Maluku Manise: Teman Baru dan Buah Tangan Terasi Khas Desa Namara

Catatan perjalanan kali ini masih bertema Maluku Manise, khususnya kisa di Kepulauan Aru yang bulan lalu saya kunjungi. Bagi saya, perjalanan mengeksplor Aru menyimpan banyak kenangan yang wajib dituliskan. Tentang bagaimana budayanya, keindahan alamnya, pula kearifan lokal masyarakatnya yang di sana saya banyak belajar. Jika ditelisik, nama Maluku sebenarnya diambil dari dua bahasa. Yaitu bahasa Arab dan Ternate. Al Mulk dalam bahasa Arab diartikan sebagai kerajaan. Sementara Moloko dalam bahasa Ternate diartikan sebagai tanah airnya kerajaan, diantaranya adalah Kerajaan Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo. Namun sayang, di sini saya tak sempat belajar silsilah kerajaannya. Susah mendapati mereka yang berani bicara kerajaan. Alasannya karena masih ada keturunan yang layak berkisah.

Hari itu, langit Kota Dobo tidak secerah biasanya. Cuaca cukup buruk untuk menyeberangi lautan. Rencananya, kami akan menghabiskan hari berkeliling pulau-pulau di Aru bagian utara. Speed boat yang kami tumpangi beradu cepat dengan kapal motor lainnya. Seperti biasanya, saya mengambil duduk paling belakang berharap tak melewati banyak pemandangan indah selama perjalanan laut.  Matahari tak kunjung tampak pagi itu. Malu ia pada awan mendung yang lebih dulu menyambut kami. Perlahan, gerimis turun diikuti ombak besar. Kuyup badan saya terkena cipratan ombak bercampur hujan. Mama-mama dari Dinas Pariwisata membujuk saya untuk masuk ke dalam, namun saya masih enggan. Bukankah seperti ini yang menantang?

DCIM100MEDIA

Cukup lama kami di atas speed boat. Menyusuri banyak gugusan pulau tak bertuan. Sempat saya berpikir, jauh sekali mereka mencari penghidupan. Bahkan Kota Dobo yang belum sesak penduduk tak dipilihnya. Menurut cerita, sejarah persebaran masyarakat Kepulauan Aru berasal dari Pulau Eno Karang. Suku Aru masuk dalam rumpun Malenisia Pasifik yang terdiri dari 16 suku asli. Di sini mereka bekerja sebagai nelayan.

DSC06861

DSC06859

Tibalah kami di Desa Namara. Tugu selamat datangnya masih sederhana, namun melambangkan identitas masyarakat di dalamnya. Desa ini merupakan desa satu-satunya di Kepulauan Aru yang memproduksi terasi. Baunya dapat langsung tercium dari atas dermaga. Namara pagi itu masihlah sepi. Hari Minggu adalah hari para penduduk untuk memanjatkan doa bersama. Suasana Desa Namara sangat kental dengan nuansa Katolik. Gerejanya berdiri lebih megah dibanding rumah-rumah lainnya. Terdengar ceramah pendeta yang lantang suaranya walaupun tanpa pengeras suara.

DSC06864

Saya yang tak mau buang waktu kemudian memutuskan keliling kampung sendiri. Saya menyusuri gang-gang kecil rumah masyarakat yang masih sepi.  Berjumpalah saya dengan anak-anak Desa Namara yang sedang riang bermain karet. Sering saya jumpai, karet menjadi permainan tradisional yang telah merakyat di daerah Papua dan Maluku. Karet menjadi barang taruhan. Yang kalah harus membayar menggunakan karet. Makin banyak karet gelang di tangannya, berarti ia kerap memenangkan permainan. Nampaknya, adik dengan baju oranye jagoannya.

DSC06868

DSC06869

Entah kelucuan apa yang membuat mereka girang, saya menjadi penasaran. Rupanya, mereka pura-pura acuh pada kedatangan saya. Di balik jendela dan pintu rumah, mereka berusaha mengintip orang asing yang datang ke kampungnya. Mereka saling colek di balik pintu. Berusaha mencari perhatian dari tamu asing yang membawa tustel besar.

“Sini dik, ayo main!”, ajak saya.

Satu persatu dari mereka mendatangi saya dengan polosnya. Keriting rambutnya khas Maluku. Dengan senyum manisnya mereka bergaya di depan kamera.

“Yuk, siapa yang bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya?”, tanyaku.

Lantas mereka saling berebut mengacungkan jari untuk menerima tantangan. Kami bernyanyi bersama tanpa kehilangan satu lirik lagu Indonesia Raya. Lancar sekali. Saya sempat merekamnya.

“Siapa yang tahu Presiden Indonesia?”, tanyaku lagi.

“Jokowi”, serempak mereka menjawab. Syukurlah, orang nomor satu di negeri ini dikenal anak-anak Namara.

Saya tak mau lagi bertanya karena suara mereka lebih keras dibanding ibadah di gereja. Karena takut mengganggu, kemudian saya bersuara pelan. Pengalaman ini kemudian mengingatkan saya pada masa-masa pengabdian di  Tanah Papua. Daerah Timur memang memiliki medan yang menantang. Semuanya serba terbatas bahkan ketika saya harus tinggal di kampung yang jauh dari kota. Tak lama sebenarnya untuk bisa menyesuaikan diri. Hanya saja, orang yang terlahir di Jawa selalu rindu pada Jawa. Kemudian saya menemukan obatnya. Bukan hanya di Papua saja. Senyum dan canda anak-anak di Namara sepintas membuat saya lupa nyamannya Jawa. Wajahnya sangat riang, bukan?

DSC06903

DSC06893

DSC06883

DSC06880

DSC06873

Jujur, saya berharap lebih kemarin. Bagaimana caranya agar saya bisa diving dan snorkeling di pulau-pulau kecilnya. Namun ternyata, pengalaman inilah yang membuat cerita saya makin berwarna. Tepat jika kita menyebutnya Maluku Manise. Pulau yang dikaruniai keindahan alam dan budaya yang sangat kaya ini punya masyarakat asli sebagai pemain utamanya. Di sinilah kelak, banyak masyarakat yang menemukan cinta. Pada alam dan kearifan lokal masyarakat di dalamnya.  Di sini pula, saya bertemu teman-teman baru. Adik-adik dari Maluku yang lucu dan riang.

Pulang dari Namara, saya membawa buah tangan yang dibuat langsung oleh masyarakat lokal. Kemasannya masihlah sederhana. Belum terlalu diperkenalkan ke wisatawan. Terasi masih menjadi produk barter masyarakat Aru, atau cukup dijual di lingkungan tetangga. Tangan-tangan para Mama ini ternyata tak hanya terampil membuat kuah kuning dan papeda. Terasi khas Desa Namara ini dijual cukup murah, Rp15.000,00 seperti dalam foto. Sayangnya, saya tak sempat melihat proses pembuatannya karena datang terlalu pagi di saat masyarakat ibadah di gereja. Tak banyak waktu untuk bercakap-cakap lebih lama. Cukuplah nanti, rasa yang berbicara. Kemudian kami meninggalkan Namara. Keriangan mereka mengikuti saya sampai atas dermaga. Namara, semoga esok saya bisa kembali.

IMG_7952

DSC06921

 

Lokasi Desa Namara

 

P.S : Tulisan ini merupakan catatan perjalanan pekerjaan saya sebagai peneliti di Pusat Studi Pariwisata UGM dalam rangka review Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Aru bersama Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Kepulauan Aru.

Tulisan catatan perjalanan Kepulauan Aru lainnya dapat dibaca di:

  1. Maluku Manise: Teman Baru dan Buah Tangan Terasi Khas Namara
  2. Menyambangi Bukti Adat dan Sejarah di Pulau Ujir
  3. Mutiara Indah, Cendrawasih Lestari: Selamat Datang di Aru
  4. Mencapai Resolusi ke Pulau Kei, Maluku Tenggara
  5. Maluku Manise: Dari Kota Lama sampai Kota Dobo

Comments

comments

14 thoughts on “Maluku Manise: Teman Baru dan Buah Tangan Terasi Khas Desa Namara

  1. Anak-anak Namara lucu-lucu. Dan seperti anak-anak manapun mereka langsung bershabat setelah mengenal sedikit orang luar. Padahal awalnya malu-malu yah…Indah sekali pengalamannya di sini Mas Hanif 🙂

  2. Jadi pingin nyomot terasi-ne >.<
    Semakin ke sini rasanya pingin jelajah desa semacam Namara, tinggal lama di sana trus ikut beraktivitas layaknya lokal. Yuk kapan IW bikin trip mager di suatu desa, nggak terikat waktu pulang gitu 😀

    1. Wakaka. Iya mas. Kadang live in di desa kaya gini menarik lho. Belajar sama orang lokal. Haha. IW bukan travel woi. Kapan2 lah kita agendakan trip bareng live in di desa. Mulai yg deket dulu aja. Sleman opo Solo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.