Saya mengenal masyarakat Bima sangat santun, ramah, dan mudah akrab dengan orang baru. Begitu pula pertemuan saya dengan Pak Rusdi, pengantar saya selama menjelajah lingkar kaki Gunung Tambora. Sepanjang jalan ia bercerita, bagaimana karakter orang Bima, pula pariwisata di sana. Baginya, Bima punya segalanya. Alam yang indah, budaya yang unik, dan sejarah yang kuat.
Sekian lama sudah saya ingin mengunjungi Bima untuk menyaksikan langsung Pacoa Jara (Pacu Kuda). Bisa dibilang, Pacu Kuda merupakan olahraga yang cukup digemari masyarakat. Pacu Kuda juga mengalir sebagai budaya yang berlangsung meriah setiap tahun. Masyarakat Bima biasa menghabiskan waktu akhir pekan untuk melatih kecepatan dan ketangkasan kuda-kudanya.
Kemudian pesta rakyat diumumkan. Selasa (25/10/2016) telah menjadi hari yang sangat ramai di lapangan pacuan kuda Desa Panda karena para jagoan akan bertanding di sana. Gempita masyarakat Bima berbondong-bondong menggiring kuda kebanggaannya ke gelanggang pacuan. Kuda dibawa menggunakan mobil pick-up yang dikawal oleh banyak pawang. Begitu pula bendera-bendera sponsor telah berkibar di pelataran arena. Tribun penonton kian sesak. Semakin banyak pendaftar pacu kuda yang bergabung dalam pesta rakyat ini.
Para joki berlari menuju meja pendaftaran digendong ayahnya. Wajah mereka ditutupi kain topeng (kupluk), bajunya bernomor punggung urut satu sampai lima, kaos kakinya setinggi lutut, dan mengenakan helm batok. Perlengkapan keselamatannya sangat minim sekali. Joki yang dipilih juga bukan sembarang joki. Dari beberapa joki yang saya temui memiliki riwayat menang Pacu Kuda, minimal tiga pertandingan. Agar lebih mudah memanggil kudanya, diberikanlah nama panggilan seperti Gadis Villa, Sang Bima, Putra Mahkota, Mustang, dan panggilan lainnya.
Gong laga pembuka acara ditabuh. Panitia lekas memanggil para peserta memasuki arena. Tampak beberapa kuda enggan mengikuti tuannya. Berontak kuda lari keluar dari arena pacu. Cepat tuannya mengejar kemudian menariknya. Masing-masing pemilik punya ritual sendiri sebelum acara dimulai. Ada yang menggosokkan ramuan di otot-otot kuda, ada juga yang melalui minuman. Setelah kuda menjadi sedikit liar, kemudian diberikan kepada joki yang duduk di pungkur besi.
Saya menghampiri satu di antara yang paling muda. Ipin namanya. Saat ini Ipin sedang duduk di bangku kelas satu sekolah dasar. Ia tercatat sudah menang lima kali Pacoa Jara. Prestasi yang sangat luar biasa untuk bidang olahraga di umur yang masih muda.
Ipin yang terbiasa melahap arena pacu kuda nampak tenang menghadapi lawannya. Nampaknya ia tak mau persoalkan kalah menang. Jika menang, hadiah sepeda motor didapatnya. Jika kalah, masih tetap bisa sekolah. Tak ada rasa kecewa nantinya. Ia tetap bisa bercanda layaknya sedang bermain di lapangan bola. Begitu pula teman-teman lainnya. Tak ada yang tegang, bahkan gemetar menatap lawannya.
Ipin yang baru duduk di bangku kelas satu Sekolah Dasar menjadi peserta putaran pertama yang paling muda. Ia tampak riang menyambut lomba Pacoa Jara.
Joki pacu kuda sudah diatur batas umurnya. Bagi para joki yang tampil di laga pertandingan, mereka belum tentu memiliki kuda. Biasanya, pemilik kuda akan mencari joki yang sudah terbiasa. Jika menang, ada imbalan untuk para joki cilik ini. Jumlahnya tergantung kesepakatan dari keduanya. Tak heran, banyak peserta dari Sumba, Lombok, maupun penjuru Sumbawa yang datang dan menyewa jasa joki kuda di Bima.
Jika sekilas melihat kuda yang tampil dalam pacuan, tak begitu gagah dan besar. Itulah mengapa dipilih joki kecil dengan umur maksimal 10 tahun. Tapi bukan itu juga sebab utamanya. Pacoa Jara adalah tradisi turun temurun yang mengakar dalam kebudayaan masyarakat Bima. Selain hadiah yang menggiurkan, di sanalah para Dou Mbojo (masyarakat Bima) tampil dengan identitasnya.
Pungkur besi mulai dibuka. Lekas kuda berlari kencang dipacu para joki. Di balik tribun ratusan penonton bersorak-sorai. Mereka sudah memiliki jagoan masing-masing. Tak kalah pembawa acara turut heboh terbawa suasana. Begitu pula saya, lari mengejar mengarahkan kamera saku sampai garis finish. Kuda coklat memimpin. Sang Joki dengan santai menengok ke belakang. Berharap musuhnya tertinggal jauh di belakang. Saya tak hafal siapa pemenangnya. Jelas pemiliknya sangat senang. Yang kalah menjadi sedikit kesal, beberapa kecewa, ada juga yang malah tertawa. Para joki kemudian digendong kembali. Disuguhi minuman atau makanan sesuai selera. Mereka tampak senang meski harus kalah dalam arena balapan. Tampil polos sambil bercerita ketika ia berada di atas arena pacu kuda.
Memasuki garis finish, joki melambaikan tangan kepada penonton. Ia meninggalkan jauh lawannya.
Matahari semakin naik. Tribun kian sesak penikmat pertunjukan. Putaran kedua berlangsung. Saya memasang dua kamera. Satu dengan mode foto, dan satu dengan mode video. Saya tak mau melewatkan momen penting yang amat jarang. Pukul 12.00 WITA saya sudah harus berada di bandara dan terbang ke Jogja. Pak Rusdi dan kawannya masih setia menunggu di teduhnya tribun. Mereka terlihat ikut bersorak meramaikan pacuan kuda. Debu mengepul di lapangan. Kali ini lima kuda memiliki kecepatan lari yang imbang. Yang paling depan tak terlalu jauh meninggalkan kuda lainnya. Para orang tua yang ikut menyaksikan terbawa suasana. “Putra Mahkota!!!”, “Sang Bima!!!”, teriak mereka sambil mengalun pecutan ke pagar kayu sepanjang arena pacu kuda.
Mereka tampak gagah dan profesional berlaga di arena pacuan kuda. Tangan kanannya memegang pecut, tangan kirinya menempel kencang di leher kuda. Semakin dipacu, lari kuda semakin kencang. Badan kecil mereka terguncang-guncang. Para joki cilik harus pandai menjaga keseimbangan.
Pacoa Jara rutin diselenggarakan dua sampai empat kali dalam satu tahun, tergantung lancarnya pendanaan. Latihan cukup digelar Sabtu dan Minggu. Acara ini sangat terbuka untuk wisatawan yang ingin menyaksikan. Selagi ada waktu, sempatkan untuk mampir Bima dan melihat langsung Pacoa Jara, pesta rakyat yang digelar rutin untuk masyarakat.
P.S: Jika ingin menyaksikan Pacoa Jara, datanglah pada hari Sabtu – Minggu atau pada bulan April, Juli, Oktober, dan Desember. Jika kesulitan mencari sewa mobil maupun taxi di Bima, ada beberapa rekomendasi saya yang dapat dihubungi: Bapak Rusdi (085338835433), Bapak Burhan (082341497258). Salam untuk keduanya.
Video jelajah lingkar kaki Gunung Tambora melalui Kabupaten Bima dan Dompu dapat dinikmati di sini
Suka bertualang untuk menikmati peninggalan sejarah, budaya, dan berinteraksi dengan masyarakat lokal. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.
ngeliat pacuan kuda seperti itu saya antara seneng dan ga tega soalnya itu yang jadi jokinya adik2 yang masih di bawah umur kalo misal jatuh ga kebayang sakitnya
Aku pernah merasakan kebaikan orang Sumbawa, eh Bima sama Sumbawa kan sama yak? Nggak inget di kota mana tapi bapak itu mempersilahkan mandi di rumahnya, makan malam ditraktir, eh pas ke pelabuhan bapak itu booking angkot malam-malam untuk antar rombongan saya. Dan saya lupa nama bapak itu 🙁
Aku mau lihat ini, kapan lalu waktu kesana ngak ada jadwal nya ihik ihik
yah.. anak Bupati Gresik kecewa. setiap sabtu minggu digelar latihan om
Gw ngak mau liat latihan nya, mau liat lomba nya. Kmrn udah liat jadwal nya tapi desa nyajauh pindah2 lokasi
ini lomba lhooo. aku dapat lihat lombanya, bukan latihannya. Ini dekat dari bandara kok :p
Aku kan berkelas #LaluDikeplakKancutCumiLebay
Buset, pesertanya masih anak-anak gitu berarti mereka bolos ya?
btw, Bima masih masuk WITA kan? bukan WIT?
oiya, ini blognya nggak ada tombol subscripe atau follow kah?
woiyo. salah. WITA yg bener mas. makasih yo.
hehe. ada tombol sharenya doang kok. kalau follow belum ada. wkwk
Ada yang taruhan nggak? kakakakkaakak
*Kaburrr
pasti ada lah
iya mas. harus di bawah umur 10 tahun
selalu ingin backpackeran ke bima,, banyak t4 indah yang bisa dikunjungi..
by mydaypack.com
yups. semoga bisa ke sini y
pernah liat videonya di jalan2 men. keknya waktu itu belum pakai helm sih, sekarang udah pakai ya. bagus lah. safety can be fun
wah. dulu mungkin pas latihan kali yaa.
tapi emang minim perlengkapan pengaman kok
btw ada rencana nonton Ngayogjazz ga mas? kalau ada ayo meet up. pengen ngobrol soal Sumbawa nih 🙂
Eh kapan itu acaranya? Kok aku malah ndak tau yaa.. hahaha.. yuk dah.. wa aku ya mas.. nomorku ada d blog ini kok
tanggal 19 november mas di Godean. insya Allah aku nonton mas hehe. sip. tak simpen dulu nomernya
aku kok malah g tau acaranya. hehe. siap deh. mantap
ngeliat pacuan kuda seperti itu saya antara seneng dan ga tega soalnya itu yang jadi jokinya adik2 yang masih di bawah umur kalo misal jatuh ga kebayang sakitnya
nah iya. tapi beberapa dari mereka sudah sering menang lomba lho. Tapi bagaimanapun mereka kan anak kecil ya 🙁
Aku pernah merasakan kebaikan orang Sumbawa, eh Bima sama Sumbawa kan sama yak? Nggak inget di kota mana tapi bapak itu mempersilahkan mandi di rumahnya, makan malam ditraktir, eh pas ke pelabuhan bapak itu booking angkot malam-malam untuk antar rombongan saya. Dan saya lupa nama bapak itu 🙁
wah jahat sampean mas melupakan nama Bapaknya . iyo mas. aku ketemu banyak org Bima yg baik2. sampai antar segala. Diperhatiin. Jadi guide melu mblasuk hutan. keren lah pokoe. makan dijamin. haha.
Itu ada adegan jatuh-jatuhan dari kuda enggak e nif? ada p3k? :p
Aku padahal nunggu ceritanya ipin jadinya menang apa kalah e?
putaran pertama dia kalah e. haha.
yg menang Upin kali ya.
g ada adegan itu mba
besarnya jadi juragan kuda. hehe
Saya sudah pernah ke bima tapi belum melihat pacuan ini. Thanks for sharing next time it will be on my trip list 🙂
ditunggu ceritanya di Bima y mba
Itu… anak kecil naik kuda ._. kenceng banget gitu? Aku merasa lemah 🙁
haha. iya. pegangan yg kenceng biar g jatuh.
kalau asuransi aku g tau ya. haha.
tp kalau sejauh pengertianku, kalau lomba pasti ketika ada kecelakaan pasti ada asuransinya. kecuali latihan
itu jokinya terkenal anak anak yaa disana
Iy mas.. udah aturan
Gegara Insan Wisata makin pingin untuk segera keliling Indonesia lagi..
ajak aku ya kak.. 😀
jadi asisten tripod mau deh aku..
wakaka. aku berguru padamu mas pokoe.
ajak aku dong kalau mau keliling indonesia