Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru

Masih ingat cerita tentang Tual yang saya tulis kemarin? Judulnya ‘Mencapai Resolusi ke Pulai Kei, Maluku Tenggara’. Setelah dari Tual, kami langsung menuju Kepulauan Aru. Batalnya penerbangan salah satu maskapai membuat kami menggunakan Plan B, menyeberangi Kei – Aru menggunakan kapal Feri. Pengalaman baru lagi yang saya dapatkan di sini. Kami yang tak mau habis tenaga di perjalanan rela mengeluarkan rupiah demi kenyamanan. Pasalnya, kapal Feri di sini tidak menyediakan fasilitas kamar. Negosiasi teman saya untuk menyewa salah satu kamar ABK Feri berhasil. Dua belas jam lamanya kami berlayar. Melewati gelapnya malam di lautan.

Selamat datang di Dobo, Kepulauan Aru. Sibuk para porter menawarkan jasanya. Begitu pula penumpang kapal yang hilir mudik mengangkut barang dagangnya. Pelabuhan Dobo pagi itu sangat ramai. Di tengah kerumunan, telah siap rombongan yang menyambut kedatangan kami. Diantarlah kami menuju Hotel Mazda, salah satu hotel yang terhitung mewah di sana. Jumlah kamarnya yang tak banyak dan pelayanan ala kadarnya memang masih jadi kelemahan yang harus terus dibenahi.

DSC06721

DSC06735

DSC06741

DSC06782

Sebelum abad ke-15 dan 16, Pulau Maluku sudah menjadi bagian dari jalur perdagangan lokal di kawasan timur Indonesia, salah satunya adalah Pulau Kei dan Kepulauan Aru. Barulah di abad ke-16, Portugis masuk dan mulai melakukan penjelajahan menggunakan kapal-kapal. Pula, sebelum Perang Dunia II, orang Jepang mulai masuk ke Kota Dobo. Bahkan setelah berakhirnya Perang Dunia II, orang Jepang masih berada di sana dan mulai mengembangkan teknik mengolah mutiara. Orang Tiongkok kemudian masuk dan belajar dari mereka. Itulah sebabnya banyak pengusaha Tiongkok yang menguasai perekonomian di Kepulauan Aru. Bahkan sampai sekarang.

Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari. Itulah bahasa yang digunakan sebagai perwajahan dari potensi Kepulauan Aru. Bicara tentang mutiara, saya tak sempat datang langsung ke pabriknya. Memang secara penyerapan tenaga kerja, beberapa masyarakat di Kepulauan Aru ada yang terlibat langsung di perusahaan mutiara. Harga jual mutiara yang sampai di ekspor ke luar menjadikan Aru cukup terkenal. Juga Cendrawasih Lestari. Awalnya saya kaget dengan penggunaan ikon burung langka ini. Bayangan burung Cendrawasih sebenarnya masih kuat melekat di Papua. Namun di sini, memang beberapa tempat menjadi habitat dari burung Cendrawasih, salah satunya adalah Desa Wakua.

DSC06995

DSC07004

DSC07017

Kami berlayar bersama masyarakat lokal menggunakan speed boat dengan mesin berkecepatan 85 dan 45 PK. Sepanjang perjalanan dari Desa Wakua menuju tempat pengamatan burung disuguhi pemandangan hutan bakau dengan muara yang tenang. Gemericik air pada beberapa air terjun yang kami lewati menpercantik suasana. Semilir angin berhembus membuat saya nyaman duduk di kepala speed boat. Sementara itu, Kepala Desa Wakua mengatur laju speed boat dengan amat hati-hati agar tak terjebak pada sungai yang dangkal. Satu jam lebih lamanya kami berlayar dari titik Desa Wakua. Bagi saya, Sungai Manumbai yang menghubungkan Desa Wakua dengan lokasi pengamatan Cendrawasih masihlah perawan.

DSC07037

DSC07027

DSC07061

DSC07021

Budaya memang selalu melekat di sini. Pemangku adat lebih dulu masuk ke hutan untuk melakukan sedikit ritual menggunakan sirih pinang. Katanya, sirih pinang adalah bentuk permohonan ijin masuk hutan agar kami tak diganggu oleh penunggu hutan. Barulah kami menyusul masuk hutan. Salah satu dari mereka mengatakan, tak lebih dari satu jam untuk treking menuju lokasi pengamatan Cendrawasih. Saya tak percaya. Bahasa satu jam bagi orang timur adalah dua atau bahkan tiga kali lipatnya orang Jawa. Mereka terus berjalan. Begitu pula saya yang turut mengekor di belakang mereka. Suara kumbang dan burung hutan saling bersahut-sahutan meramaikan hutan. Kami berjalan semakin jauh. Sudah melebihi satu jam rupanya. Dari kami saling bertanya. Berapa lama lagi kami harus berjalan. Ternyata satu jam tadi belumlah separuh perjalanan. Ah. Kami saling mengaduh lelah.

DSC07094

“Berapa lama lagi?” Kami saling bertanya sambil memasukkan kembali kamera ke dalam tas. Jalan treking yang panjang membuat kami tak semangat lagi memotret hutan. Sepanjang jalan yang kami lewati, hanya bunga dan pohon merah yang menghibur hati. Di Aru, pohon merah ini setara dengan harga satu motor keluaran terbaru. Biasanya, pohon merah digunakan untuk membuat perahu. Semakin lama ia terendam air laut, semakin kuat dan tahan lama perahunya.

_DSC8766

DSC07111

Sudah tujuh anak sungai yang kami lewati. Anak sungai ke enam adalah anak sungai terbesar. Di sinilah kami mendapat kesegaran. Membasuh wajah dan kaki yang penuh lumpur. Kami singgah sebentar pada salah satu jembatan kayu yang dibuat oleh Mr. Louis, pemilik homestay yang berasal dari Swiss. Berjejer di antaranya rumah-rumah kayu yang masih dalam tahap pembangunan. Menurut masyarakat, sudah ada beberapa wisatawan mancanegara yang datang ke sini untuk melihat burung Cendrawasih. Masyarakat telah dilibatkan saat pembangunan homestay. Kami kemudian sedikit berdiskusi menilai pembangunan homestay di sini. Nampaknya ada yang keliru. Tak seharusnya homestay dibangun dekat dengan lokasi pengamatan burung Cendrawasih. Tentu hal ini dapat mengganggu keberadaan Cendrawasih. Mengingat burung Cendrawasih adalah burung yang cukup sensitif. Bau sabun, polusi dari asap bebakaran atau dapur makanan, riuh wisatawan, bisa saja membuat Cendrawasih makin terbang jauh masuk ke hutan. Akhirnya, makin sulit ditemukan.

2
Mr Louis (Swiss) sedang membuat fillm dokumenter di Hutan Desa Wakua – Foto: Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kep.Aru

DSC07125

DSC07136

DSC07133

Saya melirik ponsel yang tak bersinyal. Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Tak satupun Cendrawasih bertengger di pohon. Pemandu kami bilang, untuk dapat mengamati Cendrawasih, wisatawan harus sudah standby sejak shubuh. Jika sudah masuk siang, Cendrawasih akan berpindah hutan untuk mencari makan. Ah, sayang sekali. Empat jam treking tak mendapati satu pun Cendrawasih. Kemudian datang suara burung yang jarang saya dengar. Salah satu dari mereka bilang itu adalah suara Cendrawasih. Apakah mereka berusaha menghibur kami agar tak kecewa? Sebab kami tak dapat melihat langsung Cendrawasih di alam bebas.

DSC07166

Apakah empat jam treking adalah suatu penyesalan? Tidak juga. Meskipun kami mengeluh pada jalanan panjang yang melelahkan, perjalanan kami tak pernah sia-sia. Merebahkan sedikit saja badan di atas kepala kapal, lembayung senja datang menghibur kami semua. Memang, senja di bagian timur amat romantis. Apalagi dinikmati langsung di atas perairan Kepulauan Aru. Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari, semoga tetap terjaga sampai kami datang kembali, juga seterusnya.

DSC07225

DSC07279

DSC07245

DSC07227


Lokasi Desa Wakua

 

P.S : Tulisan ini merupakan catatan perjalanan pekerjaan saya sebagai peneliti di Pusat Studi Pariwisata UGM dalam rangka review Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Aru.

Tulisan catatan perjalanan Kepulauan Aru lainnya dapat dibaca di:

  1. Maluku Manise: Teman Baru dan Buah Tangan Terasi Khas Namara
  2. Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir
  3. Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru
  4. Mencapai Resolusi ke Pulau Kei, Maluku Tenggara
  5. Maluku Manise: Dari Kota Lama sampai Kota Dobo

Comments

comments

10 thoughts on “Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru

  1. Apa yang lahir dan tumbuh di alam liar memang tidak bisa diduga kehadirannya. Bisa saja belum saatnya melihatnya, ada kode di balik pohon hahaha. Kudu balik sana lagi dan luangkan banyak waktu dan jangan diburu waktu untuk melihat lebih dekat burung langka itu, Nif 😀

    1. Bener mas. Karena dia juga makhluk. Kadang tampak kadang tidak. Hehe. Nah iya mas, kayanya ada kesalahan pembangunan di sana, itulah sebabnya burung semakin menjauh dan sulit ditemukan. Lha homestaynya cuma beberapa meter dari lokasi pengamatan je

  2. Kalau dilihat dari peta sih wajar ada Cendrawasih di Aru, karena lokasinya juga berbatasan dengan Papua (di bawah). Aku yang tertarik malah itu aliran airnya, kayaknya kalau buat berendam seharian juga bakalan puas 😀

    1. Sekedar info tambahan untuk Insan Wisata, Kepulauan Aru itu secara geologi adalah bagian dari Pulau-Pulau Papua. Jadi ekosistimnya, baik flora dan faunanya mengikuti alam Papua. Pada zaman VOC dimasukkan ke maluku karena kekayaan alamnya, yaitu Burung Cendrawasih. Mutiara. Teripang dan hasil laut lainnya. Kepulauan Aru, Pulau Besar Papua dan Australia berada dalam satu dangkalan yang disebut Dangkalan Sahul. Sebelum adanya Air Bah, daerah ini merpakan salah satu Benua yang disebut Benua Sahul, dimana Papua, Kepulauan Aru dan Australia tergabung dalam satu daratan. Karena itu Ekosistim dan Manusianya semua memiliki kemiripan. Kepulauan Aru secara ekologi terletak pada Igir Merauke, yang berarti bagian dari daratan Pulau Papua.

  3. Tambahan info lagi untuk Insan Wisata. Kepulauan Aru sdh dikenal dan dikuasai oleh Kerajaan Sriwijaya di Abad 13. Raja Sriwijaya memberikan hadia Burung Cendrawasih dari Kepulauan Aru sebagai persembahan kepada Kaisar Cina. Karena itu, Cu Yok Wa, saudagar Cina melakukan pelayaran ke Timur Nusantara untuk melihat habitat Burung yang indah tersebut di Kepulauan Aru. Dalam perjalanan Saudagar Cina itu mulailah ditemukan Mutiara di Kepulauan Aru sehinggs Pulau Aru disebut sebagai Pulau Mutiara. Pelayaran Saudagar Cina ini menandai dimulainya perdagangan besar-besaran Burung Cendrawasih, Mutiara dan hasil laut lainnya seperti Teripang, Penyu, Dugong ,Sirip Ikan Hiu serta jenis kerang dan ikan lainnya yang memang melimpah dan merupakan kekayaan alam Kepulauan Aru, yang pada Abad 13 s/d 18 memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena itu dalam Sumpah Palapanya Patih Gajah Mada, salah satu daerah yang di sebut adalah Aru. Bangsa Portugis menginjakkan kaki di Kepulauan Aru pada Tahun 1511, yaitu Armada Laut yang dipimpin oleh Pelaut terkenal Antonio de Berauw dan Laksamana Fransisko Serano. Bangsa Belanda mengunjungi Kepulauan Aru pada Tahun 1602, tetapi resmi menguasainya dan membuka Postuduralnya pada tahun 1623 dan menempatkan petugasnya yaitu Yan Piter Cartens yang pada akhirnya juga menemukan Pegunungan Cartens di Papua. (Disadur dari Buku Kilas Balik Sejarah Kepulauan Aru, by Drs. Victor P, M.Si)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.