Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir

Perjalanan sepekan mengeksplor Kepulauan Aru belumlah selesai diceritakan. Selepas menjelajah hutan Desa Wakua, saya melanjutkan perjalanan menuju desa lainnya. Desa Ujir namanya. Dinamakan Ujir karena desa ini terletak di Pulau Ujir yang luasnya tak seberapa. Di antara desa-desa Kepulauan Aru bagian utara lainnya, Desa Ujir lah yang paling bersih dan asri. Di sini ada sisi menarik yang menurut saya adalah sesuatu yang jarang, bahkan langka.

DSC07586

Turun dari atas speedboat, tentu yang pertama kali saya lakukan adalah mengetuk pintu dan bertemu masyarakat lokal. Nilai-nilai kearifan lokal sangat mudah dijumpai di sini. Salah satunya adalah pesta adat Antar Padi. Walaupun komoditi utama Kepulauan Aru bukanlah padi, di beberapa pulau bagian utara adalah penghasil padi. Meskipun tidak seluas dan secepat panen di Jawa, tanaman padi di sini adalah sesuatu yang cukup sakral dan terus diperjuangkan masa panennya. Karena padi, setiap butir berasnya menjadi kenikmatan dan penguat kerukunan masyarakat Kepulauan Aru. Karena padi pula, setiap kampung dan perangkat pemerintah daerah akan berkumpul menyemarakkan waktu panennya.

Ada cerita menarik yang saya dengar langsung dari Paman Arifin, pemandu lokal di sini. Tanaman padi hanya boleh ditanam di tiga kampung (pulau) saja. Salah satu yang saya ingat adalah Pulau Toba. Berdampingan di sebelahnya adalah Pulau Wasir, Wokam, dan Ujir. Dapat dikatakan, padi di sini sangat sensitif. Bukan karena hama tikus, pupuk, maupun cuaca. Ada nilai sakral yang sampai saat ini masih dipercaya. Juga barangkali karena hukum alam yang menyebabkan tanaman padi menjadi begitu sensitif. Entahlah. Mereka semua percaya, terjadinya gagal panen disebabkan jika masyarakat Pulau Wasir datang ke Pulau Toba. Gagal panen juga akan terjadi jika masyarakat Pulau Wasir hanya melewati Pulau Toba. Bahkan, jangankan melewati, membicarakan Pulau Toba saja akan terjadi gagal panen. Begitu pula sebaliknya, masyarakat Pulau Toba tak bisa datang ke Pulau Ujir disaat waktu tanam padi. Jika hal ini dilanggar, terjadilah gagal panen. Namun jika tak ada yang melanggar, panen akan melimpah dan berkumpullah seluruh masyarakat Aru menikmati pesta panen padi selama sepekan lamanya. Apakah gagal panen pernah terjadi? Tentu saja pernah. Mereka masih yakin bahwa penyebab gagal panen karena adanya pamali yang dilanggar. Menarik, bukan?

Teguk secangkir teh membasahi tenggorokan saya. Sedari tadi saya sibuk menyimak dan mencatat cerita sejarah masyarakat Ujir. Bukankah keliling kampung bisa membuat saya menemukan pandangan baru? Tentu saja. Saya berkeliling ditemani Paman Arifin dan kawannya melihat jejak pitarah bangsa lain yang masih utuh di Ujir. Beberapa diantaranya adalah benteng, masjid tua, meriam peninggalan tentara Jepang, dan jangkar kapal milik bangsa Portugis.

DSC07663

DSC07660

DSC07595

DSC07633

DSC07652

DSC07655

DSC07658

Saya semakin menikmati perjalanan. Asri nian Kampung Ujir. Kanan kirinya ditanami pohon kelapa dan beberapa tanaman buah. Sekelilingnya adalah pantai dengan muara sungai yang tenang. Syahdunya angin pantai pula yang menemani dongeng Teteh Jafar Hatala. Teteh di sini adalah sebutan untuk kakek. Usianya telah genap 104 tahun, namun raganya masih segar. Walaupun menggunakan tongkat, Teteh Jafar masih kuat berjalan menemui kami di kebun kelapa miliknya. Teteh Jafar adalah generasi terakhir Pulau Ujir yang pernah andil memerdekakan bangsa ini. Sambil mengisap sebatang rokok, ia memulai menguak ingatannya. Bahwa benteng tersebut dulunya dibangun masyarakat kampung menggunakan kapur. Ia pun sempat terlibat dan bekerja di bawah tekanan tentara Jepang. Dua orang yang masih diingat namanya adalah Watanobi dan Ugita. Dua orang Jepang inilah yang pernah main pukul dengannya.

_DSC9269

_DSC9280

Sementara itu di sudut Kampung Ujir, berdiri megah Masjid An’nur yang tepat di depan terasnya terpajang meriam tua peninggalan tentara Jepang. Masjid hasil swadaya masyarakat ini kabarnya menghabiskan dana lebih dari dua miliyar. Masjid akbar di tengah kampung kecil dengan mayoritas penduduk beragama Islam seakan menunjukkan identitas Ujir sebagai kampung muslim di Kepulauan Aru. Tepat saja. Agama Islam ternyata dibawa pertama kali masuk ke kampung ini oleh seorang wali. Identitas muslim di kampung ini semakin kuat ketika saya mendapati adanya temuan Al-Qur’an tua yang ditulis menggunakan kulit pohon dengan jumlah 40 juz masih tersimpan rapi di rumah imam masjid. Sayang, imam masjid tak sedang di rumah. Tak sempat saya mendalami temuan ini karena Paman Arifin enggan bercerita. Menurutnya, ada porsi masing-masing dimana saat ini masih ada masyarakat yang memiliki kapasitas lebih layak bercerita tentang Al-Qur’an tua.

DSC07605

DSC07599

Kampung Ujir, kampung muslim dengan temuan sejarah dan asal-usul yang menarik menurut saya. Masjid tua, Al-Qur’an tua, benteng, meriam peninggalan Jepang, jangkar kapal Bangsa Portugis adalah temuan bernilai yang sangat langka. Bukanlah tanpa alasan kenapa Ujir lengkap akan peninggalan sejarah. Bahkan tak cukup hanya jejak masyarakat pribumi, pula ada Jepang dan Portugis yang singgah di sini. Kampung Ujir yang asli, semoga sejarahnya pun akan tetap lestari.


Lokasi Pulau Ujir

 

P.S : Tulisan ini merupakan catatan perjalanan pekerjaan saya sebagai peneliti di Pusat Studi Pariwisata UGM dalam rangka review Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Aru.

Tulisan catatan perjalanan Kepulauan Aru lainnya dapat dibaca di:

  1. Maluku Manise: Teman Baru dan Buah Tangan Terasi Khas Namara
  2. Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir
  3. Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru
  4. Mencapai Resolusi ke Pulau Kei, Maluku Tenggara
  5. Maluku Manise: Dari Kota Lama sampai Kota Dobo

Comments

comments

10 thoughts on “Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *