Bicara Madura, ada tempat ikonik yang ada di sana. Suramadu, yang menghubungkan lalu lintas manusia dari Surabaya menuju Madura, begitu pula sebaliknya. Tapi kali ini yang menarik perhatian saya adalah soal masyarakatnya. Terjadwal di sana rombongan akan berkunjung ke petani rumput laut dan pengrajin batik. Dua tempat yang membuat saya bergairah untuk turut serta dalam agenda menduniakan Madura.
Saya memilih menyendiri dan keluar dari riuhnya rombongan. Berjalan menuju gubuk paling pojok pesisir Desa Saronggi, Sumenep, Madura. Istri Pak Tumintin yang pertama kali menyambut saya. Ia agak malu ketika sewaktu-waktu dipotret atau diwawancara. Dengan Bahasa Madura, ia memanggil suaminya. Keluarlah sosok lelaki berbadan kurus dengan caping coklat dikenakannya. Ia tampak segar setelah mengaso di gubuk kecilnya.
Di bawah terik matahari pukul dua belas, Pak Tumintin dan istrinya bekerja menyambung hidup dari rumput laut. Wajah keriputnya yang legam disengat terik matahari pesisir jantung Madura, melempar senyum yang ramah pada saya.
Lima belas tahun sudah keluarga ini setia menjadi petani rumput laut. Jika dibanding petani lainnya, jelas Pak Tumintin lebih dulu berangkat menekuni budidaya rumput laut. Sebelum saya melempar beberapa pertanyaan, Pak Tumintin bercerita banyak menggunakan Bahasa Madura. Saya yang tak mengerti kemudian memohon maaf. Pak Tumintin memaklumi.
Pada kondisi geografis seperti ini, Sumenep sangat diuntungkan karena ombak yang tak terlalu besar. Faktanya, Madura menjadi pemasok rumput laut terbesar di Indonesia. Kualitasnya tak diragukan lagi.

Pak Tumintin mulai bercerita. Lelaki kelahiran 1940-an ini sudah kaya pengalaman. Rumput laut hasil panennya pernah diekspor hingga ke luar negeri. Pun sampai sekarang, kualitas rumput lautnya masih dilirik Cina dan negara tetangga lainnya. Petani diuntungkan dengan harga yang melambung tinggi.
Berbeda dengan sekarang. Setelah panen dan dikeringkan, rumput laut masih harus diangkut dan disetor ke gudang. Mereka hanya terima Rp8.600,00 per kilonya. Sangat jauh dibanding tiga tahun lalu yang tembus di harga Rp20.000,00 per kilo. Banyak faktor yang menyebabkan harga jatuh. Selain dari sisi kebijakan pemerintah, kualitas adalah penentu harga di pasaran.

Cerita Pak Tumintin barulah menjadi pengantar. Ia tak begitu pesimis pada nasibnya sekarang. Mengeluh tak akan memperbaiki kualitas bekerjanya. Selama masih menjadi produk unggulan, Pak Tumintin yakin rumput laut akan memberi hasil yang memuaskan. Ia tahu jalan takdirnya sendiri. Pada kecintaannya bertani, menemani istri, menatap buih laut, memandang atap langit, dan segalanya yang dialami selama sepuluh tahun.
Pak Tumintin mempersilakan saya menengok aktivitas rekan-rekannya. Tengah duduk di dalam gubuk para Ibu yang bercengkerama di antara tumpukan rumput laut. Pada kamera yang saya bawa, mereka mengira saya akan menayangkan hasil rekaman aktivitas mereka pada sebuah acara televisi. Saya tertawa. Begitu saya ingin menjelaskan, agak rumit rasanya mereka mengenal blogger. Maka saya meminjam istilah internet untuk kali ini. Mereka mengangguk paham. Saya pun akhirnya terbiasa berbincang bersama mereka.

Langit siang itu menaruh rasa hormat pada petani rumput laut Saronggi. Lanskap pesisir pantai kawasan Saronggi sudah mempercantik panggung harapan para nelayan dan petani. Meski tak sedang merayakan panen besar, geliat petani Saronggi masih dapat disaksikan setiap hari. Cuaca yang cerah dengan panas yang pas disambut bahagia para petani rumput laut di sana. Dengan begitu, rumput laut akan cepat kering dan cepat dijual.
Pak Tumintin dan rekan-rekannya memiliki tekad kuat menjaga kualitas rumput laut di sana. Bisnis rumput laut pun dapat dinikmati banyak keluarga. Bekerja dalam satu atap, mereka tetap akrab melempar canda. Tangan-tangan mereka cekatan mengambil rumput laut yang menempel pada tali-tali panjang yang terserak pada alas terpal. Sayang, belum tersaji di sini produk olahan rumput laut yang sudah jadi.


Untuk membudidayakan rumput laut, mereka hanya perlu membuat rakit dari bambu. Saya datang di waktu yang tepat. Sementara para Ibu bertugas menyambungkan rumput laut pada tali, para Bapak menanam rumput laut kembali. Mereka memikulnya menuju bibir pantai. Agak menjorok, kemudian meratakannya di atas rakit bambu. Jika sudah genap 45 hari, atau bahkan lebih cepat dari itu, rumput laut siap dipanen dan dijemur di bawah terik matahari. Dalam setahun, mereka bisa memanen sampai lima kali. Itupun masih harus bergantung pada gelombang laut pesisir Saronggi.
Baca juga : Telusur Perut Bumi Giliyang di Goa Mahakarya



Dalam sekali panen, mereka bisa menghasilkan satu ton rumput laut basah, bahkan bisa lebih tergantung pada luas lahan. Rumput laut kemudian dibiarkan kering di bawah panas matahari. Keluh datang jika musim penghujan tak kunjung berganti kemarau. Jika tak kering, rumput laut dimasukkan kembali ke dalam gudang dan akan dijemur lagi esok pagi.
Namun cuaca tak pernah bisa disalahkan. Bagi mereka, turunnya hujan adalah cara Tuhan memperbaiki alam. Mereka pun tetap bekerja saban hari, bahkan tak mau purna dari tugas mulianya sebagai pembudidaya rumput laut.
Dari Saronggi, masyarakat yang awalnya hanya bergantung pada hasil tangkap ikan sebagai nelayan kini mulai merambah ke bisnis budidaya rumput laut. Kisah syukur Pak Tumintin membuat saya makin ingin menggali lebih dalam, namun sayang waktu sangatlah terbatas. Di belakang saya, Mas Halim panik karena sudah ditinggal rombongan. Kami berdua tergesa-gesa, segera berpamitan dan berjabat tangan pada Pak Tumintin dan rekanannya.

Menyambangi batik Pamekasan, Desa Klampar
Bus kembali membawa saya menuju tempat yang kembali membangkitkan gairah menyambangi Madura. Kali ini, panitia membawa kami menuju Pamekasan. Meski diguyur hujan deras, para peserta tetap antusias menuju tempat workshop membatik. Saya turut mengekor di belakang.
Asal muasal batik Madura datang dari Desa Klampar, Kabupaten Pamekasan. Batik Madura memiliki corak yang cukup apik seperti batik-batik lainnya. Ragam motifnya mengambil dari gambar hewan dan tumbuhan. Kediaman Pak Ahmadi masih ramai para pengrajin yang terampil. Mereka melempar senyum ramah pada puluhan kamera yang membidik.
“Jangan kebanyakan difoto Mas, nanti saya jadi grogi”, salah satu dari mereka tersenyum malu. Sambil menuangkan malam di kainnya, ia melebarkan senyum saat kamera mengeluarkan bunyi krek.

Dibantu beberapa karyawannya, Pak Ahmadi mengangkat karakter Madura melalui batik khas Pamekasan. Tak perlu tepuk tangan meriah, upaya pelestarian batik tulis oleh Pak Ahmadi adalah keluhuran yang turut memberdayakan masyarakat lokal. Di jaman yang semakin modis, batik tetap memiliki ciri khas yang akan membuat pemakainya tampak berkharisma. Batik sudah dibuat mengikuti tren. Batik yang biasanya menjadi sandangan bangsawan, kini telah menjadi buah tangan yang dicari banyak kalangan. Tak tanggung-tanggung, per lembar kain batik paling murah seharga Rp150.000,00 hingga jutaan rupiah.
Sekar Jagad adalah motif tersulit yang dibandrol dengan harga cukup mahal. Pembuatannya paling cepat memakan waktu tiga bulan. Sementara itu, ciri khas batik Pamekasan ada pada pemilihan warna yang cenderung tegas dan berani, seperti merah, kuning, hijau, dan biru.


Sambutan tuan rumah, Pak Ahmadi lebih dari itu. Ia telah menyiapkan banyak kudapan makan siang khas Pamekasan. Tersaji aneka sayuran dan daging ikan yang diolahnya sendiri.
Madura sejatinya punya cerita sejarah yang panjang dan destinasi yang kaya. Kedua tempat yang saya sambangi di atas belumlah diulas semua. Tentang hutan kera, pulau oksigen Giliyang, jejak pitarah manusia di Gua Mahakarya, semua akan saya abadikan dalam catatan perjalanan insanwisata. Penjelajahan dua dari empat kabupaten di Madura ini menghidangkan sajian wisata yang tak biasa.
Saya mendapatkan pengalaman dan kisah syukur dari orang-orang yang sepanjang hidup sangat menginspirasi. Dalam perjalanan pulang, saya menyisipkan asa untuk mereka. Semoga sejahtera dan diberi umur panjang. Rumput laut Sumenep dan Pamekasan adalah harapan. Keduanya adalah jantung perekonomian Madura.
Dari mana banyak perusahaan mendapatkan hasil kosmetik, kesehatan, dan olahan makanan yang berkualitas, kalau bukan dari Pak Tumintin dan rekanannya? Dari mana pula kebudayaan Indonesia dilestarikan, kalau bukan dari Batik Pamekasan salah satunya? Tak lupa pula, terselip harapan agar Madura semakin mendunia. Dan jika Madura telah mendunia, tentu akan menambah kebutuhan tentang oleh-oleh khas daerah. Di mana rumput laut dan batik Pamekasan, adalah salah satu produk unggulannya.
Baca juga : Perjalanan Panjang Desa Wisata Jarum











Wah gak sempat ketemu dengan bapak dan ibu yg di rumput laut. Ah keren.. Akhirnya ketemu dan ngetrip bareng.. Sampai ketemu lg mas..
Wah, iya ya. Saya misah dari rombongan soalnya. g suka terlalu ramai. haha.
Alhamdulillah yaa. Yuk dtunggu kedatangannya d Jogja
Feature yang keren..Madura jadi keren dengan ulasan ini ikut mengamini terwujudnya Madura yang mendunia…jadi ini yang bikin kalian ditunggu lama banget gak naik2 ke bis?hahah.
Iya Mba. haha. aku emang kadang butuh waktu buat wawancara lebih dalam. sayang waktunya sebentar banget ya 🙁
wow amajing, gak sia-sia telat naiknya ke bis.
iya. untung ditunggu. kalau g balik2. paling patwal akan mencari ke lapangan. haha
Hahaha beneran panik pas tahu rombongan yang melihat budidaya rumput laut Saronggi di ujung lain kok udah nggak ada. Untungnya masih ditunggu. Tapi bener nih pingin kulik lebih dalam lagi apa kendala sesungguhnya yang ingin mereka sampaikan. Kadang kita sebagai pejalan yang ngetrip kek gini lupa memanusiakan manusia di suatu tempat sehingga cuma singgah sejenak, sekedar tahu, tanpa melihat lebih dalam dari berbagai sisi. 🙂
untung banget yo, Mas. cuma dapat 2 menit wawancara. terus tak kembangkan lebih dalam lagi. Padahal aku pengen nanya banyak. haha. sayang waktu yg diberikan di luar keinginan. Padahal aku lebih tertarik berkunjung ke tempat2 kaya gini. haha. semoga lain kesempatan kita bs ngetrip bareng lagi, terus menyambangi Pak Tumintin lagi
Wah Keren ulasannya mas, aku gak pernah terpikir untuk menulis seperti itu.
Senang banget bisa mengenal orang sepertimu, tulisannya membuat aku sadar, bahwa masih banyak yang harus kita lakukan untuk membantu mereka.
Semoga bisa berjumpa lagi mas 🙂 😉
Hai Mba. terimakasih Banyak, hehe. Hanya sedikit ulasan saja. Belum begitu mendalam. sayang waktunya sebentar sekali pas kunjungan ke sini.
Aamiin. Semoga lain waktu bisa jumpa dan dolan bareng
Batik madura ini warna nya lebih berani yaaa, aku punya kemeja batik madura lho. Sebagai turunan madura mesti bangga heheh
wah. iya. warnanya bagus. cowo banget lah. haha.
Batik Gresik punya ga?
Hanif luar biasa deh tulisannya, mantep. Baru ngeh kalau ternyata dirimu dan Halim yang ditunggu2 seantero bis hihihii…
Pak Tumintin dan Pak Ahmadi adalah harta mahal yang dimiliki Madura di samping kecantikan alam lainnya yang kita datangi kapan hari di #MenduniakanMadura.
haha. makasih Mba.
iya e. kami panik sekali. kok rombongan sudah pada ilang. untung belum ditinggal berangkat. haha.
Semoga madura sesegera mungkin mendunia ya, supaya masyarakatnya juga semakin sejahtera
aamiin Mba Indah. Ayo ke Madura
Foto-fotomu kece habis, Nif! Bening semua dan angle nya keren. Tulisannya juga naratif banget. Kelihatan memang tukang jalan-jalan dan hunting spot-spot cantik, nih. Suka.. suka.. suka.
yeay. terimakasih Mba Molly. hehe. saya baru belajar kok Mba
semoga Tuhan selalu memberkati mereka yang senantiasa bergantung pada alam untuk menghidupi diri dan keluarga. dalam hal ini keluarga petani rumput laut.
Bijak sekali kau mas. hahaha
dirimu ini blogger yg lumayan diem ketika menduniakan madura kemarin, eh ternyata memang air beriak tanda tak dalam, akulah contoh nyatanya. Aku khan rame banget ya, tapi tulisanku nol besar dibanding tulisanmu ini hahaha.
Duh, berasa baca Intisari atau Artikel di Kompas loh. Dirimu penulis hebat!
hahaa. aku banyak mengheningkan cipta bro :p
Thanks bro. aamiin. semoga jadi penulis hebat. wkwk
Semoga #MaduraMendunia dengan karya-karyanya, menyingkirkan stigma-stigma negatif tentangnya 🙂
haha. stigma negatif yg masih melekat apa mas? Carok?