Kalah Menang, Tetap Teman

Saya merasa mujur saat mendapatkan kesempatan untuk datang menyaksikan semarak kegiatan Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) 2018. Pasalnya, euforia pelaksanaan Asian Games kemarin masih menyisakan demam olahraga yang diikuti banyak kalangan. Pakaian dan simbol olahraga turut meramaikan jalan raya yang kerap saya lintasi. Kanal media sosial pun tak kalah serunya. Olahraga kembali menjadi perhatian publik. Bukan saja soal bonus yang didapat. Namun juga rasa percaya diri yang tinggi, bahwa Indonesia memang memiliki banyak potensi sumber daya manusia yang berbakat.

Pun tak ketinggalan, demam olahraga ini disambut suka cita oleh para pelajar nusantara. Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Budaya RI, gelaran olimpiade bertemakan ‘olahraga’ ini menjadi kegiatan nasional, yang saya kira juga bagus dijadikan sebagai ajang mencari bakat para atlet muda.

Mens sana in corpore sano, bukan lagi menjadi kata mutiara yang menghias dinding sekolah. Motivasi ‘jiwa kuat dan raga sehat’ tersebut sudah melahirkan banyak atlet cilik berbakat di berbagai cabang olahraga. Syahdan. Yogyakarta menjadi tuan rumahnya. Saya memilih datang menyaksikan cabang olahraga athletic yang bertempat di gelanggang olahraga Stadion Sasana Krida kawasan Akademi Angkatan Udara (AAU).

Matahari belum cukup tinggi saat saya datang ke sana. Sementara suara riuh sorak dukungan dari tribun penonton sudah terdengar hingga gerbang selatan. Ada dua cabang olahraga yang sempat saya nikmati khidmat di venue Kid’s Athletics; Lompat Katak (Frog Jump) dan Lempar Peluru (Turbo Throwing). Jujur, ini adalah kali pertama saya menyaksikan kedua pertandingan ini. Saya pun sempat bertanya-tanya kepada beberapa pemirsa tentang bagaimana mekanisme penilaiannya.

Tak sulit rasanya mengetahui mereka berasal dari daerah mana. Identitas peserta sudah tertulis di punggung mereka. Rasanya, semua daerah telah ikut mengirimkan atlet cilik terbaiknya untuk dapat membawa pulang prestasi dan medali.

Setiap babak yang berlangsung, tak membuat penonton dan lawan tegang. Ajang pertandingan ini bagaikan wahana bermain mereka. Bedanya, acara ini memberi mereka kesempatan untuk bertemu atlet cilik se-nusantara dan adu bakat secara langsung.

Kalah menang, tetap teman

Dari kejauhan, pelatih berteriak menyemangati. Secara bergilir, panitia dan juri lomba memanggil nama mereka. Dua pertandingan berlangsung secara bersamaan. Lapangan hijau yang lapang terlihat sempit karena dipadati gelora peserta dan pemirsa pertandingan.

Ada titik kesimpulan yang saya dapati dari laga O2SN ini. Di luar rasa percaya diri dan mendulang prestasi, kegiatan ini mampu memupuk rasa harmonis peserta yang datang dari berbagai provinsi. Jangankan rasa kesal. Raut wajah lesu tak saya dapati di antara mereka. Meski lemparan tak sejauh lawan, tak ada umpatan marah maupun keluh kesah. Usai melempar peluru, mereka langsung menuju kursi peserta dan kembali bercengkrama bersama kawan yang baru dikenal di pertandingan.

Jika jatuhnya kalah, orangtua mereka tak ikut memarahi. Pelatih mereka tetap menggendong dan memberi pujian bangga. Itulah yang memang seharusnya diberikan. Supaya rasa menyesal tak menjatuhkan impian.

Untuk sampai titik ini, tentu tidak mudah. Ada kawan dan lawan yang sudah mereka lewati di babak penyisihan daerah. Masa depan olahraga Indonesia telah tampak. Mari kita sambut dengan suka cita. Bukan hanya untuk menghabiskan euforia pertandingan akbar Asian Games juga Olimpiade Olahraga Siswa Nasional 2018. Melainkan menjadi tradisi, berbudaya, dan karakter bangsa. Bahwa Indonesia, kaya sumber daya manusia.

Tabik.

Comments

comments

6 thoughts on “Kalah Menang, Tetap Teman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.