Terpukau Karya Maestro Antonio Blanco

DSC00917

Lebih dari sepuluh tahun saya tinggal dan dibesarkan di Bali. Keluarga besar yang masih tersebar di Bali juga kerap tiap tahun saya kunjungi. Namun mendengar nama Antonio Blanco adalah pertama kali. Saat mencarinya di internet, saya makin penasaran dengan karya-karyanya yang cukup fenomenal. Beruntung kali ini saya bersama rombongan media Indonesia Travel mengagendakan kunjungan ke Museum Antonio Blanco. Museum ini terletak di Ubud, Bali. Mengapa museum ini berada di Ubud? Kisahnya saya dengar langsung dari putranya Antonio Blanco, yaitu Mario Blanco.

Diceritakan, saat itu Antonio Blanco terpukau dengan sebuah buku yang berjudul The Island of Bali karya Miguel Covarubias. Pada 1951, ia datang ke Singaraja (yang saat itu menjadi ibukota Bali) untuk membuktikan eksotisnya Pulau Dewata yang telah diceritakan dalam buku yang ia baca. Namun sayang, baginya apa yang dilihat tak seindah dengan yang diceritakan. Ia pun bertemu dengan Wakil Gubernur Bali dan diantarkannya ke Ubud.

Singkat cerita, Raja Ubud dari Puri Saren Ubud Tjokorda Gde Agung Sukawati mempercayakan sebagian dari tanahnya untuk ditinggali oleh Antonio Blanco dengan imbalan mempromosikan Ubud ke ranah internasional melalui lukisan. Antonio Blanco pun merasa senang dan secara serius menggarap lukisan-lukisannya yang seluruhnya terinspirasi dari kehidupan di Ubud. Sejak saat itulah, Antonio Blanco menjadi sahabat dari Raja Ubud.

Pada 1952, Antonio Blanco memulai membangun gubuk kecilnya yang berukuran 4×4 meter. Dari situlah ia mulai berkarya sampai hatinya berlabuh pada seorang gadis penari Bali bernama Ni Ronji yang juga menjadi model dalam lukisannya. Tahun berikutnya, ia menikah dengan Sang Penari dan dikaruniai empat orang anak. Dan ternyata, Antonio Blanco adalah satu-satunya seniman di jamannya yang menetap dan memiliki keturunan di Bali! Namun, belum sempat rampung menyelesaikan museumnya, di tahun 1999 Antonio Blanco berpulang di usia 87 tahun. Jasadnya dikremasi menggunakan adat Bali dan dimakamkan di Campuhan, Ubud. Niatnya pun dilanjutkan oleh putranya, Mario Blanco dan di-launching pada tahun 2000.

DSC00921

DSC00937

Masuk ke halaman museum ini, kami dimanjakan taman yang hijau, rapi, dan asri. Terlihat juga salah satu karyawan yang sedang menunjukkan koleksi burung-burung langka yang sangat bersahabat dengan wisatawan. Di sini juga terdapat 250 ekor burung Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang kian makin langka. Siapa sangka? Museum ini juga dinobatkan sebagai percontohan konservator burung yang awal ternaknya dimulai dari tiga pasang ekor Jalak Bali. Selain Jalak Bali, burung Nuri dan Rangkok juga sama jinaknya terhadap wisatawan.

DSC00943

DSC00946

Arsitektur pintu masuk dan logo dari museum ini adalah berdasarkan bentuk tanda tangan dari Antonio Blanco. Dengan disambut ramah kedua cucu Antonio Blanco, kami diajak berpindah tempat dan segera mengagumi bangunan arsitektur museum. Dengan luas lahan 2 hektar, terdapat 45 spot fotografi bagi wisatawan. Terpukaulah kami saat masuk ruang pamer lukisan utama. Beragam koleksinya 80% adalah lukisan wanita. Mata ini pun sempat berkaca-kaca. Mengapa Antonio Blanco jauh-jauh datang ke Bali untuk melukis wanita? Apakah sebab Antonio Blanco melukis banyak wanita? Adakah menariknya selain budaya Bali di era 50-an?

DSC00968

Terjawab sudah. Model wanita dipilih oleh Antonio Blanco karena beliau berada selama 11 bulan dalam kandungan. Itulah sebab Antonio Blanco sangat menghargai, menghormati, mengagumi kecantikan, dan menjadikan wanita sebagai inspirasi. Tanpa seorang wanita yang telah mengandungnya, Antonio Blanco takkan lahir di dunia. Di sudut lain, terdapat juga ekspresi lukisan wanita yang sedang menahan sakit saat melahirkan. Anak yang dilahirkan dalam lukisan itu pun kini bekerja sebagai karyawan di Museum Antonio Blanco.

Pernahkan kalian membaca sejarah tentang wanita Bali di era 1910 s.d 1930-an? Tak jauh dari itu, banyak pula lukisan yang dibuat oleh Antonio Blanco adalah wanita telanjang. Salah satu yang menjadi modelnya ialah Ni Ronji, istri Antonio Blanco. Apakah kalian penasaran dengan beberapa lukisan wanitanya? Namun, tak ada ruang bagi saya untuk menampilkan beberapa koleksi lukisan wanita yang ada di museum ini. Datanglah dan saksikan sendiri untuk mengagumi karya-karyanya.

Naiklah saya ke puncak atap museum yang disebut Dome, melambangkan topi penutup sebagai wujud persembahan kepada Tuhan. Di antara pilar-pilarnya terdapat patung-patung berwarna emas berbentuk penari Bali. Dari beberapa patung tersebut, di posisi paling tinggi diletakkan Dewi Saraswati yang melambangkan ilmu pengetahuan.

DSC01015

DSC01010

Lebih dari satu jam rombongan kami mengagumi karya Antonio Blanco. Sebutlah satu saja karyanya yang berjudul “Lukisan yang Tidak Pernah Tersampaikan”. Adalah lukisan wanita Bali yang juga menjadi ‘pacar’ Bung Karno lah yang ingin dihadiahkan oleh Antonio Blanco untuk Sang Founding Father Indonesia. Namun munculnya kasus G30 SPKI menyebabkan lukisan ini tak pernah tersampaikan.

DSC00973
Lukisan yang Tidak Pernah Tersampaikan

Setelah berkeliling di dua lantai ruang pameran utama, kami diajak menuju ruang dimana Antonio Blanco mengawali karirnya sebagai seniman di Bali. Di sini, terdapat palet tua yang pernah digunakan oleh Antonio Blanco. Di sudut ruangan yang sama, ada kursi yang digunakan Antonio Blanco mencari inspirasi untuk berkarya. Di ruangan ini juga ditampilkan beberapa prestasi dan penghargaan nasional bahkan internasional. Musisi sekelas Michael Jackson pun pernah dilukis secara langsung oleh Antonio Blanco!

DSC01069

DSC01078

DSC01061

DSC01089

Jelaslah keterampilannya juga turun kepada anak kedua Sang Maestro, Mario Blanco. Singkat cerita, Mario Blanco diarahkan ayahnya untuk mengambil studi hukum atau kedokteran. Namun, program kesenian Universitas Udayana lah yang diambil Mario Blanco untuk menyalurkan bakatnya. Sampai saat ini, koleksi ayahnya bersanding dengan koleksi lukisan milik Mario Blanco.

Tak hanya lukisan. Seniman yang terkenal dengan karya feminimnya ini juga telah berkarya melalui film berjudul Api Cinta Antonio Blanco sebanyak delapan seri. Mario Blanco menyebutkan, ayahnya yang menguasai tujuh bahasa ini benar-benar dapat memenuhi permintaan Raja Ubud untuk mengenalkan Bali kepada dunia melalui lukisan-lukisannya. .

DSC01052

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula dengan keberadaan Museum Antonio Blanco yang termasuk ke dalamnya sebagai salah satu wujud pelestarian budaya. Seni memang punya banyak sudut pandang, tergantung bagaimana setiap orang memaknainya. Berkunjunglah ke museum ini dan temukan sudut pandang seni yang sarat akan makna.

Informasi tambahan :

  1. Museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 – 17.00 WIT.
  2. Harga tiket masuk untuk wisatawan domestik Rp30.000,00 sedangkan untuk wisatawan mancanegara Rp80.000,00.

Perjalanan ini merupakan dokumentasi rangkaian perjalanan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

Comments

comments

6 thoughts on “Terpukau Karya Maestro Antonio Blanco

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.