Pulang lintas jalur
Kami pulang mengambil rute Selo. Ransel yang saya gendong semakin terasa berat karena ketambahan beberapa botol air untuk kebutuhan perjalanan.
“Itu puncak?”, saya menunjuk pada bukit yang cukup tinggi.
“Masih atas lagi”, goda Fadli.
Saya mendongak ke atas. Seketika kedua lutut gemetar menatap dua puncak yang cukup tinggi. Sepanjang jalur trek Suwanting-Selo, kami melempar canda tentang puncak yang tak sampai-sampai.
“Telepon Papa aja, minta jemput pakai heli”, Fadli semakin geli menggoda saya yang kerap bertanya jarak dan ketinggian. Bertugas sebagai navigasi, kemampuan Fadli dalam membaca peta tak diragukan lagi. Kali ini, ia yang berada paling depan. Ia selalu melaporkan kondisi ketinggian trek yang kami lewati. Ia pun yang tahu jarak, berapa kilometer lagi sisa perjalanan kami.

Setelah berjalan lebih dari tiga jam lamanya, kami pun sampai pada dua puncak tertinggi Merbabu; Triangulasi (3142 Mdpl) dan Kentengsongo (3122 Mdpl). Dua puncak yang dipadati ratusan pendaki dengan gaya berpakaian dan minat beragam. Berswafoto, memasang status, membentangkan bendera komunitas, bahkan menuliskan nama pada kertas, adalah hal yang saya temui saat di dua puncak tertinggi Merbabu.
Wajar saja. Di hari libur panjang seperti ini, Taman Nasional Gunung Merbabu mencatat terdapat 1.600 lebih pendaki yang mengambil jalur Selo. Tak ada ritual sujud syukur. Kami masih menyimpan tawa, masih terus waspada, karena masih harus melewati batu ujian untuk menuruni puncak.

Seumur-umur, jika harus diukur berdasar jarak dan ketinggian, saya tak pernah mencapai puncak tertinggi seperti ini. Pada ketinggian 3.142 Mdpl, ingin rasanya saya berteriak kencang dan berlari-lari girang. Tapi saya masih membayangkan medan turun nanti. Akhirnya, saya pun tak berekspresi. Cukup menikmatinya dengan memotret pemandangan sekitar.
Jalan menuju pulang tak selamanya mudah. Semangat yang kami bawa menuruni Merbabu adalah menyegerakan diri untuk bisa melahap semangkok bakso di Yogyakarta. Kerikil dan turunan curam kami lewati. Tiga kali terperosot sudah menjadi kenangan yang membekas saat turun dari puncak. Sebelas jam perjalanan pulang sudahlah normal, kami menuntaskan melewati lanskap vegetasi alam yang beragam. Sabana, tentulah menjadi favorit rata-rata para pendaki.
Namun, malang bagi Nata. Kakinya terkilir saat perjalanan menuju pulang. Ia pun harus jalan dengan langkah kaki yang tak lagi kuat. Tangan kanannya memegang tongkat. Kadang mengaduh kesakitan saat melewati turunan yang curam. Rasa salut saya pada Nata yang tak mau membuat kami cemas atas keadaannya. Ia terus berjalan. Sesekali berhenti di ruang yang lapang. Kemudian mengurut mata kaki yang semakin membengkak besar.
“Tak nyicil ya, pelan-pelan”, kali ini Nata berada paling depan.
***

Walhasil, tentang pertanyaan ke Merbabu, apa yang saya cari, menjadi pertanyaan besar yang memang tak menghasilkan jawaban genap. Bukan perkara capaian puncak maupun dokumentasi keindahan. Di sana saya menikmati proses. Di luar apa yang disampaikan banyak orang tentang manfaat mendaki gunung, saya justru menyimpulkan bahwa pendakian kemarin, adalah cara Tuhan untuk mengajarkan saya melawan rasa takut.
Setelah memutuskan menarik diri (resign) dari pekerjaan tetap dan fokus menyambut masa depan gemilang, memang akan datang batu ujian yang berat. Namun Tuhan sudah lebih dulu menguatkan pundak seorang hamba-Nya.
Ia berpesan, dalam melewatinya, tak usah mengaduh. Karena akan ada pertolongan yang memang saya yakini akan datang kapan pun. Ya, pertolongan itu datang dari Tuhan lewat menguatkan kaki, pikiran, hati, dan pundak saya.
Pendakian kemarin juga mengajarkan pada saya, bahwa pakaian kesombongan harus ditinggalkan. Jika jalur seberat Suwanting berhasil dilewati, belum tentu jalur lainnya bisa dilalui. Artinya, saya tak boleh sombong diri atas keberhasilan ini. Bisa jadi, batu ujian lainnya jauh lebih berat.
Jam menunjukkan pukul 19.00 malam lebih. Dari kejauhan, terdengar suara kendaraan bermotor. Semakin dekat, terus semakin dekat. Hingga akhirnya, kami sampai di pintu keberangkatan jalur pendakian Selo.
“Selamat, akhirnya kita pulang”, saya menyalami Rifqi yang bergegas menurunkan ranselnya.
Senyumnya mengembang. Ada rasa bangga di wajahnya melihat kami selamat sampai basecamp Selo.
“Nanti tak buatkan sertifikat. Menandakan kamu sudah sampai puncak Merbabu”, Rifqi menggoda saya.
“Oke. Gunakan tinta emas yang timbul. Jangan lupa, tulis ketinggian gunungnya”, saya terkikik membalas candaannya.
Jika ditanya. Akankah naik gunung lagi? Saya akan berpikir beberapa kali.
Baca juga : Ekowisata Kalitalang dan Ingatan Masa Kecil

















Selamat mas! Enakan tidur di kasur kan? Hahahahaha..
iyo Mba… Kapok wiss.. haha
Huahaha aku melu deg2an, amazing Mas. Semoga ketagihan 😀
ora.. kapok wis. kalau mau mendaki gunung, jangan direncanakan sampai puncak. sampai sabana pulang aja. hahaha.
huwaaaaaa bacanya deg deg an paraaaaah.
eh berarti resigb daru pekerjaan tetap itu awal dari perjalanan menuju masa depan gemilang ya? baiklah. saya akan bersiap.
jika sudah niat resign dan atas pertimbangan2 kebaikan. maka bersiaplah menjemput masa depan gemilang
Wahahaha. Jadi gimana? Wes ketagihan rung? Next sama Rifqy ke Lawu aja.
Aku jadi kangen naik gunung lagi 😀
Lawu? sampai puncak ra? mbok ora wae..haha
Sahhhhhhh
Bentar lagi ada ajakan naik Lawu lewat Cetho atau naik Ungaran.
Besok tambah ransel di depan buat bawa drone muahahhahahha
leren sik lur.. haha..istirahat
asyiknya naik gunung itu saat sdh nyampai puncak. indahnya
Benar Mba. Alhamdulillah, ya!
Haniiieeefff aku bangga padamu! Hahahahaha! Kamu keren pokok’e tak kasih semua jempolllllll! Hahahahhaa dan baru pertama kali naik gunung langsung ke Suwanting sih lebih sinting dari aku hahaha. Aku cekikikan baca blogpost ini ngebayangin wajahmu mindul-mindul manyun hahahaha…. Meski pun sekarang capek dan kapok, percaya deh gunung itu ngangenin, pasti nanti mau nanjak lagi! 😉
Haha. Malah lebih sinting ya daripada kamu.
Wah, keren pokoe lewat Suwanting ki. Ngeri-ngeri gitu. Bikin lutut gemeter .
Capeknya udah ilang sih. Tapi kulit masih perih kebakar.
hadeeuh jadi ingat pengalaman mendaki gunung sindoro, mengumpulkan tekad sebelum berangkat yang bikin panas dingin, pas hari H aman2 saja naik hingga puncak hanya saja pas turun, cedera parah hingga kaki sakit sekali untuk digerakkan, benar2 penyiksaan diri seumur hidup hahahaha
waduh..itu yg saya takutkan juga Mas kalau naik turun gunung
Alhamdulillah. Sertifikat belum jadi. Hahaha.
Ojo kapok-kapok yo. Diambil hikmahnya 😛
ditunggu sertifikat e
.arep tak pajang je
Masa depan gemilang
yuhuuu
Pas Rifqy bilang “Hanif mau ikut” dan aku dikasi tau bahwa ini adalah pendakian pertamamu, ku sudah geleng-geleng. Yakin Hanif mau diajakin naik jalur Suwanting? Tapi nyatanya kamu bisa. Mengalahkan ketakutan, itu yang paling penting. Betewe sampai saat ini pun aku kalau diajak “susah-susah” macam ini di benak selalu ada pertanyaan yang bergema “ngopo koe susah-susah ngene? enakan turu neng kasur”, tapi ya entah, itu serupa candu.
Hahhaa. Tuh kan. Jadi udah banyak yang ragu pas aku ikutan naik. Aku pun saat itu juga ragu sama diriku. Eh ternyata, kok yo iso.
Wkkw. Pas di lapangan, mengeluhnya macam itu terus ya 😀
Ayo wis, agendakan gunung nglanggeran aja
Ini adalah pendakian pertamaku Jo. Wkwkw
Iya sih. Sudah treking menanjak. Bawa beban lagi. Sungguh, wahai pendaki gunung. Apa yang kau cari?
Walah. Kamu menunggu ceritaku kembali? Aku e malah g tau kapan bisa mendaki lagi. WKwkw
sebenernya kalo cuma jalan aja aku sanggup. tapi kalo suruh sambil bawa ransel segede gaban gitu sambil nanjak kayaknya kok….gempor ya. haha.
tapi hebat mas, berhasil menaklukan diri sendiri. two thumbs up!
terimakasih Min!
Iya, itu yang bikin mental turun. Selain menanjak, harus membawa beban ransel. hehe
eh btw ada kisah serem atau horrornya ga nih?
biasanya kalo naik gunung ada bumbu seremnya dikit
aman mas. g ada.
SEJUMLAH problematika di sektor lingkungan kian bermunculan, seiring dengan meningkatnya tren pendakian gunung-gunung di Indonesia. Selain mengubah perilaku dan pola hidup hewan, masifnya kegiatan pendakian dalam lima tahun terakhir juga telah berdampak buruk pada besarnya volume sampah pendaki.
wah mantep nih hiking. kapan ya bisa naik gunung lagi
segerakan