No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Keunikan Tradisi Suku Sasak di Desa Sade

by insanwisata
Desember 9, 2015
4 min read
14

DSC09426

“Dik, nikah yuk!” terdengar suara dari jendela kamar.

Si Gadis terkejut, sekaligus gembira. Digenggam tangan Sang Lelaki dan kedua sejoli itu berlari, sambil terkadang mengendap-endap agar tak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Esoknya, orang tua Si Gadis heran mengapa ia tak kunjung keluar kamar. Seakan mengerti apa yang sedang terjadi, dipanggil Ketua Adat untuk memimpin musyawarah hingga menemukan kata sepakat. Apa gerangan yang mereka bicarakan? Ternyata tragedi “kabur” Si Gadis bersama seorang lelaki tadi berujung keputusan menikah!

***

Adalah Desa Sade yang terletak di Rembitan, Pujut, Lombok Tengah. Desa ini terkenal masih mempertahankan tradisinya dan dihuni oleh Suku Sasak. Karena itulah, desa yang telah dideklarasikan pemerintah sebagai desa wisata ini lebih dikenal dengan nama Desa Sasak Sade. Desa Sasak Sade sudah dikunjungi wisatawan sejak 1987. Di desa ini, perjalanan kami sejenak terhenti. Masuk Desa Sade, kami ditemani oleh pemandu lokal, Mas Wahid. Banyak yang unik dari Desa Sasak Sade ini. Berada tepat di antara jalan antar kota di Lombok Tengah, hanya Desa Sade yang bangunannya masih tradisional. Beratapkan ijuk dan beralaskan tanah liat.

Uniknya lagi, masyarakat lokal masih memegang adat “kawin lari”. Jangan salah kaprah. Kawin lari di desa ini bukan berarti hubungan mereka tak direstui lantas kabur menjadi pilihan. Malah sebaliknya, menculik atau membawa kabur seorang wanita berarti memberi tanda bahwa ia siap dipinang oleh pujaan hati. Kata Mas Wahid, di Desa Sade prosesi lamaran seperti pada umumnya malah dianggap bara atau hina. Adat yang berkembang di sana ialah menikahi misan/sepupu sendiri. Bukan berarti mereka tak boleh menikahi mempelai dari luar daerah. Hal itu sah-sah saja, namun disertai syarat mas kawin 1-2 ekor sapi.

DSC09422

Mas Wahid mengantar kami berkeliling Desa Sade. Desa ini dihuni 150 Kepala Keluarga dengan jumlah penduduk sekitar 700 orang. Menurut Mas Wahid, ini adalah generasi ke-15 dari masyarakat Suku Sasak di Desa Sade. Kami kemudian masuk ke salah satu rumah penduduk. Penduduk menyebut rumah sebagai bale. Luasnya yang tak seberapa terbagi menjadi dua ruangan yang masing-masing fungsinya berbeda, bale luar dan dalam. Bale bagian luar digunakan untuk menerima tamu, sedangkan bale bagian dalam digunakan sebagai ruang privasi dan juga tempat persalinan/melahirkan. Selain rumah, desa ini juga memiliki bangunan lumbung padi yang difungsikan untuk menyimpan persediaan padi. Sama seperti bale, lumbung padi juga beratapkan ijuk membuat arsitekturnya amat apik.

DSC09457

DSC09569

DSC09527

DSC09446

Yang membuat kami tercengang ialah lantai rumah beralaskan tanah liat bercampur sekam padi dipel menggunakan kotoran kerbau yang masih hangat setiap pekan sekali. Meskipun lantai sudah mengering, bekas kotoran kerbau tidak meninggalkan bau! Unik, bukan? Daun pintu rumah di desa ini mirip bangunan di Jawa Tengah, desainnya sengaja dibuat lebih rendah dibanding tinggi pemiliknya. Filosofinya adalah agar setiap yang bertamu dapat menghormati pemilik rumah dengan cara menundukkan kepala.

Selama berkeliling Desa Sade, masyarakat menyambut kami dengan senyuman yang ramah sambil menjajakan dagangannya. Seluruh wanita di sini merajut kain tenun maupun membuat cinderamata. Ternyata, perempuan di Desa Sade diwajibkan belajar menenun mulai umur 10 tahun. Bahkan, mereka belum bisa menikah jika belum bisa menenun. Jadilah tenun sebagai barang mahal yang tak ternilai harganya. Selain dikerjakan dengan rapi dan membutuhkan waktu yang cukup lama, kain tenun digunakan sebagai mahar dalam pernikahan. Warna dan motif kain tenun di Desa Sade ini cantik sekali. Dijual juga cinderamata berupa gelang warna-warni. Harganya murah, tak luput dari serbuan rombongan kami.

 

DSC09470

DSC09445

DSC09436

DSC09427

DSC09575

Keragaman alam dan budaya merupakan salah satu Pesona Indonesia. Begitu pula Desa Sade yang masih mempertahankan adat-istiadatnya. Meskipun dikelilingi modernisasi perkotaan, tak lantas membuat mereka gentar mengikuti alur zaman. Mereka malah bangga dengan gaya hidup yang dianut sejak masa pendahulunya. Datanglah ke Desa Sade dan temukan sebagian budaya luhur Nusantara!

DSC09573

Ditulis oleh Hannif Andy Al Anshori dan Reza Nurdiana. Perjalanan ini merupakan dokumentasi kegiatan bersama Kementerian Pariwisata (Indonesia Travel). Untuk melihat dokumentasi perjalanan ini, dapat dilihat melalui akun instagram insanwisata dan twitter @insanwisata dengan hastag #PesonaIndonesia maupun #SaptaNusantara.

Tags: Desa Sasak Sadepesona indonesia
Previous Post

Sam Poo Kong : Akulturasi Budaya Islam dan Tiongkok

Next Post

Menyusuri Jeram Goa Kalisuci, Seru!

insanwisata

insanwisata

Travel Blogger

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Menyusuri Jeram Goa Kalisuci, Seru!

Menyusuri Jeram Goa Kalisuci, Seru!

Comments 14

  1. nengbiker says:
    10 tahun ago

    eh kok liat caranya bikin gelang itu di tempat yang mana ya?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Eaa.. Masih di tempat yang sama kok. Dekat pintu keluar. Salah siapa pisah sama hanif? :p

      Balas
  2. Deli says:
    10 tahun ago

    Tulisannya keren mas hanif.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Makasih Mas Deli 🙂

      Balas
  3. cumilebay maztoro says:
    10 tahun ago

    Tahun 87 kamu dah lahir belum ???

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Belum lah Om.. Orangtua belum cinlok tahun 87an

      Balas
  4. Anita Dwi Mulyati says:
    10 tahun ago

    Btw itu diculiknya berapa hari ya? Beneran diculik yang ortu gak tahu pergi kemana? Trus setelah menghubungi ketua Adat sejoli itu langsung dicariin? Penasaran juga.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Setelah 24 jam diculik, pemangku adat dan keluarga perempuan akan mencarinya. Dan biasanya, keluarga perempuan dan pemangku adat sudah tahu siapa yang nyulik. Sudah jadi tradisi, kalau pake lamaran malah ‘bara’ katanya, atau hina

      Balas
  5. Kang Alee says:
    10 tahun ago

    Adatnya seru ya Kak

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Emang seru Bang 🙂

      Balas
  6. ubuntu vps says:
    10 tahun ago

    Uniknya, warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. a€?Sekarang sebagian dari kami sudah bikin plester semen dulu, baru kemudian kami olesi kotoran kerbau,a€? kata ibu penjual suvenir yang saya tanyai.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Sebenernya pengen banget ikutan ngepel pakai kotoran kerbau. Tapi pas lagi kesini g ada yg lagi ngepel. Haha

      Balas
  7. Lombok Wander says:
    9 tahun ago

    Bangga menjadi warga Lombok !

    Balas
    • insanwisata says:
      9 tahun ago

      lombok selalu bikin jatuh cinta

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller