Tradisi Lomban di Pulau Nyamuk: Akhirnya Makan Ketupat

Idul Fitri, yang lebih akrab disebut Lebaran, menjadi perayaan yang paling dinanti Umat Muslim selepas berpuasa sebulan penuh. Saat lebaran, hidangan khas opor ayam, ketupat, serta kue-kue kering tersaji rapi di setiap rumah. Begitu pula di Pulau Nyamuk, sebuah pulau kecil di ujung barat Kepulauan Karimunjawa. Waktu itu adalah kali pertama saya tidak merayakan lebaran di kampung halaman. Harus saya akui, suasana di sana memang amat asing. Maklum, beda daerah berarti beda budaya pula. Tetapi lebaran tetaplah lebaran, opor ayam tetaplah jadi hidangan utama.

Sehari sebelum lebaran, saya sudah membayangkan nikmatnya potongan ketupat dibanjiri kuah dan daging opor ayam. Esoknya, saya dan kawan yang lain bersiap menuju Masjid Pulau Nyamuk untuk menunaikan Salat Ied. Penduduk Pulau Nyamuk berjumlah 500-an orang dan semuanya beragama Islam. Hari itu, masjid cukup penuh sesak oleh kedatangan orang se-pulau. Bagi saya, lebaran waktu itu terasa sama seperti di rumah, semua orang ramah dan menyenangkan. Sepulang dari masjid, waktunya menyantap ketupat dan opor ayam!

Kok hanya ada lontong, mana ketupatnya? Saya bertanya sendiri dalam hati. Ya, saya harus mengubur dalam-dalam keinginan untuk makan ketupat. Meski bisa menyesap lezatnya kuah opor ayam, tapi posisi ketupat tergantikan oleh lontong. Ah, lontong dan ketupat sebenarnya sama, hanya saja “esensi” lebarannya jadi terasa berbeda. Sambil terus memikirkan ke mana hilangnya ketupat, tetap saya santap lontong opor dengan lahap.

Sepekan sudah lebaran berlalu, belum juga saya bertemu ketupat di Pulau Nyamuk. Mungkin memang sudah menjadi budaya di sana merayakan lebaran tanpa ketupat, pikir saya. Sudahlah, masih ada yang lebih penting untuk dipikirkan, seperti perayaan Lomban. Di Pulau Nyamuk, sudah jadi tradisi tahunan diselenggarakan Lomban. Lomban adalah sebutan untuk peringatan sedekah laut, pulau-pulau berpenghuni di gugusan Karimunjawa pasti merayakannya. Pada hari Lomban, seluruh masyarakat pulau berbondong-bondong menuju pesisir sebelah timur untuk turut memeriahkan. Lomban sendiri berasal dari kata “lombanan” dalam Bahasa Jawa yang berarti banyak diadakan perlombaan.

Benar saja, dari anak-anak, muda-mudi, sampai bapak-bapak dan ibu-ibu antusias untuk berpartisipasi dalam berbagai perlombaan yang telah disiapkan oleh panitia yang terdiri dari perangkat desa dan kelompok pemuda. Ada lomba joget balon, tinju angkasa, estafet air, sepak bola, dan tarik tambang. Pesisir dan laut dijadikan arena perlombaan. Lucu juga, perhelatan sedekah laut yang kelihatannya sarat akan prosesi khidmat, tetapi di kepulauan ini turut diramaikan pula dengan berbagai perlombaan. Tak mau ketinggalan, saya dan kawan-kawan unjuk gigi di perlombaan tarik tambang. Kami ditantang untuk melawan kelompok ibu-ibu, yang tentu saja badan dan tenaga kami kalah besar. Nyali kami hampir ciut, tapi teriakan semangat masih bergema dari masing-masing kami sebelum perlombaan dimulai. Jika di tempat lain lomba tarik tambang beralaskan tanah ataupun rumput, di Pulau Nyamuk yang kalah harus rela basah dan mengecap asinnya air laut.

 

IMG_3661

IMG_3748

 

Satu, dua, tiga!

Peluit dibunyikan, pertanda adu kekuatan tarik tambang sudah boleh dilakukan. Byuuur.. Tanpa sempat menarik, kami terseret, jatuh, dan basah kuyup, tepat setelah hitungan ketiga. Sungguh para Ibu di Pulau Nyamuk punya tenaga super! Kamipun hanya bisa pasrah ketika sekali lagi harus terseret dengan mudahnya di putaran kedua lomba tarik tambang melawan ibu-ibu.

Makin siang, pesisir timur Pulau Nyamuk makin riuh. Sesekali pemuda dan pemudi bergantian melantunkan lagu dangdut untuk membuat suasana semakin semarak. Namun hiruk pikuk Lomban ternyata tak lantas membuat pesisir timur Pulau Nyamuk kehilangan pesonanya. Saya selalu kagum dengan birunya air laut dangkal yang selaras dengan warna langit yang cerah, serta deretan mangrove dan pohon kelapa yang memunculkan kesan alami yang sangat indah. Sesekali, saya juga terkikik geli ketika melihat anak-anak kecil berenang di atas ban pelampung warna-warni mereka.

 

IMG_3332

 

Di antara keramaian Lomban, tampak seorang lelaki tua sibuk menata sesuatu sambil membawa parang. Saya coba mendekati lelaki tua yang akrab disapa Mbah Mudin itu. Mbah Mudin ialah sapaan untuk orang yang ahli agama di Pulau Nyamuk. Ia yang sering pergi ke masjid untuk mengumandangkan adzan, serta melantunkan puji-pujian sebelum waktunya beribadah. Ternyata Mbah Mudin sedang menyiapkan “persembahan” untuk ritual Sedekah Laut. Persembahan atau masyarakat biasa menyebutnya “sesajian” berupa sepasang kepala kambing dan aneka makanan.

 

_MG_4077

_MG_4079

DSC_8950

_MG_4103

 

“Seperti hidup yang telah diciptakan berpasangan agar seimbang. Ada senang, ada sedih. Ada manis, ada pahit. Ada perempuan, ada laki-laki,” ungkap Mbah Mudin saat ditanya mengapa kambing yang disembelih untuk sesajian harus perempuan dan laki-laki. Mbah Mudin juga bilang, sesajian akan diletakkan di pinggir pantai agar melarung dengan sendirinya ketika ombak pasang di malam hari.

Selepas semua perlombaan selesai dilaksanakan, masyarakat berkumpul di pinggir pantai untuk berdoa bersama dipimpin oleh Mbah Mudin. Saat Sedekah Laut, mereka memanjatkan doa sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang berlimpah dari hasil laut yang mereka miliki, serta memohon keselamatan bagi para nelayan dalam menjalani rutinitas di lautan. Prosesi berdoa ini juga mengiringi dilarungnya kepala sepasang kambing yang ditangani oleh Mbah Mudin. Sementara daging kambing kemudian diolah dan disajikan untuk dimakan bersama-sama. Daging kambing diolah menjadi semur dan disandingkan dengan ketupat.

 

_MG_4499

 

Ketupat! Setelah sempat kecewa karena tak bisa bertemu ketupat saat Lebaran, di Lomban inilah ketupat baru disuguhkan. Ternyata, Lomban juga dilaksanakan sembari merayakan Hari Lebaran Ketupat yang menjadi tradisi di Pulau Nyamuk. Lomba-lomba yang diselenggarakan sebenarnya bertujuan untuk mengisi waktu saat menunggu daging kambing diolah untuk kemudian disantap bersama-sama. Saya senang bukan kepalang, kelihatannya teman-temanpun demikian. Kami melahap ketupat dan semur daging kambing dengan nikmat. Rasanya memang sungguh lezat. Momen makan bersama masyarakat se-pulau menambah kenikmatan sore itu setelah perayaan Lomban di pesisir timur Pulau Nyamuk. Akhirnya makan ketupat!

(Foto: Diambil saat kegiatan KKN PPM UGM di Pulau Nyamuk, 2015)

Comments

comments

4 thoughts on “Tradisi Lomban di Pulau Nyamuk: Akhirnya Makan Ketupat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.