No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Pacoa Jara: Pesta Rakyat Masyarakat Bima

by Hannif Andy Al - Anshori
Oktober 27, 2016
5 min read
34

Saya mengenal masyarakat Bima sangat santun, ramah, dan mudah akrab dengan orang baru. Begitu pula pertemuan saya dengan Pak Rusdi, pengantar saya selama menjelajah lingkar kaki Gunung Tambora. Sepanjang jalan ia bercerita, bagaimana karakter orang Bima, pula pariwisata di sana. Baginya, Bima punya segalanya. Alam yang indah, budaya yang unik, dan sejarah yang kuat.

Sekian lama sudah saya ingin mengunjungi Bima untuk menyaksikan langsung Pacoa Jara (Pacu Kuda). Bisa dibilang, Pacu Kuda merupakan olahraga yang cukup digemari masyarakat. Pacu Kuda juga mengalir sebagai budaya yang berlangsung meriah setiap tahun. Masyarakat Bima biasa menghabiskan waktu akhir pekan untuk melatih kecepatan dan ketangkasan kuda-kudanya.

pacu kuda bima

Kemudian pesta rakyat diumumkan. Selasa (25/10/2016) telah menjadi hari yang sangat ramai di lapangan pacuan kuda Desa Panda karena para jagoan akan bertanding di sana. Gempita masyarakat Bima berbondong-bondong menggiring kuda kebanggaannya ke gelanggang pacuan. Kuda dibawa menggunakan mobil pick-up yang dikawal oleh banyak pawang. Begitu pula bendera-bendera sponsor telah berkibar di pelataran arena. Tribun penonton kian sesak. Semakin banyak pendaftar pacu kuda yang bergabung dalam pesta rakyat ini.

Para joki berlari menuju meja pendaftaran digendong ayahnya. Wajah mereka ditutupi kain topeng (kupluk), bajunya bernomor punggung urut satu sampai lima, kaos kakinya setinggi lutut, dan mengenakan helm batok. Perlengkapan keselamatannya sangat minim sekali. Joki yang dipilih juga bukan sembarang joki. Dari beberapa joki yang saya temui memiliki riwayat menang Pacu Kuda, minimal tiga pertandingan. Agar lebih mudah memanggil kudanya, diberikanlah nama panggilan seperti Gadis Villa, Sang Bima, Putra Mahkota, Mustang, dan panggilan lainnya.

pacoa jara bima

Gong laga pembuka acara ditabuh. Panitia lekas memanggil para peserta memasuki arena. Tampak beberapa kuda enggan mengikuti tuannya. Berontak kuda lari keluar dari arena pacu. Cepat tuannya mengejar kemudian menariknya. Masing-masing pemilik punya ritual sendiri sebelum acara dimulai. Ada yang menggosokkan ramuan di otot-otot kuda, ada juga yang melalui minuman. Setelah kuda menjadi sedikit liar, kemudian diberikan kepada joki yang duduk di pungkur besi.

pacoa jara

pacoa jara

Saya menghampiri satu di antara yang paling muda. Ipin namanya. Saat ini Ipin sedang duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Ia tercatat sudah menang lima kali Pacoa Jara. Prestasi yang sangat luar biasa untuk bidang olahraga di umur yang masih muda.

Ipin yang terbiasa melahap arena pacu kuda nampak tenang menghadapi lawannya. Nampaknya ia tak mau persoalkan kalah menang. Jika menang, hadiah sepeda motor didapatnya. Jika kalah, masih tetap bisa sekolah. Tak ada rasa kecewa nantinya. Ia tetap bisa bercanda layaknya sedang bermain di lapangan bola. Begitu pula teman-teman lainnya. Tak ada yang tegang, bahkan gemetar menatap lawannya.

pacoa jara

pacoa jara

pacoa jara
Ipin yang baru duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar menjadi peserta putaran pertama yang paling muda. Ia tampak riang menyambut lomba Pacoa Jara.

pacoa jara

Joki pacu kuda sudah diatur batas umurnya. Bagi para joki yang tampil di laga pertandingan, mereka belum tentu memiliki kuda. Biasanya, pemilik kuda akan mencari joki yang sudah terbiasa. Jika menang, ada imbalan untuk para joki cilik ini. Jumlahnya tergantung kesepakatan dari keduanya. Tak heran, banyak peserta dari Sumba, Lombok, maupun penjuru Sumbawa yang datang dan menyewa jasa joki kuda di Bima.

Jika sekilas melihat kuda yang tampil dalam pacuan, tak begitu gagah dan besar. Itulah mengapa dipilih joki kecil dengan umur maksimal 10 tahun. Tapi bukan itu juga sebab utamanya. Pacoa Jara adalah tradisi turun temurun yang mengakar dalam kebudayaan masyarakat Bima. Selain hadiah yang menggiurkan, di sanalah para Dou Mbojo (masyarakat Bima) tampil dengan identitasnya.

pacoa jara

pacoa jara

Pungkur besi mulai dibuka. Lekas kuda berlari kencang dipacu para joki. Di balik tribun ratusan penonton bersorak-sorai. Mereka sudah memiliki jagoan masing-masing. Tak kalah pembawa acara turut heboh terbawa suasana. Begitu pula saya, lari mengejar mengarahkan kamera saku sampai garis finish. Kuda coklat memimpin. Sang Joki dengan santai menengok ke belakang. Berharap musuhnya tertinggal jauh di belakang. Saya tak hafal siapa pemenangnya. Jelas pemiliknya sangat senang. Yang kalah menjadi sedikit kesal, beberapa kecewa, ada juga yang malah tertawa. Para joki kemudian digendong kembali. Disuguhi minuman atau makanan sesuai selera. Mereka tampak senang meski harus kalah dalam arena balapan. Tampil polos sambil bercerita ketika ia berada di atas arena pacu kuda.

pacoa jara

pacoa jara

pacoa jara

pacoa jara

pacoa jara
Memasuki garis finish, joki melambaikan tangan kepada penonton. Ia meninggalkan jauh lawannya.

Matahari semakin naik. Tribun kian sesak penikmat pertunjukan. Putaran kedua berlangsung. Saya memasang dua kamera. Satu dengan mode foto, dan satu dengan mode video. Saya tak mau melewatkan momen penting yang amat jarang. Pukul 12.00 WITA saya sudah harus berada di bandara dan terbang ke Jogja. Pak Rusdi dan kawannya masih setia menunggu di teduhnya tribun. Mereka terlihat ikut bersorak meramaikan pacuan kuda. Debu mengepul di lapangan. Kali ini lima kuda memiliki kecepatan lari yang imbang. Yang paling depan tak terlalu jauh meninggalkan kuda lainnya. Para orang tua yang ikut menyaksikan terbawa suasana. “Putra Mahkota!!!”, “Sang Bima!!!”, teriak mereka sambil mengalun pecutan ke pagar kayu sepanjang arena pacu kuda.

Mereka tampak gagah dan profesional berlaga di arena pacuan kuda. Tangan kanannya memegang pecut, tangan kirinya menempel kencang di leher kuda. Semakin dipacu, lari kuda semakin kencang. Badan kecil mereka terguncang-guncang. Para joki cilik harus pandai menjaga keseimbangan.

pacoa jara

Pacoa Jara rutin diselenggarakan dua sampai empat kali dalam satu tahun, tergantung lancarnya pendanaan. Latihan cukup digelar Sabtu dan Minggu. Acara ini sangat terbuka untuk wisatawan yang ingin menyaksikan. Selagi ada waktu, sempatkan untuk mampir Bima dan melihat langsung Pacoa Jara, pesta rakyat yang digelar rutin untuk masyarakat.

P.S: Jika ingin menyaksikan Pacoa Jara, datanglah pada hari Sabtu – Minggu atau pada bulan April, Juli, Oktober, dan Desember. Jika kesulitan mencari sewa mobil maupun taxi di Bima, ada beberapa rekomendasi saya yang dapat dihubungi: Bapak Rusdi (085338835433), Bapak Burhan (082341497258). Salam untuk keduanya.

Video jelajah lingkar kaki Gunung Tambora melalui Kabupaten Bima dan Dompu dapat dinikmati di sini


Lokasi Lapangan Pacuan Kuda, Desa Panda

Previous Post

Satu Hari di Satonda

Next Post

Jelajah Kaki Gunung Tambora Lingkar Utara

Hannif Andy Al - Anshori

Hannif Andy Al - Anshori

Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post

Jelajah Kaki Gunung Tambora Lingkar Utara

Comments 34

  1. cumilebay says:
    10 tahun ago

    Aku mau lihat ini, kapan lalu waktu kesana ngak ada jadwal nya ihik ihik

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yah.. anak Bupati Gresik kecewa. setiap sabtu minggu digelar latihan om

      Balas
      • cumilebay says:
        10 tahun ago

        Gw ngak mau liat latihan nya, mau liat lomba nya. Kmrn udah liat jadwal nya tapi desa nyajauh pindah2 lokasi

        Balas
        • insanwisata says:
          10 tahun ago

          ini lomba lhooo. aku dapat lihat lombanya, bukan latihannya. Ini dekat dari bandara kok :p
          Aku kan berkelas #LaluDikeplakKancutCumiLebay

          Balas
  2. Gallant says:
    10 tahun ago

    Buset, pesertanya masih anak-anak gitu berarti mereka bolos ya?
    btw, Bima masih masuk WITA kan? bukan WIT?

    oiya, ini blognya nggak ada tombol subscripe atau follow kah?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      woiyo. salah. WITA yg bener mas. makasih yo.
      hehe. ada tombol sharenya doang kok. kalau follow belum ada. wkwk

      Balas
  3. Nasirullah Sitam says:
    10 tahun ago

    Ada yang taruhan nggak? kakakakkaakak
    *Kaburrr

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      pasti ada lah

      Balas
  4. insanwisata says:
    10 tahun ago

    iya mas. harus di bawah umur 10 tahun

    Balas
  5. Mydaypack says:
    10 tahun ago

    selalu ingin backpackeran ke bima,, banyak t4 indah yang bisa dikunjungi..

    by mydaypack.com

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      yups. semoga bisa ke sini y

      Balas
  6. Aliko Sunawang says:
    10 tahun ago

    pernah liat videonya di jalan2 men. keknya waktu itu belum pakai helm sih, sekarang udah pakai ya. bagus lah. safety can be fun

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      wah. dulu mungkin pas latihan kali yaa.
      tapi emang minim perlengkapan pengaman kok

      Balas
      • Aliko Sunawang says:
        10 tahun ago

        btw ada rencana nonton Ngayogjazz ga mas? kalau ada ayo meet up. pengen ngobrol soal Sumbawa nih 🙂

        Balas
        • insanwisata says:
          10 tahun ago

          Eh kapan itu acaranya? Kok aku malah ndak tau yaa.. hahaha.. yuk dah.. wa aku ya mas.. nomorku ada d blog ini kok

          Balas
          • Aliko Sunawang says:
            10 tahun ago

            tanggal 19 november mas di Godean. insya Allah aku nonton mas hehe. sip. tak simpen dulu nomernya

          • insanwisata says:
            10 tahun ago

            aku kok malah g tau acaranya. hehe. siap deh. mantap

  7. Travelling Addict says:
    10 tahun ago

    ngeliat pacuan kuda seperti itu saya antara seneng dan ga tega soalnya itu yang jadi jokinya adik2 yang masih di bawah umur kalo misal jatuh ga kebayang sakitnya

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      nah iya. tapi beberapa dari mereka sudah sering menang lomba lho. Tapi bagaimanapun mereka kan anak kecil ya 🙁

      Balas
  8. Alid Abdul says:
    10 tahun ago

    Aku pernah merasakan kebaikan orang Sumbawa, eh Bima sama Sumbawa kan sama yak? Nggak inget di kota mana tapi bapak itu mempersilahkan mandi di rumahnya, makan malam ditraktir, eh pas ke pelabuhan bapak itu booking angkot malam-malam untuk antar rombongan saya. Dan saya lupa nama bapak itu 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      wah jahat sampean mas melupakan nama Bapaknya . iyo mas. aku ketemu banyak org Bima yg baik2. sampai antar segala. Diperhatiin. Jadi guide melu mblasuk hutan. keren lah pokoe. makan dijamin. haha.

      Balas
  9. Dwi Susanti says:
    10 tahun ago

    Itu ada adegan jatuh-jatuhan dari kuda enggak e nif? ada p3k? :p
    Aku padahal nunggu ceritanya ipin jadinya menang apa kalah e?

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      putaran pertama dia kalah e. haha.
      yg menang Upin kali ya.
      g ada adegan itu mba

      Balas
  10. insanwisata says:
    10 tahun ago

    besarnya jadi juragan kuda. hehe

    Balas
  11. Turiscantik says:
    10 tahun ago

    Saya sudah pernah ke bima tapi belum melihat pacuan ini. Thanks for sharing next time it will be on my trip list 🙂

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      ditunggu ceritanya di Bima y mba

      Balas
  12. febridwicahya says:
    10 tahun ago

    Itu… anak kecil naik kuda ._. kenceng banget gitu? Aku merasa lemah 🙁

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      haha. iya. pegangan yg kenceng biar g jatuh.

      Balas
  13. insanwisata says:
    10 tahun ago

    kalau asuransi aku g tau ya. haha.
    tp kalau sejauh pengertianku, kalau lomba pasti ketika ada kecelakaan pasti ada asuransinya. kecuali latihan

    Balas
  14. Dandy Siswandy says:
    10 tahun ago

    itu jokinya terkenal anak anak yaa disana

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Iy mas.. udah aturan

      Balas
  15. Iqbal Kautsar says:
    10 tahun ago

    Gegara Insan Wisata makin pingin untuk segera keliling Indonesia lagi..

    ajak aku ya kak.. 😀
    jadi asisten tripod mau deh aku..

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      wakaka. aku berguru padamu mas pokoe.
      ajak aku dong kalau mau keliling indonesia

      Balas
  16. Ping-balik: Destinasi Baru Wajib Kunjung Saat Berlibur ke Lombok | insanwisata

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller