Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Seringkali berwisata ke Semarang, Sam Poo Kong tak pernah terlewatkan. Bangunan yang secara fisik menyerupai klenteng ini tak hanya memiliki nilai seni yang tinggi. Selain menjadi tempat ibadah masyarakat Cina di Semarang, tempat ini sudah lama menjadi daya tarik wisata yang selalu ramai wisatawan. Selain mengagumi nilai arsitekturnya, janganlah ketinggalan cerita tentang sejarah klenteng. Ternyata, tempat ini dibangun oleh seorang muslim yang taat dan diperuntukkan sebagai masjid pada awalnya. Mengapa sekarang beralih fungsi menjadi klenteng?

Tak dapat dipungkuri, Indonesia cukup terkenal dengan kemajemukan budayanya. Keragaman suku, agama, budaya, ras membuat cerita di setiap sudut Nusantara cukup menarik untuk digali. Kali ini, marilah sejenak melongok sedikit ke cerita tentang Klenteng Sam Poo Kong atau yang biasa disebut Klenteng Batu karena bentuknya merupakan Gua Batu Besar yang terletak pada bukit batu.

Datanglah dulu seorang muslim Tiongkok bernama Zheng He atau lebih dikenal dengan nama Cheng Ho. Cheng Ho juga dikenal sebagai seorang pelaut terkenal dari Bangsa Tiongha. Dalam kurun waktu 28 tahun, Cheng Ho menjelajah lebuh dari 30 negara. Menurut sejarah, pada 1401 M Laksamana Cheng Ho sedang mengadakan pelayaran melewati pantai laut Jawa untuk tujuan politik dan dagang. Tak disangka, salah satu pasukannya menderita sakit keras. Laksamana Cheng Ho kemudian memutuskan untuk merapatkan kapalnya ke pantai utara Semarang yang kini menjadi Desa Simongan. Waktu berjalan, didirikanlah sebuah masjid di tepi pantai. Tak hanya membangun masjid, Cheng Ho juga menyiarkan islam di kawasan Semarang. Masjid tersebut kini dialihfungsikan dan dikenal sebagai Klenteng Sam Poo Kong.

DSC07568

DSC07573

DSC07577

DSC07590

Saya masih bertanya-tanya, apa sebab masjid ini beralih fungsi menjadi klenteng? Bahkan beberapa kali berwisata ke Sam Poo Kong, tak ada aktivitas ibadah umat muslim di sini. Hanya terdapat sebuah mushola berukuran 4×4 meter yang dibangun terpisah dari Sam Poo Kong. Lantas, apakah alasannya?

Mencari jawaban ke sana ke mari, akhirnya menemukan titik terang. Mengingat Cheng Ho berasal dari Negeri Tiongkok, bangunan (masjid) Sam Poo Kong tentunya dibangun dengan arsitektur khas Tiongkok. Di Indonesia, bangunan berarsitektur demikian lebih dikenal sebagai klenteng. Para awak kapal Cheng Ho pun pada waktu itu banyak yang menikahi pribumi, sehingga menghasilkan keturunan Tiongkok dengan kepercayaan Kong Hu Cu. Oleh karena itu, sekarang tempat ini juga digunakan sebagai tempat pemujaan serta tempat berziarahnya orang-orang keturunan Tiongkok.

DSC07620

DSC07671

Menariknya, cerita masuknya islam yang dibawa oleh Cheng Ho dilukiskan dalam dinding yang menempel pada gua besar di belakang klenteng Sam Poo Kong. Dalam terjemahan Bahasa Inggris, Indonesia, dan Cina, wisatawan dapat lebih mudah menggali sejarah dari Sam Poo Kong. Kebesaran Cheng Ho tak hanya pada jasanya membangun sebuah masjid dan menyiarkan agama Islam. Dari lukisan dinding ini, diceritakan bahwa Cheng Ho juga mengajarkan masyarakat Indonesia dalam bercocok tanam dan bersyukur kepada Tuhan. Bahkan, dalam lukisan dinding tersebut terdapat cerita tentang pengawalan Putri Han Li Bao yang akan dipersunting Raja Malaysia, Sultan Mansyur Syah.

DSC07694

DSC07682

Penasaran saya makin bertambah ketika seorang teman mengatakan adanya sebuah makam Kyai di sini. Benarkah? Saya mulai mencari tahu keberadaannya. Di pojok bangunan Sam Poo Kong, terdapatlah makam dari Kyai Tumpeng. Makam ini dijaga oleh seorang juri kunci yang juga beragama Islam. Dengan meminta ijin baik-baik dan sedikit wawancara, akhirnya saya diperbolehkan mengambil sedikit gambarnya. Kyai Tumpeng merupakan salah satu pegawai dari Cheng Ho saat mendirikan Sam Poo Kong. Di samping makam Kyai Tumpeng, juga terdapat makam Kyai Tjundrek. Untuk makam yang satu ini ternyata bukan makam seorang Kyai, namun senjata Cheng Ho dan pasukannya. Selain makam Kyai Tumpeng dan Kyai Tjundrek, terdapat juga makam Kyai Jangkar. Lantas, mengapa penamaannya menggunakan nama makam Kyai?

DSC07644

Menurut beberapa juru kunci yang saya temui, penamaan makam Kyai adalah umum digunakan dalam penggunaan nama sebuah pusaka, sedangkan senjata dan jangkar kapal Laksamana Cheng Ho merupakan bagian dari sebuah pusaka. Itulah sebabnya penamaannya menggunakan nama makam Kyai.

Semakin menarik jika dilihat dari akar pohon di sekitar makam Kyai Jangkar. Bentuk akarnya yang menyerupai rantai jangkar kapal ini menambah kekaguman saya akan kekuatan semesta. Tak ada yang dapat menjelaskan untuk yang satu ini. Namun, di sanalah sisi unik dari bangunan Sam Poo Kong tampak dalam.

Jika kita lihat dari luar saja, percayalah kita bahwa Sam Poo Kong adalah sebuah klenteng. Namun jika kita masuk ke dalam dan membaca lukisan dindingnya, didapatlah Sam Poo Kong dulunya adalah sebuah masjid yang digunakan untuk sholat Cheng Ho dan pasukannya.

DSC07667

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula dengan cerita Klenteng Sam Poo Kong yang termasuk ke dalamnya. Kehadiran bangunan berdominasi warna merah ini merupakan bukti akulturasi budaya di Nusantara yang harmonis. Meskipun terdapat banyak perbedaan, kehidupan tetap selaras berjalan. Di Sam Poo Kong pula tak hanya kekayaan sejarah yang dapat digali, tetapi juga keindahan arsitekturnya yang memikat hati.

Perjalanan ini merupakan dokumentasi kegiatan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

Comments

comments

10 thoughts on “Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.