Terlambat Datang ke Goa Batu Cermin

Masih segar dalam ingatan pertama kali mengunjungi tempat-tempat menarik di Flores. Flores tak hanya dikenal dengan Komodo yang perkasa, juga Pulau Rinca dan Padar yang memesona. Selain menyimpan keindahan alam, Flores juga memiliki nilai historis yang unik. Goa Batu Cermin salah satunya. Gua yang terletak di Desa Wae Sambi, Labuan Bajo, Flores ini banyak menarik perhatian para arkeolog dan komunitas pecinta alam. Bayangan tentang gua pastilah tempat dengan lorong yang sempit, gelap, pengap, dan hanya dihuni sekumpulan kelelawar. Meskipun demikian, gua merupakan tempat yang penuh dengan tantangan, uji keberanian, dan petualangan.

DSC00754-01

Rupa stalaktit dan stalakmit sudah nampak saat saya memasuki pintu gua. Tentunya dengan dibekali senter dan pemakaian helm sebagai peralatan safety, saya mulai menaiki anak tangga. Tinggi gua yang hampir 75 meter ini beratapkan batu-batu raksasa yang menjulur ke tanah. Akar-akar pohon pun ikut merambat di antara dinding-dinding gua. Rupanya, Goa Batu Cermin lebih dulu ditemukan oleh bukan orang pribumi. Adalah Theodore Verhoven, seorang arkeolog dan juga pastor Belanda yang menemukan gua ini pada tahun 1951. Setelah itu, pada tahun 1986, gua ini diresmikan menjadi objek wisata. Biasanya, gua juga dihubungkan dengan cerita sejarah umat manusia, entah itu tempat persembunyian dari masa penjajahan, tempat peribadatan, ataupun cerita proses pembentukan gua yang dikaitkan dengan sebuah mitos yang sulit dipercaya. Saya semakin penasaran. Adakah Goa Batu Cermin dibumbui dengan cerita rakyat?

DSC00744-01

DSC00780-01

DSC00763-01

DSC00769-01

Dengan dikawal pemandu lokal, saya mulai memasuki mulut gua mengikuti rombongan. Nasib kurang baik pada saya, tak tersisa pemandu lokal untuk diajak masuk menyusuri gua. Karena dikejar waktu dan penasaran, mulailah saya masuk mengikuti rombongan yang sudah dulu menyusuri gua. Lubangnya yang sempit mengharuskan saya membungkukkan badan, lantas terpaksa merangkak agar muat masuk ke mulut gua. Beberapa meter kemudian, saya bisa bernapas lega karena telah memasuki ruangan yang cukup besar untuk kembali menegakkan badan. Lantas, saya dan rombongan bertanya-tanya, di mana cermin yang dimaksud? Karena minimnya informasi dan tanda interpretasi, saya berusaha mencari-cari, batu bagian mana yang dapat digunakan bercermin. Hasilnya nihil.

DSC00803-01

DSC00794-01

Beruntung salah satu orang dari rombongan saya sudah pernah membaca beberapa referensi tentang Goa Batu Cermin. Dijelaskannya dengan bahasa yang mudah dimengerti dan masuk akal. Ternyata, saya masuk di waktu yang tidak tepat, atau mungkin terlambat. Jam yang sudah menunjukkan pukul satu lebih bukanlah waktu yang pas untuk melihat cermin di dalam gua ini. Ah, sayang sekali. Lantas, tak ada cara yang bisa saya lakukan untuk membuktikan benar adanya cermin pada gua ini. Saya pun berjalan keluar dan bingung pada jalurnya. Gua dengan luas 19 meter dan panjang sekitar 200 meter ini ternyata memiliki banyak pintu lorong. Aneka rupa stalaktit dan stalakmit juga masih terpelihara dengan baik dan nampaknya masih terus mengalami pertumbuhan. Tanpa corat-coret (vandalisme) maupun kerusakan akibat benturan benda keras.

Di bagian lain saat menuju lorong keluar, saya menemukan ruangan yang cukup luas. Di sela-sela dindingnya masih menempel kotoran kelelawar. Saya sengaja mengarahkan sorot senter ke atas, namun tak satu kelelawar pun saya temukan. Hanya terdapat kilauan pada stalaktit dan stalakmit yang disebabkan adanya kandungan garam di dalam air yang mengalir saat turun hujan.

DSC00819-01

DSC00808-01

DSC00842

Tentang bagaimana Goa Batu Cermin ini terbentuk, barulah saya temukan jawabannya ketika bertemu pemandu lokal yang berjaga di lorong pintu keluar. Dalam penelitiannya, Theodore Verhoven menyimpulkan bahwa Pulau Flores dulunya berada di dasar laut. Faktanya, di beberapa dinding gua terdapat fosil-fosil binatang laut seperti ikan dan kura-kura. Fakta lain tentang penamaan Batu Cermin akhirnya juga saya dengar langsung dari pemandu lokal. Hal ini disebabkan oleh cahaya matahari masuk melalui salah satu lubang gua. Namun biasanya, sinar matahari dapat masuk tepat pada pukul 12.00 WIT karena pada waktu tersebut kemiringan sinar matahari akan masuk ke area celah langit-langit gua dan memantul ke dalam, kemudian direfleksikan oleh dinding gua yang berkarakter memantulkan kembali cahaya sehingga area dalam gua menjadi terang. Itulah sebabnya kami tak melihat sedikitpun cahaya matahari yang masuk pada celah lubang gua pada pukul satu lebih. Fenomena ini juga dapat dilihat dengan jelas ketika saat terjadi hujan. Dimana ketika air hujan menggenang dan terkena sinar matahari, konon dapat membuat kita melihat wajah sendiri di air hujan yang menggenang.

DSC00862
Fosil ikan yang menempel di dinding Goa Batu Cermin

Berbeda jika harus percaya pada mitos Gua Batu Cermin. Menurut mitos yang beredar, sejarah Gua Batu Cermin berhubungan dengan bidadari atau yang biasa disebut ‘Darat’ oleh masyarakat Manggarai. Setiap bulan purnama, para bidadari berkumpul di Batu Cermin untuk prosesi ritual tolak bala.

Memahami asal-usul keduanya sungguh membingungkan. Namun petualangan di Gua Batu Cermin sungguh mengesankan. Di antara gelap dan terang, akan mendapatkan pengetahuan yang berbeda. Begitu pula ketika saya melihat fosil di antara dinding-dinding gua. Adanya fosil ikan dan kura-kura bukanlah sesuatu yang biasa. Adakah peradaban manusia purba yang ikut campur tangan pada peletakan hewan laut berupa ikan dan penyu? Akhirnya, mau tidak mau, memasuki Gua Batu Cermin kembali membawa saya pada imajinasi bayangan masa purba dan bentukan alam. Tatkala Flores dulunya berada di dasar lautan yang kemudian terangkat ke permukaan.

DSC00832

DSC00830

Lokasi Gua Batu Cermin

Comments

comments

17 thoughts on “Terlambat Datang ke Goa Batu Cermin

  1. Kirain cerminnya gak mau nongol karna takut kamu selfiin.

    Tp goanya keren ya bisa ada fosil ikan dan kura kura. Kalo flores dulunya di dasar laut, kira kira pulau mana lagi ya yg sama sama dulunya di dasar laut

    1. Cerminnya sudah pecah duluan sebelum aku ngaca. Takut kegantengannku membuat para “Darat” jatuh cinta. Haha. Pasti adalah gua di dasar laut, tanya Pak Cahyo coba

  2. Saya waktu masuk ke sini juga telat. Menurut teman yg tinggal di sana sebaiknya memang di bawah pukul 11. Tapi masih beruntung masih melihat sisa ROL nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.