Sate Babi. Mie Babi Goreng. Mie Babi Panggang. Nasi Babi Goreng. Nasi Babi Panggang.
Sebagian orang bisa saja tertegun ketika membaca daftar menu yang tertera di warung-warung kecil itu. Sebagian lagi malah menguyah sajian menu-menu itu dengan nikmatnya sambil bercengkrama dengan famili. Meski itu mendominasi, ternyata masih banyak menu lain yang bisa dinikmati oleh seluruh fraksi.
Di Gang Warung ini, warung-warung kecil itu beroperasi. Senin hingga Kamis, gang ini hanya jalan lurus dengan pertokoan dan rumah gaya kolonial yang berimpitan. Jumat hingga Minggu, jalan lengang ini ramai dikunjungi dari sana-sini. Gemerlap lampu kios dan warung menyilaukan pandangan. Warna kuning dan merah menjadi ciri khas yang berderet hingga ke ujung jalan. Terlampau riuh bahkan tak bersisa satu warung pun kehabisan pelanggan.
Semarang dengan potongan kisah pejuang Tiongkoknya memang tak bisa terlepas dari sejarah. Konon, pemberontakan Tionghoa 1740-1743 yang dimenangi Belanda berujung pada terbentuknya kawasan pecinan di sekitar Kali Semarang. Hingga kini, sejarah itu masih meninggalkan generasi untuk berbaur dengan para pribumi. Demikian, kawasan pecinan masa kini menjadi salah satu yang paling aktif menggelar berbagai pesta. Bukan sekadar perayaan Tahun Baru Imlek, melainkan pesta-pesta harian dan mingguan layaknya pasar tradisional dan pasar malam.
Di semua tempat, malam Minggu jadi waktu paling asyik untuk berkumpul dengan yang terkasih. Begitu pun di Waroeng Semawis ini. ‘Semawis’ sebenarnya bahasa halus dari nama ‘Semarang’. Namun di sini, ‘Semawis’ juga punya makna ‘Semarang untuk Wisata’. Pasar malam kuliner ini digelar pada tiga hari penghujung akhir pekan. Berjalan di sepanjang koridor Waroeng Semawis akan tercium campur-baur aroma jajanan khas semarangan, masakan peranakan Tionghoa, dan aneka ragam lainnya.
Menyandang slogan ‘Pusat Jajan Semarangan’, Waroeng Semawis tak pernah pandang bulu, terlebih dengan generasi peranakan lain. Bhineka Tunggal Ika memang senjata ampuh buat menyatukan seluruh golongan suku, ras, etnis, bahkan agama. Buktinya, di Waroeng Semawis yang digagas oleh kelompok pecinan ini, pedagang jajanan halal dari kalangan pribumi pun disambut hangat. Akan tampak dominan gen Tionghoa menduduki bangku-bangku warung, namun tak jarang pula penampilan pribumi hilir-mudik silih berganti. Para pribumi juga masih bisa menyantap jajanan lain yang berkenan.
Mie Jawa. Wedang Tahu. Soto Ayam. Sate Ayam. Pisang Plenet. Lunpia. Tahu Gimbal.
Meskipun begitu, corak Tiongkok tetap jadi primadona utama Waroeng Semawis. Corak yang jelas terlihat dari warna merah dan kuning yang jadi identitas pasar ini. Corak yang jelas terlihat pula dari warung-warung karaoke yang mengalunkan lagu Mandarin. Corak yang semua orang dapat menerkanya ketika melihat sekumpulan keturunan Tionghoa memenuhi setiap sudut pasar. Corak huruf-huruf Mandarin yang tergores di umbul-umbul warung dan pertokoan. Pun, corak dari kehadiran warung peramal yang tersohor khas Tiongkok.
Waktu itu malam Minggu, irama lirik lagu yang berbunyi “Wo hi xuan ni (red: aku menyukaimu)” mengantar para pengunjung menyusuri koridor Waroeng Semawis. Warung-warung karaoke itu juga dijejali penonton pribumi. Sejatinya, Waroeng Semawis adalah persembahan keselarasan budaya antara kaum keturunan Tionghoa dengan kaum pribumi di tanah Semarang.
Semawis, Malam Minggu, 2014
Atraksi: Pasar Kuliner Waroeng Semawis
Lokasi: Gang Warung, Kawasan Pecinan, Semarang
Waktu Buka: Jumat, Sabtu, dan Minggu pukul 18.00-22.30










apapun yg berbau babi itu pasti enak … nyobain ah 🙂
hahaha. om Cumi. ntar ceritain rasanya yaa