Aroma rempah begitu kuat menusuk indera penciuman. Usai tunaikan solat zuhur di Darussalam, para juru masak lekas menempati formasinya. Di dapur yang bersanding dengan rumah ibadah ini bernaung enam pekerja yang setiap hari mendapat tugas memasak makanan berbuka. Ada yang mencacah tulang sapi, ada yang merajang sayuran, ada juga yang menghidupkan bara api. Menu masak andalan sepanjang Ramadan siap untuk digarap cepat sebelum kumandang adzan berikutnya terdengar.
Sudut Kampung Jayengan, Kelurahan Serengan ini punya riwayat masyhur yang selalu semarak di bulan Ramadan. Tak seperti masjid kebanyakan yang terus berganti iftar (menu berbuka puasa) untuk para jamaahnya, selama 29 hari Ramadhan, Masjid Darussalam tak pernah absen berbagi iftar Bubur Banjar. Diperkenalkan langsung oleh perantau asal Kota Banjar dari Kalimantan Selatan, kini Masjid Darussalam selalu ramai menjelang dan sesudah Ashar.

Zaman yang menuntut banyak perubahan ternyata tak jadikan tradisi masyarakat Banjar di Solo hilang. Meski bahan utama minyak samin (lemak unta) sulit didapat, beberapa keluarga besar masyararakat Banjar sanggup mengakali dan merahasiakannya. Itulah alasannya, Bubur Banjar lazim disebut dengan Bubur Samin.
Bermula sejak 1965, tradisi tahunan yang mulanya hanya dinikmati sebagian masyarakat di lingkungan Jayengan, kini justru turut diramaikan masyarakat se-Solo Raya. Selain dimasak selama bulan Ramadan, Bubur Banjar menjadi suguhan saat hajatan yang terselenggara pada hari besar islam, seperti pertengahan Syakban dan 10 Muharram.
Bukan perkara sulit bagi juru masak untuk membuat Bubur Banjar terasa lezat. Berpuluh tahun mengabdi sebagai juru masak di Darussalam, rempah beserta takarannya sudah dihafal di luar kepala. Bawang merah, bawang putih, wortel, daun bawang, jahe, kapulaga arab, pala, kayu manis, dan campuran rempah lainnya tak pernah kurang dalam memberikan citra rasa Bubur Banjar.
Usai mencampur bahan utama ke dalam panci berukuran besar, para juru masak bergiliran mengaduk tiada henti. Pasalnya, jika berhenti mengaduk sebentar saja, Bubur Banjar akan mengembang sampai meluber dari wadahnya. Andai formasi tak lengkap, tentu akan menyusahkan dalam pembuatan Bubur Banjar.

Seiring peminat yang makin banyak, pihak takmir terus menambah porsi iftar Bubur Banjar yang dibagikan. Kabarnya, memasuki hari ke sepuluh bulan Ramadan, pembuatan Bubur Banjar sudah menghabiskan lebih dari 400 kilogram beras.
“Hari ini kita menghabiskan 60 kilogram beras. Ada lebih dari 1.500 porsi yang akan dibagikan, Mas”, ungkap Arifin sebagai juru masak iftar bubur banjar.
Sudah melewati pukul tiga, menjelang solat Ashar. Bubur Banjar sudah dipastikan matang sebentar lagi. Berderet orang mengantre panjang bagaikan ular. Sepanjang rentang gang menuju Masjid Darussalam, terlihat sekumpulan orang tengah berkerumun sembari menenteng rantang, kotak-kotak bekal, maupun mangkok untuk mendapatkan berkah dari iftar Ramadan. Meski begitu, panitia tak membatasi dalam urusan porsi.

Bagi Uji dan Anang Gepeng, menghabiskan ratusan pengantre yang mengharap iftar Bubur Banjar tak membutuhkan waktu lama. Dengan cekatan, mereka membagikan Bubur Banjar yang masih mengepul panas ke dalam rantang bersusun milik para jamaah. Berbagi iftar Bubur Banjar ini terbukti mewarnai suasana Ramadan Kampung Jeyengan. Pemandangan seperti ini, tentu hanya bisa dijumpai saat 29 hari Ramadan.

Seiring pemberitaan yang ramai setiap tahunnya, eksistensi Bubur Banjar sebagai iftar bulan puasa kerap diburu para pelancong yang gemar tunaikan safari Ramadan. Seperti saya, yang untuk pertama kalinya mencicipi Bubur Banjar beberapa sendok saja. Enak, meski harus banyak penyesuaian. Dahaga setengah hari menahan lapar disudahi dengan mengecap gurihnya Bubur Banjar. Rasa rempah dan kaldu yang kuat adalah citra rasa yang khas dari Bubur Banjar. Dan pada akhirnya, letih setelah berpuluh kilometer perjalanan Klaten-Solo terbayar lunas atas narasi visual dan iftar Ramadan yang langka.
Iftar Ramadan Bubur Banjar, adalah salah satu pesona Ramadan Jawa Tengah yang cukup langka.
Baca juga : Satu Hari di Solo













wah jadi penasaran pengen nyobain juga
cepet banget dirimu main ke blogku. belum juga ku share.
Mas Aji tuh, suka banget
Gak suka-suka banget ah.. Gak abis juga seporsi. Plg cm beberapa suap. Kalo banyak2 eneg. Rasanya mirip mie instan rasa soto
Katamu doyan.. Haha
Kalau aku sih butuh menyesuaikan. makanya aku bilang, walau cuma beberapa sendok saja. Enak, meski harus banyak penyesuaian :p
Malah br tau saya mas, ada tradisi ini…pernah ikut beberapa acara kuliner di Solo kayak festival jenang 😀 oya mas, selamat menunaikan ibadah puasa ya…
Selamat menunaikan ibadah puasa juga Mas Yosef
Pancinya guede banget yaa. Seru banget rame yg buka puasa di sana.
Serunya ya. Takjil gratis
Uniknya hanya keluar pas Ramadan
wahh cuma ada pas ramadhan??
jadi penasaran sama rasanya
iya, hanya Ramadan
Kak aku konfirm hadir kak. Eh bener di sini ndak?
telat woi
Aku bukan pecinta bubur, tapi kalau diajak berburu foto di sini mau banget buahahhahahah
Cuma hunting doang nanti bisa dimarah simbok lho
Akuh mupeeeng, kebayang aroma rempahnya hiks…semoga para pembuat buburnya diberkahi Allah rezeki dan kesehatan aamiin
Aamiin Mba. Ga kuat ya puasanya? hehe
Semoga pembuat buburnya diberi kesehatan dan rezeki aamiin..mupeeng pengen nyicip jugakk..
belum pernah nyobain bubur banjar, di kota saya kyaknya belum ada, heeee
Tinggal di mana? Kalau mau nyobain datang saja ke Solo. Mumpung masih banyak waktu Ramadan
Oalaaah, jadi kepengen nyobain bubur ini.
Semoga ramadhan tahun depan bisa melipir kesana ditengah jadwal manggung yang padat *dijitak.
Jangankan untuk ke sini, aku mau ketemu kamu aja, situ padatnya minta ampun
pengen nyobain bubur ini soalnya waktu traveling ke Malaysia di masjid2nya dibagikan bubur Lambok yang rasanya gurih jadi penasaran pengen cicip bubur dari Indonesia
Wah, di Malaysia juga punya budaya yang mirip2 dengan kita, ya! Menarik. Harus ke sini, Mba!
Doain mas, soalnya aku mau pindah ke jogja
wah, asik nih. Nambah satu temen blogger lagi. Kita belum pernah ketemu lho btw.
iya, pengen meet up dengan blogger jogja yg seru2
hehe. siap. Kabar-kabar aja via IG atau twitter. 😀
Siip
Ini bubur yang kemarin kamu dan Mas Aji omongin ya? Ahhh aku juga pengen cobainnnn xD
Kita sempet ngomongin ya? wkwkw. Aku malah lupa
Aku salut dengan kegiatan berbagi seperti ini tanpa mengharapkan pamrih, bahkan tanpa membatasi jatah per orang. Kalau ada kesempatan icipin Bubur Banjar ini di Masjid Darussalam, aku mau bawa sate telur puyuh sama usus ah XD
Wkwkw. aku ga kepikiran bawa menu tambahan sate e Mas. Mantap, ya!
Kualinya gede banget, pengen nyoba 😀
pasti rasanya enak dibuat dengan penuh berkah
Penuh berkah.. aamiin
inilah kearifan lokal yg harus dipertahankan ya, aku sealu suka dg berbagai tradisi daerah
Iya Mba. Semoga Ramadan tahun depat bisa mencicipi lagi
hampir 6 tahun di solo dan belum pernah nyicipi bubur legendaris ini *berdosa banget ya Allah hehe
puasa kemaren sempet ngajak temen buat kesana, tapi ngga jadi 🙁
Wah, Ramadan tahun besok harus ke sini Mas 😀