Terima Kasih Lion Air

Discaimer: Artikel ini ditulis bukan atas pesanan, bayaran, maupun usaha-usaha untuk mengembalikan citra Lion Air dalam beberapa tragedi yang terjadi belakangan ini. Hanya ucapan terima kasih selama tiga tahun membersamai terbang antar pulau.

 

**** 

Dari Aceh Hingga Papua

Menutup tahun 2018, lebih dari dua puluh provinsi di Indonesia yang sudah saya kunjungi selama rentang tiga tahun pasca-kuliah. Perjalanan dari kota satu menuju kota lainnya. Dari Serambi Mekkah-Aceh hingga Bumi Cendrawasih-Papua. Kesemua itu telah menyadarkan dan membuka mata saya bahwa Indonesia adalah negara kepulauan yang luar biasa. Baik potensi alam maupun manusianya.

 

 

Masih tersisa belasan provinsi lagi supaya bisa menuntaskan misi berkeliling Indonesia. Entah kapan semua itu terbayar, tentu harus melalui banting tulang dalam menghasilkan karya.

Awal Mula

Jujur, dulu saya tak pernah berencana untuk menjadi orang yang memiliki frekuensi terbang cukup padat ke banyak daerah di Indonesia. Bahkan untuk bisa mencicip rasa bepergian menggunakan pesawat, saya harus menyisihkan uang saku kuliah. Itu pun belum lama. Tepat pada Januari 2014, untuk pertama kalinya saya merasakan sensasi bepergian menggunakan pesawat udara ke Bumi Cendrawasih, Papua.

Perjalanan menuju Papua pun harus melalui drama-drama memilih tiket yang sesuai kantong mahasiswa. Sayang, tabungan yang saya miliki kala itu tak cukup untuk bisa mengantar sampai ke tujuan. Saya pun harus rela mengambil rute perjalanan Yogyakarta-Surabaya via darat, kemudian melanjutkan perjalanan Surabaya-Sorong via udara.

Kerja keras menabung semasa kuliah pun terbayar. Untuk pertama kalinya, saya bisa membeli tiket Lion Air dari Surabaya menuju Makassar. Kekhawatiran orangtua yang mengetahui anaknya ingin ke Papua pun harus saya lewati dengan penuh dialek yang sulit dibantah. Ditambah lagi saya belum pernah bepergian menggunakan pesawat. Sungguh saat itut, saya kehabisan kata-kata untuk sekadar meminta ijin pergi ke Papua.

Bayangan tentang proses melewati petugas dan bilik pemeriksaan pun pernah membuat saya panik dan berkeringat dingin. Proses check-in, mencetak boarding-pass, memilih kursi pesawat, pindah pesawat (transit) di Makassar, adalah segala macam bentuk ketakutan lanjutan yang membuat saya ingin mengurungkan niat terbang ke Papua.

Mujurnya, saya adalah orang yang tak punya urat malu. Berderet proses pemesanan hingga tiba di bandara tujuan saya tanyakan detail kepada petugas counter check-in berparas cantik di Bandara Juanda. Petugas yang tak ditanya namanya itu pun meninggalkan kesan yang baik untuk saya. Artinya, keramahan petugas dari pintu masuk bandara paling depan sudah menjadi syarat wajib bagi siapapun yang berprofesi di industri penerbangan.

 

Pramugari Lion Air sedang membantu penumpang berkebutuhan khusus

 

Perintis Penerbangan Daerah

Gayung bersambut. Usai menuntaskan misi terbang ke Papua secara mandiri, saya pun mendapatkan banyak tawaran pekerjaan lintas provinsi. Mulai dari Maluku, Aceh, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Sulawesi, Gorontalo hingga kembali lagi ke Papua. Bahkan tak jarang, daerah pelosok yang sulit dijangkau menjadi tujuan penelitian saya.

Disadari atau tidak. Dari dua puluh lebih provinsi yang saya kunjungi, Lion Air menjadi maskapai terbanyak yang saya gunakan. Pasalnya, baru grup Lion Air yang melayani rute untuk bisa mengantar kami menuju lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Meski kemudian disusul maskapai lain. Faktanya, memang Grup Lion Air lah perintisnya.

Contoh saja saat saya menuju Tual yang berada di Kepulauan Kei, Maluku Tenggara. Jauh sebelum banyaknya pilihan maskapai menuju ke sana, Wings Air lebih dulu membuka rute penerbangan menuju Langgur, Tual. Meski terjadwal hanya sekali terbang dalam sehari, saya menemui banyak sekali pujian kepada maskapai Singa Terbang ini karena berani membuka jalur terbang sehingga memangkas waktu para masyarakat dalam bepergian.

Menuju Tual, Kepulauan Kei, Maluku Tenggara menggunakan maskapai Wings Air
Langit dan pemandangan di Maluku Tenggara dari jendela pesawat Wings Air
Tiba di Bandara Langgur, Tual.

Contoh lain adalah rute Talaud-Sulawesi Utara yang juga menjadi beranda utara NKRI. Untuk menuju pulau cantik ini, masyarakat hanya bisa menggunakan maskapai Grup Lion Air saja. Itu pun hanya terbang sekali dalam sehari.

Pun jika harus terus terang, saat membuka bincang dengan para pemangku kepentingan di daerah yang memiliki potensi wisata. Banyak harapan dari mereka supaya dengan dibukanya rute penerbangan maskapai grup Lion Air ke daerah, nantinya semakin banyak pula wisatawan yang dimudahkan dalam bepergian sehingga mendorong peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Lantas, ada maksud apa artikel ini ditulis? Seperti yang disampaikan di paragraf awal. Artikel ini ditulis untuk mengucapkan banyak rasa terima kasih. Sebagai peneliti, konsultan, sekaligus pewarta (Travel Blogger) di bidang industri pariwisata, saya merasa banyak terbantu atas kehadiran maskapai grup Lion Air ini. Harapannya, semoga di tahun mendatang akan semakin banyak rute terbang yang dapat dijajal untuk menuntaskan misi saya berkeliling Indonesia.

Baca juga: 8 Rekomendasi Snack dari Travel Blogger

Terima kasih Lion Air

Tabik,

 

Comments

comments

2 thoughts on “Terima Kasih Lion Air

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.