No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Berkeliling ke Negeri Atas Awan, Dieng

by Hannif Andy Al - Anshori
Maret 23, 2016
6 min read
6

Daerah puncak memang tempat paling pas untuk melepas segala penat. Udaranya yang segar, ladangnya yang hijau, kabut menyelimuti, serta masyarakatnya yang ramah. Ah, rindu nian rasanya. Agaknya bukan pilihan yang salah untuk menyesatkan diri di daerah puncak pada akhir pekan. Tak perlu pikir panjang, pilihan saya jatuh pada Negeri Atas Awan, Dieng. Biarpun saya sudah pernah meninggalkan jejak di sana, belum ada rasa bosan mengagumi keindahannya. Nama Dieng berasal dari kata adhi yang berarti elok, serta kata hyang yang berarti dewa atau leluhur. Secara administratif, Dataran Tinggi Dieng masuk dalam kawasan Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, dan Dieng Wetan, Kabupaten Wonosobo. Tak terlalu jauh dari tempat saya berdomisili, Yogyakarta. Saya makin tak sabar untuk semakin tersesat dalam kemolekan alamnya.

Masih jauh dari waktu subuh ketika saya sampai di Dieng. Saya masih punya banyak waktu untuk menyongsong pagi di atas Puncak Sikunir, salah satu bukit tercantik yang dimiliki Dieng. Di lereng bukit, saya disambut pemandangan khas masyarakat Dieng yang meraup rezeki dari industri pariwisata, baik melalui usaha homestay, pemandu wisata, warung souvenir, maupun warung yang menjajakan minuman dan makanan hangat. Beberapa dari mereka pun menyorotkan cahaya lampu senter ke arah jalanan, bermaksud membantu lalu lalang yang antri menanjak puncak. Dini hari begini, suasana ramainya bukan main. Ternyata bukan cuma saya yang ingin tersesat dalam keindahan Dieng.

DSC00640-01

Celotehan manusia dalam barisan menuju Puncak Sikunir terdengar riuh rendah, sementara saya sibuk menggosok-gosokkan kedua telapak tangan, mengusir dingin. Meskipun kian disesaki pengunjung, udara dingin dieng masih sama. Sesaknya manusia membuat pendakian terasa makin lama. Belum lagi langit mendung yang merundung dataran tinggi Dieng membuat cahaya terang terlambat datang. Orang-orang mengeluh, mencibir, kecewa pada langit yang sedang muram. Namun bagi saya, tiada gunanya turut berduka. Toh, lambat laun langit menampakkan lembayung fajarnya.

Semburat oranye menyembul di antara mega kelabu yang perlahan bergeser ke barat. Gerakannya seakan mempersilakan saya dan yang lainnya menonton pertunjukan yang sempat tertunda. Dari ketinggian 2.200 mdpl Puncak Sikunir, saya juga disuguhi pemandangan pucuk Sindoro, Sumbing, Merbabu, dan Merapi yang berbaris cantik. Di sudut yang lain, saya temukan pemandangan yang menakjubkan, hijaunya pegunungan. Bukan oleh tanaman pinus maupun cemara, melainkan tanaman kentang yang menjadi salah satu hasil pertanian masyarakat di kawasan Dieng. Ladang-ladang penduduk di lereng gunung itu membentuk petak berlapis-lapis, amat indah dipandang dari ketinggian.

Adzan subuh berkumandang, bersahut-sahutan. Sebagai rasa syukur saya yang berkesempatan menikmati sunrise cantik di Puncak Sikunir, saya tunaikan salat dua rakaat. Dinginnya Dieng sejenak hangat selagi saya melaksanakan ibadah wajib untuk menyambut hari yang panjang di Dieng, untuk sehari tersesat di sana. Maka, saya kembali langkahkan kaki menuju tempat berikutnya, untuk makin tersesat. Yang kedua ini untuk mengunjungi saksi bisu sejarah yang pernah terjadi.

DSC00732-01

DSC00800-01

Di pelataran Candi Arjuna langkah saya terhenti. Candi Hindu yang dibangun pada 7-8 Masehi ini berlatar belakang perbukitan dan sawah bertingkat. Sembari ditemani udara dingin Dieng, saya berkeliling komplek percandian. Candi Arjuna ialah candi utamanya. Sementara candi-candi di sekelilingnya ialah Semar, Srikandi, Puntadewa, dan Sembadra atau yang lebih dikenal dengan Pandawa Lima di komplek percandian ini. Ya, nama-nama candi ini diambil dari tokoh pewayangan Mahabarata. Candi Arjuna dan Srikandi lah yang paling mencuri perhatian. Candi Arjuna merupakan yang paling luas dan menyimpan arca yoni di dalamnya, sementara Candi Skrikandi dihiasi banyak relief Dewa Syiwa, Brahma, dan Wishnu.

DSC00837-01

DSC00915-01

Setelah tersesat di komplek percandian, saya bergerak menuju Kawah Sikidang. Bau belerang menusuk indera penciuman ketika saya sampai di sana. Kabarnya, beberapa waktu lalu ada lubang gas kawah yang baru muncul di sekitar pintu masuk utama. Kunjungan pertama saya kala itu pada 2011 dan lubang gas belum sebanyak sekarang. Secara geologis, meskipun aktivitas vulkanik di Dieng dapat dipantau, munculnya lubang gas baru kadang di luar perkiraan, seperti Kawah Sikidang. Dinamakan Sikidang karena lubang keluarnya gas selalu berpindah-pindah layaknya kidang (kijang). Lubang gas pun mengeluarkan uap panas yang menjadi daya tarik tersendiri. Masyarakat lokal memanfaatkannya untuk merebus telur. Jadilah telur rebus Kawah Sikidang yang unik.

DSC01026-01

DSC01031-01

DSC01038-01

DSC01117-01

Belum puas tersesat di Dieng, saya datangi Telaga Warna. Sebuah telaga yang sering berganti warna, seperti hijau, biru, putih, dan kadang ketiganya bercampur mesra. Menurut mitos yang beredar, munculnya banyak warna di Telaga Warna disebabkan oleh cincin milik seorang bangsawan yang jatuh ke dasar telaga. Berbeda dengan kajian ilmiah yang mengatakan warna-warni telaga disebabkan pembiasan cahaya pada endapan belerang di Telaga Warna. Tak puas menikmati keindahannya dari tepian, saya pun menanjak sedikit ke atas Bukit Petak Sembilan. Dari atas bukit inilah pemandangan Telaga Warna juga Telaga Pengilon memanjakan mata saya. Rindangnya pepohonan dan birunya langit semakin menyihir saya untuk terus terkagum pada kedua telaga cantik milik Dieng.

DSC01169-01

DSC01230-01

DSC01267-01

DSC01282-01

DSC01292-01

Cukup jauh sudah saya tersesat di Dieng. Saya pun telah puas bermain dengan alamnya, menyapa gumpalan awannya, dan bercengkrama dengan suasana pegunungan. Saya rehatkan langkah di sebuah warung yang menjajakan Mi Ongklok, kuliner khas Kabupaten Wonosobo. Kuliner ini unik. Dinamakan Mie Ongklok karena menggunakan ‘ongklok’, sendok besar yang terbuat dari bambu yang digunakan untuk merebus mi. Selagi direbus, mi dicampur irisan kucai dan kol. Kemudian mi disiram kuah kental berbahan dasar tepung kanji serta kacang tanah yang ditumbuk halus. Menyantap Mi Ongklok selagi panas di tengah hawa dingin Dieng memang paling nikmat.

DSC01303-01

DSC01314-01

Mi Ongklok habis dari mangkok, habis pula momen tersesat saya di Dataran Tinggi Dieng. Waktu satu hari yang telah saya habiskan di sini sukses membuang segala penat kehidupan kota. Tanah Dieng memang pantas dirindukan, bukan hanya oleh saya, juga oleh para dewa. Tersesat di sini pun tak patut disesali. Berbagai keindahan yang dimilikinya sungguh menawan hati. Membuat saya ingin tersesat lagi. Tetapi di tempat lain, yang punya sejuta keindahan untuk dikagumi layaknya Negeri Atas Awan, Dieng.

DSC01093-01

Previous Post

Menyantap Kuliner Klasik Khas Yogyakarta

Next Post

Terlambat Datang ke Goa Batu Cermin

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post

Terlambat Datang ke Goa Batu Cermin

Comments 6

  1. Iqbal Kautsar says:
    10 tahun ago

    Ke Dieng sampai empat kali pun aku tetap gak bosan.

    Mantaap tulisannya..

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Ayok mas Iqbal, kapan kita jalan bareng? Haha.

      Balas
  2. Dian Hendrianto says:
    10 tahun ago

    So beautiful capture, bro…
    Dieng emang keren, gw terakhir kesana bulan December lalu.. Mantep lah..

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Makasih mas e.. mudah2an bisa kesana lg

      Balas
  3. Hastira says:
    10 tahun ago

    dieng memang penuh pesona

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Iya mas 🙂

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller