No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Naik Delman Keliling Tumpang

by Reza Nurdiana
Agustus 11, 2014
2 min read
0

Pelataran candi Jago pagi itu riuh oleh kicauan burung-burung gereja yang liar berterbangan. Sementara itu, dari kejauhan para Pak Kusir sibuk meminggirkan delmannya agar tak menghalangi separuh jalan raya. Mereka datang untuk menjemput kami, segerombolan anak kota yang baru datang dari Jogja. Selepas berjingkat menuruni tangga candi yang curam, kami berlarian menghampiri kendaraan berkuda yang terparkir rapi itu. Di kota, kami mengendarai motor setiap hari. Maka tak heran jika kami hampir berebut untuk menaiki Delman yang sengaja didatangkan untuk kami.

10553619_10202404850063292_6113039254955023353_n

 

Sejenak kami terkikik menatap seekor kuda dengan tutul-tutul di tubuhnya. Rupanya Pak Kusir memang sengaja mendandani kuda kesayangannya agar menarik perhatian penumpang. Tawa geli juga terdengar dari sekelompok kawan kami di delman lain yang mengangkut mereka. Kali ini karena rambut kudanya yang dikepang kecil-kecil dihiasi karet warna-warni. Melihat keunikan mereka membuat kami tak sabar untuk diantar delman berkeliling kecamatan Tumpang.

10612928_10202404838543004_8688152878287805069_n

 

Secara bergiliran kami duduk diatas kursi delman. Sesekali kami berteriak ketakutan saat delman berat ke belakang karena menahan beban penumpang yang akan naik. Namun teriakan itu seketika berubah jadi tawa dan saling ejek oleh kawan yang lain. Pak Kusir menebar senyum dari balik kumisnya yang tebal, perlahan ditariknya ikatan pelana agar kuda mulai berjalan. Kamipun kegirangan mendengar nyaringnya langkah kaki kuda. Sambil menghirup udara pagi yang segar, dari atas delman kami balas lambaian tangan penduduk desa yang mengiringi akhir kunjungan kami di candi Jago.

 

Delman merupakan kereta beroda dua, tiga, maupun empat yang ditarik oleh kuda. Di Indonesia, delman sudah eksis sejak Jakarta masih bernama Batavia. Nama kendaraan ini berbeda-beda di setiap wilayah. Di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur delman lebih akrab disebut andong. Meski kendaraan bermotor telah berseliweran dimana-mana, kereta kuda ini masih cukup eksis sebagai moda transportasi.

 

Sontak kami teringat lagu anak-anak yang sering kami nyanyikan semasa kecil. Dengan suara cempreng juga nada yang riang namun tetap pada irama, kami melantunkan lagu “Naik Delman”.

Pada Hari Minggu ku turut Ayah ke kota

Naik delman istimewa ku duduk di muka

Ku duduk samping Pak Kusir yang sedang bekerja

Mengendali kuda supaya baik jalannya hei!

Tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk tik tak tik tuk

Tuk tik tak tik tuk tik tak suara sepatu kuda..

10460787_10202404842703108_572587114910230055_n

 

Tubuh kami bergoyang-goyang naik turun seiring dengan langkah kaki kuda yang setengah berlari. Selain bernyanyi gembira, kami juga sibuk memotret suasana pagi kecamatan Tumpang yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Pak Kusir membawa delman melewati Kantor Desa Tumpang dan Pasar Hewan Tumpang. Jalanan yang lengang membuat delman kami bebas berlari. Agaknya naik delman tak pernah seseru ini saat kami tak berada disini.

Tak terasa delman berhenti, kami harus turun dan mengucapkan terimakasih pada Pak Kusir. Terimakasih untuk perjalanan delman di pagi hari, dan untuk pengalaman yang terkenang dalam tulisan ini.

Tags: budayacatatan perjalanandelmaninsanwisatajawa timurmalangrezatradisionaltumpang
Previous Post

Menyusuri Gua Bawah Tanah Gua Pindul

Next Post

Mengenal Lebih Dekat Harfat Jaya

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Mengenal Lebih Dekat Harfat Jaya

Mengenal Lebih Dekat Harfat Jaya

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller