Jalan menuju Pulau Giliyang merupakan jalanan cantik bagi para penyuka petualangan. Terletak di Kabupaten Sumenep, Madura, Pulau Giliyang belum seeksis ikon wisata Jawa Timur lainnya. Pulau Giliyang juga dinyatakan sebagai pulau dengan kadar oksigen terbaik nomor dua di dunia setelah Yordania. Tergoda, saya pun tertantang untuk berkeliling pulau kecil ini.

Ditemani jerit serangga hutan, udara yang dingin segar menebar menyelimuti jagat raya Giliyang. Menumpang Dorkas, atau Odong-odong (sebutan masyarakat lokal) menjadi cara paling asyik berkeliling Pulau Giliyang. Putaran gas motor Odong-odong sengaja dimainkan. Kami ikut teriak menikmati pacuan kecepatannya. Jalanan di Pulau Giliyang memang tak besar, juga tak ramai lalu lalang. Percayalah, berkeliling pulau ini tak akan membuatmu tersesat.
Saya menyapa satu persatu warga sepanjang perjalanan. Tidak ada raut wajah yang acuh dari mereka. Kaum lanjut usia di Giliyang memang sulit berbahasa Indonesia. Meski begitu, mereka tetap ramah melempar senyum pada kami yang melewati kebun-kebunnya. Goa Mahakarya pun hadir melengkapi khazanah pesona alam dan budaya di sana. Gua ini tak jauh dari pemukiman penduduk, hanya dipisahkan areal luas kebun penuh tanaman palawija.

Bersama Abdullah (33), saya masuk menyusuri Goa Mahakarya. Tak seperti pemandu wisata yang saya temui biasanya, Abdullah tampil sederhana mengenakan sarung, batik, dan songkok seperti sedang ingin melawat ke tempat suci. Saya terus mengekor di belakangnya untuk menggali banyak cerita Goa Mahakarya.
Dalam upaya mencegah hal-hal buruk terjadi, mulut gua dipagar sederhana agar tak ada yang masuk tanpa ijin pun tanpa diantar juru kunci. Sebab, tak semua orang paham akan nilai-nilai keindahan yang tercipta di sana. Bayangkan jika Abdullah tak pandai bercerita tentang muasal terbentuknya unsur-unsur gua. Pastilah gua hanya jadi imbas tangan-tangan nakal yang mengurangi keindahannya. Seperti tepat di depan pintu masuk gua, ada coretan kotor yang sengaja saya abadikan. Perihal eksistensi, cobalah lakukan dengan cara yang bijak.

Saya mengekor, memasuki mulut gua yang sempit dengan stalaktit yang menghias manis di antara atapnya. Badan dipaksa membungkuk agar muat menjangkau sampai perut bumi Giliyang. Lewat penerangan lampu senter Abdullah, saya merangkak cukup hati-hati karena tak dibekali perlengkapan keamanan. Udara segar yang menaungi Giliyang sedari tadi berubah menjadi pengap. Sayup-sayup penginderaan saya hanya sebatas pada sorot lampu senter yang dibawa Abdullah.
Goa Mahakarya dahulu bernama Goa Celeng, karena banyak babi yang berkeliaran di sekitaran gua. Sejak berkurangnya populasi babi, Goa Celeng berubah nama menjadi Goa Mahakarya. Sementara itu, banyak mitos yang beredar di masyarakat tentang nilai mistis Goa Mahakarya. Gua ini kerap digunakan sebagai tempat bersemedi sekelompok orang pencari amanat gaib. Pun ia harus mau berpose seperti orang yang sedang bersemedi.


Sembari treking santai, mata tiada henti menjelajahi setiap detail bebatuan. Di Goa Mahakarya, terdapat ruang yang cukup terang untuk menerawang perut cantik bumi Giliyang. Sinar matahari memaksa masuk untuk memberi harapan hidup bagi tumbuhan yang merambat di antara langit-langit Goa Mahakarya. Daun-daun yang mulai kering kecoklatan seakan berebut pendar terakhir matahari di sore hari.
Daya tarik yang khas dari Goa Mahakarya bukan hanya pada lubang-lubang cahaya di antara langit-langitya. Tetapi juga pada aneka rupa bebatuan di sana. Padu padan batu dari mulut gua hingga pintu keluar, kaya unsur keindahan. Pada atap gua, tampak ratusan stalaktit menggantung indah. Ditunjukkan pada saya salah satunya, Batu Gong, yang ketika dipukul batu ini menghasilkan suara layaknya gong.
Baca juga : Mengejar Superman’s Big Sister di Goa Barat, Kebumen

Perlu diketahui juga, di gua ini masih terdapat banyak stalaktit yang aktif meneteskan air. Saat ada yang ingin menyentuh, bijak Abdullah menegurnya. Tentu, akan membutuhkan waktu ribuan tahun lamanya untuk air bisa mencipta keindahan satu senti stalaktit seperti ini. Stalaktit dalam perjalanannya tumbuh ke bawah meneteskan air, sementara stalakmit tumbuh ke atas kala tetes air membasahi ujung tonjolan yang ditinggalkan. Bebatuan ini punya nyawa yang akan terus hidup, dan Abdullah akan terus melihatnya, tumbuh dan terus tumbuh.
Abdullah kali ini sukses membuat saya terkesan. Secara tak langsung, Abdullah menyampaikan hikmah filosofi kehidupan. Bahwa manusia hadir berdampingan dengan alam, bukan untuk menguasai, bahkan merusak keindahan alam.
Soal dari mana ia dapat banyak pengetahuan soal gua, atau yang lebih rumit disebut dengan nama speleology, didapatnya dari banyak pecinta alam yang menjajal adrenalin Goa Mahakarya juga para akademisi dari ITS yang turut membantu pengadaan penerangan melalui lampu bertenaga surya.
Bagusnya, di Goa Mahakarya tersaji tak hanya satu ruang pamer pesona perut bumi Giliyang. Ada sekitar tujuh ruang yang sudah saya sambangi bersama Abdullah. Sepanjang dinding Goa Mahakarya, terdapat guratan indah mahakarya Sang Pencipta. Ada Batu Babi, yang memang tampak seperti babi. Batu Naga, dengan taring giginya yang siap menerkam mangsanya. Batu Kristal, serta Batu Beda. Uniknya, Batu Beda dapat menghasilkan bunyi seperti alat musik kulintang. Mulai nada do ke nada do, dimainkan apik Abdullah.
Terus menuju semakin ke dalam, kesempurnaan perjalanan susur gua mencapai klimaks manakala batu-batu tajam berserak cantik di atas dinding-dindingnya. Pada beberapa sudut dapat dilihat banyak pilar perpaduan antara stalaktit dan stalakmit yang begitu menawan. Saya terus berpindah dari ruang satu menuju ruang lainnya. Mengekor dipandu Abdullah yang merangkak demi menunjukkan sisi lain Goa Mahakarya.
Baca juga : Menyambangi Madura. Unggul Sumber Daya, Kreatif Berkarya



Masih dalam satu kawasan, terdapat ruang yang mirip panggung pertunjukan. Tersusun undak-undakan bebatuan Giliyang yang tak begitu tinggi. Dari atas lubang yang melingkar, masuk cahaya matahari menembus Goa Mahakarya yang menyinari hampir separuh ruangan. Kami secara bergantian berfoto di sini.
Di Goa Mahakarya, ada salah satu lorong yang menghubungkan langsung ke pintu keluar. Lorong yang sangat sempit, gelap, dan berbau tak sedap. Makhluk yang paling mudah dijumpai di sini adalah sekelompok kampret (kelelawar kecil) yang bergelantungan di dinding gua. Jarang orang memilih rute keluar lewat sana. Namun hari itu, Abdullah menawarkan.
Baca juga : Telusur Goa Tanding dan Kisah Sumur Ajaib
Saya kembali merangkak dan membungkukkan badan. Mulut gua kali ini lebih sempit dibanding di awal. Puluhan kelelawar terusik tidurnya. Disekap udara pengap bau kotoran kelelawar membuat kami sesak napas. Dan segera, kami menuju pintu keluar. Di ujung lorong, usai mengalungkan kembali rantai besi pada pintu pagar bambu Goa Mahakarya, Abdullah mengantar saya. .
Pesona wisata Madura tersimpan dalam bingkai kenangan yang tak mudah terlupakan. Catatan perjalanan mengenai Goa Mahakarya barulah sepenggal cerita. Madura memiliki ragam potensi wisata yang sementara sudah saya tuliskan di sini. Silakan dinikmati.











Ah banyak foto” keren di goa mahakarya nya mas.. Duh yg dsayangin adalah kemarin ada coret”an yg tidak bertanggung jawab dsana..
Makasih mas Fajrin. Msh beum maksimal nh. Lensanya kurang menggigit.hehe
Benar sekali. Harus saling mengingatkan utk tdk mengotori alam
Keren dah kalau masih terjaga dengan baik. Besok-besok inwis mau semedi di sini nggak? 😀
inwis mau prewed di sini aja
ga perlu takut masuk goa. goa menarik kok
Fotonya cakep-cakep euy…mudah2n kesana lagi printilan safety prosedurnya sudah memadai ya…
makasih mb Dian. aamiin
banyak orang memang
Untung kalian gak rebutan oksigen ya.. hehhe seninya memang kalau susur goa itu yaaa keleawar yang bergelantungan dengan wangi yang tidak sedap.
masih ada yang lebih asik buat direbutin Mba. haha
yg penting jangan wangi kembang di gua deh
Fotomu bagus dan semelohay lho…
Aku ndak bareng sama bapak penjaga Goa, jadi ndak tau banyak cerita2nya…
makasih mas bro whiz.
Haha. aku terus mengekor
Saya nggak nyangka ada gua hebat di Madura. Melihat gambarnya, jadi ingat sama Hang Son Doong, di Vietnam. Menurut aku sih sama. Tapi emang bener sama kan ya? Atau menurut aku doang? XD
beda kaya e mas. haha. Hang Soon Doong, keren jg yaa
Elok sekali nama lainnya dari goa celeng, mahakarya. Memang mahakarya Tuhan ya 🙂
Iya Mas Rifqy. keren memang
Saya selalu terpesona dengan keindahan perut bumi, baik gua basah maupun gua kering. Bahkan di lekuk bumi yang jarang dilihat manusia pun keindahan terlihat sempurna ya.
Benar sekali. Wah, tos! kita sama2 penggemar gua.
Keren banget goanya, utk menuju pulau tsb. Apakah ada penyebrangan reguler?
penyeberangan bisa pakai kapal nelayan Mas, stiap hari beroperasi
Pertama pasti fokus sama foto-fotonya dulu. Selanjutnya baru mengingat-ingat lagi petualangan menyusuri goa ini tempo hari. Ngga nyangka ya, nemu banyak hal menarik di dalam Goa Mahakarya. Banyak banget ornamen batunya. Takjub aku! Tapi membayangkan semedi di goa kok rasanya merinding serem gitu, yak. Ku tak shangghup.
benar Mba Molly. karena saya suka gua, jadi saya sangat antusias ngikutin pak Abdul. hehe
bener sekali. saya juga mulai suka
Duh artisnya di foto itu keren deh mas.
Ingat airnya jangan di sentuh ya, nanti dia gak mau keluar lagi.
haha. kalau air disentuh gpp. yg gboleh disentuh batunya
Bapake juru kunci mesti seneng byanget baca tulisanmu ini, Nif. Dia bakalan jadi artis bagi para turis yang mai ke Giliyang deh kalau begini caranya. Hahaha.
Masih penasaran ama terumbu karang sehat di Pantai Ropet kih. Kapan yuk balik ke Giliyang lagi. 😀
nah. kui, jenenge wae wis unik. Terumbu yang kita lihat kemarin po ya. yang katanya bisa buat snorkeling gt.
Haha. bapake artis, hits lah
Wahh..goa yang menarik..
masuk list tempat yang mesti didatangin nih klo suatu saat ke Madura..
harus banget Mba. Giliyang keren pokoknya
itu warnanya kok bisa jadi merah yaa ? itu karena lampu atau memang warnanya begitu
karena sorot lampu senter mas
Mata mistisku mengatakan ada penampakan disana. Iya penampakan bapak pakai peci 😀
itu kalo dihias lampu lebih keren kak
kalau dihias lampu kesan kealamiannya jadi hilang. hehe. mending gini aja
Mantap, mas, foto2nya.
Saya ‘masuk goa’ cuma pas ziarah aja 😀
Moga kesampaian liburan ke goa, suka rada takut runtuh gitu wkwk
terimakasih Mas.
Hehe. asalkan ditemani pemandu dan ikuti SOP aja Mas
gede juga yaa teryata goanya..!
iya Mba. sangat besar
Bagus goanya yah. Bener banget filosofi pak abdullah. Manusia sering lupanya, berasa jadi makhluk paling sempurna trus bisa ngobrak ngabrik alam, huhuhu.
Iya. Semoga kita jadi wisatawan yg bs menghargai alam dan manusianya ya.
Semangat menelusur gua. hehe
terimakasih Mas. kalau banyak polesan kesan alaminya ilang. biarkan saja alam seperti ini. hehe
Thanks