No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Harmoni Alam dan Desa Wisata Benowo

by Hannif Andy Al - Anshori
Februari 20, 2017
9 min read
55

Benowo memang ditakdirkan menjadi desa yang kaya sumber daya. Desa Wisata Benowo terlalu sayang untuk dilewatkan. Desa ini jauh dari hingar-bingar kendaraan yang memekakkan telinga. Perlulah orang kota sesekali datang menyambanginya. Bertukar pengalaman dengan mereka yang hidup harmonis bersama alam.

*****

Setengah perjalanan telah dilalui, melewati pepohonan lebat bak perkebunan yang menghampar luas. Nyanyian serangga pohon turut meramaikan jalanan malam. Saya mengamati mereka, yang tengah mendekap tas bawaan agar tak terguling jatuh. Sang juru mudi terlihat kerepotan pada medan yang makin menanjak. Jantung saya berdegup kencang  ketika mesin mobil mati di tanjakan tinggi. Mujurnya, juru mudi terbiasa dalam keadaan seperti ini. Sigap ia menarik tuas remnya. Kemudian mengatur kembali kemudi, mengantar kami tiba di Desa Wisata Benowo.

Desa WIsata Benowo, Purworejo
Menerobos jalanan gelap Desa Benowo.Perjalanan darat ini meliputi banyak tempat menarik dengan sajian pemandangan khas pedesaaan. Sayang, kami menerobos jalanan menuju Desa Benowo di malam hari sehingga tidak dapat melihat aktivitas warga

Tiba di Desa Wisata Benowo

Sebagai tamu, tak elok jika saya menolak suguhan makanan lokalnya. Bajingan salah satunya. Ketela rebus yang telah dilumuri gula aren ini terasa nikmat diganyang dalam suasana lapar. Seteguk wedang baceng adalah pelepas dahaganya.

Baceng diramu dari air aren (badek) dan cengkeh. Rasanya yang hangat terasa pas di tengah suasana dingin khas pegunungan. Jelang tengah malam, sebagai hiburan, jathilan pun digelar di halaman rumah tempat saya menginap. Mungkin karena kenyang, usai pertunjukan kesenian jatilan, tanpa bercakap panjang saya langsung beristirahat. Saya melewati malam pertama dengan menempati ruangan yang menampung lebih dari 15 orang.

Soto Kemangi Kemasan Sedjak 1963
Desa Wisata Benowo, Purworejo
elang tengah malam, sebagai hiburan, jathilan pun digelar di halaman rumah tempat saya menginap.

Menikmati pagi di Gunung Kunir

Celaka! Saya tidur terlalu nyenyak dan bangun paling terakhir. Pagi buta, sebelum fajar menyingsing, sekitar pukul lima, saya beranjak menikmati keindahan baskara pagi dari atas gunung. Desa Wisata Benowo adalah desa yang jauh dari bising. Terletak di Kecamatan Bener, Purworejo, kawasan ini belum tersentuh polusi seperti yang dialami kota-kota besar. Dengan menumpang ojek masyarakat lokal, saya diantar menuju puncak Gunung Kunir.

Tempat tetirah ini bagaikan pacuan adrenalin yang membuat jantung berdegup kencang. Jalan cor yang berlumut itu membentang jauh mengantar saya sampai lokasi parkir Gunung Kunir. Saya masih harus jalan menanjak, mengatur napas yang iramanya tak karuan. Sementara semburat mega mulai nampak merayu manja. Membuat langkah kaki saya tak bisa diajak rehat barang sebentar saja. Ah… Sampai juga di Gunung Kunir.

Perbukitan terbentang indah bukan kepalang. Kabut menggerayang lembah dan pepohonan. Ia bagaikan selimut raksasa yang menemani tidur malam makhluk hidup yang ada di sana. Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, empat kawanan gunung ini menjadi latar pelengkap pemandangan disilau matahari. Dibatasi rimbun pepohonan yang hijaunya menenangkan mata. Disuguhi suara alam yang mengalun bagai terapi indera yang mendamaikan suasana hati.

Gunung Kunir Desa Wisata Benowo
Gunung Kunir Desa Wisata Benowo
Perbukitan terbentang indah bukan kepalang. Kabut menggerayang lembah dan pepohonan. Ia bagaikan selimut raksasa yang menemani tidur malam makhluk hidup yang ada di sana.

Saya duduk menghadap ke timur. Menyesap oksigen pegunungan dalam-dalam. Langit yang gelap perlahan menjelma cerah. Hamparan kabut masih enggan diusir pancaran mega. Momen seperti ini tentu yang dirindukan banyak orang. Siapa pun, pasti terpesona menyaksikannya.

Meski dihadapkan dengan keterbatasan memasarkan daerahnya, untuk mengenalkan potensi baru, masyarakat secara mandiri menyulap puncak Gunung Kunir menjadi tempat yang ramah wisatawan. Tidak seperti ruang publik yang terlalu banyak bangunan permanen. Cukup memanfaatkan sumber daya hutan yang ada, mereka menata apik membangun spot untuk berfoto. Sambil menanti mega beranjak tinggi, saya melihat Mas Badai sumringah merekam panorama. Maka, sempatkanlah berfoto ria bersamanya.

Gunung Kunir Desa Wisata Benowo
Cukup memanfaatkan sumber daya hutan yang ada, mereka menata apik membangun spot untuk berfoto.
Gunung Kunir Desa Wisata Benowo
Berfoto bersama Mas Gio Badai di Bukit Kunir, Desa Wisata Benowo

Saya kembali diajak menyambangi potensi lain dari Benowo. Dengan menumpang ojek yang sama, saya dipaksa harus mencicipi pacuan adrenalin dengan medan yang lebih ekstrim. Jalanan meliuk dan licin membuat saya harus mengatur gerak pangkal paha bagian belakang. Lagipula, tanpa ojek, mana mungkin saya kuat berjalan kaki?

“Kulo nuwun, Pak”, sapa saya ketika bertemu masyarakat lokal yang sedang beraktivitas di sana. Meski hanya beberapa kata, saya bisa sedikit berbincang dengan warga sebagai tuan rumahnya. Saya menjumpai warga dengan beragam aktivitas.

Desa Wisata Benowo, Purworejo
Masyarakat lokal yang memikul sari aren. Minuman aren didapat dari sadapan pohon aren. Diproses secara tradisional tanpa bahan kimia, aren diolah menjadi Baceng, suguhan khas Desa Benowo.

Curug Benowo

Bukan hanya Gunung Kunir yang dijadikan primadona. Pengunjung pun akan terkejut manakala menyaksikan panorama air terjun/curug yang menyejukkan indera. Pada bantaran Curug Benowo, saya sempatkan berfoto ria mengabadikan lanskapnya. Airnya masih keruh akibat diguyur hujan semalam. Hidangan sarapan ala pedesaan turut disajikan.

Pilihan saya jatuh pada pisang rebus. Saya juga berkesempatan mengecap seduhan kopi khas Benowo. Aromanya memang tak jauh beda dari kopi biasanya. Dari aroma dan rasanya, dapat ditebak kopi Benowo ini berjenis robusta. Saya tengah membayangkan bagaimana kopi ini diseduh tanpa gula. Tentu, akan lebih berselera saya nikmati kekhasannya.

Curug Benowo
Imama (Travel Blogger asal Surabaya) sedang memandangi Air Terjun Benowo
Curug Benowo
Papan interpretasi untuk mengingatkan wisatawan agar turut serta dalam menjaga keberlangsungan alam, khususnya tanaman hidup di Curug Benowo

Petilasan Bangeran Benowo

Puas dari Curug Benowo, saya diajak kembali bertualang. Jalanan menanjak desa yang berliku dihiasi deretan pohon jati dan buah-buahan. Saya diantar menuju tempat petilasan. Penggunaan nama Benowo memang tak sembarang pilih. Bersama Sang Juru Kunci, ihwal petilasan Benowo saya tanyakan. Lewat gawai pintar, penjelasannya saya rekam.

Penyematan nama Desa Benowo diambil dari kisah Pangeran Benowo (Prabuwijaya) yang pernah berjaya pada masa Kerajaan Pajang (1586-1587). Putera dari Hadiwijaya atau yang akrab dikenal Jaka Tingkir ini sempat mengaso di sini. Tepat di samping pesanggrahan, terdapat makam para pengawalnya yang kerap dipadati peziarah pada Selasa dan Jumat Kliwon.

Petilasan Benowo
Makam pengawal Prabuwijaya atau Pangeran Benowo yang berada di petilasan.

Bagi para peziarah petilasan Pangeran Benowo, biasanya mereka datang dengan mengharap cipratan mukjizat dari banyak keinginan. Jabatan, kelancaran rezeki, kesehatan dan harap lainnya telah menjadi sugesti yang kerap mendatangkan banyak peziarah luar kabupaten. Sang Juru Kunci pun menambahkan, bahwa salah satu nazar KH Abdurrahman Wahid yang juga presiden RI ke-4 adalah berziarah ke petilasan eyangnya, yakni Pangeran Benowo (keturunan ke-12). Sebelum wafat, beliau menitipkan pesan agar masyarakat Desa Benowo rutin menyelenggerakan Merti Desa dengan membuat nasi tumpeng sejumlah Asmaul Husna. Pun syarat itu dilakoni dan rutin diselenggarakan setiap bulan Safar.

Curug Padusan

Tidak jauh dari Petilasan Benowo, terdapat satu curug lagi, yaitu Curug Padusan. Saya tertinggal satu babak dari Aya. Saat saya datang, ia telah beranjak dengan pakaian yang sudah basah. Jika perlu, mendongaklah ke atas langit. Pepohonan pinus menyertai keasrian Curug Padusan. Anugerah alam Desa Benowo melimpahi aroma kesejukan bagi para pelancong seperti saya.

Desa Wisata Benowo
Salah satu peserta trip, Mas Aji Sukma sedang mengambil getah dari pohon pinus di kawasan Air Terjun Padusan

Matahari nampaknya sudah merangkak naik. Tapi tak terasa panasnya. Kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Di ruang makan, deretan nampan besar telah berisi lauk dan sayuran khas pedesaan. Dalam satu dulang nasi pecel sebagai santap siang sangatlah berselera. Antara rakus dan lapar, tak ada bedanya.

Rupanya, tak ada yang aneh dari orang yang jatuh cinta. Pada pandangan pertama, akan menentukan proses perjalanannya. Segalanya tiba-tiba berubah menjadi indah. Atau, adakah memang indah dari sananya? Saya mengambil kesimpulan, Benowo memang ditakdirkan menjadi desa yang kaya sumber daya. Desa ini jauh dari hingar-bingar kendaraan yang memekakkan telinga. Perlulah orang kota sesekali datang menyambanginya. Bertukar pengalaman dengan mereka yang hidup harmonis bersama alam.

Baca juga : Inspirasi yang Datang dari Hutan Bambu Andeman, Sanankerto

Curug Padusan Benowo
Curug Padusan Benowo
Irzal sedang melihat hasil fotonya di Air Terjun Padusan, Desa Wisata Benowo

Catatan perjalanan ini merupakan catatan perjalanan dari salah satu rangkaian acara dari Familirization Trip: Explore Kebumen dan Purworejo yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah pada 15 s.d 17 Februari 2017.

Previous Post

Bertualang di Pulau Kabaruan, Kepulauan Talaud

Next Post

Mengejar Superman’s Big Sister

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Goa Barat Kebumen

Mengejar Superman’s Big Sister

Comments 55

  1. Aji Sukma says:
    9 tahun ago

    Ya ampuuun lengkap banget. Aku tinggal nyontek aja ini mah. Bahahaha *keplakkk

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      heh. curang kamu. haha. Yang penting banyakin fotoku di webmu yaak

      Balas
  2. Fajrin Herris says:
    9 tahun ago

    Wuih ada om gio.. Pemandangan di Gunung Kunir begitu syahdu banget mas. Apa lg ngopi di Air Terjun nya..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Wah. Mas Gio emang kece badai ya. terkenal sejagad travel blogger nusantara.
      Iya mas. Nyruput kopinya enak

      Balas
  3. Aliko Sunawang says:
    9 tahun ago

    mantab soul. itu fotonya mas penyiar ngapain dipajang di mari :’). Btw, yg caving itu beda lagi ya mas? Kirain juga dalam rangka famtrip jateng ini

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      biar insanwisata masuk net tv jg mas. barter. haha.
      Yang caving jg famtrip mas. tunggu artikelnya ya

      Balas
  4. Gallant Tsany Abdillah says:
    9 tahun ago

    itu kenapa potoku yang di tukang ojek pas merem sik 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      fotomu selalu merem e Mas

      Balas
      • Gallant Tsany Abdillah says:
        9 tahun ago

        *sad*
        btw jenengku salah kuiiii. edit dong :3

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          Halah. sing bener ki kepie. jenengmu di ijazah koyo opo sih?

          Balas
          • Gallant Tsany Abdillah says:
            9 tahun ago

            kayak yang diusername ini Nif 🙁
            Gallant

          • insanwisata says:
            9 tahun ago

            duh repot rek. haha. wes tak ganti

  5. Dwi Susanti says:
    9 tahun ago

    Pagi-pagi pas hujan pula baca ini, mulai dari terbawa sama deskripsi tentang sejuk-sejuk terus kekhawatiran lewat jalan licin, liat kabut² tipis, mak krucuk² pas baca tentang pisang rebus dan menyeruput wedhang baceng.

    Hanif kamu sekarang jadi doyan kopi tanpa gula? Benarkah itu? Apa cuma pencitraaan? Wkwk

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      haha. Enak ya? syahdu gitu. Kaya e kamu bakal suka dengan view di sini Mba Dwi. Apalagi kamu penggemar senja. Eaa. aku tau banget ya apa kesukaanmu.
      Sebenernya aku doyan, sangat doyan. Cuma tidak terlalu sering minum kopi. Haha. Gaya ya

      Balas
  6. insanwisata says:
    9 tahun ago

    Dia lagi ngulik2 getah. haha.
    Wew. Ternyata nama Benowo ada dimana2 ya. Memang, perjuangan benowo itu kalau dibaca2 mirip kaya seorang wali. bahkan Gusdur pun kabarnya keturunan ke12 dari pangeran Benowo

    Balas
  7. ghozaliq says:
    9 tahun ago

    Lain kali harus kemping ceria nih sepertinya di Bukit Kunir, hahaha

    Dulu pernah nulis juga sih tentang Curug Benowo, tapi yang di Semarang, hehehe
    Lagian Curug Benowo yang ini itu ada di belakang rumah warga, hahah sangat ideal sekali menjadi rumah idaman asal jalannya gak harus ngebuat motor “ngeden”

    Itu getah karet ya mas? yang sedang disentuh oleh Mas Aji Sukma?

    ngomong-ngomong, di mana ini voucher umrohnya mas? kok saya gak nemu?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      lhoh. iklan pop-upnya g muncul ya buat umroh? haha.
      Oalah. Semarang juga punya yaa.
      Itu yg dipegang Mas Aji getah pohon pinus 😛
      Ayo kegunaannya buat apa? masih kita perdebatkan

      Balas
      • Vanisa Desfriani says:
        9 tahun ago

        aku ya sama, mampir sini mau cari voucher umroh 😀

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          selamat, anda mendapat balasan dari admin pemilik travel umroh terkenal di Yogyakarta. haha

          Balas
  8. Iwan Tantomi says:
    9 tahun ago

    Bajiangan, nama yang epik, bacanya pun penuh penekanan, eh, ternyata makanan.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Hahaa..pd suka bagian itu ya ternyata

      Balas
  9. Alan says:
    9 tahun ago

    Suasana paginya apikkkk

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya mas.. sayang pas berawan

      Balas
  10. Gara says:
    9 tahun ago

    Menarik sekali mengetahui masyarakat di sana sudah lebih sadar akan bagaimana pariwisata yang bisa berjalan sejajar dengan kelestarian alam dan budaya. Semoga selalu bertahan wisatanya, ya. Menurut saya ini konsep wisata abadi, sebab lengkap, tak terbatas pada sejarah dan budaya namun ekonomi pun sudah masuk dan semua tidak didasari semangat eksploitasi. Keren banget Mas. Yang membuat penasaran sekarang justru apa arti “benowo” sehingga bisa ada nama serupa di beberapa tempat. Apa petualangan Pangeran Benowo ini sejauh itu? Hehe.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Haha. kenapa aku selalu menunggu komentarmu Mas Gara. karena komentarmu membuat aku ingin segera menambah dan memperbaiki tulisan.
      Baik, menurut Sang Juru Kunci, makam Benowo masih menjadi perdebatan. Di Demak juga ada, di Solo juga ada. Tapi yang baru diyakini baru di Benowo ini, Mas. Tapi masih belum jelas. Terkait petualangannya, entah sudah sejauh mana ya Mas. Bahkan Pangeran Benowo juga pernah sanggrah di Kendal.
      Sama kaya Brawijaya, yang semedinya berpindah2. Sengaja saya tak menuliskannya lebih dalam mas karena narasumber tak bicara banyak.

      Balas
      • Gara says:
        9 tahun ago

        Hoo… fenomenanya mirip dengan Pangeran Jayakarta di Jakarta ini, makamnya ada beberapa dan masih jadi perdebatan. Tapi bagaimanapun diambil sisi positifnya saja dulu ya Mas, jadi ada banyak tempat untuk ziarah, tak harus satu… hitung-hitung bagi-bagi rezeki *apasih, haha.
        Sip Mas, terima kasih banyak. Tulisan Mas bagus dan menarik, pemilihan katanya juga apik. Saya pun belajar banyak dari tulisan-tulisanmu, hehe.

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          Benar Mas. Karena para Pangeran jawa terdahulu memang seperti Ibn Batutta ya. Berkelana meskipun hanya di Jawa. Kayanya perlu membedah buku babad tanah jawi. haha.
          Terimakasih banyak, Mas. Saya masih harus terus belajar. Beruntung kenal dirimu. Jadi saya bisa nambah referensi dalam pengayaan kosa kata. Apalagi tulisanmu tematik heritage. Btw, aku lagi banyak ingin belajar heritage. Karena Jogja bagiku kota pusaka. Tapi masih sulit menuliskannya.

          Balas
          • Gara says:
            9 tahun ago

            Nanti kalau saya ke Yogya kita jalan yuk Mas hihi. Sudah lama tidak ke Yogya, dan belum ada satu pun tulisan saya tentang kota itu. Kita sama-sama belajar yak :)).

          • insanwisata says:
            9 tahun ago

            Pokoknya siap Mas. Japri aja kalau jenengan mau ke Jogja. Aku ajak ke Kota Gede. Hehe

  11. Nasirullah Sitam says:
    9 tahun ago

    Dua kali saya melihat foto-foto ini, pertama gegara teman famtrip, dan kedua karena temanku naik sepeda ke sini hari Minggu kemarin. Duh Gusti kok ya lokasinya asyik banget buat dikunjungi sepedaan.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      yakin nih mau sepedaan? haha.
      Emang lokasinya asik bener kok. adem dan tenang. syahdu lah pokoe

      Balas
  12. Alid Abdul says:
    9 tahun ago

    Bajingan, bagaimana rasanya? Enak? Di sini apa ya namanya, dulu simbok suka bikin gituan, sekarang jarang digantikan burger dan fitsa #halah

    Byuh rasanya pengen nyebur aja lihat blumbang begitu 😀

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      aku suka sih mas. karena dibalut dengan kemanisan. ea
      Masing2 daerah emang bedo. nek gonku yo telo manis. haha.
      Halah, Jombang ono burger ta?

      Balas
  13. Ardian Kusuma says:
    9 tahun ago

    Cocok buat pacaran, thanks infonya mas

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      asem. kamu yo ikut kok

      Balas
  14. Mesra Berkelana says:
    9 tahun ago

    aku penasaran sama minuman dr aren itu aakk..
    kemarin pengen bisa gabung tripnya tapi apalah daya daku masi KKN .

    Si kunir emang sejuk banget udaranya, Ini benowonya pas gak rame ya.

    2 tahun lalu pas ke curugnya rame banget hari minggu sih

    *lidia

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      wah. Lidia sudah sempet ke sini ya? sayang sekali ya pas masih KKN. ku kira udah kelar.
      Minumannya enak, anget

      Balas
  15. Prima Hapsari says:
    9 tahun ago

    Daerah Purworejo memang banyak yg masih hijau kayak Benowo, apalagi dikelilingi perbukitan, save ah buat wishlist Piknik

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya. apalagi banyak duren

      Balas
  16. winnymarlina says:
    9 tahun ago

    wah perjalananya keceee suka ama pegunungannya serta naik motor lagi

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      penuh adrenalin mba

      Balas
  17. Satya Winnie says:
    9 tahun ago

    Aku baru dengar lho soal Desa Benowo ini dan terlihatnya menarik. Aku kepengen banget coba Bajingan dan Baceng itu. Enak ya Nif? xD

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Enak Mba. Anget gitu. hahha.
      Ayo ke sini. jangan main di laut aja

      Balas
  18. Penjaja Kata says:
    9 tahun ago

    Keren! Ini wisata yang memorabilia banget. 😀

    Balas
  19. alrisblog says:
    9 tahun ago

    Pegunungannya sangat menarik, cakep sekali.
    Alam pegunungan betapa suegernya menghirup udara bersih gratis.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      alhamdulillah. memang nikmat tinggal di sini

      Balas
  20. Eksapedia says:
    9 tahun ago

    Pemandanganya keren mas,
    air terjunya juga indah banget 🙂

    Balas
  21. Gio | Disgiovery says:
    9 tahun ago

    Wah ada foto kita berdua, bikin segar ya! Hahaha… *kemudian ditimpuk bajingan*

    Menarik nih ternyata ada acara Merti Desa, aku malah ketinggalan info ttg Pangeran Benowo karena cuma diantarkan sampai curug Padusan, mana sendirian..

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      wkwkw. padahal dari Curug Padusan tinggal jalan kaki.
      Foto kita berdua makin banyak dapat komentar btw. sebagai penglaris. haha

      Balas
  22. wisnutri says:
    9 tahun ago

    kaaaan, saya yg warga purworejo juga belum pernah kesini hehe ._.

    kemarin ikut daftar yg famtrip ini juga, tapi apa daya kalah sama blogger-blogger yg lebih kece 🙂
    di purworejo diajak muter kemana aja mas? goa seplawan? pantai?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Wah. Sy g kece mba. Semoga lain waktu bisa ikutan trip ya..
      Seplawan, rafting bogowonto, sama benowo aja mba. Purworejo cakep ya!

      Balas
  23. BaRTZap says:
    9 tahun ago

    Kalau Pangeran Benowo nya sendiri dimakamkan di situ atau cuma petilasannya saja yang diabadikan jadi nama desanya Nif? Selain memang tempatnya yang asik, aku tertarik juga dengan kisah sejarah di balik namanya.

    Baru makam prajuritnya aja yang ziarah sudah banyak. Apalagi kalau Pangeran Benowo nya yang dimakamkan di situ ya? 🙂

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Antara makam dan petilasan bro.. masih belum pasti.

      Balas
  24. Ping-balik: Berkunjung ke Desa Benowo Purworejo – GALAUTRAVELER
  25. Ping-balik: Terbaik 10 Foto Wisata Desa Traditional Toro - Gaga Radio

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2023 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2023 a storyteller