Raja Ampat, Negeri Empat Raja yang Terjaga

Epilog

Begitu kagumnya ketika kita mendengar nama Raja Ampat. Memang, sudah banyak tulisan yang mengulas keindahan dan kecantikan Raja Ampat. Namun dari banyaknya tulisan itu, tak banyak yang memiliki kesempatan ke Raja Ampat. Berbagahagialah kita atas teknologi yang semakin maju ini. Tanpa perlu kita datang ke lokasi secara langsung, informasi dengan mudah dan cepat kita dapat dari forum media sosial dan portal blogger.

Catatan Perjalanan

Ini adalah kedua kalinya saya ke Raja Ampat, Papua Barat. Bukan hanya cantik, Raja Ampat juga secara mengagetkan memiliki spot-spot wisata yang tak pernah diulas banyak media. Tujuan saya adalah Kepulauan Misool. Letaknya berada di bawah kepala burung (dalam peta). Setiba di bandar udara Dominique Edwark Osok, saya mengejar kapal Fajar Indah yang diberangkatkan dari pelabuhan Sorong menuju Misool. Kapal ini berlayar di hari Jum’at pukul 23.00 WIT dan akan kembali ke Sorong pada hari Sabtu pukul 11.00 WIT. Cukuplah dengan merogoh kocek Rp250.000 dan merebahkan badan selama delapan jam untuk sampai  dermaga Fafanlap, Misool Selatan.

Untuk mengenal Raja Ampat dan segalanya, usahlah untuk mengenal masyarakat lokalnya. Seperti apa yang diungkapkan oleh Agustinus Wibowo, “Nilai perjalanan tidak terletak pada jarak yang ditempuh seseorang. Bukan tentang seberapa jauhnya perjalanan. Tapi lebih tentang seberapa dalamnya seseorang bisa terkoneksi dengan orang-orang yang membentuk kenyataan di tanah kehidupan”. Sebelum menyelami Misool sampai ke dasarnya, saya harus memahami budaya dan kearifan lokal masyarakatnya terlebih dahulu. Masyarakatnya yang ramah dan hobi mob (stand up ala Papua) menjadikan saya betah berlama-lama tinggal di Misool. Berwisata adalah bonus dari segalanya. Misool tetaplah elok tak ada duanya.

Berbekal transportasi laut bernama katinting (perahu ala Papua), saya berkeliling Misool. Angin musim selatan kala itu menjadi ancaman bagi saya yang tak pandai berenang dan bagi penduduk yang awam membaca alam. Beruntung saya ditemani oleh Bang Saman (pemuda kampung Fafanlap) dan Pak Yasin (Kepala Kampung Fafanlap). Keduanya adalah teman perjalanan yang tak pernah bisa diam barang semenit saja. Pulau Banos adalah tujuan pertama saya. Pulau Banos menyuguhkan pemandangan alam yang berbeda dari pulau kebanyakan. Snorkeling boleh menjadi pilihan. Tapi, cobalah melompat dari ketinggian 12m pantai ini. Sepulang dari Banos, saya mendapati kulit kerang raksasa yang saat ini selalu saya pajang dekat jendela kamar.

Memang waktu tak pernah bisa diajak berkompromi sedikitpun. Pak Yasin dengan segera mengajak kami melihat jejak pitarah manusia purba. Mereka sebut itu dengan Sunmalele. Galeri seni rupa purba peninggalan peradaban lampau berupa ikan, telapak tangan manusia, dan panah terpajang di antara bebatuan karangnya. Saya berusaha menyentuh bebatuannya hingga katinting sedikit oleng. Dengan sigap Bang Saman memegang saya yang hampir terjatuh. Cukuplah beberapa menit saja saya mengambil gambar, katinting berganti arah menuju tempat yang mereka sebut Dapunlol.

 

 

Dapunlol adalah spot foto udara yang jauh lebih indah daripada Wayag. Masyarakat lebih mengenalnya dengan sebutan Puncak Harfat. Nama Harfat diambil dari nama Pak Harun Sapua dan Bu Fatma. Keduanya adalah salah satu tokoh masyarakat di Kampung Harapan Jaya yang cukup berhasil membuka pintu akses pariwisata di Misool. Untuk bisa sampai tempat ini, saya harus menanjaki puncak yang cukup licin dibasahi embun dan hujan. Benar adanya jika Raja Ampat selalu menarik jika ditengok dari atas. Benar adanya jika Raja Ampat masih terjaga alamnya. Waktu terbaik untuk mengambil gambar di sini adalah di pagi hari. Lihat saja, warnanya tak pernah menyatu meski telah diaduk angin selatan. Hijau, biru muda, biru tua, selalu indah dipandang mata.

 

 

Tak ada wisatawan lain selain rombongan kami. Waktu pun cepat berlalu, Pak Yasin bersama katintingnya membawa saya pulang. Masih dengan wajah senyum-senyum yang tak pernah habis melihat foto-foto di kamera saku, saya dikejutkan dengan batu karang yang berbentuk hati. Masyarakat lokal menyebutnya dengan nama Lenkalogos. Sungguh romantis tempat ini, namun sayang saya ke sini tak pernah membawa pasangan. Karang yang cukup tinggi ini konon terbentuk dalam waktu yang sangat lama. Selama perjalanan Pak Yasin terus bercerita tentang kekayaan negerinya. Esok, Pak Yasin akan mengajak saya ke Keramat. Tempat yang dikenal sebagai makam nenek moyang yang menyebarkan islam di Pulau Misool.

 

 

Memang perjalanan selalu memberikan banyak pelajaran bagi saya. Di tempat-tempat yang tak pernah diduga, selalu muncul kejutan yang tak ternilai harganya, bahkan tak sempat menggantinya. Seperti saat itu, dimana Papeda telah dihidangkan di atas meja makan. Menjadi traveler berarti harus merasakan riuh kehidupan. Menjadi traveler berarti harus mampu merasakan budayanya, menikmati alamnya, bermukim bersama ramah penduduknya, dan tentu tak boleh melewatkan kulinernya.Bahan utama papeda adalah tepung sagu yang tentunya berasal dari pohon sagu. Tepung sagu tersebut kemudian dimasak hingga bertekstur kenyal. Bagi yang belum terbiasa makan papeda mungkin akan heran dan sulit merasakannya. Namun, berbeda dengan orang Papua dimana papeda telah menjadi makanan pokok pengganti nasi. Masyarakat percaya papeda kaya akan nutrisi. Maka tak heran kebanyakan orang Papua berpostur tinggi dan kuat.

Keesokan paginya, sesuai janjinya Pak Yasin dan Bang Saman mengajak saya dan rombongan menuju Goa Keramat. “Tarabisa dibilang pernah ke Misool kalau belum pernah ke Keramat”, kata Pak Yasin sambil membawa katintingnya. Rombongan kami melewati gugusan pulau dan gunung karang yang indah dan unik bentuknya. Ada yang berbentuk garuda, dan ada pula yang berbentuk sepasang kekasih yang saling perpandangan. Namun sayang keberuntungan tak berpihak pada saya, wajah batu karang mirip sepasang kekasih tak berhasil ditangkap kamera. Dengan gemerutu giginya Pak Yasin membacakan mantra menggunakan bahasa Misool. Hal ini dimaksudkan untuk meminta ijin kepada nenek moyang yang mendiami Keramat. Sesampainya, saya diajak terlebih dahulu berdoa kepada arwah nenek moyang. Membersihkan tempat peristirahatan mereka yang telah ditumbuhi rerumputan. Saya tergoda dengan genangan air yang tenang nan bening di sana. Terlihat sepintas Napoleon biru yang berenang mengejar sekumpulan ikan-ikan kecil. Segera saya melepas pakaian dan berenang di Keramat.

Sungguh, berkunjung ke Raja Ampat lebih dari di luar rencana. Pak Yasin menunjukkan pada saya tentang lafaz Allah yang terukir di atas Goa Keramat. Lihat saja, sangat mustahil dibuat manusia. Rencana Tuhan jauh lebih manis daripada apa yang telah saya rencanakan di awal. Benar saja Agustinos Wibowo dalam tulisannya, “Rumah, dalam benakku ketika aku berada di tengah pengembaraan ribuan kilometer, adalah fantasi tentang kenyamanan surga dan kerinduan nostalgia. Rumah, di hadapanku setelah pulang dari pengembaraan ribuan kilometer, adalah realita yang mengobrak-abrik semua ilusi dan fatamorgana”.

Begitulah catatan perjalanan ini dibuat. Raja Ampat adalah Indonesia. Pulau-pulau kecil di Indonesia yang tersebar dari Pulau Rondo (Aceh) sampai Merauke (Papua), dan dari Pulau Miangas (Sulut) hingga Pulau Rote (NTT), dengan jumlah 17.504 pulau merupakan suatu potensi bangsa Indonesia yang perlu mendapat perhatian khusus. Lewat tulisan ini lah saya belajar menjaga, akan titipan surga dunia yang dijatuhkan Tuhan di bumi Papua. Salam merajut cinta tanah air.

Catatan ini diikutsertakan dalam lomba menulis blog bertemakan Aku dan Kompasiana

Yogyakarta, 29 Oktober 2014
Dokumentasi : Pribadi

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.