Gua Pindul merupakan objek wisata gua bawah tanah yang terletak di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Berbeda dengan gua-gua yang sering kita temui. Untuk menyusuri gua ini diperlukan pelampung dan ban karet atau yang biasa dikenal dengan istilah cave tubing. Panjang Gua Pindul adalah 350 meter dengan lebar 5 meter dan jarak permukaan air dengan atap gua 4 meter. Penelusuran gua ini memakan waktu kurang lebih selama satu jam yang berakhir pada sebuah dam.
Untuk cave tubing di Gua Pindul tidaklah harus melakukan latihan terlebih dahulu maupun memiliki keahlian khusus. Aliran sungai yang sangat tenang dengan alat safety berstandar, gua ini cocok bagi anak-anak dan dewasa. Tak perlu khawatir juga bagi wisatawan yang ingin membawa kamera pribadi. Pemandu di Gua Pindul telah profesional dalam membawa kamera dan menjaga kamera kita dari percikan air.
Waktu yang tepat untuk melakukan cave tubing di Gua Pindul adalah di waktu pagi hari, sekitar pukul 09.00 s.d. 11.00 WIB. Untuk menikmati keindahan gua bawah tanah ini cukuplah dengan membayar Rp35.000 maka kita akan diantar oleh seorang pemandu untuk menyusuri gua pindul. Beberapa perlengkapan yang wajib dikenakan bagi setiap wisatawan adalah ban pelampung, jaket pelampung dan sepatu karet. Dengan menumpang ban karet yang dihanyutkan di atas aliran sungai gua Pindul, pemandu akan bercerita banyak tentang sejarah Gua Pindul tanpa diminta.
Di dalam Gua Pindul terdapat beberapa ornamen cantik seperti batu kristal yang masih aktif, moonmilk, stalaktit dan stalagmit. Di langit-langit gua juga akan kita temui beberapa lukisan yang dibuat oleh kelelawar penghuni gua. Jika dilihat dengan seksama, ada beberapa lukisan kelelawar yang menyerupai wajah manusia lengkap dengan mata, mulut dan hidungnya. Di sisi lain, terdapat juga batu perkasa yang menyerupai alat kelamin laki-laki. Menurut kepercayaan, bagi laki-laki yang menyentuh batu itu maka akan bertambah keperkasaannya. Namun, guyonan itu ternyata tak lagi membuat tim insanwisata percaya. Banyaknya wisatawan laki-laki yang ingin menyentuh batu perkasa itu juga membuktikan banyaknya wisatawan laki-laki yang tidak perkasa. Setelah melewati batu perkasa, juga terdapat air mutiara yang selalu menetes. Air ini juga dipercaya bahwa setiap wisatawan perempuan yang terkena tetesan air mutiara maka akan bertambah kecantikannya. Banyaknya wisatawan perempuan yang berebutan untuk mendapatkan tetesan air mutiara juga telah cukup membuktikan bahwa banyak wisatawan perempuan yang tidak cantik.

Gua Pindul terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona terang, remang dan gelap. Asal-usul penamaan Gua Pindul menurut masyarakat setempat tak bisa dipisahkan dari cerita pengembaraan Joko Singlulung mencari ayahnya. Perjalanan panjang yang dilakukan Joko Singlulung melewati hutan, gunung, sungai hingga menemukan gua yang ada di Bejiharjo. Saat masuk ke gua tersebut mendadak Joko Singlulung terbentur batu, sehingga gua tersebut dinamakan Gua Pindul yang berasal dari kata “Pipi Gebendul”.
Hal yang tak boleh terlewatkan dari cave tubing di Gua Pindul adalah melompat ke air dari ketinggian 2 meter di zona remang. Di sinilah kita diperbolehkan untuk tidak menggunakan ban karet, namun dengan tetap mengenakan pelampung. Sayangnya, belakangan ini wisatawan di Gua Pindul sangatlah banyak dan membuat kegiatan cave tubing tak lagi nyaman. Berdasarkan obrolan bersama pemandu, banyaknya wisatawan yang datang ke Gua Pindul juga membuat banyak kelelawar yang telah berpindah tepat. Hal ini disebabkan karena kebisingan wisatawan dan sinar-sinar lampu senter yang disorotkan pada sarang kelelawar. Selain itu, banyaknya wisatawan di Gua Pindul mengharuskan wisatawan lain mengantri dan menunggu giliran cave tubing.
Jadi, pertanyaan kecil kami, bagaimanakah keberlanjutan ekologi di kawasan wisata Gua Pindul saat ini ?














