No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Iftar Ramadan Bubur Banjar

by Hannif Andy Al - Anshori
Juni 10, 2017
4 min read
39

Aroma rempah begitu kuat menusuk indera penciuman. Usai tunaikan solat zuhur di Darussalam, para juru masak lekas menempati formasinya. Di dapur yang bersanding dengan rumah ibadah ini bernaung enam pekerja yang setiap hari mendapat tugas memasak makanan berbuka. Ada yang mencacah tulang sapi, ada yang merajang sayuran, ada juga yang menghidupkan bara api. Menu masak andalan sepanjang Ramadan siap untuk digarap cepat sebelum kumandang adzan berikutnya terdengar.

Sudut Kampung Jayengan, Kelurahan Serengan ini punya riwayat masyhur yang selalu semarak di bulan Ramadan. Tak seperti masjid kebanyakan yang terus berganti iftar (menu berbuka puasa) untuk para jamaahnya, selama 29 hari Ramadhan, Masjid Darussalam tak pernah absen berbagi iftar Bubur Banjar. Diperkenalkan langsung oleh perantau asal Kota Banjar dari Kalimantan Selatan, kini Masjid Darussalam selalu ramai menjelang dan sesudah Ashar.

Bubur Banjar Solo Saat Ramadan
Para juru masak bersiap memasak bubur Banjar yang akan dibagikan ba’da salat ashar di Masjid Darussalam Surakarta

Zaman yang menuntut banyak perubahan ternyata tak jadikan tradisi masyarakat Banjar di Solo hilang. Meski bahan utama minyak samin (lemak unta) sulit didapat, beberapa keluarga besar masyararakat Banjar sanggup mengakali dan merahasiakannya. Itulah alasannya, Bubur Banjar lazim disebut dengan Bubur Samin.

Bermula sejak 1965, tradisi tahunan yang mulanya hanya dinikmati sebagian masyarakat di lingkungan Jayengan, kini justru turut diramaikan masyarakat se-Solo Raya. Selain dimasak selama bulan Ramadan, Bubur Banjar menjadi suguhan saat hajatan yang terselenggara pada hari besar islam, seperti pertengahan Syakban dan 10 Muharram.

Bukan perkara sulit bagi juru masak untuk membuat Bubur Banjar terasa lezat. Berpuluh tahun mengabdi sebagai juru masak di Darussalam, rempah beserta takarannya sudah dihafal di luar kepala. Bawang merah, bawang putih, wortel, daun bawang, jahe, kapulaga arab, pala, kayu manis, dan campuran rempah lainnya tak pernah kurang dalam memberikan citra rasa Bubur Banjar.

Usai mencampur bahan utama ke dalam panci berukuran besar, para juru masak bergiliran mengaduk tiada henti. Pasalnya, jika berhenti mengaduk sebentar saja, Bubur Banjar akan mengembang sampai meluber dari wadahnya. Andai formasi tak lengkap, tentu akan menyusahkan dalam pembuatan Bubur Banjar.

Bubur Banjar Solo Saat Ramadan
Para juru masak mengaduk bubur banjar yang telah dicampur bumbu masak

Seiring peminat yang makin banyak, pihak takmir terus menambah porsi iftar Bubur Banjar yang dibagikan. Kabarnya, memasuki hari ke sepuluh bulan Ramadan, pembuatan Bubur Banjar sudah menghabiskan lebih dari 400 kilogram beras.

“Hari ini kita menghabiskan 60 kilogram beras. Ada lebih dari 1.500 porsi yang akan dibagikan, Mas”, ungkap Arifin sebagai juru masak iftar bubur banjar.

Sudah melewati pukul tiga, menjelang solat Ashar. Bubur Banjar sudah dipastikan matang sebentar lagi. Berderet orang mengantre panjang bagaikan ular. Sepanjang rentang gang menuju Masjid Darussalam, terlihat sekumpulan orang tengah berkerumun sembari menenteng rantang, kotak-kotak bekal, maupun mangkok untuk mendapatkan berkah dari iftar Ramadan. Meski begitu, panitia tak membatasi dalam urusan porsi.

Bubur Banjar Solo Saat Ramadan
Bawang merah, bawang putih, wortel, daun bawang, jahe, kapulaga arab, pala, kayu manis, dan campuran rempah lainnya menjadi bumbu yang digunakan untuk membuat bubur Banjar.

Bagi Uji dan Anang Gepeng, menghabiskan ratusan pengantre yang mengharap iftar Bubur Banjar tak membutuhkan waktu lama. Dengan cekatan, mereka membagikan Bubur Banjar yang masih mengepul panas ke dalam rantang bersusun milik para jamaah. Berbagi iftar Bubur Banjar ini terbukti mewarnai suasana Ramadan Kampung Jeyengan. Pemandangan seperti ini, tentu hanya bisa dijumpai saat 29 hari Ramadan.

Bubur Banjar Solo Saat Ramadan
Jama’ah yang mengantre untuk mendapatkan iftar bulan puasa di Masjid Darussalam Solo

Seiring pemberitaan yang ramai setiap tahunnya, eksistensi Bubur Banjar sebagai iftar bulan puasa kerap diburu para pelancong yang gemar tunaikan safari Ramadan. Seperti saya, yang untuk pertama kalinya mencicipi Bubur Banjar beberapa sendok saja. Enak, meski harus banyak penyesuaian. Dahaga setengah hari menahan lapar disudahi dengan mengecap gurihnya Bubur Banjar. Rasa rempah dan kaldu yang kuat adalah citra rasa yang khas dari Bubur Banjar. Dan pada akhirnya, letih setelah berpuluh kilometer perjalanan Klaten-Solo terbayar lunas atas narasi visual dan iftar Ramadan yang langka.

Iftar Ramadan Bubur Banjar, adalah salah satu pesona Ramadan Jawa Tengah yang cukup langka.

Baca juga : Satu Hari di Solo

Bubur Banjar Solo Saat Ramadan
Bubur Banjar Solo Saat Ramadan




Tags: bubur samin banjarGenpi Jatengkuliner soloPesona Ramadantradisi ramadan
Previous Post

Destinasi Baru yang Wajib Dikunjungi Saat Berlibur ke Lombok

Next Post

Wajah Bersahaja Para Abdi Raja

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Abdi Dalem Yogyakarta

Wajah Bersahaja Para Abdi Raja

Comments 39

  1. Gallant Tsany Abdillah says:
    9 tahun ago

    wah jadi penasaran pengen nyobain juga

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      cepet banget dirimu main ke blogku. belum juga ku share.
      Mas Aji tuh, suka banget

      Balas
    • Aji Sukma says:
      9 tahun ago

      Gak suka-suka banget ah.. Gak abis juga seporsi. Plg cm beberapa suap. Kalo banyak2 eneg. Rasanya mirip mie instan rasa soto

      Balas
      • insanwisata says:
        9 tahun ago

        Katamu doyan.. Haha

        Kalau aku sih butuh menyesuaikan. makanya aku bilang, walau cuma beberapa sendok saja. Enak, meski harus banyak penyesuaian :p

        Balas
  2. Yosef Krisna says:
    9 tahun ago

    Malah br tau saya mas, ada tradisi ini…pernah ikut beberapa acara kuliner di Solo kayak festival jenang 😀 oya mas, selamat menunaikan ibadah puasa ya…

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Selamat menunaikan ibadah puasa juga Mas Yosef

      Balas
  3. Rahmi says:
    9 tahun ago

    Pancinya guede banget yaa. Seru banget rame yg buka puasa di sana.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Serunya ya. Takjil gratis

      Balas
  4. insanwisata says:
    9 tahun ago

    Uniknya hanya keluar pas Ramadan

    Balas
  5. Endah Kurnia Wirawati says:
    9 tahun ago

    wahh cuma ada pas ramadhan??
    jadi penasaran sama rasanya

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      iya, hanya Ramadan

      Balas
  6. Aqied says:
    9 tahun ago

    Kak aku konfirm hadir kak. Eh bener di sini ndak?

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      telat woi

      Balas
  7. Nasirullah Sitam says:
    9 tahun ago

    Aku bukan pecinta bubur, tapi kalau diajak berburu foto di sini mau banget buahahhahahah

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Cuma hunting doang nanti bisa dimarah simbok lho

      Balas
  8. Dewi Rieka says:
    9 tahun ago

    Akuh mupeeeng, kebayang aroma rempahnya hiks…semoga para pembuat buburnya diberkahi Allah rezeki dan kesehatan aamiin

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Aamiin Mba. Ga kuat ya puasanya? hehe

      Balas
  9. Dewi Rieka says:
    9 tahun ago

    Semoga pembuat buburnya diberi kesehatan dan rezeki aamiin..mupeeng pengen nyicip jugakk..

    Balas
  10. Nusantara Adhiyaksa says:
    9 tahun ago

    belum pernah nyobain bubur banjar, di kota saya kyaknya belum ada, heeee

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Tinggal di mana? Kalau mau nyobain datang saja ke Solo. Mumpung masih banyak waktu Ramadan

      Balas
  11. Astari says:
    9 tahun ago

    Oalaaah, jadi kepengen nyobain bubur ini.
    Semoga ramadhan tahun depan bisa melipir kesana ditengah jadwal manggung yang padat *dijitak.

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Jangankan untuk ke sini, aku mau ketemu kamu aja, situ padatnya minta ampun

      Balas
  12. Pink Traveler says:
    9 tahun ago

    pengen nyobain bubur ini soalnya waktu traveling ke Malaysia di masjid2nya dibagikan bubur Lambok yang rasanya gurih jadi penasaran pengen cicip bubur dari Indonesia

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Wah, di Malaysia juga punya budaya yang mirip2 dengan kita, ya! Menarik. Harus ke sini, Mba!

      Balas
      • Pink Traveler says:
        9 tahun ago

        Doain mas, soalnya aku mau pindah ke jogja

        Balas
        • insanwisata says:
          9 tahun ago

          wah, asik nih. Nambah satu temen blogger lagi. Kita belum pernah ketemu lho btw.

          Balas
          • Pink Traveler says:
            9 tahun ago

            iya, pengen meet up dengan blogger jogja yg seru2

          • insanwisata says:
            9 tahun ago

            hehe. siap. Kabar-kabar aja via IG atau twitter. 😀

          • Pink Traveler says:
            9 tahun ago

            Siip

  13. Satya Winnie says:
    9 tahun ago

    Ini bubur yang kemarin kamu dan Mas Aji omongin ya? Ahhh aku juga pengen cobainnnn xD

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Kita sempet ngomongin ya? wkwkw. Aku malah lupa

      Balas
  14. Matius Teguh Nugroho says:
    9 tahun ago

    Aku salut dengan kegiatan berbagi seperti ini tanpa mengharapkan pamrih, bahkan tanpa membatasi jatah per orang. Kalau ada kesempatan icipin Bubur Banjar ini di Masjid Darussalam, aku mau bawa sate telur puyuh sama usus ah XD

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Wkwkw. aku ga kepikiran bawa menu tambahan sate e Mas. Mantap, ya!

      Balas
  15. Blogger Kendal says:
    9 tahun ago

    Kualinya gede banget, pengen nyoba 😀
    pasti rasanya enak dibuat dengan penuh berkah

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Penuh berkah.. aamiin

      Balas
  16. Hastira says:
    9 tahun ago

    inilah kearifan lokal yg harus dipertahankan ya, aku sealu suka dg berbagai tradisi daerah

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Iya Mba. Semoga Ramadan tahun depat bisa mencicipi lagi

      Balas
  17. Wisnu Tri says:
    9 tahun ago

    hampir 6 tahun di solo dan belum pernah nyicipi bubur legendaris ini *berdosa banget ya Allah hehe
    puasa kemaren sempet ngajak temen buat kesana, tapi ngga jadi 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      Wah, Ramadan tahun besok harus ke sini Mas 😀

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller