No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Candi Sewu, Megah yang Terbunuh Senyap

by Reza Nurdiana
April 11, 2015
5 min read
4

Terik siang bolong itu menggoda peluh mengucur melewati pelipis hingga ke dagu. Tapi agaknya panas menyengat lantas tak bikin gerombolan orang lokal juga bule menyerah mengagumi Prambanan yang menantang siang. Pikirku, kapan ia kan istirahat dari hiruk-pikuk wisatawan? Aku sendiri pun entah sudah berapa kali berpijak di antara bebatuan candi ini. Namun kunjunganku kali ini bukan untuk sekadar berwisata, melainkan menyelesaikan tugas yang dikejar waktu. Penat akan keramaian Prambanan, aku kemudian memutuskan untuk menyewa sepeda dan berkeliling. Cukup dengan 10 ribu rupiah, aku dibolehkan mengayuh selama 30 menit.

WP_20150329_13_02_08_Pro

Bagi yang belum tahu, Kompleks Prambanan meliputi empat candi yaitu Prambanan, Lumbung, Bubrah, dan Sewu. Tak sampai lima menit mengayuh, aku sampai di Jawa Tengah dan bertemu Candi Lumbung yang pemugarannya baru setengah jalan. Potret sana sini, kulanjutkan perjalanan dan melewati Candi Bubrah yang bubrah. Bubrah dalam Bahasa Jawa berarti berantakan, persis seperti kondisi Candi Bubrah yang tak jelas lagi bentuk rupanya. Sambil terus mengayuh, aku menikmati semilir angin yang membawa uap peluh sepanjang perjalananku di perbatasan DIY dan Jateng. Barisan pohon dan halaman berumput lalu berubah jadi onggokan bebatuan berlumut. Entah berapa jumlahnya. Bisa puluhan, bahkan ratusan.

WP_20150329_12_56_54_Pro

Berada di tengah onggokan bebatuan itu, pandanganku tiada hentinya tertuju pada pemandangan tepat di sebelah kanan. Sebuah kompleks candi yang menurutku menyerupai kerajaaan berdiri megah di sana. Setiap bangunannya merupakan karya agung yang bernilai estetika tinggi. Ini pun sebenarnya bukan kali pertama aku mengunjunginya, namun ia masih saja membuatku takjub terpana. Kuparkirkan sepeda sewaan, membiarkannya sendirian sementara aku mulai melangkah ke pelataran. Di Candi Sewu aku berada. Sebuah kompleks candi yang tersebar banyak candi-candi kecil mengelilingi candi induknya. Sebuah kompleks candi yang juga merupakan yang terbesar kedua setelah Borobudur. Candi Sewu dijaga oleh dua arca Dwarapala, raksasa penjaga setinggi 2,3 meter. Saking besarnya bahkan tanganku tak sampai untuk memeluk hanya kakinya.

Aku berjalan semakin memasuki halaman utama Candi Sewu. Candi berlatar agama Budha ini aslinya bernama Manjusrigrha, rumah Manjusri Sang Boddhisatwa, seseorang yang sisa hidupnya digunakan untuk membantu umat dalam kebajikan, seseorang yang menjadi panutan Umat Budha. Sewu dalam Bahasa Jawa berarti seribu. Dinamakan demikian karena dikaitkan oleh cerita Rara Jonggrang yang meminta dibuatkan seribu candi oleh Bandung Bondowoso. Tapi benarkah jumlahnya seribu? Nyatanya kompleks Candi Sewu ini berjumlah 249 candi meliputi 1 candi induk, 8 candi apit, dan 240 candi perwara.

WP_20150329_13_09_00_Pro

WP_20150329_13_10_06_Pro

WP_20150329_13_13_11_Pro

WP_20150329_13_23_26_Pro

WP_20150329_13_24_13_Pro

Tak puas hanya memandangi megahnya Candi Sewu dari halaman, kuberanikan diri menaiki tangga-tangga candi induk yang masih kokoh. Cukuplah sampai daun pintu aku melangkah, nyaliku ciut jika harus masuk ke dalam ruang gelap yang konon berisi patung perunggu Sang Manjusri setinggi 4 meter namun telah hilang tak berbekas. Dari atas sana juga aku bisa dengan leluasa melempar pandangan ke hamparan batu yang tersusun rapi membentuk bangunan candi apit dan perwara, namun ada pula yang tak terbangun sempurna. Sontak aku teringat pada cerita yang pernah kudengar, bebatuan candi yang runtuh oleh gempa dahsyat di peradaban silam digunakan masyarakat setempat untuk membangun jalan dan rumah. Andai mereka tahu kini tanpa bebatuan itu Candi Sewu tak sempurna walau tetap tampak indah. Sembari membayangkan cerita itu, pandanganku tertuju ke arah utara. Kali lain aku berada di sini, aku sempat melihat Merapi melatarbelakangi stupa-stupa yang diletakkan sebagai puncak candi perwara. Namun sayangnya hari itu kabut terlalu pelit membagi pemandangan Merapi untuk Candi Sewu.

Aku meniti turun anak tangga candi induk dan kembali lagi ke halaman. Kuputuskan untuk berkeliling sebentar. Ada relief-relief budha yang begitu jelas terukir di dinding-dinding candi. Aku tak tahu relief siapakah itu, mungkinkah Sang Manjusri yang dipuja-puja? Sambil berjalan, aku kembali membayangkan peradaban silam yang menjadikan kawasan sekitar Candi Sewu yang dipenuhi candi-candi sebagai pusat keagamaan, politik, dan kehidupan urban. Satu hal lagi yang amat perlu ditiru bahkan di era modern seperti ini ialah keselarasan umat beragama. Candi Sewu dibangun lebih dulu ketimbang Candi Prambanan, letaknya hanya berjarak 800 meter, menandakan bahwa sejak dulu umat Hindu dan Budha hidup harmonis dan saling bertoleransi. Oh ya, ternyata candi yang tak terbangun sempurna tak selamanya berkesan jelek. Sempat kulihat salah satu candi perwara yang hanya terbangun setengahnya, kuperhatikan seksama, bentuk dasar bangunannya berbentuk gunungan seperti yang ada di pertunjukan wayang. Bentuknya yang mengerucut punya arti semakin tinggi pengetahuan dan usia manusia, semakin dekat ia pada Tuhannya. Maka, selama hidup berbuatlah yang bermanfaat bagi orang lain agar berbekal cukup saat menghadap-Nya. Indah bukan setiap hal yang ada di Candi Sewu?

WP_20150329_13_09_59_Pro

Cukup lama aku berada di Candi Sewu yang sepi, tak sampai sepuluh kuhitung orang yang berkunjung siang itu. Pantaslah aku merasa layaknya berada di kerajaanku sendiri. Namun aku tak boleh terlena, aku harus bergegas kembali ke tempat persewaan sepeda di Prambanan. Perjalananku berkeliling candi kiranya memakan waktu 45 menit, sudah melebihi batas waktu pinjam sepeda yang hanya 30 menit. Kukayuh sepeda melewati sisi selatan Candi Sewu sembari mengucapkan selamat tinggal di dalam hati. Megahnya masih terbayang bahkan saat aku sudah turun dari sepeda. Dahiku kembali berpeluh diserang terik. Kuteguk segelas air dingin yang disediakan di loket persewaan sepeda. Pandanganku bukan lagi kemegahan Candi Sewu, melainkan lalu-lalang wisatawan sepulang dari Candi Prambanan. Benakku kembali terbawa angan, bagiku biarlah Candi Sewu terbunuh senyap dan tetap indah dengan caranya. Dan lewat tulisan ini kubagi rasa cintaku pada warisan negeri yang sayang jika tak lestari.

Tags: beautiful indonesiacagar budayacandicandi sewujawa tengahklatensewuvisit indonesia
Previous Post

Pariwisata dan Aktivitas Voluntourism

Next Post

Piknik Semalam di Pantai Greweng

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Piknik Semalam di Pantai Greweng

Piknik Semalam di Pantai Greweng

Comments 4

  1. cumilebay.com says:
    11 tahun ago

    saling hidup berdampingan harmonis sejak dulu yaaa kak

    Balas
    • insanwisata says:
      11 tahun ago

      Iya dong. Makanya jgn jomblo melulu om.. hehe
      Thanks ya udah mampir. Cek tulisan om cumi ahh…

      Balas
      • cumilebay.com says:
        11 tahun ago

        Yang jomblo siapa ??? aku ngak jomblo lho, cuman lajang jalang aja #plak

        Balas
        • insanwisata says:
          11 tahun ago

          Sama aja om. Mau lajang sampai kapan? kapan ngajak gandengan? hahaha

          Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller