No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Mengarungi Lautan Misool Raja Ampat

by Hannif Andy Al - Anshori
Maret 29, 2014
3 min read
0

Tak mudah untuk bisa sampai ke Misool. Tak cukup juga jika kita hanya mengandalkan informasi yang tersebar di sosial media. Meskipun budget telah mencukupi, jika tak mengenal medan maka bersiap-siaplah terdampar di Raja Ampat.

Misool terletak di selatan ibukota Raja Ampat, Waisai. Dibutuhkan waktu delapan jam dari Sorong dengan menggunakan kapal yang datang seminggu sekali. Pada Jumat pukul 23.00 WIT, hanya terdapat satu kapal besar Fajar Indah yang dapat mengantarkan kita menuju Misool.

 

1508628_4149410029155_1565855751_n

 

Tujuan pertama saya adalah Kampung Fafanlap dan Harapan Jaya yang berada di Misool Selatan. Pemandangan laut berwarna hijau tosca terhampar luas dan memanjakan mata bagi siapa saja yang melihatnya. Diperlukan biaya sewa speedboat Rp15.000.000 untuk memuaskan diri bermanja dengan lautan Misool. Tapi apa daya, bekal yang ada tak cukup untuk menuruti hasrat berwisata di pulau ini. Bukan untuk itu kami di sini, bukan semudah itu pula kami mau mengeluarkan berjuta-juta uang.

Pesan dan telepon yang berkali-kali masuk melalui ponsel membuat saya gelisah. Wakil Bupati Raja Ampat telah menunggu saya di Waisai untuk urusan kampus. Tak ada satu pun kapal yang beroperasi di hari itu. Saya harus sabar menunggu untuk datangnya Fajar Indah di hari Sabtu. Berkat bapak Harun pemilik homestay Harfat Jaya, dalam waktu yang bersamaan saya diperkenalkan dengan calon investor dari Australia yang kabarnya akan menuju Sorong. Negosiasi pun berjalan di antara kita. Secara gratis saya dapat menumpang speedboat yang telah mereka sewa. Konsekuensi yang ditawarkan pun harus saya terima dengan ikhlas. Speedboat yang saya tumpangi akan berkeliling pulau Misool sebelum sampai ke Sorong. Dalam hati, saya pun berteriak, yes !

 

1966748_4149411149183_1066250332_n

 

 

Ini kali pertama saya berdiri di atas speedboat, sontak saya teriak kegirangan. Teriakan Mr. Rado, si warga negara Australia bahkan lebih heboh lagi. Kecepatan penuh speedboat juga membuat angin semakin tertantang, membentuk garis bejejer di dahi semua crew kapal. Angin yang sama juga membuat Sang Sakala Merah Putih di atap speedboat berkibar tanpa henti. Tak terlihat satu pun kapal yang lalu lalang di lautan Misool selain speedboat yang saya tumpangi. Kemudian, seekor penyu menampilkan tarian selamat datang serentak dengan kedatangan kami. Tak kalah juga beberapa ikan pari yang gesit sembunyi di bawah speedboat kami.

 

10009760_4149410629170_2053889999_n

 

 

Tak sampai setengah jam, lautan Misool mulai pamer kehebatan. Ratusan batu karang kokoh menjulang di permukaan laut yang dangkal. Bukan hanya karang yang menjulang, namun pulau-pulau kecil berpasir putih juga kami lewati. Tumbuhan hijau menghiasi penampilan pulau dan karang-karang yang tak berpenghuni. Ada keindahan berbeda ketika menundukkan kepala. Air laut yang biru kehijauan tak diragukan lagi kejernihannya. Dengan jelas terlihat penduduk lautan yang simpang siur sepanjang perairan. Sungguh, kesempatan emas yang kebetulan berpihak pada saya yang tak merencanakan melihat Misool lebih dalam.

 

10156043_4149410789174_1481622884_n

 

Tanpa aba-aba, Mr. Rado melompat dan berenang ke tengah lautan. Saya hanya bisa menonton dan menggeleng ciut ketika diajak bermain air bersamanya. Bukan apa-apa, luasnya lautan membuat saya ngeri untuk nekat berenang di sana. Entah itu hiu maupun buaya saya bayangkan pasti ada di sana. Perjalanan berlanjut ke pulau terdekat. Lagi-lagi, saya hanya bisa menyaksikan keasyikan mereka menyelami kecantikan alam bawah laut Misool. Kali ini, bukan karena takut, tapi saya memang belum selincah mereka menyelami lautan. Tawaran snorkeling pun juga saya abaikan.

Setelah puas menyelami keindahan bawah laut Misool. Mr. Rado dan crew kapal pun membawa saya menuju kota Sorong. Terimakasih Mr. Rado, tanpamu aku pasti tak dapat melihat indahnya Misool. Tanpamu mungkin aku tak tepat waktu sampai ke Sorong.

 

Inilah Misool dengan segala keindahannya. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia hanya bersyukur atas jatuhnya surga dunia yang bernasib di Raja Ampat. Maka, sudah sepantasnya kita menjaga dan merawatnya. Bukan untuk dieksploitasi, namun di eksplorasi. Sungguh, kini saya merindukan Misool dan Raja Ampat. Semoga kau terjaga di sana.

 

Previous Post

Sepiring Kelezatan dari Kediri

Next Post

Prambanan Jadi Saksi Ritual Tawur Agung

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Prambanan Jadi Saksi Ritual Tawur Agung

Prambanan Jadi Saksi Ritual Tawur Agung

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller