No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Terima Kasih Lion Air

by Hannif Andy Al - Anshori
Desember 19, 2018
5 min read
2

Discaimer: Artikel ini ditulis bukan atas pesanan, bayaran, maupun usaha-usaha untuk mengembalikan citra Lion Air dalam beberapa tragedi yang terjadi belakangan ini. Hanya ucapan terima kasih selama tiga tahun membersamai terbang antar pulau.

Dari Aceh hingga Papua

Menutup tahun 2018, lebih dari dua puluh provinsi di Indonesia yang sudah saya kunjungi selama rentang tiga tahun pasca-kuliah. Perjalanan dari kota satu menuju kota lainnya. Dari Serambi Mekkah-Aceh hingga Bumi Cendrawasih-Papua. Kesemua itu telah menyadarkan dan membuka mata saya bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang luar biasa. Baik potensi alam maupun manusianya.

Masih tersisa belasan provinsi lagi supaya bisa menuntaskan misi berkeliling Indonesia. Entah kapan semua itu terbayar, tentu harus melalui banting tulang dalam menghasilkan karya.

Lion Air
Masyarakat bepergian antar pulau dan daerah semakin mudah berkat transportasi udara

Awal mula

Jujur, dulu saya tak pernah berencana untuk menjadi orang yang memiliki frekuensi terbang cukup padat ke banyak daerah di Indonesia. Bahkan untuk bisa mencicip rasa bepergian menggunakan pesawat, saya harus menyisihkan uang saku kuliah. Itu pun belum lama. Tepat pada Januari 2014, untuk pertama kalinya saya merasakan sensasi bepergian menggunakan pesawat udara ke Bumi Cendrawasih, Papua.

Perjalanan menuju Papua pun harus melalui drama-drama memilih tiket yang sesuai kantong mahasiswa. Sayang, tabungan yang saya miliki kala itu tak cukup untuk bisa mengantar sampai ke tujuan. Saya pun harus rela mengambil rute perjalanan Yogyakarta-Surabaya via darat, kemudian melanjutkan perjalanan Surabaya-Sorong via udara.

Kerja keras menabung semasa kuliah pun terbayar. Untuk pertama kalinya, saya bisa membeli tiket Lion Air dari Surabaya menuju Makassar. Kekhawatiran orangtua yang mengetahui anaknya ingin ke Papua pun harus saya lewati dengan penuh dialek yang sulit dibantah. Ditambah lagi saya belum pernah bepergian menggunakan pesawat. Sungguh saat itut, saya kehabisan kata-kata untuk sekadar meminta ijin pergi ke Papua.

Bayangan tentang proses melewati petugas dan bilik pemeriksaan pun pernah membuat saya panik dan berkeringat dingin. Proses check-in, mencetak boarding-pass, memilih kursi pesawat, pindah pesawat (transit) di Makassar, adalah segala macam bentuk ketakutan lanjutan yang membuat saya ingin mengurungkan niat terbang ke Papua.

Lion Air
Awak kabin menjelaskan pengenaan sabuk pengaman dan prosedur keselamatan darurat saat penerbangan

Mujurnya, saya adalah orang yang tak punya urat malu. Berderet proses pemesanan hingga tiba di bandara tujuan saya tanyakan detail kepada petugas counter check-in berparas cantik di Bandara Juanda. Petugas yang tak ditanya namanya itu pun meninggalkan kesan yang baik untuk saya. Artinya, keramahan petugas dari pintu masuk bandara paling depan sudah menjadi syarat wajib bagi siapapun yang berprofesi di industri penerbangan.

Perintis penerbangan daerah

Gayung bersambut. Usai menuntaskan misi terbang ke Papua secara mandiri, saya pun mendapatkan banyak tawaran pekerjaan lintas provinsi. Mulai dari Maluku, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Gorontalo hingga kembali lagi ke Papua. Bahkan tak jarang, daerah pelosok yang sulit dijangkau menjadi tujuan penelitian saya.

Disadari atau tidak. Dari dua puluh lebih provinsi yang saya kunjungi, Lion Air menjadi maskapai terbanyak yang saya gunakan. Pasalnya, baru grup Lion Air yang melayani rute untuk bisa mengantar kami menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Meski kemudian disusul maskapai lain. Faktanya, memang Grup Lion Air lah perintisnya.

Contoh saja saat saya menuju Tual yang berada di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Jauh sebelum banyaknya pilihan maskapai menuju ke sana, Wings Air lebih dulu membuka rute penerbangan menuju Langgur, Tual. Meski terjadwal hanya sekali terbang dalam sehari, saya menemui banyak sekali pujian kepada maskapai Singa Terbang ini karena berani membuka jalur terbang sehingga memangkas waktu para masyarakat dalam bepergian.

Lion Air
Langit dan pemandangan di Maluku Tenggara dari jendela pesawat Wings Air
Lion Air
Tiba di Bandara Langgur, Tual, Kepulauan Kei

Contoh lain adalah rute Talaud-Sulawesi Utara yang juga menjadi beranda utara NKRI. Untuk menuju pulau cantik ini, masyarakat hanya bisa menggunakan maskapai Grup Lion Air saja. Itu pun hanya terbang sekali dalam sehari.

Pun jika harus terus terang, saat membuka bincang dengan para pemangku kepentingan di daerah yang memiliki potensi wisata. Banyak harapan dari mereka supaya dengan dibukanya rute penerbangan maskapai grup Lion Air ke daerah, nantinya semakin banyak pula wisatawan yang dimudahkan dalam bepergian sehingga mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Lion Air

Lantas, ada maksud apa artikel ini ditulis? Seperti yang disampaikan di paragraf awal. Artikel ini ditulis untuk mengucapkan banyak rasa terima kasih. Sebagai peneliti, konsultan, sekaligus pewarta (Travel Blogger) di bidang industri pariwisata, saya merasa banyak terbantu atas kehadiran maskapai grup Lion Air ini. Harapannya, semoga di tahun mendatang akan semakin banyak rute terbang yang dapat dijajal untuk menuntaskan misi saya berkeliling Indonesia.

Terima kasih Lion Air

Baca juga: 8 Rekomendasi Snack dari Travel Blogger

Lion Air
Lion Air
Foto bersama dengan kru pesawat Lion Air Jakarta – Yogyakarta
Previous Post

Blusukan Kuliner Yogyakarta

Next Post

Kelana Wisata Kota Minyak-Tarakan

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Bekantan Tarakan

Kelana Wisata Kota Minyak-Tarakan

Comments 2

  1. yudi randa says:
    7 tahun ago

    gimana nggak, dia menguasai 52% total penerbangan domestik indonesia hehehe
    dan ini perusahaan private! gilak

    Balas
    • insanwisata says:
      7 tahun ago

      karena itulah, saya berterima kasih. haha. bisa keliling ke pulau2 terluar dengan Lion Group

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller