Menempuh Perjalanan Panjang Demi Gudeg Manggar Mbok Seneng
Berderet warung makan dan penunjuk papan jalan gudeg barangkali kerap dijumpai sepanjang jalan di Yogyakarta. Belum lagi di daerah Wijilan yang memang sudah sohor sebagai sentra kuliner gudeg Jogja. Namun cobalah yang yang satu ini, Gudeg Manggar Mbok Seneng. Saya pun perlu bertanya-tanya dan berkali-kali berbalik arah untuk menemu dimana kediaman Sang Maestro Gudeg Manggar. Mujur, masyarakat di sekitar paham siapa Mbok Seneng (60 tahun) yang saya maksud.
Sosok perempuan senja itu memang tak menggunakan papan nama sebagai penanda dirinya menjual gudeg manggar. Namun, siapa sangka? Telah banyak wisatawan yang datang langsung ke rumahnya.
Persis di sisi barat jalan Pasar Mangiran, Srandakan, terdapat rumah sederhana dengan dinding anyaman bambu bernuansa hijau. Tak ada aktivitas jual beli dan bersantap makan layaknya warung makan biasanya. Saya pun harus memastikan dengan memberanikan diri masuk langsung ke dapurnya. Asap dari tungku api mengepul berusaha menembus ruang ventilasi udara. Proses menanak nasi ternyata sedang berlangsung.

Meski saya sudah datang pukul 10.00 pagi, Gudeg Manggar Mbah Seneng ternyata hampir ludes diburu pelanggan. Mujur, Mbah Seneng berbaik hati membagi jatah makan keluarganya. “Lha wis arep entek, tutup e dadine gasik (sudah mau habis, tutupnya lebih cepat)”, ujarnya sembari membuka panci berisi sisa gudeg manggar.
Tentu berbeda dengan gudeg pada umumnya. Jika gudeg yang biasa kita temui menggunakan bahan utama nangka, keunikan gudeg yang satu ini terletak pada lauk manggar atau bunga muda pohon kelapa yang kurang produktif. Dalam satu porsi gudeg manggar, Mbah Seneng menjualnya seharga Rp 20.000 saja. Itu pun sudah termasuk satu porsi nasi, ayam kampung, gudeg manggar, tempe kering, krecek, dan secangkir teh hangat.
Jualan yang sudah dirintis sejak tahun 1980-an ini memang tergolong langka. Tekstur ayam kampung yang empuk, dipadu dengan gudeg manggar yang gurih dan tak terlalu manis adalah kekhasan dari masakan Mbah Seneng.

Lokasi: Desa Trimurti, Srandakan, Bantul, DI Yogyakarta
Sate Kere Mbah Mardi: Murah, Unik, dan Lezat
Sate, adalah jamuan kenegaraan yang sudah kondang bahkan sejak Bapak Proklamasi, Bung Karno pertama kali resmi ditunjuk sebagai presiden. Sate bahkan lebih terkenal di Barat dibanding gudeg yang sudah disahkan sebagai citra kuliner khas Jogja. Namun tentunya ada banyak pilihan sate yang tersebar di Yogyakarta. Kelana rasa masakan Jogja di tengah malam akan lebih nikmat jika menyantap Sate Kere Mbah Mardi yang berada di Jalan Godean.

Persis berada di pinggir jalan, tak sulit untuk menemukan lokasi Sate Kere Mbah Mardi. Aroma sate tusuk ini melayang ke udara bercampur dengan asap kendaraan. Lantas membuat siapapun yang menyintas Jalan Godean menjadi kelaparan.
Keluarga Mbah Mardi menyediakan lebih dari 3.000 tusuk sate kere setiap hari. Bahkan tak hanya wisatawan yang rela mengantre panjang. Juru mudi transportasi daring pun siaga menjemput pesanan para pelanggan yang malas keluar.

Terbuat dari gajih atau lemak sapi yang diberi bumbu rempah dan kecap, seporsi sate kere dan kupat sayur dibandrol dengan harga Rp 8.000 saja. Nama ‘kere’ juga merujuk pada kemampuan membelinya. Harga yang sangat murah untuk kuliner sate.
Dalam sekali gigitan, saya langsung bisa merasakan betapa nikmatnya menyantap sate kere. Empuk, kenyal, gurih, dan manis. Tak ketinggalan, saya pun melahap habis kupat sayur yang menjadi pendamping sate kere. Sungguh, ritual santap malam yang nikmat.
Lokasi: Jl. Godean Km.7, Sidomoyo, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta
Enthok Slenget Kang Tanir: Kuliner Langka Khas Sleman
Diselimuti udara dingin khas pedesaan, saya menerobos jalanan Turi yang sunyi nan sejuk. Butuh perhitungan waktu yang tepat supaya saya tak kehabisan masakan Kang Tanir yang langka. Sudah sohor sejak tahun 2006 silam, masakan olahan daging enthok slenget bisa dibilang tak pernah punya saingan.

Sejak buka pukul 16.30 WIB, warung makan Kang Tanir tak pernah sepi pelanggan. Kang Tanir memiliki segudang resep dan jurus supaya masakan enthok, atau di beberapa tempat menyebutnya mentok tidak keras (alot) saat disantap.
Sebelum dimasak, enthok diungkep terlebih dahulu. Kemudian dimasak di atas tungku yang sudah bercampur rempah. Pelanggan pun bisa memesan tingkat kepedasan masakan. Mulai dari pedas, pedas sekali, bahkan extra pedas. Dengan cekatan, Kang Tanir pun menggoyang peranti masaknya. Balungan rica-rica enthok slenget pun tak ketinggalan untuk diolah.
Bicara soal nama, Kang Tanir mengaku menggunakan kata slenget karena merujuk pada pedasnya masakan. “Slenget kui, kepedesen”, jelas Kang Tanir sembari menunjukkan mimik wajah kepedasan.
Lalapan daun kubis dan potongan mentimun pun menjadi pendamping seporsi enthok slenget Kang Tanir. Kiranya apa yang membuat banyak pelanggan ketagihan adalah soal rasanya. Dalam sekali gigitan, rasa pedasnya cukup untuk menggoyang lidah. Baik aroma dan rasanya, bumbu rempah yang menempel di kuah dan daging enthok terasa sangat kuat.

Dalam satu hari, Kang Tanir sanggup menghabiskan 15 ekor enthok. Saking ramainya, enthok slenget Kang Tanir bisa habis dalam hitungan jam. Baiknya, bagi yang ingin menyantap masakan ini untuk datang tepat waktu, atau memesan via telepon terlebih dulu. Oh, ya. Enthok Slenget Kang Tanir hanya tutup di hari Rabu karena pada hari ini halaman parkirnya menjadi tempat adu kicau burung.
Lokasi: Jl. Pakem-Turi, Pules Lor, Donokerto, Turi, Sleman, DI Yogyakarta
Sedapnya Soto Kemangi Kemasan Sedjak 1963
Bicara soto, mungkin akan banyak variannya. Namun di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, temuilah soto legenda yang sangat berbeda dengan warung soto kebanyakan. Mulai berjualan sejak 1963, pun membuat warung Soto Kemasan tak pernah sepi pelanggan.
Nama kemasan sebenarnya merujuk pada lokasi dimana warung soto ini berada. Namun percayalah, banyak hal unik yang bisa ditemui selama menyantap kuliner soto kemasan. Bukan daging ayam maupun sapi yang digunakan. Melainkan irisan tahu bacem yang bercampur kuah soto dan nasi yang menjadi ciri unik dari Soto Kemangi Kemasan.

Hal yang akan ditanya penjual saat memesan semangkok soto kemasan adalah jumlah cabai rawitnya. Dua, atau bahkan melebihi sepuluh, dipersilakan tergantung selera pedas para pelanggan. Itulah sebabnya, nama lain dari warung Soto Kemasan ini adalah Soto Lombok Pithes. Tak hanya itu, aneka gorengan dan jeroan pun begitu menggoda untuk menjadi lauk tambahan.
Jika pesanan soto sudah menuju meja makan. Amatilah di sekeliling mejanya. Salah satu pelengkap yang bisa dijumpai adalah daun kemangi dan cabai rawit. Taburlah daun kemangi di atas semangkok soto yang sudah dipesan. Jika dirasa masih kurang pedas, cobeklah beberapa cabai rawit. Adanya taburan daun kemangi ini akan membuat kuah menjadi lebih gurih dan wangi. Maka lengkap sudah, Soto Kemangi Kemasan menjadi santapan lezat yang membuat perut kenyang.

Harga seporsi Soto Kemasan pun cukup murah. Hanya Rp 9.000 untuk semangkok soto. Dan Rp 15.000 untuk enam potong jeroan. Tertarik?
Lokasi: Jl. Ringroad Selatan, Singosaren III, Singosaren, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta
Gurih dan Lezatnya Mie Ayam Goreng Seyegan
Seperti halnya bersantap hidangan makan kaki lima. Mie ayam goreng mungkin terdengar sangat jarang. Namun di Kabupaten Sleman, mie ayam goreng sangatlah terkenal. Oh, ya. Jangan salah memilih tempat. Merapatlah menuju pionir Mie Ayam Goreng yang berada di Jl. Kebon Agung, Margokaton, Kecamatan Seyegan sebelum pukul 14.00 WIB. Karena jika datang melewati waktu ini, penjual Mie Ayam Seyegan sudah berkemas untuk pulang.

Sawi putih, acar timun, potongan ayam, dan taburang bawang goreng adalah pelengkap dari Mie Ayam Seyegan. Perhatikan saja porsi sawi putihnya. Cukup banyak, bukan? Belum lagi dari segi tekstur rasanya yang cukup kenyal dengan ukuran yang lebih besar dibanding mie ayam pada umumnya. Rasa lada hitam pun bercampur pas bersama takaran bumbu kecapnya. Jika anda penggemar rasa pedas, campurkan dengan sambal goreng yang tersedia di meja makan.
Untuk bisa memesan semangkok mie ayam, saya pun harus mengantre cukup panjang. Bahkan tak jarang, para pelanggan rela duduk lesehan di ruko para penjual, terlebih lagi saat memasuki jam makan siang. Pilihan saya jatuh pada semangkok mie ayam goreng. Rasa manis, gurih, dan asin pada bumbunya bercampur lezat. Sementara bagi penggemar rasa pedas, cukup tambahkan sambal goreng yang sudah tersedia.

Lokasi: Margokaton, Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta
Sepagi Mungkin Berburu Kipo Kotagede
“Iki opo (ini apa)?”, adalah pertanyaan pembuka bincang setiap kali pembeli merasa penasaran melihat jajanan mungil yang dijual di sebuah pasar.
Kapan terakhir kali membeli jajanan pasar? Kiranya ada waktu ke Yogyakarta, sempatkanlah untuk menyusur lorong-lorong sebuah pasar tua di Kotagede. Dikenal juga sebagai kawasan yang memiliki banyak bangunan cagar budaya, Kotagede ternyata memiliki jajanan pasar yang langka. Mengapa langka? Pertama, sementara waktu terus berjalan, jajanan pasar mulai banyak ditinggalkan. Kedua, jajanan pasar ini hanya dapat ditemukan di Kotagede.
Kipo. Jajanan pasar yang terbuat dari tepung ketan yang diberi pewarna alami dari daun suji dengan komposisi di dalamnya berupa gula merah dan parutan kelapa. Jajanan pasar yang mungil ini ditata dan dijual di atas lembaran daun pisang seharga Rp 2.000.

Rasa manis gurih bercampur harum daun suji dan aroma panggang adalah khas dari jajanan pasar Kipo. Untuk bisa membeli Kipo, datanglah sepagi mungkit saat Pasar Legi Kota Gede, pasar rakyat tertua di Yogyakarta memulai aktivitasnya. Oh, ya, jangan sampai kesiangan jika tak ingin kehabisan. Saya pun perlu datang dua kali untuk bisa bernostalgia saat menyantap jajanan pasar ini.
Lokasi: Di dalam Pasar Legi Kotagede, DI Yogyakarta, tepatnya di lorong pintu gerbang utama sebelah utara.
Catatan penting: artikel di atas menggunakan harga yang disurvei pada tahun 2018.











salah sekali hamba membaca postingan ini siang-siang saat lapar menyerang.
Sate Kere berkuah begitu belum pernah nyobai, di kampungku ada penjual sate gajih keliling tapi bukan disajikan dengan kuah.
Kalo boleh tau, favorit penulis dari 10 kuliner ini yang mana?
penulis menfavoritkan makan sama siapanya. bukan makan sendiri haha.
sabar. ini baru 10. masih ada 11 yang kusimpan dalam draft
Dari sepuluh macam kuliner itu, yang pernah kucicip cuma satu thok: Soto Kemangi Kemasan. PR sekali buat menjelajah sembilan lainnya yang memang semuanya meyakinkan untuk diicip.
Hannif mblusuk-mblusuknya sama siapa e sampai pasar-pasar juga :p
Aku saja belum pernah masuk Pasar Lempuyangan wkwk. Lain kali harus ketemu sama jenangnya.
Ini baru 10 ya. aku masih punya banyak. lagi pegel sing nulis dan mikir.
kamu g liat itu tangan pas di pasar mulus gitu? jempol semua lagi. tangan mas aji dongs. haha.
Nah, jenang enak serius. aku bela2in datang dari klaten sepagi mungkin, terus dikejar buk ibuk yang curhat kalau suaminya selingkuh. ibuk itu pengen bobol WA suaminya. aku tak bisa wkwkw
Mi Lethek belom mbak? Bukane udah?
Wah jadi laper banget.
Soal Gudeg Manggar, aku pernah dateng di kelas menulisnya Mbak Windy, dia cerita kalau Gudeg Manggar ini yang otentik asli Jogja. Selain Gudeg Nangka tentunya. Hmm maksud e mungkin malah sik Manggar ki sik asli.
Asik ya gagal di lomba malah jadi tulisan di blog sendiri. Hahaha.
Aku juga pernah niat banget pagi-pagi ke Pasar Lempuyangan cuma buat beli jajanan pasar. Terus mampir sekalian ke bubur candilnya. Enak banget asli. Poll lah pokokmen.
sebenarnya banyak yg asli Jogja. soalnya Mba W baru berkunjung ke Gudeg Manggar mbok seneng. aku pun ke sini gegara baca salah satu storiesnya kok. haha
mie lethek itu mengingatkan aku saat zaman dahulu kondangan di kampung2 sajiannya ya itu. walaupun bentuk dan rupanya kurang menarik entah mengapa rasanya gurih apalagi ditambah bumbu2 gitu. lebih enak lagi kalau dapat karena hasil mberkat ketika ada tetangga punya hajat. sekarang mah bihun dan mie2 kayak gitu rasanya beda
wah, bahagia sekali rasanya dapat mie lethek kalau ada acara2 di desa ya. sekarang pun porsi mie bihun kalau acara kenduren lebih sedikit. banyakan nasinya. haha.
Berburu kipo saat pagi sebelum sepedaan adalah waktu yang menyenangkan hahahahahha. Setelah itu baru nyari soto buat sarapan.
Soto tetep menu sarapan yang enak
Tetep isih penasaran karo Gudeg Manggar e lur. Traktir to lur… Yen Brongkos, daku tetep sreg ama rasa brongkos samping Pasar Ngasem, luih enak ketimbang brongkos alun-alun kidul. Namun, tetep kembali ke selera lidah masing-masing sih. :-
tapi kan koe rung nyoba brongkos ijo iki koh. haha. Cobai dulu.
Gudeg Manggar adoh. ayoklah. mari genapi kelana wisata kuliner ini
Tepat seminggu lalu aku mampir ke Mie Ayam Goreng Seyegan itu. Bertahun-tahun dipameri temanku yang rumahnya dekat sana, akhirnya baru kemarin kesampaian. Dan aku sukaaaaa, enak. Teksturnya, rasanya, lada hitamnya, pokoknya sukak. Sambelnya juga unik, kaya sambal ayam goreng. Ebetewe itu disebutnya bukan sawi ijo lho, Hanif. Menurut buibu meski warnanya ijo itu masih masuk golongan sawi putih. Beda dengan sawi yang dipakai mie ayam biasanya. Sekian dan terima traktiran :p
yes. sambalnya berbeda dari biasanya.
eh iya ini buk ibuk emang jago ngoreksi soal makanan. hehe. iya ya. sawi putih. walaupun pucuknya ijo. oke aku edit. hihi makasih
Nasi kucing ala jogja yang mantap !
Sangat bersahabat dengan mahasiswa hehe
tapi sekarang mulai mahal Min, haha