Pulau Komodo: Bertemu Ora di Habitat Aslinya

Beberapa kali saya terlibat dalam mengolah data penelitian pariwisata di Manggarai Barat. Namun, sekalipun belum pernah kesana karena biayanya yang tak murah. Salah satu daya tarik wisata yang ingin saya kunjungi adalah Pulau Komodo, Pulau Padar, dan Pulau Rinca. Mulai dari keisengan mendengar beberapa transkrip penelitian dan unggahan media sosial, saya semakin bersemangat untuk mengeksplor Manggarai Barat.

Beruntung sekali, di akhir tahun 2015 resolusi berkunjung ke Manggarai Barat tercapai. Berangkatlah saya dari Pulau Lombok menuju NTB menggunakan pesawat baling-baling TransNusa. Tujuan utama rombongan saya adalah Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pink Beach. Belum sampai di Manggarai Barat, saya disuguhkan dengan pemandangan alam yang sangat indah. Langit yang cerah pagi itu nampak mendukung niatan untuk melihat Manggarai Barat dari banyak sudut.

DSC09761

Saya tiba di waktu menjelang petang. Di atas dermaga Pelabuhan ASDP Labuan Bajo, lagi-lagi alam menunjukkan keindahannya. Langit yang telah diaduk warnanya memanjakan pandangan. Dari sini, pelabuhan terlihat padat disesaki kapal pinisi yang pulang-pergi mengantar wisatawan. Remang lampu-lampu dermaga dan kapal pinisi membuat suasana Labuan Bajo makin romantis. Sungguh perpaduan alam yang memesona di hari pertama ini.

DSC00003

DSC09996

DSC09888

DSC00080

Keesokan harinya, saya dan rombongan telah bersiap menyeberang menuju Pulau Komodo. Sempat menyandang gelar New 7 Wonders adalah salah satu keistimewaannya. Kabarnya, terdapat ribuan Komodo yang menghuni pulau ini. Saya datang untuk membuktikannya. Bersama dua ranger yang bertugas, saya dan rombongan mengambil jalur medium yang dapat ditempuh dalam waktu satu setengah jam.

DSC00113

Di awal musim penghujan, ternyata tanah di kawasan Pulau Komodo belum juga basah. Matahari seakan masih enggan untuk digantikan hujan. Hari itu, atmosfer Pulau Komodo amat panas hingga cukup untuk membuat kulit semakin menghitam.

Kembali berbicara tentang komodo, populasinya di Pulau Komodo adalah yang terbanyak. Dari sebanyak 2919 jumlah Komodo, tak satupun yang saya temui sedang berburu mangsa ataupun berkejar-kejaran. Namun tak ada rasa kecewa daripada sebuah cerita dari seorang ranger yang empat tahun bertugas.

Komodo merupakan hewan yang pandai berkamuflase. Dengan kecepatan berlari 20 Km/jam, Komodo sering terlihat bermalas-malasan untuk menipu mangsanya. Di kawasan Pulau Komodo, monyet adalah makanan ringannya. Sementara babi, rusa, dan kerbau adalah makanan beratnya. Sebagai predator utama, Komodo dibiarkan mencari makan sendiri. Di musim kawin yang jatuh pada Bulan Juni sampai Agustus, Komodo dapat menghabiskan waktu selama enam jam untuk proses kawin. Uniknya, Komodo jantan memiliki dua alat kelamin (panjang dan pendek) yang masing-masing memiliki fungsi berbeda.

Satu ekor Komodo dapat mengeluarkan 15 sampai 30 butir telur dengan masa pengeraman selama sembilan bulan. Namun, hanya sedikit yang menetas karena Komodo adalah binatang kanibal. Induk Komodo seringkali memakan telur dan anaknya. Bangkai Komodo tua pun sering menjadi santapan kawanan Komodo. Itulah sebabnya sangat sulit menemukan bangkai Komodo di sini.

DSC00131

Keinginan saya untuk mengabadikan momen bersama Komodo kian tak terbendung. Ranger menyuruh saya berada tepat di belakang Komodo. Dengan jarak kurang dari satu meter saya berpose bersama Komodo yang sedang berjemur. Tanpa ranger, janganlah mencoba pose berbahaya seperti ini! Cerita tentang Komodo yang dapat mematikan bukanlah sebagai bumbu dalam cerita, namun benar adanya. Banyak kecelakaan akibat kelalaian wisatawan yang mengabaikan aturan. Jadi, ikuti aturannya dan teruslah bersama ranger, ya!

DSC00161

DSC00142

DSC00210

Mata kami selalu waspada andai Komodo datang dari arah tak terduga. Begitu pula saran dari ranger yang tak boleh diabaikan, khususnya bagi wisawatan perempuan yang sedang dalam masa datang bulan. Berjalan beberapa meter lagi, saya dan rombongan berjumpa anak Komodo yang dengan lincahnya berlarian. Biasanya, anak Komodo akan memanjat Pohon Gebang untuk menghindar dari induknya. Komodo kecil akan berada di pohon tersebut selama 2–3 tahun dengan memangsa hewan-hewan kecil seperti tikus, kadal, dan tokek.

DSC00188

Masuk ke kawasan Pulau Komodo bagaikan berpetualang di Jurassic Park. Komodo sebagai dinosaurus terakhir juga telah dinobatkan sebagai New Seven Wonders of Nature pada tahun 2011. Tak hanya itu, pulau ini diterima sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO. Itulah sebabnya banyak wisatawan mancanegara yang datang ke sini untuk sekadar mengagumi keindahan alam habitat Komodo.

Saya dan rombongan akhirnya melewati dapur yang berupa rumah panggung. Di sini, banyak ditemukan Komodo yang sedang santainya berteduh di bawah dapur. Terlihat Komodo tua dengan kulitnya yang telah mengelupas sedang bermalas-malasan menikmati sisa umurnya. Akan tiba waktunya bagi Komodo yang berumur 50–60 tahun untuk mati dan dimangsa kawannya. Namun bagaimanapun, disebutkan oleh ranger bahwa pertambahan populasi Komodo di kawasan ini cukup baik.

DSC00208
Komodo Tua yang masuk Cafe

Saya dan rombongan masih setia menembus jalur setapak untuk melihat Komodo lebih dekat. Tak puas dengan beberapa Komodo yang dijumpai, ranger menambahkan ceritanya. Pulau Komodo memang tak bisa lepas dari sejarah dan kehidupan masyarakatnya. Ora adalah sebutan Komodo oleh masyarakat Komodo. Di tahun 1912, masyarakat Komodo hanya dapat melahirkan satu anak karena proses melahirkan menggunakan cara bedah. Artinya, wanita yang sedang mengandung harus mengorbankan nyawanya demi melahirkan seorang anak. Namun kini, cara itu sudah ditinggalkan karena sudah adanya peran dokter dan dukun bayi. Ngeri!

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula kekayaan Pulau Komodo yang termasuk ke dalamnya. Si Ora memang terkesan mengerikan. Namun keberadaannya yang langka disanjung sampai berbagai penjuru dunia. Meski berada di dekatnya terkadang tak menggubrisnya, namun tetap jaga etika kita sebagai wisatawan yang bertanggung jawab.

Tips berwisata ke Pulau Komodo :

  1. Untuk transportasi menuju NTB dapat menggunakan pesawat kecil (baling-baling) atau pesawat charter.
  2. Biaya sewa kapal cukup mahal, disarankan untuk melakukan trip rombongan agar untuk menghemat pengeluaran sewa kapal.
  3. Terdapat tiga jalur trekking di Pulau Komodo, yaitu short, medium, dan long track.
  4. Tidak diperkenankan memberi makan Komodo.
  5. Bagi wisatawan perempuan yang sedang datang bulan, disarankan untuk selalu berada di dekat ranger.
  6. Tidak diperkenankan mengayun-ngayunkan tas/apapun karena dapat disangka makanan oleh Komodo.
  7. Jangan pernah terpisah dari rombongan dan ikuti arahan ranger.
  8. Selama di Flores, dapat menginap di Hotel Bintang Flores, Telp 0385 42000.

Perjalanan ini merupakan dokumentasi rangkaian perjalanan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

Foto oleh: Landscape Indonesia
Foto oleh: Landscape Indonesia

Comments

comments

9 thoughts on “Pulau Komodo: Bertemu Ora di Habitat Aslinya

  1. Pingback: Pink Beach yang Menawan dan Komodo Liar di Pulau Rinca | Insan Wisata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.