Menziarahi Kampung Adat Lingkar Kelimutu, Ende

 

Danau Kelimutu diambil menggunakan pesawat nirawak. Pada dua danau ini, Ata Polo dipercaya sebagai tempat berkumpulnya roh jahat. Sementara Fai Nuwa Muri dipercaya sebagai tempat berkumpulnya roh orang muda.

“Kamu belum mendapatkan cerita?” tanya Wawan sembari mengemas kembali pesawat nirawak (drone) yang telah berhasil mendarat di puncak Kelimutu.

“Belum,” saya menjawab tanpa semangat. Sudah lebih tiga tahun kami kerja satu tim. Wawan, sebagai tenaga ahli pemetaan dan perencanaan wilayah, paham betul gaya perjalanan beserta karakter menulis saya. Selain harus menuliskan laporan penelitian lapangan, saya terbiasa membuat target untuk bisa menuliskan catatan perjalanan. Seperti kakak yang mengasuh adiknya. Ia pun akhirnya bisa memaklumi dan berusaha menghibur saya.

Lewat dua malam, saya belum saja mendapatkan ide untuk bisa dituliskan. Kami berdua telah melewati keindahan Gunung Kelimutu beserta danau tiga warnanya tanpa ditemani pemandu yang bisa bercerita. Juru mudi kami, Andi, memilih membisu sepanjang jalan.

Mujur sekali, ada Alouisius Ngaga (32 tahun), pemuda penggerak desa yang kami sebut juga sebagai Local Hero pariwisata. Dalam kondisi istri yang baru saja melahirkan, Louis datang menemui kami di penginapan. Ia baru saja menjadi seorang ayah yang sedang gembira menyambut kelahiran anak keduanya. Saya bisa membaca perasaannya melalui foto profil akun whatsapp-nya. Ia berkali-kali meminta maaf. Dua hari pertama kami di sini, Louis tak bisa menemani karena sedang gawat-gawatnya menjadi suami siaga.

Lawatan kami sebenarnya tak jauh dari Gunung Kelimutu, utamanya daerah Moni. Udara dingin pedesaan lingkar Gunung Kelimutu pagi itu memberi gairah yang pas untuk memulai perjalanan. Samar dari kejauhan, terdengar keriangan anak-anak lengkap mengenakan pakaian sekolahnya. Pemandangan ini selalu saya jumpai setiap pagi di Moni.

Meski matahari sudah naik cukup tinggi, panasnya tak bisa mengudar dinginnya Moni. Saya mampir untuk menggali informasi seputar Kelimutu di Pusat Informasi Pariwisata (TIC) yang berlokasi di Moni. Dari cerita petugas jaga, saya mendapatkan banyak informasi tentang kampung adat di sana.

Pemandangan ini saya jumpai di Moni saban pagi. Tepat sebelum matahari naik cukup tinggi, mereka berlomba bersama lalu lalang kendaraan yang melintas cukup kencang.

Kampung Adat Pemo

Datang ke Kampung Adat Pemo, tak lengkap jika tak membahas tenun ikatnya. Bertemulah saya dengan Mama Sofia Mu (57 tahun), penjaga dan pewaris tenun ikat Pemo. Entah kenapa, saya selalu tertarik dengan proses pembuatan tenun. Terlebih lagi, yang masih sanggup menekuninya adalah mereka yang telah berusia senja.

Mama Sofia Mu (57 tahun) menunjukkan telapak tangannya. Entah kenapa, saya selalu tertarik dengan proses pembuatan tenun. Terlebih lagi, yang sanggup menekuninya mereka yang berusia senja.

Dibuat dengan penuh kehati-hatian dan kesabaran, Lawo (kain tenun ikat berupa sarung) buatan Mama Sofia dibandrol dengan harga jutaan rupiah. Udara dingin Kelimutu adalah tantangan bagi para mama untuk bisa membuat Lawo tak hanya cantik dipandang, namun juga hangat saat dikenakan. Maka jangan heran, jika berkeliling di kawasan Kelimutu, para mama akan mengenakan Lawo saat beraktivitas.

Bahkan saya pun sempat bertanya pada Louis. “Apakah tidak sayang kain tenun mahal dan bagus dipakai ke pasar?” Itulah budaya masyarakat lingkar Kelimutu. Selain dipandang sebagai pakaian, tenun adalah identitas sosial bagi para penggunanya.

Kampung Adat Woloara

Lawatan kedua kami adalah Kampung Adat Woloara. Dalam tatanan kehidupan, masyarakat Suku Ende Lio dikenal sebagai masyarakat yang dikelilingi banyak simbol. Tidak hanya tertuang dalam motif tenun buatan para mama saja. Simbol-simbol berupa benda dapat disaksikan langsung di dalam maupun pekarangan rumah mereka.

Anak-anak di Kampung Adat Woloara berfoto di depan Sa’o. Mereka berkumpul usai menyaksikan atraksi penerbangan pesawat nirawak (drone).

Di sebuah tempat yang cukup sunyi, berdiri rumah sederhana dengan atap rapak yang dikelilingi beberapa pohon beringin. Di sekitarnya, terdapat batu-batu lonjong yang tertata rapi namun beda tinggi. Awalnya, saya mengira batu yang berdiri tegak itu adalah nisan dari makam leluhur. Arsitekturnya begitu teratur dan berkarakter. Batu-batu lonjong, atau yang disebut dengan Tupu Mbusu adalah tiang dari Sa’o Keda (rumah musyawarah para masyarakat adat). Sa’o Keda akan dibangun lebih tinggi dibanding sa’o (rumah)/ pemukiman lainnya karena dianggap sakral oleh masyarakat. Rumah panggung ini dibangun melingkar mengitari Tubu Kanga, sebuah pelataran yang paling tinggi yang biasa digunakan sebagai tempat digelarnya ritual adat.

“Berapa umur batu ini?” saya sengaja menepi dari kerumunan orang untuk menggali lebih dalam sisi menarik Kampung Adat Woloara.

“Ah. Sudah tua sekali. Sejak nenek moyang. Batu ini kalau diinjak, bisa gatal-gatal. Mas bisa mencoba kalau tidak percaya,” jelas Louis sembari menepuk pundak saya.

Alouisius Ngaga (32 tahun). Pemandu wisata sekaligus local hero pariwisata di Kampung Adat Woloara-Ende berfoto di depan Sa’o dan Tupu Mbusu (batu lonjong).

Pertalian Louis dengan adat budaya masyarakat Ende Lio tampak cukup kuat lantaran Woloara adalah kampung halamannya. Kami tak bisa bercerita banyak. Louis kembali mengajak saya berpindah tempat.

Ruang Riang Rahasia

Laju mobil yang kami tumpangi melambat dan mulai merapat ke tepi jalan. Seluas mata melepas pandang, hanya hamparan sawah yang terlihat di seberang. Sepintas, tak ada yang spesial dari pemandangan sisa padi yang sudah mengering dan gersang -tanda bahwa baru saja dipanen. Tapi siapa sangka. Di sinilah tempat bermain para pelajar selepas pulang dari sekolah. Hanya dengan menanggalkan seragam putihnya, mereka menenggelamkan seluruh badan ke dalam kolam air hangat alami yang hanya berdiameter sepuluh langkah kaki saja.

Kolam air hangat alami yang saya foto menggunakan pesawat nirawak (drone). Kolam air hangat ini hanya berdiameter 10 langkah saja.

Ruang terbuka hijau ini berada di Desa Waturaka. Bagi mereka, tentu tempat ini telah menjadi ruang riang rahasia yang sudah terhitung mewah. Sembari bercengkrama dengan kawan akrab, kolam hangat alami sukses memberi jeda untuk bisa bersantai sejenak.

Kampung Adat Koanara

Lawatan kami selanjutnya adalah Kampung Adat Koanara. Berada tak jauh dari jalan raya utama Moni, Koanara terhitung sebagai kampung adat yang ramai. Di seberangnya berdiri pasar tradisional tempat bertemunya penjual dan pembeli pangan sehari-hari.

Saya pun terus berjalan menuju desa inti. Sama halnya dengan kampung adat lainnya. Di Koanara, saya banyak menjumpai ‘tanda’ seperti Tupu Mbusu (batu lonjong), Sa’o Keda (rumah musyawarah masyarakat adat), Kanga (area lingkaran), bahkan yang menarik adalah Sa’o Bhaku, tempat menyimpang tulang belulang nenek moyang.

Foto udara di sekitar Sa’o. Terdapat Kanga (area lingkaran) dan Tupu Mbusu (batu lonjong). Tata ruang di Kampung Adat Koanara juga memiliki kemiripan dengan Kampung Adat Pemo, Woloara, Waturaka, dan Nduaria. 

Beberapa rumah panggung di Kampung Adat Koanara. Letak makam keluarga biasanya berdampingan dengan rumah utama.

“Bapak, bolehkah saya masuk Sa’o?” saya meminta ijin pada ketua adat Desa Koanara yang berjaga.

Antonius Bena (66 tahun), menuntun saya masuk Sa’o Ria (rumah besar). Berbentuk rumah panggung dengan dinding dan alas kayu yang cukup tua, Sa’o Ria hanya memiliki beberapa ruang saja.

Bulu kuduk saya berdiri tiba-tiba. Bukan karena takut. Melainkan rasa takzim pada rumah tua yang menurut saya menyimpan aura sakral. Di depan pintu masuknya turut dijaga si Boi, anjing peliharaan keluarga dan tengkorak kepala kerbau tinggalan leluhur.

Antonius Bena (66 tahun) sebagai ketua adat menunjukkan tulang kepala kerbau tinggalan nenek moyang di depan pintu masuk Sa’o.
Si Boi, anjing peliharaan yang setia menjaga Sa’o Ria dan Sa’o Bhaku (tempat penyimpanan tulang belulang leluhur). Terlihat di sana terdapat tiga peti.
Antonius Bena menunjukkan koleksi perlengkapan upacara adat tinggalan leluhurnya. Diantaranya adalah niru, olateo, tanduk rusa, dan tempat air suci.

Tak hanya itu. Antonius Bena mengijinkan saya melihat beberapa perlengkapan ritual adat yang konon telah berumur lebih dari lima abad. Seperti niru, olateo, tanduk rusa, juga tempat air yang digunakan saat upacara musim kering di kampungnya.

Itulah simbol-simbol leluhur yang saya temui di kampung adat sekitar Moni. Bahkan masyarakat percaya, danau tiga warna pada puncak Gunung Kelimutu telah dijaga oleh arwah leluhur mereka. Pada danau yang berwarna hijau gelap dengan nama lokal Tiwu Nula Ata Polo, dihuni oleh kumpulan roh jahat. Danau berwarna hijau muda gradasi tosca bernama lokal Tiwu Koo Fai Nuwa Muri, dihuni roh orang muda. Dan danau yang berwarna hijau tua dengan nama lokal Tiwu Ata Mbupu, dihuni roh para orang tua.

Louis memang tak menguasai persoalan arkeologi. Tapi darinya, saya mendapati cerita yang berhasil mengundang rasa penasaran saya untuk datang beberapa kali lagi. Setidaknya, ia menyumbang cerita yang menjadikan perjalanan ke Ende kemarin cukup berkualitas.

Comments

comments

23 thoughts on “Menziarahi Kampung Adat Lingkar Kelimutu, Ende

  1. Betul kata Mas Nasirul, orang kalau main ke Kelimutu mungkin akan menuliskan soal Gunung Kelimutu dan Danau Tiga Warnanya. Namun kamu malah menuliskan sekitarnya. Sudut pandang yang menarik.

  2. Waktu ke Kelikutu, saya tidak sempat main ke desa yg berada di sekitarnya. Nanti, kalau ada kesempatan main ke daerah Kelimutu lagi, saya jadi tahu mau kemana saja selain menikmati keindahan danau tiga warnanya.

    Terima kasih mas sudah berbagi

  3. Duh kalau Lawo ikutan jadi produknya DE koleksyen kira-kira customernya kuat beli nggak tuh? wkwk

    Oh ya, di kampung adat Pemo, Woloara, atau pun Koanara, Hanif sempat mencicipi kuliner di sanakah? penasaran oiii sama kuliner masakan warganya.
    Aku lebih sukaaa kampung-kampung adat yang belum terlalu komersil. Hehe. Bener-bener belajar dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Ramah-ramah yaaa kayanya :))

  4. Wah sungguh kaya adat istiadat yg maaih dipegang teguh orang-orang disana. Bukan hanya danaunya saja yang indah. Tapi cerita orang-orang nya pun menarik disimak. Kain Mama nya bagus banget ya

  5. Ini nih yang bikin saya selalu cinta dengan Indonesia. Banyak banget pemandangan indah. Saya suka dengan foto yang ada anak-anaknya. Berharap mereka akan selalu menjaga tradisi dan keindahan alam di daerahnya

  6. Hwaaaah ke Ende kenapa tidak kabar-kabari? Eh iya, belum kenal hahaha. Pemo merupakan salah satu desa adat penyangga wisata di Danau Kelimutu, terdekat dengan lokasi danau. Kapan-kapan kalau ke Ende kabari ya 🙂 siapa tahu bisa kopdar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.