Hari kedua
08.00 WIB : Dirayu segarnya Taman Air Ekowisata Mudal
Berada di antara perbukitan Menoreh, taman air ini menjadi tempat favorit para kawula muda bersama keluarganya untuk menghabiskan akhir pekan. Hembusan angin sepoi perbukitan membelai rambut. Suara nyanyian burung yang beradu merdu dengan gemericik air sungai bagaikan terapi yang menyegarkan indera. Seperti inilah suasana yang jamak dirasakan wisatawan manakala berkunjung ke Taman Air Ekowisata Mudal.
Saat matahari kian meninggi, sinarnya berusaha menerobos pepohonan yang menyelimuti tiga kolam Taman Air Ekowisata Mudal sehingga membuat suasana menjadi sejuk dan hangat. Maka nikmatilah kesegarannya dengan ikut berendam dan berenang di salah satu kolamnya.


Lokasi : Banyunganti, Jatimulyo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo
11.00 WIB : Santap siang di tengah sawah dengan Geblek Pari Nanggulan
Geblek adalah makanan yang terbuat dari tepung kanji, bawang putih, dan parutan kelapa. Rasa geblek yang kenyal dan gurih seolah memiliki kemiripan dengan cireng (makanan khas Sunda). Namun, yang membedakan adalah makanan pasangannya. Geblek khas Naggulan, Kulonprogo biasa dimakan bersama tempe dan sambal bawang.
Tempat makan yang berada di tengah sawah ini memiliki konsep ‘ndeso’ atau tradisional. Semilir angin di alam terbuka akan membuat acara santap siang Anda semakin berkesan. Belum lagi dengan adanya hammock yang bergelantungan di setiap pepohonan.
Baca juga : Blusukan Kuliner Yogyakarta
Lokasi : Pronosutan, Kembang, Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo
16.00 WIB : Menikmati Senja dari Candi Ijo
Kali ini, Candi Ijo menjadi pilihan lokasi menikmati senja di hari kedua. Candi ini merupakan candi Hindu tertinggi di Yogyakarta yang dibangun sekitar abad ke-9. Karena letaknya yang cukup tinggi, maka bukan saja bangunan candi yang dapat Anda saksikan. Melainkan juga pemandangan alam berupa area persawahan dan lalu lalang pesawat yang tengah mendarat dan lepas landas dari Bandar Udara Internasional Adisucipto.
Ragam bentuk seni pahat tinggalan jejak pitarah manusia abad ke-9 dapat dijumpai di antara pintu masuk bangunan candi utama dan perwara. Motif wajah Kala Makara selalu menjadi penghias pintu masuk candi-candi Hindu yang tersebar di Yogyakarta. Sementara tiga candi perwara yang berada di antara candi induk dibangun sebagai bentuk penghormatan pada Brahma, Siwa, dan Whisnu.
Mengunjungi candi ini, ibarat sedang bersemedi di tempat yang sunyi. Jauh dari suara lalu lalang dan polusi asap kendaraan, candi ini sudah cukup populer di kalangan wisatawan yang ingin menikmati pemandangan matahari tenggelam di Yogyakarta.
Lokasi : Kikis, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman
19.00 WIB : Menutup kegiatan dengan santap malam Sate Kere Mbah Mardi
Pulang. Adalah kata kerja yang nampaknya enggan untuk diungkapkan. Yogyakarta begitu lengkap memberikan suguhan pesonanya supaya Anda tetap tinggal dalam waktu yang lama. Tapi pulang adalah cara mudah kita untuk bisa mengenang keromantisan dan memberi jeda setiap pertemuan.
Maka untuk menutup kegiatan, bolehlah Anda untuk mencicip sajian malam istimewa Sate Kere Mbah Mardi yang beralamat di Jalan Godean. Warung makan yang hanya buka pada malam hari ini berada persis di pinggir jalan raya sehingga tak akan sulit untuk mencarinya.
Terbuat dari gajih atau lemak sapi, satu porsi sate kere yang dilengkapi lontong sayur dijual dengan harga Rp 8.000 saja. Harga yang sangat ekonomis untuk santap malam yang lezat. Itulah salah satu alasannya, mengapa nama ‘kere’ melekat pada sate lemak ini. Harga yang murah untuk Anda yang sudah berkenan datang ke Yogyakarta.
Selamat berkeliling Yogyakarta!
Lokasi : Jl. Godean Km.7, Sidomoyo, Kabupaten Sleman

















Air terjunnya sangat menyejukkan mata !
Terima kasih