No Result
View All Result
insanwisata
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
    Praktisi pariwisata dan desa wisata

    Menjadi Pengajar

    Sunrise Candi Plaosan

    #KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

    Desa Muncar Moncer

    Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

    Monumen Plataran

    Mengenang Pertempuran Plataran

    Desa Tanjung Binga

    Tercurah Asa Teruntuk Tanjung Binga

    Sunset Candi Barong Yogyakarta

    Kembali ke Candi Barong

  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak
No Result
View All Result
insanwisata

Menyusuri Jeram Goa Kalisuci, Seru!

by Reza Nurdiana
Desember 20, 2015
5 min read
7

Belum kelewat tengah hari ketika aku sampai di basecamp wisata Goa Kalisuci. Setelah sekian lama mengidam-idamkan cave tubing yang sedang naik daun di Gunungkidul ini, akhirnya kesampaian juga. Yeay! Cave tubing merupakan kegiatan susur gua menggunakan ban dalam. Karena dasar Goa Kalisuci merupakan sungai bawah tanah, ban dalam berfungsi sebagai ‘kendaraan’ wisatawan. Rasanya sudah tak sabar untuk segera berpetualang di dalam gua!

Setelah mendaftar sambil membayar retribusi sebesar Rp70.000,00 dan berganti pakaian, giliranku untuk mengenakan peralatan keamanan cave tubing. Dibantu oleh seorang tim pengelola wisata, aku mengenakan pelampung, helm, serta pelindung tangan dan kaki. Kegiatan cave tubing dilakukan oleh 10-15 orang dalam satu kelompok yang didampingi tiga orang pemandu. Hari itu, aku tergabung dalam rombongan muda-mudi dari luar daerah yang sebaya denganku. Para pemandu yang mendampingi kelompokku pun orangnya lucu dan baik. Mereka dengan sigap membantu memotret, bahkan membawakan tustel yang tidak tahan air.

DSC01877

DSC01921

DSC01860-01

Cave tubing dimulai dengan berjalan kaki menuruni tangga menuju mulut gua. Sebelum memulai petualangan, pemandu mengajak berdoa dan menjelaskan sekilas tentang cave tubing di Kalisuci. Setelah ban diluncurkan melalui katrol, kelompokku menaikinya satu per satu. Gua pertama yang disusuri adalah Goa Kalisuci. Masuk ke Goa Kalisuci, aku disambut jeram untuk terjun ke bagian sungai yang tenang. Mas Pemandu bilang, saat melewati jeram harus sembari mengangkat kedua tangan dan bokong. Kulakukan keduanya dan berseru kegirangan, memberi semangat pada diriku sendiri. The adventure begins here!

Memulai penyusuran gua, semua orang harus bekerja sama membentuk kereta. Kuselonjorkan kaki untuk dijadikan pegangan kawan di depanku, sementara lenganku mengapit kaki selonjor kawan di belakangku. Dengan begitu, kelompok menjalani penyusuran secara teratur di dalam goa yang tak terlalu lebar luasnya. Semakin menjauh dari pintu masuk gua, semakin gelap dan dingin suasananya. Hanya ada tiga sumber penerangan, yaitu dari headlamp yang masing-masing terpasang di kepala para pemandu. Sambil terus terbawa arus sungai yang tenang, pemandu mulai bercerita tentang Goa Kalisuci.

DSC01886

DSC01881

DSC01879

Nama Kalisuci diambil dari dua kata, ‘kali’ dan ‘suci’. Kabarnya, sungai itu merupakan aliran dari mata air bernama Kalisuci yang airnya tak pernah habis walau musim kering dan warnanya selalu jernih. Mata air itu pulalah yang dulu menjadi satu-satunya sumber penghidupan masyarakat setempat. Disebut ‘suci’ karena air sungai itu dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Meskipun demikian, kabar kekuatan air sungai itu belum teruji kebenarannya. Goa Kalisuci sendiri merupakan gua horizontal yang dihiasi stalagtit dan stalagmit super besar yang terus tumbuh setiap waktu. Sembari menjelaskan, sesekali Mas Pemandu mendongakkan kepala hingga cahaya headlamp-nya sedikit menerangi pemandangan kelelewar yang asyik bergelantungan. Samar-samar terdengar pula kepakan sayap dan cicitan kelelawar menemani kegiatan cave tubing.

DSC01906

Tiga puluh menit menyusuri Goa Kalisuci, Mas Pemandu memberi isyarat untuk berhenti sejenak. Pintu keluar Goa Kalisuci dihiasi batu besar bernama Watu Gajah. Mengabadikan momen di Watu Gajah merupakan keharusan. Nah, di sinilah para pemandu beralih peran menjadi fotografer handal. Selain berfoto, di titik ini pemandu mewajibkan semua orang turun dari ban dan berenang kesana kemari, lho!

Tiga puluh menit kemudian, penyusuran kembali diteruskan. Semua orang harus lagi menaiki ban. Gua yang kedua bernama Goa Gelatikan . Sama seperti Goa Kalisuci, memasuki Goa Gelatikan pun harus melewati jeram terlebih dahulu. Namun jeram yang satu ini lebih deras dari sebelumnya. Tangan dan bokong harus diangkat tinggi-tinggi!

Penyusuran Goa Gelatikan lebih sebentar dibandingkan penyusuran sebelumnya. Yang membedakan, Goa Gelatikan memiliki diameter alas yang sedikit lebih lebar daripada Goa Kalisuci. Menyusuri Goa Gelatikan tak harus membentuk barisan kereta, tetapi usahakan untuk selalu berpegangan dengan kawan kelompok jika sudah payah mengayuh ban sendiri. Kalau tidak, bisa-bisa terpisah dari rombongan. Tapi hal itu tak akan terjadi karena Mas Pemandu selalu menjaga di titik terdepan, tengah, dan terbelakang. Ia akan berbaik hati menggiring yang kesusahan, tapi terkadang harus menanggung akal jahilnya. Jadi, bersiaplah terkena lemparan lumpur dari Mas Pemandu, ya!

DSC01950-01

DSC01916

DSC01867-01

DSC01920-01

Penglihatan semakin terang, ternyata pintu keluar sudah dekat. Sinar mentari menyeruak menghadirkan pantulan warna hijau segar di antara tumbuhan yang menjalari dinding gua dan air sungai yang jernih. Mendongak ke atas, dinding gua berbentuk bulat. Inilah gua vertikal yang jadi penutup cave tubing. Kulihat tepat di depan masih ada mulut gua yang sempit dan gelap.

“Mas, ini udahan? Kita nggak ke sana?” tanyaku penasaran.

“Pernah nonton film SANCTUM?” Mas Pemandu malah balik bertanya.

“Pernah.”

“Nah, di dalam situ airnya dari atas ke bawah dan mbentuk pusaran. Persis kayak di film.”

DSC01938

Aku bergidik ngeri seketika. Goa Gelung namanya. Mendengar kata ‘gelung’, aku jadi berpikir mungkin dinamakan demikian karena air di dalamnya bergelung-gelung/berputar-putar. Di film SANCTUM, ada adegan Victoria, seorang cave diver yang mati konyol karena lalai sampai tersedot pusaran air di dalam gua. Ternyata di Gunungkidul juga ada gua seperti itu!

Karena pemberhentian terakhir adalah mulut gua vertikal, untuk berjalan pulang harus dengan menaiki puluhan anak tangga dengan kemiringan tanah hampir sembilan puluh derajat! Pegal dan capek bukan kepalang! Untunglah sudah disediakan air mineral bagi wisatawan yang telah selesai cave tubing. Sebuah mobil bak terbuka pun mengantar wisatawan sampai ke basecamp awal. Petualangan menyusuri jeram Goa Kalisuci, seru!

Lokasi                    : Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta

Retribusi              : Rp70.000,00/orang (per Desember 2015)

Fasilitas           : Peralatan keamanan (pelampung, helm, pelindung tangan dan kaki), 2-3 orang pemandu, air mineral, serta teh panas dan mie rebus setelah selesai cave tubing

***

Lokasi Gua Kalisuci

Previous Post

Keunikan Tradisi Suku Sasak di Desa Sade

Next Post

Jangan Mau ke Bromo Lagi

Reza Nurdiana

Reza Nurdiana

Suka bertualang untuk menikmati pemandangan alam, peninggalan sejarah, budaya, dan mencicip kuliner. Sangat senang jika bisa berbagi cerita dan informasi kepada orang lain.

Related Posts

Praktisi pariwisata dan desa wisata
Catatan perjalanan

Menjadi Pengajar

Juni 19, 2023
Sunrise Candi Plaosan
Catatan perjalanan

#KelanaKai: Sunrise Candi Plaosan yang Kesiangan

Maret 5, 2023
Desa Muncar Moncer
Catatan perjalanan

Sofiyudin Achmad, Sosok di Balik Desa Muncar yang Kian Moncer

Desember 31, 2021
Monumen Plataran
Catatan perjalanan

Mengenang Pertempuran Plataran

Januari 8, 2020
Next Post
Jangan Mau ke Bromo Lagi

Jangan Mau ke Bromo Lagi

Comments 7

  1. Timothy W Pawiro says:
    10 tahun ago

    Wah seru banget nih! Goa Pindul aja blum, ditambah yang ini 😀

    Dulu ke Gunung Kidul cuma beach hopping doang nih … Hahaha.

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Wah, kapan2 harus ke sini mas. Dijamin seru deh main ke Kalisuci

      Balas
  2. cumilebay maztoro says:
    10 tahun ago

    Murah banget 70 ribu, btw air suci nya bisa buat awt muda dan tetep greng ngak ????

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Monggo dibuktikan sendiri Om Cum. Tak tunggu, terus kita ke Kalisuci .. haha

      Balas
  3. cumilebay maztoro says:
    10 tahun ago

    Murah amat 70 ribu, aku ngak bisa kalo terlalu murah gini #Congkak

    Balas
  4. cumilebay maztoro says:
    10 tahun ago

    Ini kok gw comment 2x, duch otak gw lagi error beneran.padahal td niat nya bukan mau comment di artikel ini hahahaha

    Balas
    • insanwisata says:
      10 tahun ago

      Parah nih. Kebanyakan mikir yang saru2 kayaknya..

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

© 2026 a storyteller

No Result
View All Result
  • Tentang kami
  • Konsultan
  • Catatan perjalanan
  • Foto & Cerita
  • Portofolio
  • Kontak

© 2026 a storyteller