos yang biasa diekspor hingga Eropa.

Sementara dari segi budaya, motif lurik memiliki penempatan khusus yang berlaku di tatanan masyarakat Jawa. Seperti lurik dengan motif Tumbar Pecah atau yang dikenal dengan jarik. Lurik jenis ini biasa digunakan para ibu hamil setelah tujuh bulan (mitoni) supaya bayi lahir dengan mudah dan selamat. Juga ketan ireng, ketan salak, kijing miring, sodo sak ler, endok mi-mi, rinding dutung, dan motif lainnya yang masing-masing memiliki makna dalam pemakaiannya.

Di ujung kegiatan pelesiran, saya memboyong beberapa lembar kain tenun model selendang. Tentu dengan rasa bangga pada potensi tanah sendiri, saya menyalami Rahmad yang puas hati melihat saya membeli buah tangan khas Pedan. Tas semakin berisi dalam jinjingan. Tentunya, kalian akan membeli lebih banyak kain dibanding saya, bukan?

Rahmad berhasil menorehkan kesan mendalam. Jalan kekayaan yang ia yakini bukan hanya lewat perdagangan. Namun kekayaan hati melalui kasih sayang sesama manusia. Saya melihatnya demikian di wajah maestro lurik Pedan.

“Bukanlah pantun sembarang pantun. Pantun digubah para pujangga. Bukanlah tenun sembarang tenun. Tenun tangan pujaan bangsa”, tulis Rahmad, pahlawan dan maestro lurik Pedan yang tak ingin dikenal.


Lokasi Tenun Lurik Pedan

 

Comments

comments

37 thoughts on “Rahmad dan Sejarah Tenun Lurik Pedan

  1. mkasih nih sharingnya, oh ya sekarang aku lihat lurik sdh banyak berubah ya, aku dapat dr saudaraku bahan lurik dg warna yang terang dan aku buat jadi blus, hasilnay keren

    1. nanti 10 tahun lagi aku tak nyalon jadi bupati. buahaha 😀
      iyo. tapi kadang kasian, karena generasi mudanya pada ga pengen belajar menenun. pengen jadi PNS semua

      1. aku kok kasian ya lihat mbah2 tua masi nenun :(, terus yg muda iso opo :(.

        Itu juga dalam sepekan upahnya cuma 120 kok ya murah men 🙁

        Sbnernya kalo ada gini coba dibuat sekolah menenun, jaman skrg udah ga ada sih ya sekolah keterampilan gt.

        1. hehe. rata2 simbah-simbah e Lid. Yang muda isone pacaran. Eh
          Harusnya ya. Semacam muatan lokal menenun. Aku harap tenun lurik pedan semakin terkenal. Masalahnya banyak juga orang Klaten yang ga tau lurik. Buahhaa

  2. Alhamdulillah… akhirnya ditulis juga baru secuilnya potensi klaten, menunggu blogpost potensi klaten yang lainnya 🙂
    Kenapa kamu pake ngintip gajinya bu marsini? wkwk

    Kenapa penenun seringkali dikerjakan oleh ibu-ibu yang sudah berumur ya? semoga tetep ada regenerasi 🙁
    Aku masih pingin punyaa tenun klatennya lho…

    1. aku ga ngintip. tapi pas lagi bincang-bincang artes. bu Marsini nerima gaji. Ya udah sekalian tak intip. Wkaakka.
      Sini kamu beli. katanya mau jualan tenun pasmina? pas lah

  3. Salut dengan kegigihan mbah Rahmad dalam upayanya mempertahankan lurik Pedan. Alat tenun bukan mesin sudah jauh dari perkembangan zaman, benda kuno yang dianggap remeh generasi muda. Alat yang mulai ditinggalkan oleh pengusaha yang menginginkan hasil yang lebih namun mengurangi kualitas. Jika mbah Rahmad sekarah dengan mengejar materi yang tak dibawa sampai akhirat, mungkin rumah luriknya tidak lagi mempunyai alat tenun bukan mesin, memberhentikan pengrajin-pengrajin yang sudah sepuh. Beneran inspirasi banget mbah Rahmad ini. Setelah baca ini jadi kepingin ketemu beliau dan ngobrol banyak tentang sejarah pabrik gula di Kalten deh. 😀

    1. nah. itu rencanaku mas. Ada pabrik gula yang lebih tragis daripada Gondang mas. bangunane remuk angker. Ayo kita eksplor ke sana. Tapi bawa masker. bau ampas tebu ga enak. hahaha.
      Iya, Aku lho. Makin jatuh hati sama Klaten.

  4. Aku kira ini cerita keprihatinan tentang kain lurik Peda yang tenggelam ditelan zaman. Pada akhirnya aku tersenyum bahagia, ternyata kain lurik mereka sampai di pasaran Eropa 🙂

    Tapi tetep, aku terharu tiap kali melihat potret wanita berusia di atas 50-an tahun yang tersenyum hangat. Mirip sama ibuku di rumah. Namanya sama-sama Painem pun. Aku jadi mikir bikin start-up buat menampung UKM-UKM tradisional dalam sebuah platform online khusus, supaya produk mereka nggak kalah oleh modernisasi. Kadang yang jadi masalah bukan ketiadaan penerus atau kalah dengan produk modern, tapi kurang promosi dan susahnya akses.

    1. Iya. Yang Eropa kainnya motif khusus. Ga semuanya. Tep, anak Klaten harus bangga.
      Bener. Untung aja cucunya Pak Rahmad pada melek teknologi. Jadi mereka ikut menekuni usaha tenun lurik Pedan.
      Iya mas. Yang kerja di sini rata2 udah sepuh. Kasihan ngeliatnya. Aku terharu pokoknya. Sudah tiga kali ke sana untuk sekadar menyapa mereka. Semoga mereka diberi kesehatan dan umur panjang, termasuk Pak Rahmad.
      Yok, digarap startup marketplace tenunnya

  5. Saya kini makin yakin, bahwa suara mereka yang berkarya dalam senyap akan jauh lebih menggelegar ketimbang mereka yang banyak bercuap padahal bahkan hanya baru berpikir untuk bekerja, hehe.
    Tulisan ini otentik, Mas. Sumber-sumbernya terpapar jelas tapi tidak ada penghakiman. Pembaca awam seperti saya bisa menilai sendiri apakah sumber yang dipakai di sini asli dan kredibel. Menurut saya, dengam penalaran paling wajar pun saya kurang yakin apakah ada pembaca yang akan menilai tulisan ini tidak didasarkan pada sumber yang baku. Lha wong semua dijembreng jelas begini kok, haha.
    Bagi saya, tulisan ini juga jujur karena tidak punya pretensi apa-apa. Saya jadi paham apa itu industri tenun tradisional dan bagaimana sistem dan pelaku usaha di sana berinteraksi. Sungguh, malah saya yang belajar dari tulisan ini soal apa dan bagaimana menarik informasi dari narasumber, sebab kalau saya yang mencoba menarik info malah banyak sungkan dan prasangkanya, ujung-ujungnya semua tidak begitu asli karena saya cuma melihat gejala, wkwk.

    Mungkin sebagai penutup, mohon diperbanyak share tulisan seperti ini ke saya sebab saya makin jarang buka WP Reader. *siapague *inicumabercandadanmohondiabaikan

    Semangat terus! Eh ya ketinggalan, saya juga mau diajari teknik mengambil fotonya Mas, soalnya ya itu tadi, saya banyakan sungkannya. Haha.

    1. wah. terimakasih Mas Gara atas waktu luangnya untuk memabaca tulisan ini. Terimakasih banyak atas masukannya. Saya baru belajar seperti sampeyan, menjadi pemerhati sejarah lewat tulisan-tulisan ringan. Akan lebih enak dapat masukan dari penulis-penulis kaya Mas Gara ini. Jadi tau kurangnya biar bisa dicari bahan untuk menambalnya. Maturnuwun sekali.
      Oh ya, ini saya menggali informan juga ada bahan rekaman suara dan videonya. Tapi belum sempat editing hehe. Mohon sabar menunggu ya 😀
      Monggo mas, ayo ke Klaten. Saya yakin kalau tulisan Mas Gara lebih dalam daripada saya. Karena memuat unsur sejarah dan perjuangan. Pastinya menarik.

      Ini baru pertama kali saya belajar nulis sejarah Mas. Mudah-mudahan bisa memperbaiki kualitasnya, ya. Mohon bimbingan.
      Katanya mau ke Jogja? ayo sekalian belajar motret di Jogja. Hehe.

  6. Tenun Pedan ini yang kamu kasihkan ke aku bukan? Bangga sekali kalau memang pakai tenun khas Klaten yang dibuat si mbah² ini. Oya, sentra tekstilnya pak Rahmad memang hanya di Pedan saja?

    Terus untuk regenerasi penenunnya apa sudah tak ada? Yang muda gitu? Kan kasihan jika sampai mata rantainya putus.

    Terakhir, fotomu kak, juarak!

    1. yg kerja hampir semua sudah berumur Mas. Yang muda, khususnya para cucu Pak Rahmad alhamdulillah bikin bisnis lurik juga tapi model ATBM.
      Kalau punya Pak Rahmad setauku di Pedan, tapi punya anak2nya ada banyak di Pulau Jawa tersebar.

      Aih.. dipuji sama sispai pimred rek. Makasih. Baru juga belajar

  7. salut pada mereka yang masih gigih mempertahankan keotentikan kalin lurik pedan ini. meski umur yang tidak lagi muda, tapi masih bersemangat mencari rupiah. tapi saya agak ragu mereka melakukan itu hanya untuk mengais rejeki, jika dilihat dari kegigihan dan ketulusan mereka dalam membuat sehelai kain tenun.

  8. Bagus bangeet tenun lurik pedannyaaa. . Salut melihat mbah” yg telaten banget menenun. Melihaat proses pembuatan yg panjang dan rumit untuk menghasilkan sehelai kain tenun yg istimewa bagusnyaa. .pengen punyaa satu nanti semoga kalau ke klaten bsa mampir

  9. Dari rumahku ke Pedan cuma 5 menit, tapi juga belum pernah lihat pembuatan Lurik , jaman dulu memang Pedan jadi sentra Lurik, semoga ke depan makin banyak dikenal dan diminati masyarakat lagi.

  10. mas hanif klatene mana nggih ?? di daerah desa tancep dekat dengan bayat dulu juga banyak penenun mas tapi sekarang tinggal beberapa saja dan mereka juga dah sepuh” generasi muda lebih memilih merantau di kota…bahkan ada satu desa yang dihuni kk hampir semuanya sudah lansia

  11. Langsung kepikiran, kok km bs sedetail itu sih nulisnya? Perasaan Pak Rahmad gak cerita banyak *kmudian inget CD* hahahaa cieee yg makin cinta dg kota nya cieee :3

  12. Membanggakan hasil karya tenun lurik Indonesia sampe ke manca negara. Harus dilestarikan budaya bangsa ini #akumaudongikutannenun…#kalo diajak #hahaha
    Salam

Leave a Reply