Sejak dulu, saya sangat senang mencoba hal baru. Berkelana dan singgah ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai ragam bahasa dan teman-teman baru. Seperti hari itu, dimana saya ditampar dengan potret kehidupan di Kampung Fafanlap.
Fafanlap adalah kampung kecil yang terletak di Distrik Misool Selatan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Masyarakatnya adalah orang-orang yang bekerja pada perusahaan mutiara dan berprofesi sebagai nelayan. Mereka sangatlah bersahabat dan ramah kepada pendatang. Secara geografis, Misool adalah pulau yang sangat mustahil jika masyarakatnya ada yang memiliki sepeda motor, sekalipun mobil. Cukuplah perahu kecil yang mereka sebut ‘ketinting/bodi’ sebagai moda transportasi dari kampung ke kampung. Lebarnya tak melebihi pinggang ukuran dewasa dan hanya bisa dipenuhi dengan lima orang saja. Saya baru tahu, setiap pagi mereka memompa mesin-mesin ketinting untuk berangkat kerja dan bersekolah. Sungguh mengharukan. Maka saya perlu mencoba transportasi ini!
Di dermaga Fafanlap saya jumpai beberapa ketinting bersandar. Saya hanya perlu berlaku ramah pada semua orang yang baru dikenal dan mengajak mereka untuk jalan-jalan menggunakan ketinting. Saat itu, kebetulan terlihat beberapa anak yang berlatih selancar kayu yang ditarik menggunakan ketinting. Mereka sangat suka difoto ataupun direkam. Maka hal pertama yang perlu disiapkan adalah membawa kamera saku. Dan mulailah saya bernegosiasi.
Ketinting sudah disandarkan. Pelan-pelan saya naik menjaga keseimbangan. Mesin pun dihidupkan. Saya gemetar, berkeringat dingin dan berpegang erat pada tubuh ketinting yang beberapa kali oleng tak jelas arahnya. Diatas ketinting menjadikan kami semakin dekat dengan Sang Maha Pencipta. Saya memajang ekspresi memelas agar mereka menyudahi petualangan yang menakutkan ini. Memohon pada mereka jika saja saya terjatuh ke air, saya adalah orang pertama yang diselamatkan. Saya melirik Sang Kapten yang membawa ketinting di belakang. Dengan santainya menertawakan seakan menjanjikan semua akan baik-baik saja.
Akhirnya saya sudahi percobaan ketinting dan membawanya kembali bersandar di dermaga. Anak-anak kecil yang sejak tadi menonton kami bertepuk tangan keras-keras seperti menyambut nelayan kondang yang berhasil berburu ikan besar untuk dibagikan pada orang kampung. Celana yang basah tak lagi masalah. 15 menit tak terasa berlalu.
Tiga hari berlalu, cukuplah bagi saya mengenal Ketinting, Saya pun melanjutkan perjalanan. Kampung Harapan Jaya adalah tujuan saya. Untuk penyewaan speedboat tidaklah mungkin. Harga charter speedboat antara Rp11.000.000 s.d. Rp15.000.000 (belum termasuk BBM). Selain biaya sewa yang mahal, saya juga tak cukup uang. Maka saya menumpang masyarakat yang sedang bepergian ke Bank Papua di kampung Dabatan. Sebuah kampung yang menjadi pusat distrik di Misool Selatan. Mereka bersedia memberikan tumpangan secara cuma-cuma kepada saya.
Sepanjang jalan saya menatap wajah Sang Kapten yang saya kenal sebagai pak Guru. Ia seperti tahu arah dimana ketinting harus berlalu. Seperti Columbus yang berani bertaruh bumi itu bulat dengan cara menyeberangi lautan dan samudera. Tak ada banyak tanda lalu lintas di perairan. Pak Guru telah lama menjadikan langit dan lautan sebagai lembaran-lembaran ilmu.
Saya takzim dengan lautan yang kami lewati. Perlahan saya rekam suara-suara ombak yang bergoyang mengikuti laju ketinting. Kali ini kami menggunakan ketinting yang nampaknya lebih aman dari sebelumnya. Di sisi kanan kirinya terdapat penyangga yang membuat ketinting tak lagi oleng. Ketinting membawa saya melintasi barisan pulau-pulau kecil seakan pagar yang tak terputus-putus. Benar seperti apa yang pernah saya baca dan diperlihatkan oleh guru manusia seantero jagat, ‘Mbah Google’. Tak dusta omongan semua orang tentang ‘Last Paradise on Earth’. Tak tampak apapun seluas mata memandang selain hamparan laut biru yang tak bergelombang dan pulau-pulau kecil tak bertuan.
Saya berteriak kegirangan melihat indahnya karang di bawah lautan bersama ikan-ikan kecil yang saling berlompatan. Tapi suara ini surut diisap sunyi lautan, kalah dengan suara mesin ketinting bak penggiling tepung terigu, lindap ditelan angin, dan terhalau ke lautan Raja Ampat. 45 menit berlalu, kami telah sampai di kampung Harapan Jaya.
Perjalanan seperti ini yang saya sebut dengan petualangan. Perjalanan besar yang hanya dapat dicapai oleh mereka yang berani bermimpi. Inilah esensi petualangan. Manusia hanya perlu mencoba hal yang tak mudah untuk dilalui. Berani menerjang kerasnya karang di lautan. Menyelami lika-liku hidup yang menyulitkan. Seperti ketinting yang oleng diterpa ombak kecil. Goyang ketika ditiup angin. Kadang bisa terbalik, tenggelam, pecah, dan terlempar. Maka kita hanya perlu bersabar dan terus berusaha agar bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita.















Saya nggak bisa berenang dan ngeri klo harus naik ketinting kecil begitu haha
Alid Abdul : kita hanya perlu mencobanya bro. hehe
ke Raja Ampat. Wajib bisa berenang bro.
thx udah mampir