No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pulesari : Desa Wisata Alam, Tradisi, dan Budaya

by Hannif Andy Al - Anshori
Desember 17, 2014
3 min read
1

 

Desa wisata. Mungkin tinggal di desa wisata tak lagi aneh bagi sebagian orang yang telah lama tinggal di desa. Namun berbeda dengan yang satu ini, Desa Wisata Pulesari. Desa wisata yang berada dekat dengan lereng Gunung Merapi ini memiliki khas wisata alam, tradisi, dan budaya.

Secara geografis, Desa Wisata Pulesari terletak di Dusun Pulesari, Desa Wonokerto, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Nama Dusun Pulesari diambil dari nama Nyai Pulesari yang didapat saat Kyai Tokariyo melakukan pertapaan. Dalam pertapaannya, bertemulah Kyai Tokariyo dengan Nyai Pulesari yang telah dilupakan masyarakat selama bertahun-tahun silam.

1529870_10200105790163113_8782326712644463649_o

 

Dengan bermodal sumber daya alam, budaya, dan tradisi di Dusun Pulesari, Pak Amin Sarjana dan orang-orangnya mampu menyulap desanya memberikan nilai tambah ekonomi melalui aktivitas wisata pedesaan. Berdiri pada tahun 2012, kini desa wisata ini telah meraup banyak rupiah dan mampu menghidupkan perekonomian masyarakat yang sebagian besar adalah petani salak.

Berada di Desa Wisata Pulesari, usahlah untuk mencoba paket wisata outbound-nya. Sungai Bedhog adalah jalur utama wisata outbound di desa wisata ini. Airnya yang dingin dan diaduk ramah tamah masyarakat akan menemani kita setengah harian menjelajahi desa wisata ini. Pantas saja, di tahun 2014 sudah tercatat sebanyak lebih dari 28 ribu tamu yang datang ke Desa Wisata Pulesari. Bahkan tak tanggung-tanggung, desa wisata ini kini menjadi model percontohan tentang bangkitnya sebuah desa pasca bencana (Erupsi Merapi 2010).

 

10869372_10200105791203139_8360248584090852432_o

10869679_10200105790723127_3843377169101217938_o

 

Kini, telah tersedia sekitar lebih dari 10 paket wisata outbound yang disiapkan pengelola Desa Wisata Pulesari untuk wisatawan. Jembatan goyang, bambu bocor, tangkap ikan, merangkak jaring laba-laba, susup ban, gubug hujan, titian bambu, tangga tebing bergoyang, dan permainan sejenis lainnya cukuplah menantang untuk dijamah. Tak heran juga, profil rata-rata pengunjung desa wisata ini adalah mereka yang masih menyandang pendidikan/ duduk di bangku sekolah.

Desa wisata ini tak hanya menampilkan ‘desa’ sebagai latar belakangnya. Di sisi utara, akan terlihat dengan jelas pemandangan Gunung Merapi. Siapapun bersepakat menyatakan Gunung Merapi merupakan gunung yang menakjubkan. Gunung berapi teraktif di dunia dengan ketinggian 1.700 meter dari permukaan laut ini kesehariannya senantiasa menaburkan pesona jika dilihat dari Desa Wisata Pulesari. Sedangkan sisi selatannya, terdapat Bukit Barisan yang cantik jika dilihat pada malam hari. Mereka menyebutnya sebagai desa yang romantis. Gemerlap lampu-lampu kota dan di sekitaran Bukit Barisan sangat jelas jika dipandang dari desa wisata ini.

 

10818330_10200105789963108_5612014468748694557_o

10873620_10200105790403119_4353596021752784816_o

 

Bagi penggemar wisata alam dan sejarah, Desa Wisata Pulesari juga memiliki sebanyak 16 gua sejarah. Sebutlah Gua Ular, Gua Grenjeng, Gua Leri, Gua Dampar, Gua Canguk, dan gua-gua lainnya yang dapat ditemukan di Desa Wisata Pulesari. Konon, gua-gua ini sebagian besar adalah lokasi persembunyian masyarakat kampung saat masa penjajahan Belanda.

Usaha masyarakat Desa Wisata Pulesari untuk terus eksis di industri pariwisata juga didukung dengan sejumlah industri kreatif bermodalkan buah salak pondoh. Terlihat dalam aktivitasnya, ibu-ibu yang tergabung dalam Dashawisma juga aktif dalam membuat makanan olahan salak, seperti; dodol salak, jenang salak, bakpia salak, wingko salak, katul salak, krupuk salak, enting-enting salak, nogosari salak, geplak salak, dan makanan olahan lainnya. Sangat berbeda dengan desa wisata lainnya, Desa Wisata Pulesari juga memiliki kesenian tradisional berupa Tarian Salak, Tari Kubro Siswo, Kesenian Klenthingsari, dan Kesenian Gobyoksari.

Bagaimanapun, melakukan inovasi tiada henti dalam mengoperasikan desa wisata terus diupayakan pengelola dan juga masyarakat kampung Dusun Pulesari. Menurut cerita, salak di Kecamatan Turi memiliki kualitas terbaik, bahkan telah diekspor sampai negeri Tiongkok. Hadirlah Museum Salak yang didirikan pada tahun 2013 sebagai media informasi mengenalkan salak pada khalayak luas.

 

10818396_10200105794643225_820523373886357991_o

10872879_10200105789563098_1181283171348899262_o

 

Tak puas rasanya tanpa bermalam dan merasakan nuansa ‘pedesaan’ di sini. Tak usah khawatir, masyarakat telah menyediakan puluhan homestay ditambah dua buah pendopo yang dapat menampung wisawatan. Bahkan dalam kesehariannya, wisatawan dapat belajar untuk mengelola kebun salak, bertani, membatik, dan belajar pandai besi.

Ke Yogyakarta? Singgahlah ke Desa Wisata Pulesari beberapa hari saja. Info pemesanan : 085743128969 (Didik).

 

Previous Post

Raja Ampat, Negeri Empat Raja yang Terjaga

Next Post

Hiruk-pikuk Malam Minggu di Waroeng Semawis

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Hiruk-pikuk Malam Minggu di Waroeng Semawis

Hiruk-pikuk Malam Minggu di Waroeng Semawis

Comments 1

  1. paket wisata dieng says:
    8 tahun ago

    makasih buat info nya..

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller