Rayuan itu sebenarnya datang dari kawan lama saya di Yogyakarta, yang juga putra daerah Tual, Muhammad Ali Fatha Seknun. Berkali-kali ia meyakinkan saya untuk datang menyambangi tanah kelahirannya, Pulau Kei. Dalam ajakannya, ia bertaruh bahwa saya tak akan kecewa selama di sana.
“Kei punya seperti ini!”, ia berkeras hati saat setelah saya menunjukkan foto dokumentasi di Raja Ampat.
Saya menyenangi cerita-ceritanya tentang bagaimana ia harus pulang untuk berjuang membangun daerah yang rupanya kaya potensi. Rayuan itu lantas membuat saya semakin memantapkan mimpi.
Hari itu sebelum terbang, saya mengabarkan kedatangan saya melalui pesan singkat. Ia nyaris tak percaya dan langsung menelpon saya. Menurutnya, saya adalah teman pertamanya di Jawa yang berkunjung ke kampung halamannya. Meskipun tak datang sendiri, akhirnya saya berkesempatan bersilaturahmi dan melihat langsung pesona Kei.
***
Kabut tipis menyeruak saat sinar matahari memaksa masuk dari jendela kamar tempat menginap saya. Tual cukup tenang pagi itu. Lebih tepatnya, tak ada polusi suara yang menganggu tidur nyenyak saya hingga matahari naik cukup tinggi. Hanya baling-baling kipas di langit kamar penginapan yang paling pertama berisik saat saya membuka mata dan mengumpulkan nyawa.
Ali Fatha Seknun (26) melepas keberangkatan kami. “Pakai dua motorku ini. Nikmatilah Kei. Kalau ada apa-apa, segera kabari!”, ujarnya ramah sambil menyerahkan kunci.
Pria yang akrab disapa Ali ini sekarang sedang mengawal koperasi dan mengembangkan sekolah rakyat bernama Kei Cerdas. Pengalaman panjang dari hasil mengunduh ilmu selama lima tahun di kampus dan menjadi senat mahasiswa tak membuatnya lupa pada kampung halamannya. Ia terus aktif meminta saran kepada kami yang di Jawa. Membangun relasi, hingga mempromosikan daerahnya.
“Ayolah, datang ke Kei!”, ajaknya kepada kami yang di Jawa.
Saya meninggalkan penginapan cukup pagi. Dengan mengendara sepeda motor pinjaman, saya berkeliling kota Tual. Mulai dari pasar, hingga tempat wisata yang masih sepi. Tujuan utama saya adalah Pantai Pasir Panjang. Teman saya menobatkan pantai ini memiliki pasir tercantik di dunia. Motor melaju pelan. Mengarah mengikuti panduan papan jalan; Pantai Pasir Panjang (Pantai Ngurbloat).

“Ayo, lompat!”, ajak teman saya setelah motornya dibawa menepi ke salah satu gazebo warung pinggiran.
Ia membanting badan besarnya ke atas pasir. Ia berulang kali mencoba mendaratkan kaki dan badannya secara bersamaan ke atas pasir pantai. Saya pun merasakan keriangan yang sama. Pasir halus bersih, bak bedak dan tepung.


Terik tak terasa membakar kulit. Hari itu, saya benar-benar menikmati suasana pantai. Tak ada wisatawan lainnya selain kami berempat. Pun tempat ini jauh dari ingar-bingar kendaraan yang memekakkan telinga. Telinga saya hanya dimanjakan oleh suara ombak, nyanyian camar, dan tawa yang pecah. Meski jarak umur kami cukup jauh, kami cukup bisa mengakrabi diri.
Terpikat Pantai Ngurbloat
Sepanjang pengalaman saya, pantai secantik ini memang baru saya jumpai di Pulau Kei. Di tepi jalan utamanya ditumbuhi pepohonan khas pesisir, seperti pohon kelapa yang turut mempercantik panorama. Di kejauhan, terdengar burung camar bernyanyi sembari meliuk melintasi ombak yang cukup tenang.
Tak ada pecahan rumah umang-umang maupun karang laut. Dari ujung sampai habis ujungnya, adalah pasir putih yang sangat halus. Rasanya tak akan kecewa jika harus menghabiskan baterai kamera untuk memotret sepanjang Pantai Ngurbloat, atau biasa disebut Pantai Pasir Panjang.

Inilah Pantai Pasir Panjang. Di mana masyarakat sangat menjaga kelestarian alam. Lapak-lapak warung yang berjejer di tepian jalan tak merubah pemandangan lanskap alam. Hal ini juga terlihat dari bagaimana mereka menjaga kebersihan.
Mendung mulai bergelayut di atas langit Pantai Pasir Panjang. Tapi awan hitam tak segera menjatuhi rintik hujan. Tak berselang lama, langit kembali cerah merekah.
“Mendung yang hanya numpang lewat”, cekikik teman saya.


Di atas meja, telah tersaji secangkir kopi, pisang goreng beserta sambalnya. Jamuan sederhana ini menjadi pemungkas perjalanan kami menikmati Pantai Ngurbloat. Mencocol pisang goreng dengan sambal adalah pengalaman pertama saya menikmati hidangan gorengan. Saya memilih untuk tidak bersantai lebih dini. Masih banyak sudut yang saya bisa abadikan, meski saya yakin, satu jam tak akan habis menyisiri Pantai Pasir Panjang.
Saya melepas penat sembari berbaring di atas pasir dengan penuh dahaga. Di hadapan saya, laut membentang luas menyisakan garis tepi bumi dengan warna antara hijau dan biru tosca. Memang benar, rayuan Kei membuat saya betah berlama-lama. Saya pun sepakat dan rasanya tidak berlebihan jika harus menempatkan pantai ini sebagai salah satu pantai tercantik di Indonesia.

Kei dan Pasir Panjangnya menyisakan banyak kenangan yang tak akan terlupakan. Satu hari belum cukup untuk mengenal Kei dengan segala potensinya. Mengambil judul tulisan “Ketika Kei Merayu Untuk Kembali” tentu bukan tanpa alasan.
Saya masih terus bermimpi. Saat membuka jendela kamar, pemandangan pertama yang ingin saya lihat adalah bertemu masyarakat Kei dengan logat bahasa daerahnya. Dari sini saya terus berikhtiar untuk sesegera mungkin bisa datang kembali.
Baca juga : Tercurah Asa, Teruntuk Tanjung Binga












Wow Maluku to ternyata. Pingin euy ke Maluku. Coba ajak-ajak
Hehe. segera Mba, ke Maluku
Kalo aku ke Kei nanti aku nyebut namamu aja ya, Nif. 😀
Sumpah pasir pantainya menggoda sekali. Putiih
Haha. sebut aja. Tapi lebih enak sebut nama temenku.
Bukan hanya merayu kembali orang yang sudah datang, tapi juga merayu kami-kami yang belum datang..
Pantai cantik + sepi pengunjung = sempurnaaa
-Traveler Paruh Waktu
Semoga lekas dipertemukan dengan Kei yang cantik ya Mas
Pasirnya keliatan alussss bangeeeeeeeeet, belum nyiur melambai lambai nya itu. Bikin pengen buka pintu ke mana saja.
Btw kok kamu bocor2in umur orang sih
bukan keliatan lagi Mba. Tapi emang alusss banget.
Hahaha. Sapa tau dia bisa dapat jodoh dari pembaca blog ini
Nif, kayaknya main bareng ke sana asyik loh *eh buahahahahah
Kali aja mau mengepakkan sayap di sana juga.
Ke Karimun dulu aja. maburke layangan
aku pingin ke Kei tapi belum terealisasi karena banyak kendala.
Bantulah aku Insan Wisata dengan nama besarmu..
nama besar insanwisata cukup di hati. Haha.
Kesan pertama: minimalis banget pantainya. Putih, bersih, dan sepi. Beruntung warga sana punya pantai sebagus itu.
Benar sekali Mas Iyos. Betah rasanya kalau berlama2 di sini sambil makan pisang goreng dicocol pakai sambal. hehe
Yaampun pasir & langitnya…. Akkkkkkkk rasanya pengin gegulungan liat yg begini. 🙁
jangan..entar kamu kaya pisang goreng
Lihat foto pantainya kok aku pengen mewek ya ahahahaha, apaan cobak. itu baguuuus banget. mengingatkan pada sesuatu yang entah. seperti ada yang memanggil-manggil. ku ingin gegulingan di pasir pantai sambil pakai kaos merah 🙂
seperti kenangan bersama mantan? atau seperti plesiran berkesan bersama Mas Can? hehe
Foto paling bawah itu putra duyungnya mulai merapat ke darat ya?
ampun mas Wawaan…..kawkawk
Putra duyung terdampar cari ibu duyung
Waduh bagus banget Kei ini ya. Foto-foto nya persis seperti postcard
Yoi Mas, Kei memang cakep