No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Prambanan Jadi Saksi Ritual Tawur Agung

by Reza Nurdiana
April 1, 2014
2 min read
0

Nyepi menjadi perayaan tersakral bagi umat Hindu. Nyepi juga menjadi ajang penyambutan Tahun Baru Saka bagi mereka. Tak ada kembang api ataupun petasan. Semarak mereka ialah mematikan seluruh kegiatan seharian guna menyucikan diri. Tak ada api, tak ada nafsu, tak ada hiburan, tak pergi kemanapun. Mereka hanya perlu memusatkan pikiran pada Sang Hyang Widhi.

Yogyakarta, Minggu pagi, 30 Maret 2014. Kami berada di tengah ribuan umat Hindu berbusana putih. Memang, tak semuanya berbalut pakaian putih. Variasi warna dan model kebaya yang dikenakan umat wanita bahkan menampilkan kecantikan tersendiri di pribadi masing-masing. Hari itu ialah sehari menjelang Nyepi. Prambanan, candi Hindu tercantik di dunia, menjadi saksi ritual Tawur Agung Kesanga.

 

10155707_4158193688741_970567325_n

 

 

Hari itu, ribuan umat Hindu berkumpul di pelataran candi. Mereka yang khidmat beribadah berkumpul di tengah tanpa menghiraukan keramaian di sekitar. Doa-doa dipanjatkan, dupa dibakar, dan sesajen berjejer rapi di hadapan para pendeta. Cuaca yang semakin terik tak membuat mereka kemudian bergeming dari panjatan doa. Ya, demi sucinya isi bumi dari segala kotoran yang telah menodai.

Hari semakin siang, suasana semakin sakral, dan alunan ganjur dimainkan. Para lelaki dengan perkasa mengarak tiga raksasa buruk rupa mengitari sebagian pelataran. Gajah berperawakan kejam, Wewe Gombel, dan Butha Kala itu menantang siang yang mencekam. Merekalah ogoh-ogoh, wujud kejahatan dan keserakahan manusia akan kekuatan semesta. Seluruh keburukan itu nantinya akan dibakar habis. Meninggalkan harapan akan segala kebaikan di waktu mendatang.

 

Tak hanya sampai disitu, setelahnya giliran kaum perempuan yang unjuk gigi. Enam puluh gadis dengan gemulai menampilkan tarian gambyong di tengah teriknya siang. Gambyong di siang hari itupun jadi hiburan yang sarat makna. Gerakan luwes mereka memperlihatkan ciri wanita Jawa Tengah yang berkarakter lemah lembut. Setidaknya, menikmati tarian mereka membuat gerah di tengah hari agak semilir.

 

1970486_4158191648690_352594080_n

 

1979584_4158190328657_1370295640_n

 

Kompleks Prambanan dengan enam candi utamanya tetap kokoh di hadapan para pelaksana Tawur Agung Kesanga. Seluruh umat Hindu tunduk akan kemegahan candi pun para dewa yang bersemayam di dalamnya. Pengunjung yang berbondong-bondong menapaki tangga masuk candi tak jadi halangan bagi ibadah khidmat mereka. Bahkan bagi kami yang bukan umat Hindu, hari itu Prambanan terasa berbeda dari biasanya, terasa magis.

 

1969381_4158192728717_1632717883_n

 

Selamat Tahun Baru Saka 1936. Semoga semua harapan tak jadi semu belaka.

 

Tags: candihinduprambananrezaritualtawur agung kesangaupacarayogyakarta
Previous Post

Mengarungi Lautan Misool Raja Ampat

Next Post

Sedahan, Menantang Keberanian Para Perambah Dunia

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Taman Air Ekowisata Mudal
Catatan perjalanan

48 Jam Berkeliling Yogyakarta

Mei 16, 2019
Embung Desa Wisata Banjaroya
Catatan perjalanan

Jogja Istimewa: Dari Desa Hingga Kota Pusaka

Januari 24, 2019
Para Inspirasi Asian Para Games
Catatan perjalanan

Seri Foto: Para Inspirasi Asian Para Games 2018

Oktober 6, 2018
Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN)
Catatan perjalanan

Kalah Menang, Tetap Teman

September 24, 2018
Next Post
Sedahan, Menantang Keberanian Para Perambah Dunia

Sedahan, Menantang Keberanian Para Perambah Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller