No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Dari Kokorotan Hingga Kabaruan: Tapak Tilas Para Raja Talaud

by Hannif Andy Al - Anshori
Januari 9, 2017
11 min read
33

Talaud bukan hanya soal pulau perbatasan dan terluar. Jika ingin mengenalnya, sudilah harus mengunjungi pusat-pusat peradabannya. Melintasi pulau-pulau kecil dengan angin yang membuat tinggi ombak tak mudah untuk dilewati. Langkah kaki saya berhenti di sebuah pantai dengan tebing curam yang sangat sepi. Tak ada wisatawan maupun nelayan dengan geliat aktivitas menangkap ikan sehari-hari.

Napak tilas Gua Totom Batu

Gua Totom Batu, tapak tilas pertama yang saya singgahi. Gua ini terletak di Desa Tarohan, Pulau Karakelang. Tak mudah untuk mencapai gua ini. Saya harus merambat berpegang pada batuan tebing tajam yang licin bekas diguyur hujan semalam. Jembatan penghubungnya hanya kayu bundar dengan diameter 30 sentimeter.

Napak tilas Gua Totom Batu Talaud
Saya harus merambat berpegang pada batuan tebing tajam yang licin bekas diguyur hujan semalam. Jembatan penghubungnya hanya kayu bundar dengan diameter 30 sentimeter.

Abner Tindi, putra daerah Talaud, mewanti-wanti untuk terus memerhatikan tiap langkah kaki. Tergelincir sedikit saja, saya bisa jatuh ke jurang pantai. Saya terus merambat, berpegang pada batang pohon yang getas.

Di gua ini, terbentang pemandangan yang membuat bulu kuduk saya berdiri. Puluhan tulang belulang manusia, mulai dari kepala, hingga rangka badan terserak di pelataran gua. Kuburan siapa ini? Jun Atang, seorang penggawa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Talaud mulai berkisah.

Konon, tulang belulang di Gua Totombatu merupakan jejak pitarah manusia pada abad ke-17 ketika Raja Tatuhe memimpin. Perawakannya tinggi besar dan berbadan raksasa. Ia memimpin ribuan, bahkan lebih, prajurit melawan kerajaan di Mindanao Selatan, Filipina. Bersama prajuritnya, ia gugur di medan perang. Jasadnya tak dikubur. Ritual pemakaman mengantar Tatuhe dan pasukannya istirahat damai di Totombatu.

Versi lain menyebutkan, kumpulan tulang belulang di sini merupakan jasad masyarakat migran dari Mindanao, Filipina yang memulai kehidupan baru sebagai nelayan di Talaud. Empat yang akrab dikenal telinga masyarakat adalah Alambera, Puasa, Papaulla, dan Tatuhe. Mereka beranak pinak dan kemudian mendirikan kampung kecil di Totombatu. Setiap ada kematian, kepala jasad diletakkan di sebuah piring keramik, kemudian diletakkan di dalam gua. Salah satu dari kumpulan tengkorak tersebut diyakini milik Tatuhe.

Napak tilas Gua Totom Batu Talaud
Napak tilas Gua Totom Batu Talaud
Dengan diameter kepala 50 cm, Tatuhe adalah manusia raksasa pada abad itu. Ruas tulang betis dan pahanya memiliki ukuran 15 cm lebih panjang dari ukuran normal tulang betis dan paha manusia. 

Dengan diameter kepala 50 cm, Tatuhe adalah manusia raksasa pada abad itu. Ruas tulang betis dan pahanya memiliki ukuran 15 cm lebih panjang dari ukuran normal tulang betis dan paha manusia. Mirisnya, jumlah sisa tengkorak semakin berkurang. Salah satunya dibawa warga Belanda sebagai penelitian untuk melengkapi arsip-arsip historis Indonesia.

Saat hendak mengabadikan panorama tebing pantai Totombatu, langit yang cerah seketika berubah menjadi muram. Kedatangan kami nampaknya tak direstui, atau alam memang sudah saatnya mengirim hujan. Cuaca semakin memburuk kala kami berpamitan pada penunggu Totombatu. Angin besar datang. Hujan turun secara tiba-tiba.

Ishak Tamaroba berteriak. Ia punya firasat buruk pada alam, juga pada dunia luar yang tak kasat mata. Ditunjuk sebagai kepala adat masyarakat Talaud, Pak Ishak tentulah bukan sembarang orang. Kami kemudian berlari menuju mobil. Tak lama, hujan kembali reda.

Baca juga : Pulau Sara, Pesona Kepulauan Talaud di Bibir Pasifik

Napak tilas Gua Totom Batu Talaud
Saat hendak mengabadikan panorama tebing pantai Totombatu, langit yang cerah seketika berubah menjadi muram. Angin besar datang. Hujan turun secara tiba-tiba.

Menziarahi Makam Raja Porodisa 

Perjalanan kami berlanjut. Laju mobil membawa kami pada titik tapak tilas selanjutnya, Makam Raja Porodisa yang terletak di Desa Bannada, Kecamatan Gemeh. Mobil Hilux kami melahap jalanan panjang lebih dari tiga jam. Porodisa, nama raja yang juga menjadi brand pariwisata Kepulauan Talaud. Kata ini juga kerap keluar dari mulut pelaut Portugis manakala melihat kecantikan Talaud, “O.. Paradise”.

Tatkala pagi, Desa Bannada ramai dengan riang anak-anak pantai. Namun waktu itu, saya tiba di waktu maghrib dan listrik sedang padam. Dengan membawa sisa-sisa tenaga, saya melangkah malas-malasan. Kondisi badan saya mulai melemah, tak ada semangat, juga antusias mendengar cerita yang disampaikan Jun Atang.

Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud

Di dalam komplek tersebut, saya menjumpai banyak masyarakat lokal. Namun, hanya ada satu rumah yang bisa menjelaskan banyak riwayat. Dibawalah saya menuju kediaman Julianus yang tak jauh dari lokasi makam para Raja Porodisa.

Sudah lebih dari dua jam Abner Tindi berbincang menggunakan bahasa lokal. Benda-benda pusaka tak sembarang kemudian dikeluarkan atas perintah Julianus. Batu, meriam, hingga perabotan rumah tangga sisa kejayaan Raja Porodisa disimpan sangat rahasia di rumah ini. Salah satu yang unik adalah batu sakti yang dibawa Aki (orang tua) seberang rumah.

Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud
Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud
Batu, meriam, hingga perabotan rumah tangga sisa kejayaan Raja Porodisa disimpan sangat rahasia di rumah ini.

Batu sakti tersebut konon menjadi alat komunikasi pada masa Raja Porodisa. Pikiran saya ditabrakkan pada pilihan percaya–tidak percaya ketika disampaikan bahwa batu tersebut dapat menghubungkan penggunanya berkomunikasi dengan orang yang sudah mati. Tentu dengan bahasa Talaud kuno. Dan hanya si Aki yang boleh berkomunikasi. Sayangnya, perjumpaan saya dan Aki harus ditunda karena waktu telah masuk tengah malam.

Baca juga : Bertualang di Pulau Kabaruan, Kepulauan Talaud

Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud
Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud
Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud
Menziarahi Makam Raja Porodisa Talaud

Baca halaman berikutnya

Page 1 of 2
12Next
Previous Post

Perayaan Tahun Baru di Puncak Gunung Tunggak

Next Post

[Review] Hotel The Sunan Solo

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
[Review] Hotel The Sunan Solo

[Review] Hotel The Sunan Solo

Comments 33

  1. insanwisata says:
    9 tahun ago

    Benar sekali mas… peradaban Talaud harus diangkat. Selain baharinya yg kuat, tak lepas dari kearifan lokal. Bibir pasifik ini memang menggoda. Trimakasih sudah berkenan mampir

    Balas
  2. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Melihat seperti tengkorang itu kayak di toraja ya mas. Suasana ny masih asri banget nih dan kearifan lokal nya selalu djaga sama mereka.. *aku selalu mupeng klo baca tulisan mas hanif

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Aiss. Makasih mas e.
      Aku malah belum ke Toraja e.. tapi kalau d talaud terbengkalai situs2 ky gini

      Balas
  3. cumilebay says:
    9 tahun ago

    Kayak toraja gitu yaaa, jasad nya di letakan dalam gua

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Aku malah belum pernah ke Toraja e om. Ajakin dong..

      Balas
      • cumilebay says:
        9 tahun ago

        Ajak aku ke talaud yaaaa, kayak nya lebih mahal talaud di bandingkan toraja hehehe

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          aku belum pernah ke Toraja btw, hehe.
          Ayok sama aku aja ke Talaudnya

          Balas
  4. Rifqy Faiza Rahman says:
    9 tahun ago

    Menarik sekali. Pasti ada cerita-cerita historis di balik alamnya yang indah. Dan itu yang menarik 🙂

    Wah, saya belum pernah mengoperasikan drone, piye rasane ya? 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya mas. bener banget. ini yg menarik dari talaud.
      rasane pie ya. goyang2. Takut apalagi kalau ga keliatan dronennya. terus bunyi2 gitu. karena bukan punya sendiri sih. jadi khawatir

      Balas
  5. Syahr says:
    9 tahun ago

    wah gila, tengkoraknya banyak banget, itu asli atau rekayasa ya? kok bisa segitu banyaknya?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      asli lah mas

      Balas
  6. Mesra Berkelana says:
    9 tahun ago

    Semenjak mendengar ceritamu waktu kita kopdaran, aku jadi penasaran banget mas sama talaud.

    sepertinya Talaud ini jarang ya di dengar orang.

    Dulu waktu masi belajar IPS cerita sejarah portugis di talaud ga pernah dibahas juga .

    ternyata banyak sejarahnya ya.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      semoga bisa ke sini ya kalian Mba.
      Hhaa. aku aja baru denger namanya setelah denger lagu indomie. tapi lokasi persisnya belum paham saat itu

      Balas
  7. Mirwan Choky says:
    9 tahun ago

    Agak serem ya lihat tengkorak manusia itu.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      aku biasa aja mas. kecuali pas di Gua Larenggam. haha

      Balas
  8. Dhanang Sukmana Adi says:
    9 tahun ago

    wisata horor ini kak namnya..seyem seyem tengkorak berserakan di goa dimana-mana
    liat orang sana sepertinya jg serem serem ya kak..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      kalau org sana ga serem kok mas. hehe. ramah

      Balas
      • Ria says:
        9 tahun ago

        saya baru mau bilang, jauh2 mas ke sana buat wisata horor… Tp mereka bagian sejarah dan kita perlu tahu juga sih apalagi kl sdh kadung ke sana

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          hehe, ini tidak horor. Tapi sarat perjuangan nusantara

          Balas
  9. Rudi Chandra says:
    9 tahun ago

    Menarik banget jejak sejarahnya.
    Dan masih terjaga dengan baik.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya Mas e. semoga terawat terus

      Balas
  10. Budy says:
    9 tahun ago

    kebayang kalo malem pasti tempanya agak spoky ya… hehe

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      kwkw. spoky? kaya gimana itu.
      Yang pasti serem

      Balas
  11. winny says:
    9 tahun ago

    ya ampun salut dengamu udah menginjakkan kaki ke tempat yang jarang di datangin orang

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      aku malah lebih salut denganmu Mba. hehe. Semoga mba bisa ke sini ya melihat langsung

      Balas
  12. Alia Fathiyah says:
    9 tahun ago

    Waaaa blog nya keceeee, informasinya lengkap, juga fotonya mendukung..hebat banget bisa konsisten nulis traveling, aku aja sussaahhh hahahaha

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Makasih Mba Alia. Yuk, saya jg masih belajar buat konsisten

      Balas
  13. insanwisata says:
    9 tahun ago

    benar. Indonesia luas Mba. dan Timur punya kearifan lokal yang unik dan beragam.
    Iya Mba. Saya Klaten

    Balas
  14. Angel Sabari Tinihada says:
    5 tahun ago

    Senang skali bisa liat wajah nenek Elizabeth Bambulu
    Suatu kebanggakan menjadi cucu nenek Elizabeth

    Balas
    • Hannif Andy says:
      5 tahun ago

      Terima kasih sudah mampir. Salam untuk Nenek Elizabeth

      Balas
  15. Fernando says:
    5 tahun ago

    Luar biasa mas,, terima kasih sudah menuliskan kisah Kota Salibabu

    Balas
  16. Salem mangambea says:
    1 tahun ago

    Saya suka sejarah Talaut karena saya adalah putra Talaut

    Balas
  17. Anonim says:
    2 bulan ago

    kak saya mau tau banyak sejarah tentang kerajaan talaud krn semua cerita ttg tempat itu sama persis yang di cerita kan alm.oma saya dulu…saya dulu krn masih anak”yah cuma dengar”aja ternyata semua yang dia ceritakan alm.oma saya memang benar ada

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller