Pantai Greweng adalah satu dari banyak pantai di Kabupaten Gunungkidul yang masih menyimpan keasrian dan belum banyak dijamah wisatawan. Kata ‘perawan’ adalah bahasa yang sering digunakan untuk menggambarkan pantai-pantai sejenis Greweng. Pantai Greweng terletak di Dusun Jepitu, Kecamatan Girisubu, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Harga tiket masuk Pantai Greweng masih satu paket dengan Pantai Jungwok, Sedahan, dan Wediombo. Rp5.000,00/wisatawan. Perjalanan panjang menuju lokasi meeting point dari pusat kota Yogyakarta memakan waktu 1,5 s.d 2 jam. Waktu tempuh yang terbilang cukup normal jika tak ada macet selama perjalanan. Namun perjalanan bermodal kendaraan pribadi hanya mampu mengantar kita pada meeting point Pantai Wediombo. Sedangkan sisanya? Kita akan menempuh jalur treking selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Itu pun jika tidak tersesat di jalan. Tanpa porter, tanpa pemandu, dan tanpa petunjuk arah.
Jalur treking Pantai Greweng memiliki bonus pemandangan yang menakjubkan. Meskipun tanpa pemandu dan petunjuk jalan, wisatawan hanya cukup mengikuti jalan setapak yang telah ada. Jalan setapak ini sengaja dibuat masyarakat Dusun Jepitu yang mayoritas bekerja sebagai petani. Maka tak heran di sepanjang jalur treking terlihat hamparan sawah, tegalan, dan bahkan kandang ternak. Selain Greweng, jalur treking dapat mengantarkan kita pada Pantai Sedahan. Satu lagi pantai yang masih ‘perawan’.
Ada beberapa tips yang mesti harus diperhatikan bagi wisatawan pemula yang datang ke Pantai Greweng. Pertama, adalah wajib bagi wisatawan untuk datang sebelum masuk gelap (maghrib). Seperti yang disampaikan sebelumnya. Pantai Greweng adalah satu dari banyak pantai yang masih menyimpan keasrian, belum banyak dijamah wisatawan. Pantai yang belum dikelola secara maksimal dan tetap dibiarkan agar selalu dicari wisatawan pemburu pantai ‘perawan’. Dan tentu saja, fasilitas seperti jasa pemandu, petunjuk arah, bahkan signal telepon selular sangat sulit didapat. Hanya ada toilet umum yang jumlahnya tak memadai, juga tak berbayar. Untuk mengurangi resiko kecelakaan dan tersesat, maka sudah wajib bagi wisatawan untuk datang di awal karena sebelum masuk waktu maghrib masih banyak petani yang berladang di sawahnya untuk dapat diminta informasi.
Tips kedua, adalah wajib bagi wisatawan membawa perbekalan, baik itu makanan minuman, perlengkapan treking, maupun perlengkapan piknik lainnya. Bawalah persedian air minum yang banyak karena sepanjang perjalanan tak ada penjual makanan maupun minuman. Kemudian, memperkirakan cuaca juga jauh lebih penting. Sebaiknya, gunakan sepatu/sandal gunung dan membawa tongkat treking.
Tips ketiga, jika tujuannya adalah piknik sebentar, maka tak cukup ambil pusing. Namun jangan buang bonus pemandangan traveling di Pantai Greweng dengan one day trip saja. Usahakan traveling Pantai Greweng adalah bagian untuk mengeksplor keindahan alam keseluruhan, mulai dari terbitnya matahari sampai kembali tenggelam. Jika ingin bermalam, usahlah membawa perlengkapan camping seperti tenda, matras, headlamp atau lampu senter, dan lainnya. Treking Pantai Greweng tak jauh berbeda dengan mendaki gunung. Treking Pantai Greweng dapat dijadikan modal latihan bagi para pendaki pemula.
Tips keempat, adalah tetaplah menjadi wisatawan/tamu. Sangat disesalkan beberapa wisatawan yang tak memiliki sikap menjaga kebersihan lingkungan. Untuk itu, ada tiga unsur utama bagi para wisatawan yang mengeksplor alam. Jangan membuang apapun kecuali waktu, jangan mengambil apapun kecuali gambar, dan jangan meninggalkan apapun kecuali jejak kaki kita.
Berbicara tentang bonus pemandangan di Pantai Greweng tentu akan menjadi kenangan. Pemandangan pertama adalah setelah melewati jalur setapak ladang sawah, kita akan masuk dalam kawasan hutan purba dan menemukan sebuah gua. Entah gua apa namanya. Di bagian kawasan inilah kita tidak dapat lagi bertemu masyarakat lokal. Batu-batu karang menjulang kokoh bak Gunung Api Purba Nglanggeran. Pemandangan kedua adalah pantainya. Dengan panjang bibir pantai dan pasir putih sekitar 150 meter ini tetaplah menyimpan banyak keindahan di setiap sudutnya. Di sisi baratnya, terdapat aliran sungai yang terhubung langsung ke Pantai Greweng. Hematnya, kita dapat menggunakan air sungai untuk wudu (menyucikan diri sebelum salat), membilas perlengkapan masak, dan kebutuhan lainnya.
Tips kelima, adalah bangun sepagi mungkin. Selalu ada pertunjukan indah di saat wisatawan masih tertidur lelap di antara tenda-tendanya. Inilah yang mereka sebut sunrise. Yang perlu diperhatikan, sunrise tidak dapat dinikmati melalui Pantai Greweng karena tertutup oleh bukit tebing di sisi timurnya. Usahlah untuk mencari jalur treking menuju titik poin melihat sunrise. Teruslah naik menuju timur mengikuti jalur setapak. Di sinilah kami bertemu masyarakat lokal (Wonosari) yang memilki hobi memancing. Masyarakatnya yang ramah menjadi bagian yang tak boleh ditinggalkan dalam cerita. Masyarakat Wonosari hanya memancing ketika sebagian dari mereka memiliki hari libur ataupun memanfaatkan akhir pekan (ketika weekend). Berangkat pada malam hari dan kembali pulang saat siang hari. Dengan berkemul terpal seadanya dan bara api sebagai penghangat. Ikan yang didapat sebagian juga langsung dimakan dengan cara dibakar. Sisanya, dibawa pulang untuk dimasak dan dibagikan satu sama lainnya. Bukan untuk dijual.
Sunrise tetaplah menjadi bonus pemandangan yang tak dapat dinikmati sebagian wisatawan yang lebih memilih tidur pulas. Meski medan treking menuju titik poin sunrise agak berat, pikinik ke Pantai Greweng telah mencapai kepuasan. Bagi siapa saja, tentu akan mencatat perjalanan jelajah alam Pantai Greweng. Hingga muncul pertanyaan dalam hati, kapan piknik lagi?
















Ish lucu yaaaa nenda2 ganteng begitu, jadi kangen buat nenda sambil bbq an
Iya om cumi lebay. Apalagi di sana pantainya msh perawan. Jd asik bgt d tenda cuma pake cangcut gaya om cumi
Ah … aku jadi takut nanti kamu prawani #melipir
saya g doyan ah om.. wkwkw. Ayo ke Jogja, ke tempat2 yang masih perawan