Membaca kisah Raja Manee dan Larenggam di Gua Larenggam
Menjelajah destinasi timur membuka pikiran saya, khususnya bagaimana saya bersikap menghormati kearifan lokal yang ada di dalamnya. Ketika nilai-nilai mistis di luar kemampuan manusia benar-benar ada. Ketika jumlah tentara dan peralatan tempur yang sekadarnya, mampu memukul mundur pasukan Belanda dari pulau paling utara Indonesia. Pun akhirnya saya semakin percaya ketika saya dibawa masuk menuju Gua Larenggam, Desa Arangkaa, Kecamatan Gemeh.
Jun Atang kembali berkisah. Jejak pitarah pada Gua Larenggam ini menceritakan tentang riwayat Raja Manee dan Larenggam yang tak mau tunduk pada Belanda. Keduanya pun harus gugur di tangan Belanda. Racun ganas telah membunuh Raja Manee. Sementara Raja Larenggam susah dibunuh, istrinya salah meramal.
“Ada satu yang dapat mengalahkan mereka. Kau serang mereka tanpa mengenakan celana”, ramal sang istri.
Tanah terang, langit gelap. Larenggam tak gentar melawan Belanda. Pada akhirnya, Belanda berhasil mengepung pasukan Larenggam. Kemudian membakar kerajaan dan isinya. Termasuk Larenggam dan istrinya.
Sebagai desa paling tua di Talaud, masyarakat Bannada ditakuti banyak orang. Pada kesaktian dan nilai keramatnya, tak sembarang orang berani melawat ke Desa Bannada. Desa Payung Utara ini telah menjadi tempat masyarakat jagad Talaud berguru pada ilmu kebal dan kebatinan. Pun demikian di Gua Larenggam. Ada rahasia yang tak sembarang orang mengetahuinya.
Konon salah satu rahasia tersebut ada pada Gua Larenggam. Yang pada salah satu pintunya, akan mengantar tetua adat pada gua bawah tanah tempat Raja Manee dikubur. Dengan penasaran, saya spontan mencari-cari. Nihil. Tak ada pintu masuk.


“Hanya kekuatan supranatural tetua adat yang mampu membuka pintu Gua Larenggam”, ujar Mas Jun.
Di gua ini, berserak remukan tengkorak manusia dengan bau yang tak sedap. Mereka adalah para prajurit Larenggam yang gugur ketika bertempur melawan Belanda. Suasana angker pun menyelimuti kawasan ini.
Sepanjang jelajah jejak pitarah para Raja Talaud, saya disuguhi pada angkernya suasana. Mulai dari tengkorak manusia, bau tak sedap tulang belulang, hingga alam yang secara tiba-tiba mengirimkan hujan, semua terpatri dalam ingatan yang menyeramkan.

Kota Pusaka Salibabu
Perjalanan saya membaca tapak tilas para Raja Talaud ditutup pada kunjungan di hari keempat, di Desa Salibabu, Kecamatan Salibabu. Desa yang tertata rapi ini punya ratusan masyarakat yang sangat ramah. Bolehlah saya sampaikan, Salibabu adalah Kota Pusaka Kepulauan Talaud.
Bangunan cagar budaya masih dihuni tak merubah bentuk aslinya. Menjadi beranda utara negeri, Salibabu dijadikan pintu masuknya kapal-kapal Portugis. Reruntuhan dermaga kapal yang dibangun menggunakan batu karang menjadi saksi masuknya Portugis di Bumi Porodisa.

Seisi rumah menyambut saya ramah. Mereka mengajak saya mengitari rumah raja yang sederhana, menyaksikan meriam pemberian Belanda, dan membaca tulisan tangan pada manuskrip penunjukan Raja Bambulu oleh Belanda menjadi jogugu (kepala distrik). Mereka adalah para generasi Raja Bambulu keempat, yang tak lupa pada sejarah, yang melalui cerita-cerita mereka diharapkan Bambulu selalu dikenang.
Saya berkesempatan berbincang singkat dengan Elizabeth Bambulu. Jun Atang menerjemahkan pertanyaan saya. Di usianya yang tengah menginjak 91 tahun, Elizabeth bercerita tentang darah juang Raja Bambulu saat melawan Belanda. Rumah yang dibangun pada 1916 ini menjadi tempat Elizabeth dan keluarganya menghabiskan sisa umurnya.

Dari Kokorotan hingga Kabaruan, menyaksikan tapak tilas para Raja di bibir pasifik nusantara. Andai saya memilih untuk bekerja seharian menatap layar perangkat pintar, tanpa menjelajah, bahkan tanpa membaca, saya tak akan dapati cerita para raja di Bumi Porodisa.
O…Paradise. Sudah sepantasnya, Talaud adalah surga bagi penggemar budaya dan penikmat baharinya. Semoga esok, dapat menyambanginya lagi.


Bagaimana cara menuju Kepulauan Talaud?
- Kamu dapat memilih penerbangan menuju Manado, kemudian menuju Melonguane.
- Jika ingin menuju Kecamatan Gemeh, dapat menggunakan mobil sport (double cabin) karena sebagian jalannya belum beraspal.
- Untuk menuju Totombatu, hanya membutuhkan waktu 30 menit dari pusat Kota Melonguane.
- Untuk menuju Kecamatan Salibabu, kamu dapat menggunakan speedboat dari Pelabuhan Melonguane – Kecamatan Lirung. Kemudian menggunakan transportasi umum (becak motor) menuju Desa Salibabu.
- Jika membutuhkan pemandu wisata dan informasi seputar pariwisata Talaud, datanglah langsung menuju Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kepulauan Talaud. Mereka sangat senang dapat membantumu.










![[Review] Hotel The Sunan Solo](https://insanwisata.com/wp-content/uploads/2020/01/P5214079-75x75.jpg)
Benar sekali mas… peradaban Talaud harus diangkat. Selain baharinya yg kuat, tak lepas dari kearifan lokal. Bibir pasifik ini memang menggoda. Trimakasih sudah berkenan mampir
Melihat seperti tengkorang itu kayak di toraja ya mas. Suasana ny masih asri banget nih dan kearifan lokal nya selalu djaga sama mereka.. *aku selalu mupeng klo baca tulisan mas hanif
Aiss. Makasih mas e.
Aku malah belum ke Toraja e.. tapi kalau d talaud terbengkalai situs2 ky gini
Kayak toraja gitu yaaa, jasad nya di letakan dalam gua
Aku malah belum pernah ke Toraja e om. Ajakin dong..
Ajak aku ke talaud yaaaa, kayak nya lebih mahal talaud di bandingkan toraja hehehe
aku belum pernah ke Toraja btw, hehe.
Ayok sama aku aja ke Talaudnya
Menarik sekali. Pasti ada cerita-cerita historis di balik alamnya yang indah. Dan itu yang menarik 🙂
Wah, saya belum pernah mengoperasikan drone, piye rasane ya? 😀
iya mas. bener banget. ini yg menarik dari talaud.
rasane pie ya. goyang2. Takut apalagi kalau ga keliatan dronennya. terus bunyi2 gitu. karena bukan punya sendiri sih. jadi khawatir
wah gila, tengkoraknya banyak banget, itu asli atau rekayasa ya? kok bisa segitu banyaknya?
asli lah mas
Semenjak mendengar ceritamu waktu kita kopdaran, aku jadi penasaran banget mas sama talaud.
sepertinya Talaud ini jarang ya di dengar orang.
Dulu waktu masi belajar IPS cerita sejarah portugis di talaud ga pernah dibahas juga .
ternyata banyak sejarahnya ya.
semoga bisa ke sini ya kalian Mba.
Hhaa. aku aja baru denger namanya setelah denger lagu indomie. tapi lokasi persisnya belum paham saat itu
Agak serem ya lihat tengkorak manusia itu.
aku biasa aja mas. kecuali pas di Gua Larenggam. haha
wisata horor ini kak namnya..seyem seyem tengkorak berserakan di goa dimana-mana
liat orang sana sepertinya jg serem serem ya kak..
kalau org sana ga serem kok mas. hehe. ramah
saya baru mau bilang, jauh2 mas ke sana buat wisata horor… Tp mereka bagian sejarah dan kita perlu tahu juga sih apalagi kl sdh kadung ke sana
hehe, ini tidak horor. Tapi sarat perjuangan nusantara
Menarik banget jejak sejarahnya.
Dan masih terjaga dengan baik.
iya Mas e. semoga terawat terus
kebayang kalo malem pasti tempanya agak spoky ya… hehe
kwkw. spoky? kaya gimana itu.
Yang pasti serem
ya ampun salut dengamu udah menginjakkan kaki ke tempat yang jarang di datangin orang
aku malah lebih salut denganmu Mba. hehe. Semoga mba bisa ke sini ya melihat langsung
Waaaa blog nya keceeee, informasinya lengkap, juga fotonya mendukung..hebat banget bisa konsisten nulis traveling, aku aja sussaahhh hahahaha
Makasih Mba Alia. Yuk, saya jg masih belajar buat konsisten
benar. Indonesia luas Mba. dan Timur punya kearifan lokal yang unik dan beragam.
Iya Mba. Saya Klaten
Senang skali bisa liat wajah nenek Elizabeth Bambulu
Suatu kebanggakan menjadi cucu nenek Elizabeth
Terima kasih sudah mampir. Salam untuk Nenek Elizabeth
Luar biasa mas,, terima kasih sudah menuliskan kisah Kota Salibabu
Saya suka sejarah Talaut karena saya adalah putra Talaut
kak saya mau tau banyak sejarah tentang kerajaan talaud krn semua cerita ttg tempat itu sama persis yang di cerita kan alm.oma saya dulu…saya dulu krn masih anak”yah cuma dengar”aja ternyata semua yang dia ceritakan alm.oma saya memang benar ada