Sudahkan membaca cerita sebelumnya tentang Pulau Kei, Pulau Ujir, dan Burung Cendrawasih di Desa Wakua? Kisahnya masih berlanjut. Maluku menunjukkan keelokannya pada saya melalui Kepulauan Aru. Rencana yang pernah saya tuliskan sudah diijabah Tuhan. Bahkan bukan sekadar diperlihatkan pada alam yang elok. Saya turut dipertemukan keluarga baru di sini. Melalui Pusat Studi Pariwisata UGM, kami berangkat bukan hanya urusan pekerjaan, tapi juga menambah wawasan. Namun sepekan di sana bukanlah waktu yang lama, terlalu cepat untuk menjelajahi sebaran pulau kecil yang cukup sulit dijangkau.
Aru bagaikan tempat wisata yang jarang diperlihatkan ke khalayak. Coba saja cari di internet. Sedikit sekali yang bercerita tentang Aru. Alasan faktor aksesibilitas yang belum siap, juga pemerintah sedang tak menggarap pariwisata sebagai pemain utamanya. Memang demikian adanya. Tapi tujuan saya ke sini adalah memenuhi panggilan dari pemerintah daerah yang terlihat ada usaha untuk berbenah. Mereka akan memulai membangun pariwisata baharinya yang indah. Pusat kota telah siap dipoles demi memenuhi kebutuhan wisatawan.
Jika menengok sejarah, kekayaan alam Kepulauan Aru terbukti membuat negara lain datang menguasai. Di tahun 1623, Belanda pertama kali datang ke Aru. Disusul tahun 1857 oleh Inggris yang ikut menguasai. Kekayaan alam Kepulauan Aru kemudian mengilhami seorang peneliti bernama Alfred Russel Wallace untuk menulis buku berjudul The Malay Archipelago (1932). Betapa kayanya negeri ini. Namun cinta pertama Wallace memang untuk secuil Pulau Maluku saja.
****
Berkendara menggunakan speed boat, kami menjelajahi pulau-pulau kecil Kepulauan Aru bagian utara. Di rombongan kami juga ikut Dinas Pariwisata dan beberapa perangkat desa. Suasananya sangat cair ketika mereka memulai cerita. Selera humornya cukup tinggi. Kelas humornya mirip orang Papua. Sembari berkawan sebungkus nasi dengan ikan sambal, kami tetap bercerita.
Kami merapat ke bibir pantai, tepatnya Pulau Wokam. Di sinilah jejak orang Eropa yang pertama kami jumpai. Berdiri setengah utuh benteng yang dibangun oleh Bangsa Portugis. Miris sekali. Nampak tak terawat dan disia-siakan. Sekelilingnya sudah ditumbuhi lebatnya semak belukar. Membalut seluruh dinding-dinding yang kaya akan nilai sejarah. Beberapa bagiannya bahkan sudah rubuh. Kalah ditembus akar pohon yang semakin tinggi. Susah lagi dikenali sebagai benteng. Namun tempat ini cukup terkenal karena sejarah yang mencatatnya. Benteng ini kemudian dikenal dengan nama Benteng Kota Lama, Pulau Wokam.




Tak hanya benteng yang menarik perhatian. Pasir putih di pantainya pun demikian. Terhampar seluas mata memandang adalah gusungan pasir yang akan nampak ketika laut surut. Biota lautnya berhamburan keluar. Ada bintang laut, ketam, dan kumang. Segerombol ketam berlarian menjauhi kami. Sembunyi, kemudian keluar lagi. Terlihat juga beberapa anak kecil sedang berburu ikan-ikan kecil. Mereka memanfaatkan berkah ketika air laut sedang surut.





Kami melanjutkan perjalanan. Di atas speed boat, mereka kembali memulai cerita. Mereka menunjuk pada sebongkah batu karang di tengah lautan. Mereka sebut itu sebagai Batu Kapal. Saya masih belum mendapat posisi yang pas untuk melihatnya. Diputarlah laju speed boat mengeliligi batu karang. Barulah dari sini memang tampak seperti kapal. Diyakini bahwa sejarah batu tersebut adalah kapal milik Portugis yang sempat diserang nenek moyang. Kerap kali beberapa warga Pulau Ujir dan Wasir mencoba menyelam. Tepat di bawah Batu Kapal terdapat beberapa patung tua dan jangkar kapal. Usaha untuk mengangkatnya kerap kali gagal. Begitu kata guide lokal yang memandu jalannya cerita.


Speed boat masih melaju kencang. Pelan-pelan, dikuranginya kecepatan karena telah sampai di Pulau Babi. Dinamakan Pulau Babi bukanlah karena banyak babi. Jika diambil melalui foto udara, pulau ini memang terlihat seperti babi. Sayang sekali tim kami tak lengkap membawa peralatan. Foto ala kadarnya kiranya dapat mewakili kecantikan Pulau Babi tampak samping.

Beberapa kapal nelayan nampak sedang bersandar di sana. Kerap mereka bermalam demi memaksimalkan tangkapan ikan. Teripang salah satunya. Harga yang pantas mereka dapatkan dari satu kilogram teripang berkisar 2 – 3 juta. Mahal, bukan? Ini bukanlah teripang biasa. Hanya teripang gosok (kelas I super) yang dihargai jutaan. Teripang menjadi hasil tangkapan favorit para nelayan di seluruh Kepulauan Aru. Selain harganya yang tinggi, teripang masih bisa digunakan sebagai alat belanja/barter. Contohnya dalam membeli telepon genggam maupun sembako. Cukuplah nelayan menukarkan beberapa teripang dengan telepon genggam baru. Andai hasil tangkap teripang melimpah, bersegeralah mereka menuju Kota Dobo dan bertemu penjual barang dan sembako. Jual beli yang jarang bisa dijumpai saya kira. Inilah uniknya Aru. Tak hanya mengandalkan nilai rupiah. Mereka bisa hidup dan membeli apapun asal hasil tangkap teripang melimpah.


Setelah puas memotret Pulau Babi, kami singgah ke Pulau Wasir. Birunya lautan sangat mencuri perhatian. Rugi rasanya jika tak menghabiskan waktu tanpa mencicipi berenang di Pulau Wasir. Namun apa daya, jam yang sudah menunjukkan hampir di angka tiga mengharuskan kami cepat berbelok ke arah Kota Dobo. “Bahaya cuacanya”, kata pengemudi speed boat. Meskipun hari terlihat cerah, namun nelayan adalah pelaut yang berpengalaman. Ia dapat mengenal dan mencium bahaya dari bau angin laut, ombak, atau tanda-tanda alam lainnya.




Menutup hari di Kepulauan Aru banyak caranya. Memotret bintang salah satunya. Tak perlu menunggu tengah malam untuk melihat gugusan bintang di langit Aru Kota Dobo. Lepas ba’da maghrib, langit bertabur bintang akan membuat siapapun terpesona. Turun dari atas speed boat, saya tak mau menyia-nyiakan waktu. Segera saya memasang tripod dan mengatur kamera mode star trail. Menangkap jutaan bintang agak sulit jika tergesa-gesa. Jadilah beberapa foto saja yang saya hasilkan di pelabuhan Kota Dobo.


Sudah berakhir? Tentu belum. Kami menutup hari sembari mampir di Warung Iqbal. Pak Iqbal adalah kenalan baru saya asli Jawa Timur. Ia jauh-jauh merantau ke Aru untuk berjualan ikan bakar. Rasanya memang juara. Seporsi ikan segar dijual berkisar Rp30.000 – Rp50.000 tergantung berat timbangannya. Pasangan wajib dari ikan bakar di sini tentu sambal colo-colo. Sambal ini diracik dari cabe rawit, bawang merah, bawang putih, tomat hijau, dan kucuran jeruk nipis. Menutup hari dengan melahap ikan segar dan berburu bintang itu pengalaman yang menyenangkan, bukan?



P.S : Tulisan ini merupakan catatan perjalanan pekerjaan saya sebagai peneliti di Pusat Studi Pariwisata UGM dalam rangka review Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Aru.
Tulisan catatan perjalanan Kepulauan Aru lainnya dapat dibaca di:










Waw Aru! Memang benar Mas berita tentang Pulau Aru atau destinasi wisata nya masih jarang terbaca oleh saya. Melihat foto-fotonya Aduh eksotis banget ya. Kapan aku bisa datang ke sini? 🙂
Iya mba. Aku juga g pernah ngeliat Aru diulas media soalnya. Hehe. Padahal cakep gt destinasinya. Ini belum wisata baharinya lho, pengen nyobain diving di Pulau Ujir. hehe
Kerjaanku waktu kecil sering ngejar yang kayak kepiting kecil itu; larinya cepat banget ahahhahahahh
Iya mas. aku juga ngejar2 terus. tapi hewan ini cepet banget.. bergerombol gitu.. lucu ee
aku jadi dapat ide, akalu di Karimunjawa bakal nyari kepiting itu buat dipotret hahahaha
wakaka. ikut2an aja nih. susah nemuin ini
wooow menakjubkan
Terimakasih
Aru ternyata menyimpan permata tersembunyi.. Indah..
Mau dong aku dikasih kontak orang lokal kalo nanti pas bisa ke Aru.. 😀
jelas indah sekali. hehe.
Siap. tak kasih nomor bupati sekalian untuk menyambut blogger ternama
Kapan ya ke Maluku, keren kayak gini 🙁
yok mas.. hehe. bareng kesana
Pretty! This was a really excellent post. Thank you
for your supplied information
Saya baru membuat Yayasan Wallacea Aru. Nama Wallacea diambil dari nama Naturalis ternama Sir Alfred Russel Wallacea. Wallacea yang menulis buku Malay Arcipilago (Kepulauan Nusantara yang juga di terjemahkan menjadi Sejarah Nusantara). Wallacea tiba di Dobo tahun 1857 dan hampir 6 bulan menetap di Aru. Dalam bukunya tsbt ulasan tentang Kepulauan Aru terdiri dari 4 Chapter. Karena itu kami sangat menghormati Wallace. Yayasan ini dihadirkan untuk melestarikan lingkungan hidup, terutama konservasi alam dan perlindungan flora/fauna endemik yang pernah di catat oleh Wallacea selama di Kepulauan Aru. Yayasan Wallacea ini juga akan mengembangkan kegiatan di bidang Pariwisata, baik wisata alam, maritim dan budaya/sejarah. Saya juga saat ini sedang menulis Buku Kilas Balik Sejarah Kepulauan Aru. Saya bermimpi untuk membangun Museum Wallace Aru di Dobo. Terus terang saya tidak punya pengalaman mengelola Yayasan. Karena itu saya membutuhkan sukarelawan yang bersedia membantu saya mengelola Yayasan ini. Yang bersedia dapat menghubungi saya di hp no 081265301863 atau Email saya : vickboy3854@gmail.com
Terima kasih Mas Victor. Semoga yayasannya terus berkembang sehingga dapat melestarikan lingkungan di Aru secara berkelanjutan.
Mudah-mudahan kita bisa kolaborasi bersama ya
wah sedikit ulasan tentang aru serta di tambahkan beberapa gambar yang menggambarkan tentang aru sangat menarik sekali mas.
terima kasih banyak Mas
Mohon dibantu info rumah dikontrakkan atau di jual wilayah Dobo.terima kasih