No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pink Beach yang Menawan dan Komodo Liar di Pulau Rinca

by Hannif Andy Al - Anshori
Desember 3, 2015
5 min read
8

Setelah berpetualang di kawasan Pulau Komodo, saya dan rombongan berpindah menuju Pink Beach. Dengan perjalanan yang kurang dari satu jam saja, kami tiba di pantai dengan hamparan pasir cukup luas. Dari kejauhan, warna pasirnya menawan, bercampur antara putih dan merah.

DSC00275

Pantai Merah, atau yang lebih tersohor dengan nama Pink Beach merupakan pantai berpasir merah muda. Mengapa demikian? Banyak yang bilang bahwa pecahan koral berwarna merah turut tersapu hingga ke daratan. Warna putih pasir kemudian bercampur dengan warna merah pecahan koral, sehingga menghasilkan warna merah muda atau pink.

Pink Beach memang memanjakan mata! Saya lekas berlari menuju bukit savana. Dari bukit, sejauh mata memandang Pink Beach sangat rupawan. Hamparan pasir yang berwarna merah berpadu dengan laut yang berwarna biru cerah. Langit siang itu juga nampak sepakat memberikan saya banyak waktu untuk bercinta bersama alam. Menikmati Pink Beach memang bisa dari berbagai sudut. Dari pinggir pantai, terlihat pemandangan laut berbatas bukit-bukit. Dari atas bukit, terlihat hamparan pasir pink bersanding lautan cantik. Jangan tanya keindahan bawah lautnya, menakjubkan! Sempatkanlah untuk snorkeling di sini jika ingin tahu lebih banyak.

DSC00264

DSC00260

Tak puas dengan beberapa temuan Ora di Pulau Komodo yang dapat dibaca di artikel “Pulau Komodo: Bertemu Ora di Habitat Aslinya”, di hari yang sama setelah makan siang, saya dan rombongan berpindah menuju Pulau Rinca.

Sejak ditetapkan sebagai New Seven Wonders of Nature pada 2011, Pulau Komodo makin ramai diperbincangkan. Ya, Pulau Komodo yang merupakan habitat asli dinosaurus terakhir di dunia yang disebut Ora oleh masyarakat setempat. Selain di Pulau Komodo, binatang purba ini juga dapat ditemui di Pulau Rinca. Pulau seluas 19 ribu hektar ini terletak di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.

Sepanjang perjalanan laut, saya disuguhkan pemandangan beragam bentuk bukit yang menyihir seluruh indera. Kapal-kapal pinisi mulai ukuran kecil dan besar terlihat di sepanjang perairan menuju Pulau Rinca. Beberapa wisatawan mancanegara biasanya juga membeli paket snorkeling dan diving. Laut yang biru tenang berpadu dengan langit yang cerah sore itu.

Merapatlah kapal motor menuju Loh Buaya, satu-satunya dermaga kapal di Pulau Rinca. Nama Loh Buaya berasal dari kata ‘Loh’ yang berarti teluk dan ‘Buaya’ yang berarti binatang buaya. Kala itu Pulau Rinca terlihat sepi wisatawan. Saya bertemu dengan dua ranger yang berjaga di pintu kedatangan. Mereka telah siap mengantar saya dan rombongan untuk berpetualang. Terdapat tiga jalur trekking di Pulau Rinca. Short, medium, dan long track. Short track menjadi pilihan karena hari sudah semakin sore. Terlalu berisiko untuk mengambil track panjang karena laut malam akan sulit dilalui kapal motor.

DSC00280

Baru beberapa puluh meter saya dan rombongan berjalan menjauhi pintu selamat datang, kumpulan Komodo menyambut sambil bermalas-malasan. Saat itu dapur sedang memasak ikan sampai bau sedapnya mengundang sekawanan Komodo. Butuh beberapa saat saja untuk mendokumentasikan kawanan Komodo yang tak bergerak sedikitpun. Ranger berusaha mengalihkan perhatian Komodo dengan mendorong-dorong menggunakan tongkat bercabangnya. Berjalanlah Komodo beberapa langkah saja.

DSC00307

Saya dan rombongan berusaha mendapat gambar saat Komodo menjulurkan lidahnya. Menurut ranger, Komodo akan datang saat mencium bau sedap di dapur. Itulah sebabnya saya dan rombongan merasa lebih beruntung karena telah mendapat koleksi lebih dari sepuluh Komodo dibandingkan saat trekking di Pulau Komodo. Komodo di Pulau Rinca jauh lebih agresif dibanding yang ada di Pulau Komodo. Selain ukuran tubuhnya yang tak cukup besar, Komodo di sini juga jauh lebih cepat saat mengejar musuhnya. Beberapa wisatawan mancanegara yang terlalu dekat mengambil gambar bahkan ditegur oleh ranger.

DSC00320

DSC00317

Aktivitas wisatawan dengan lensa tele-nya tak cukup mengalihkan perhatian Komodo sedikit saja. Hanya Komodo berumur satu tahun yang dengan gesitnya berjalan keluar dari teduhnya rumah panggung di sore hari.

Saya dan rombongan melanjutkan perjalanan. Kami dibawa menuju sarang Komodo. Ukurannya yang tampak besar adalah bekas dari sarang burung Maleo. Biasanya, Komodo akan memakan telur Maleo dan merampas sarangnya. Komodo juga akan membuat banyak lubang sarang untuk mengecoh lawannya. Pintar, bukan?

DSC00330

DSC00360

DSC00363

Perjalanan berakhir dengan bersantainya rombongan di atas bukit. Semakin menanjak, pemandangan Pulau Rinca semakin menjadi indah. Dari sini, saya dapat melihat eloknya teluk Loh Buaya beserta kapal pinisi yang hendak keluar dari Pulau Rinca. Meskipun di awal November, Pulau Rinca belum juga dibasahi oleh hujan. Rerumputan nampak kuning mengering di sini. Pepohonan juga meranggas daunnya. Latar belakang birunya lautan Nusa Tenggara adalah perpaduan yang eksotis. Hijaunya hutan bakau seperti pagar lautan kerajaan para Komodo. Berteduh sebentar saja, saya dan rombongan kembali pulang menuju Labuan Bajo. Menuruni perbukitan sembari waspada andai anak Komodo melompat dari pepohonan.

DSC00357

Tegukan air mineral telah melepas dahaga. Saatnya untuk pulang dan bertafakur alam sepanjang perjalanan. Rupanya saya dan rombongan pulang di waktu yang pas. Momen lembayung senja di lautan Nusa Tenggara cantik bukan main. Kapal motor kami pun saling adu kecepatan. Berteriak melepas lelah beradu dengan suara mesin ganda kapal motor sungguh melegakan.

DSC00424

DSC00383

DSC00394

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula dengan keindahan Pink Beach dan Pulau Rinca yang termasuk ke dalamnya. Tak cukup waktu sehari untuk mengagumi kecantikannya. Namun dengan bergegas meninggalkannya, akan ada kerinduan untuk dapat merengkuhnya kembali suatu saat.

Perjalanan ini merupakan dokumentasi rangkaian perjalanan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

Tags: Manggarai Baratpantai merahpesona indonesiapulau rinca
Previous Post

Pulau Komodo: Bertemu Ora di Habitat Aslinya

Next Post

Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Comments 8

  1. ijeverson.com says:
    10 tahun ago

    eksotis banget komo dragon… pingin ke situ sekali-kali. selfie bareng komodo :”)

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Boleh selfie.. tapi jangan dipeluk komodonya 😀

      Balas
  2. Hastira says:
    10 tahun ago

    wih…. pantai dg pasir pink membayangkan saja sudah asyik apalagi bisa ke sana

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Semoga bisa cepat kesini ya 😀

      Balas
  3. nengbiker says:
    10 tahun ago

    dari puncak Pantai Rinca itu subhanallah bagusnyaaaa
    eh dari bukit pink beach juga ding!

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Kaki melepuh pas naik ke atas, sampai mager ga jadi snorkeling

      Balas
  4. Hebergement web says:
    10 tahun ago

    Pantai Merah merupakan pantai dangkal yang indah dengan terumbu karang yang menawan. Aktivitas yang biasa dilakukan oleh turis yang berkunjung adalah snorkeling , diving dan mandi matahari .

    Balas
  5. insanwisata says:
    10 tahun ago

    hehe. makasih mas. iya mas. ini pertama kali aku ke sana. alhamdulillah semesta mendukung

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller